Dua puluh tahun setelah pembantaian yang menghancurkan keluarganya, Dimas Brawijaya menemukan adiknya, Aluna, masih hidup—terkurung trauma di sebuah rumah sakit jiwa. Aluna terus menyanyikan lagu masa kecil mereka dan menuliskan satu kata yang sama di dinding: PEMBUNUH. Ketika Dimas dan saudara kembarnya, Digo, membawa Aluna pulang, serpihan ingatan kelam mulai muncul: pintu loteng, suara langkah di malam tragedi, dan ketakutan ekstrem pada seorang paman yang dulu mereka percaya. Sebuah diary ibu mereka membuka petunjuk mengerikan—bahwa pelaku mungkin adalah “orang dekat”. Kini, kebenaran masa lalu menunggu untuk dibuka, meski risikonya adalah menghancurkan sisa keluarga yang masih bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Anggrek Mawar Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 20 — Kabar Duka
Pagi datang tanpa cahaya hangat. Langit kelabu menggantung rendah di atas rumah sakit jiwa, seolah menekan atapnya. Burung-burung diam. Bahkan angin pun seperti menahan diri.
Digo tidak tidur semalaman. Matanya merah, kering, dan kosong. Ia duduk di kursi rodanya menghadap jendela lorong, menunggu sesuatu yang ia harap tak pernah tiba—dan sesuatu yang ia tahu akan datang.
Aluna meringkuk di ranjang kamar sebelah, berselimut sampai ke dagu. Bros kupu-kupu perak masih tersemat di bajunya, tapi kini ia menggenggamnya begitu keras hingga kulit jarinya memerah. Bibirnya terus bergerak, memanggil satu nama dalam bisikan yang patah.
“Mas… Mas…”
Langkah kaki terdengar dari ujung lorong. Bukan langkah perawat—lebih berat, lebih teratur. Dua polisi berseragam muncul, topi di tangan. Wajah mereka kaku, mata menunduk. Di belakang mereka, Sania berjalan pelan, menahan air mata.
Digo tahu sebelum mereka berhenti.
Salah satu polisi berdehem. “Pak Digo Brawijaya?”
Digo mengangguk kecil. Suaranya tak keluar.
“Kami dari kepolisian,” lanjut polisi itu, suaranya formal tapi retak di ujung. “Kami datang membawa kabar terkait saudara Anda, Dimas Brawijaya.”
Waktu memanjang seperti karet.
“Dimas gugur,” kata polisi itu akhirnya. “Ia tertembak di bagian dada saat operasi penangkapan. Tim medis sudah berusaha, tapi—”
Kata-kata berikutnya tak terdengar. Dunia Digo menyempit menjadi satu titik di dadanya, lalu runtuh. Tangannya mencengkeram sandaran kursi roda. Ia membuka mulut, ingin bertanya, ingin menyangkal—tak satu pun keluar.
Sania menutup mulut, terisak.
Di kamar Aluna, seolah ada sesuatu yang pecah.
“DIMAS!”
Jeritan itu menghantam lorong. Aluna bangkit, selimut terlempar. Ia berlari ke pintu, perawat mencoba menahan—sia-sia. “Mas belum pulang!” teriaknya. “Mas janji!”
Ia meronta, memukul dada sendiri. Tok… tok…bunyi itu kembali, cepat, kacau. “Bangun! Bangun!” teriaknya ke udara kosong. “Aku di sini!”
Digo menoleh, wajahnya hancur. “Alun—”
Aluna menatap polisi-polisi itu, mata merah menyala. “Kalian bohong!” Ia menunjuk. “Kalian kunci pintu! Kalian ambil Mas!”
Salah satu polisi melangkah maju, tangannya terangkat, tak tahu harus berkata apa. “Kami turut berduka—”
“Jangan!” Aluna berteriak, menutup telinga. “Jangan bilang kata itu!”
Ia jatuh berlutut, menangis keras, suara anak kecil yang kehilangan orang tuanya. “Mas pulang… Mas pulang…”
Perawat memeluknya dari belakang, mencoba menenangkan. Aluna menggigit bibir hingga berdarah, seolah sakit fisik bisa menandingi sakit di dadanya.
Digo menggerakkan kursinya mendekat. Setiap putaran roda terasa seperti menembus lumpur. Ia berlutut sejajar, memegang bahu Aluna. “Alun,” katanya pelan, nyaris berbisik. “Mas melakukan ini… supaya kita aman.”
Aluna menggeleng liar. “Aku tidak minta!” Ia menangis. “Aku mau Mas!”
Kata-kata itu menampar Digo lebih keras dari kabar apa pun. Ia menunduk, air mata akhirnya jatuh—diam, berat, tak bersuara. “Aku juga,” katanya lirih.
Polisi menyerahkan sebuah kantong plastik bening kepada Sania. Di dalamnya, ponsel Dimas—layarnya retak, noda darah mengering di sudut. Sania memejamkan mata, lalu menyerahkannya pada Digo.
Digo menggenggam ponsel itu. Beratnya tak seberapa, tapi terasa seperti memegang dunia yang telah selesai. Ia menekan tombol—tak ada daya. “Dia ingin menelepon,” katanya pelan. “Aku tahu.”
Aluna melihat ponsel itu. Tangisnya mereda sejenak, berubah menjadi hening yang mengerikan. Ia meraih ponsel itu, menempelkannya ke dada. “Mas lupa charger,” gumamnya, seperti anak kecil yang menyalahkan hal sepele. “Nanti Mas bangun.”
Digo memejamkan mata, napasnya bergetar. Ia memeluk Aluna—pelukan canggung karena kursi roda, tapi nyata. “Kita akan jaga kenangan Mas,” katanya. “Bersama.”
Di luar jendela, langit akhirnya menurunkan hujan—tipis, dingin, tanpa amarah. Polisi-polisi itu menunduk, lalu pergi dengan langkah berat.
Di lorong yang kembali sunyi, satu kabar duka telah diucapkan.
Yang tertinggal hanyalah dua saudara—satu lumpuh oleh peluru lama, satu retak oleh ingatan—memegang satu nama yang kini menjadi doa.