NovelToon NovelToon
JODOH, YANG DIJODOHKAN

JODOH, YANG DIJODOHKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anna ceriya

Selama lebih dari tiga dekade, persahabatan antara Keluarga Lenoir dan Hadinata telah menjadi tonggak dalam kehidupan kedua keluarga. Dari berbagi suka duka hingga merencanakan masa depan bersama, ikatan mereka semakin mengakar dalam setiap aspek kehidupan. Untuk memperkokoh hubungan yang sudah terjalin erat itu, kedua kepala keluarga memutuskan untuk mengikatkan anak-anak mereka melalui perjodohan—suatu langkah yang dianggap akan menyatukan kedua keluarga menjadi satu kesatuan yang lebih kuat.

Aslan Noah Lenoir 28 tahun Pewaris Lenoir Group Dari Paris dan Alana Hadinata 20 tahun berdarah Campuran dari sang ibu ( Helena dubois ) terpaksa harus menjalani rencana perjodohan yang tidak mereka inginkan, gaya hidup mereka yang berbeda sering kali membuat Alana merasa terjebak dalam permainan Aslan yang vulgar dan penuh tantangan.
____

Bisakah dua hati yang terpaksa bertemu menemukan kedekatan yang tulus?
Ataukah perjodohan ini hanya akan menjadi beban dan merusak persahabatan keluarga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna ceriya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5. MENGUNGKAP RENCANA KELUARGA

Episode sebelumnya

"Jadi, Aslan," ucap Argon sambil mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, matanya penuh dengan rasa ingin tahu. "Kamu tadi bilang bahwa kamu ingin berbicara dengan kami tentang sesuatu yang penting. Apa itu? Apakah ada masalah dengan studimu di universitas? Atau mungkin ada masalah dengan keluargamu?"

Aslan menghela nafas panjang lagi, lalu menatap ketiga sahabatnya itu satu per satu. Ia merasa gugup, tetapi ia juga merasa lega karena akhirnya ia akan bisa meluapkan perasaannya kepada orang-orang yang ia percayai.

"Sebenarnya, ini adalah sesuatu yang cukup besar dan penting dalam hidupku," ucap Aslan pelan, suaranya terdengar serius di tengah hiruk-pikuk suara musik dan percakapan di sekitar mereka. "Dan aku merasa bahwa aku harus berterus terang kepada kalian tentang hal ini."

Pelayan itu kembali dengan minuman-minuman mereka dan meletakkannya di atas meja. Mereka berempat mengucapkan terima kasih kepada pelayan itu, lalu mengambil minuman mereka masing-masing. Namun, tidak ada yang menyesap minuman mereka saat itu. Mereka semua menatap Aslan, menunggu dengan penuh perhatian apa yang akan ia katakan selanjutnya.

"Jadi, ceritakanlah, Aslan," ucap Zayn lembut, memberikan semangat kepada sahabatnya itu. "Kami mendengarkan."

Aslan menarik napas dalam-dalam, lalu mulai berbicara. "Kalian semua tahu bahwa ayahku, Marcell de Lenoir, memiliki bisnis yang sangat besar dan sukses, bukan? Dan kalian juga tahu bahwa ayahku memiliki sahabat lama yang bernama Samuel Hadinata, yang tinggal di Indonesia. Mereka sudah berteman selama puluhan tahun, dan bisnis mereka juga saling berhubungan erat."

Ketiga sahabatnya itu mengangguk setuju. "Ya, kami tahu," jawab Steven. "Ayahmu sering berbicara tentang sahabatnya di Indonesia itu. Dan kami juga pernah melihat foto-foto mereka bersama beberapa kali."

"Nah, beberapa minggu yang lalu," lanjut Aslan, suaranya sedikit bergetar karena emosi, "ayahku memberitahuku tentang sebuah rencana yang sudah ia buat bersama Samuel Hadinata. Sebuah rencana untuk menjodohkan aku dengan putri Samuel, seorang gadis bernama Alana Hadinata."

Mata Argon, Zayn, dan Steven terbelalak kaget mendengar pengakuan itu. Mereka menatap Aslan dengan tatapan yang tidak percaya, seolah-olah mereka tidak mendengar dengan benar apa yang baru saja dikatakan oleh sahabatnya itu.

"Menjodohkanmu? Dengan putri sahabat ayahmu di Indonesia?" ulang Argon, suaranya terdengar kaget. "Serius, Aslan? Itu... itu terdengar seperti sesuatu yang keluar dari novel atau film, bukan sesuatu yang terjadi dalam kehidupan nyata, apalagi dalam keluargamu yang begitu modern dan berpendidikan seperti ini."

Aslan tersenyum pahit. "Aku juga berpikir hal yang sama, Argon. Aku juga tidak percaya ketika ayahku pertama kali memberitahuku tentang hal ini. Aku merasa seperti sedang bermimpi buruk. Aku tidak pernah berpikir bahwa di zaman yang sudah modern ini, masih ada orang tua yang melakukan hal seperti ini—mengatur pernikahan untuk anak-anak mereka demi kepentingan keluarga atau bisnis."

"Dan bagaimana reaksimu?" tanya Zayn, matanya penuh dengan rasa pengertian. "Apakah kamu setuju dengan rencana ini?"

"Awalnya, aku sangat marah, Zayn. Sangat marah," jawab Aslan dengan tegas. "Aku merasa seperti ayahku tidak menghargai perasaanku, seperti aku hanya sebuah boneka yang bisa diatur-atur sesuka hatinya. Aku menolak keras rencana ini. Aku bilang padanya bahwa aku tidak ingin menikah dengan wanita yang tidak aku kenal, bahwa aku ingin memilih pasangan hidupku sendiri berdasarkan cinta dan pemahaman, bukan berdasarkan perjanjian antara dua keluarga."

"Tapi kemudian?" tanya Steven, menyadari bahwa ada cerita lebih lanjut.

"Tapi kemudian, setelah berbicara panjang lebar dengan ayahku dan juga dengan ibuku, aku akhirnya menyetujui sebuah kesepakatan," jawab Aslan. "Kami sepakat untuk memberikan waktu satu tahun bagi aku dan Alana untuk saling mengenal tanpa tekanan apa pun. Selama waktu itu, aku bisa tetap mengejar impianku, dan dia juga bisa melanjutkan studinya di bidang kedokteran. Jika setelah satu tahun kami merasa bahwa kami cocok dan ingin melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius, maka kami akan melakukannya. Tapi jika kami merasa bahwa kami tidak cocok, maka rencana perjodohan ini akan dibatalkan, dan ayahku berjanji tidak akan memaksaku lagi."

Keempat sahabat itu terdiam sejenak, merenungi cerita Aslan itu. Suasana di sekitar mereka tetap ramai dan hidup, tetapi di meja mereka, ada keheningan yang penuh dengan pemikiran.

"Wow, Aslan... itu adalah cerita yang sangat luar biasa," ujar Argon akhirnya, suaranya terdengar penuh kekaguman. "Aku tidak tahu harus berkata apa. Di satu sisi, aku bisa memahami mengapa kamu merasa marah dan tertekan. Menjadi objek dari sebuah perjodohan yang diatur oleh orang tua pasti bukanlah pengalaman yang menyenangkan. Tapi di sisi lain, kesepakatan yang kamu buat dengan ayahmu itu terdengar cukup adil dan masuk akal. Kamu mendapatkan kesempatan untuk mengejar impianmu, dan kamu juga mendapatkan waktu untuk mengenal Alana dengan cara yang lebih alami."

"Ya, itu benar," tambah Zayn lembut. "Dan kamu juga harus ingat, Aslan, bahwa perjodohan bukanlah sesuatu yang buruk secara mutlak. Di banyak budaya di dunia, perjodohan adalah hal yang biasa dan bahkan dianggap sebagai cara yang baik untuk membangun keluarga yang kuat dan bahagia. Mungkin Alana adalah wanita yang luar biasa, yang bisa melengkapi hidupmu dengan cara yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya."

"Dan lagi," tambah Steven dengan senyum kecil, "kamu beruntung, Aslan. Kamu memiliki waktu satu tahun untuk saling mengenal. Banyak orang yang dijodohkan tidak mendapatkan kesempatan seperti itu. Mereka harus langsung menikah tanpa pernah saling mengenal sebelumnya. Jadi, ini adalah kesempatan yang baik bagimu untuk melihat apakah ada chemistry antara kamu dan Alana atau tidak."

Aslan mendengarkan kata-kata sahabat-sahabatnya itu, dan perlahan-lahan, rasa cemas dan takut yang ada di dalam hatinya mulai mereda sedikit. Ia tidak menyangka bahwa mereka akan merespons dengan begitu positif dan pengertian. Ia berharap mereka akan memahaminya, tetapi ia juga takut bahwa mereka akan menganggapnya aneh atau ketinggalan zaman. Namun, ternyata mereka justru memberikan pandangan yang berbeda dan membuka pikirannya.

"Terima kasih, semuanya," ucap Aslan akhirnya, senyum kecil mulai terbit di bibirnya. "Terima kasih karena sudah mendengarkan ceritaku dan karena sudah memberikan pandangan yang begitu positif. Aku merasa jauh lebih baik sekarang setelah berbicara dengan kalian. Aku merasa tidak sendirian dalam menghadapi masalah ini."

"Sama-sama, kawan!" ucap Argon sambil mengangkat gelas koktailnya. "Itulah sahabat untuk, kan? Selalu ada di sini untuk mendukungmu dan membuatmu melihat sisi baik dari segala situasi. Dan ngomong-ngomong, Aslan... aku jadi penasaran dengan Alana. Seperti apa dia? Apakah dia cantik? Apa yang kamu ketahui tentang dia?"

Mendengar pertanyaan Argon itu, wajah Aslan sedikit memerah. Ia tidak menyangka bahwa sahabatnya itu akan merasa tertarik dengan Alana. Namun, ia juga merasa senang karena setidaknya ada seseorang yang merasa penasaran dengan wanita yang akan ia kenal nanti.

"Aku sebenarnya tidak tahu banyak tentang dia, Argon," jawab Aslan jujur. "Aku hanya pernah bertemu dengannya sekali secara singkat ketika kami masih kecil, saat keluarganya berkunjung ke Lyon. Tapi itu sudah lama sekali, dan aku hampir tidak ingat bagaimana wajahnya. Aku hanya tahu bahwa dia adalah seorang mahasiswi kedokteran yang sangat pintar dan berdedikasi, seperti yang diceritakan oleh ibuku. Dan rencananya, kami akan bertemu secara resmi dalam liburan bersama keluarga di Bali sebelum aku dan dia pergi ke Eropa untuk melanjutkan studi kami."

"Wah, Bali? Itu terdengar seperti tempat yang sangat indah dan romantis," komentar Argon dengan mata yang berbinar-binar. "Jadi, kamu akan bertemu dengannya di sana? Itu pasti akan menjadi pengalaman yang sangat menarik. Aku berharap aku bisa ada di sana untuk melihatnya. Siapa tahu, aku bisa membantu kamu untuk mendekati dia, atau bahkan aku bisa menemukan pasangan sendiri di sana!"

Aslan dan teman-temannya tertawa mendengar ucapan Argon yang ceria itu. Suasana di antara mereka menjadi jauh lebih ringan dan menyenangkan. Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, Aslan benar-benar merasa bahagia dan bebas. Ia melupakan sejenak segala tekanan dan kekhawatiran yang ada di pikirannya, dan hanya menikmati momen itu bersama sahabat-sahabatnya.

Bersambung...

1
Mia Camelia
lanjut thor👍
Anna ceriya: terimakasih atas support nya kaka🙏💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!