NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Sang Bintang

Istri Rahasia Sang Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Cinta Seiring Waktu / Pernikahan rahasia / Dokter
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

Dunia mengenalnya sebagai bintang paling bersinar. Namun, hanya dia yang tahu betapa redupnya pria itu di balik layar.
Elvano Alvendra punya segalanya: kekuasaan, ketenaran, dan wajah yang dipuja jutaan orang. Tapi bagi Selena Nayumi, Elvano hanyalah pasien keras kepala yang lupa cara mengurus diri sendiri.
Sebuah perjodohan kolot dari sang nenek memaksa mereka terikat dalam janji suci yang tersembunyi. Bagi Elvano, Selena adalah "obat" yang tidak pernah ia duga akan ia butuhkan. Bagi Selena, Elvano adalah teka-teki misterius yang perlahan mulai ia cintai.
Di antara jadwal konser yang padat, kilatan kamera media, dan kontrak kerja jutaan dolar, ada satu rahasia besar yang mereka simpan rapat di balik pintu rumah: Status mereka.
Dapatkah cinta tumbuh di tengah kepura-puraan? Dan sanggupkah Selena bertahan menjadi rahasia terbesar sang bintang saat dunia menuntut Elvano untuk tetap "milik publik"?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Cahaya lampu temaram di dapur minimalis itu menciptakan bayangan yang menari-nari di dinding. Selena sudah mengenakan apron linen berwarna krem, rambutnya yang panjang diikat asal namun tetap memperlihatkan leher jenjangnya yang putih. Di hadapannya, berbagai bahan organik tertata rapi. Jemarinya begitu cekatan, memotong sayuran dengan presisi seorang dokter dan meracik bumbu dengan insting seorang ahli nutrisi.

Aroma bawang putih yang ditumis dengan mentega rendah lemak mulai memenuhi ruangan, menciptakan harmoni aroma yang mampu menggoda selera siapa pun. Elvano, sang bintang yang biasanya selalu dilayani, kini hanya terduduk diam di kursi bar. Matanya yang tajam dan misterius tak lepas memperhatikan setiap gerak-gerik Selena. Ada sesuatu yang menenangkan saat melihat wanita itu bekerja di dapurnya sendiri—jauh dari hiruk-pikuk lampu kilat kamera.

Elvano bangkit, langkah kakinya yang panjang membawanya mendekati area dapur.

"Perlu bantuan?" tanyanya, suaranya yang rendah bergema pelan di ruangan yang sunyi itu.

Selena mendongak sejenak, sedikit terkejut dengan tawaran pria yang biasanya tampak tak tersentuh ini. Ia memberikan senyum tipis yang hangat.

"Bantu aku menata alat makan saja, Tuan CEO. Bisa?"

Elvano mengangguk pelan. "Di mana alat makannya?"

"Laci atas, sebelah kanan," jawab Selena tanpa mengalihkan fokus dari panggangan salmonnya.

Elvano bergerak dengan elegan. Meski hanya melakukan tugas sederhana, aura karismatiknya tidak hilang. Ia menata piring porselen, sendok, dan garpu dengan ketelitian seorang perfeksionis.

"Minumnya?" tanya Elvano lagi.

"Air putih saja cukup. Oh, sekalian tolong siapkan pencuci mulut di lemari pendingin. Ada cake gandum untukmu dan puding chia seed untukku," sahut Selena sembari mematikan kompor.

Elvano mengernyitkan dahi saat membuka pintu kulkas. "Aku tidak terlalu suka makanan manis."

Selena terkekeh kecil, suara tawanya terdengar seperti melodi lembut di telinga Elvano. "Aku tahu. Itu manisnya pas, tanpa gula rafinasi. Takarannya sudah kusesuaikan dengan seleramu yang... sulit ditebak itu. Coba saja nanti."

Elvano hanya menurut. Ia mengeluarkan dua piring kecil dessert tersebut dan menatanya di meja. Tak lama kemudian, masakan utama sudah siap. Elvano membantu Selena membawa piring-piring panas ke meja makan mini yang menghadap ke halaman belakang.

Malam itu, di bawah pendar lampu gantung yang estetik, mereka duduk berhadapan. Selena mulai menjelaskan setiap komponen di piring Elvano.

"Ini mengandung omega-3 tinggi dan antioksidan untuk membantu menurunkan kadar kortisolmu. Stres kronis itu nyata, Elvano. Kamu harus makan ini agar metabolisme tubuhmu tidak semakin hancur."

Elvano mencicipi suapan pertama. Matanya sedikit melebar. Rasa masakan ini tidak hambar seperti menu rumah sakit yang ia bayangkan. Justru sebaliknya, rasanya sangat kaya dan pas.

"Enak," ucapnya singkat, namun bagi Elvano, pujian itu adalah pengakuan yang sangat jarang ia berikan.

Selena tersenyum lebar, matanya membentuk bulan sabit yang cantik. "Terima kasih atas penilaiannya, Tuan Bintang."

Selesai makan, suasana menjadi lebih santai. Selena mengajak Elvano pindah ke ruang tengah untuk menikmati dessert sambil menonton sesuatu. Elvano duduk di sofa empuk yang terasa sangat nyaman. Tiba-tiba, Selena membentangkan sebuah selimut kecil berbahan rajut ke atas kaki Elvano.

"Untuk apa?" tanya Elvano bingung.

"Kaki yang hangat bisa membantu sistem sarafmu rileks. Anggap saja ini bagian dari terapi," jawab Selena sambil duduk di sampingnya, memberikan jarak yang sopan namun terasa dekat.

Mereka menonton film pendek tentang perjalanan alam, menikmati dessert yang ternyata memang sesuai dengan selera Elvano—tidak berlebihan, namun memuaskan. Sesekali, Elvano melirik ke arah Selena yang tampak sangat nyaman di dunianya sendiri. Di sini, di rumah ini, Elvano merasakan sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan di penthouse mewahnya yang dingin. Ia merasa... pulang.

Keheningan yang damai itu terusik saat ponsel Elvano di atas meja bergetar. Sebuah pesan dari Darian masuk, melampirkan beberapa foto cincin pernikahan dari brand perhiasan ternama. Elvano menghela napas, lalu menunjukkan layar ponselnya kepada Selena.

"Darian memintaku memilih. Kamu suka yang mana?"

Selena mendekat untuk melihat layar, membuat aroma vanilla dari tubuhnya tercium jelas oleh Elvano.

"Kamu suka yang seperti apa?" tanya Selena balik.

"Aku lebih suka yang simpel. Tidak perlu banyak batu permata yang mencolok," jawab Elvano jujur.

Selena mengangguk setuju. Jemarinya menggeser layar dan berhenti pada sepasang cincin platinum dengan desain minimalis namun memiliki ukiran halus yang sangat berkelas di bagian dalamnya.

"Yang ini. Sangat sesuai dengan karakter kita. Elegan tapi tidak berisik."

Elvano menatap pilihan Selena, lalu menatap wanita itu. "Setuju. Aku akan minta Darian mengurusnya."

Setelah urusan cincin selesai, Elvano menyandarkan punggungnya ke sofa, menatap langit-langit sejenak sebelum melontarkan pertanyaan yang sejak tadi berputar di kepalanya.

"Setelah menikah nanti, kamu ingin tinggal di mana? Apartemenku atau tetap di rumah ini? Aku tidak akan memaksamu, aku menghargai privasimu."

Selena terdiam sejenak, menimbang-nimbang. Ia menatap sudut-sudut rumahnya yang ia bangun dengan kerja keras.

"Tinggal di mana saja aku tidak masalah. Di apartemenmu, keamanannya pasti sangat ketat, itu bagus untuk menjaga privasimu sebagai public figure. Tapi di sini... ini adalah zonaku. Ada klinik di sebelah yang butuh pengawasanku."

Elvano menoleh. "Aku tidak masalah jika harus tinggal di sini."

Selena menoleh, matanya bertemu dengan mata Elvano. "Benarkah? Seorang bintang besar mau tinggal di rumah minimalis seperti ini?"

Elvano mengangguk dengan senyum tipis yang tulus. "Di sini tenang. Jauh lebih terasa seperti rumah daripada tempat tinggalku sendiri."

Selena tersenyum, kali ini senyumnya terasa lebih dalam. "Baiklah. Kalau begitu, kita bisa bergantian. Tapi malam ini, kamu harus scan sidik jarimu di pintu depan. Biar kapan pun kamu merasa butuh tempat yang tenang atau butuh makanan sehat, kamu bisa datang tanpa harus menunggu aku membukakan pintu."

Elvano terpaku sejenak. Pemberian akses sidik jari adalah bentuk kepercayaan yang besar bagi orang seperti mereka. Ia mengangguk pelan, menyetujui saran itu.

**

Selena membaringkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar dengan perasaan yang tidak menentu. Di jemari kanannya, ia menggenggam sebuah benda tipis yang terasa sangat berat secara emosional: sebuah tiket konser eksklusif.

Pikirannya kembali melayang pada kejadian satu jam yang lalu, tepat sebelum Elvano Alvendra berpamitan untuk pulang. Pria itu berdiri di depan pintu, bayangannya tampak tinggi dan mendominasi di bawah pendar lampu teras. Dengan gerakan tenang namun tegas, Elvano mengangsurkan sebuah amplop hitam elegan.

"Datanglah," ucap Elvano singkat. Suaranya yang rendah dan hangat merayap masuk ke pendengaran Selena. "Ini konserku di Singapura, diadakan selama tiga hari. Kau bisa datang di hari mana saja. Aku sudah menyertakan name tag tim khusus agar kau bisa keluar masuk area backstage secara bebas."

Selena menatap name tag itu. Ada logo Zenithra Entertainment yang tercetak mahal di sana. Ini adalah pertama kalinya bagi Selena kembali bersentuhan dengan dunia hiburan setelah bertahun-tahun ia memutus hubungan sepenuhnya dengan segala hal berbau keartisan.

Semenjak lulus dari bangku SMA, Selena telah membangun benteng yang sangat tinggi di sekeliling hatinya. Ia sengaja menenggelamkan diri dalam tumpukan buku kedokteran dan dietetik, tak ingin sekali pun melirik dunia layar kaca yang penuh kepalsuan. Kenapa? Karena Selena adalah korban dari sebuah janji yang hancur berkeping-keping.

Cinta pertamanya. Pria yang dulu menggenggam tangannya erat dan berjanji akan meraih gelar dokter bersama-sama, justru melepaskan tangannya di tengah jalan. Pria itu memilih meninggalkan pendidikan demi gemerlap dunia keaktoran, terlebih saat seorang artis ternama mulai muncul di sisi pria itu. Selena tidak hanya ditinggalkan oleh ambisi pria itu, tapi juga oleh kesetiaannya. Ia adalah korban perselingkuhan yang dilakukan di bawah lampu sorot industri yang ia benci.

Namun, takdir seolah sedang mempermainkannya dengan cara yang paling ironis. Di saat ia berusaha menjauh, ia justru akan segera sah menjadi istri dari Elvano Alvendra—puncak tertinggi dari ekosistem hiburan yang selama ini ia hindari. Pria yang pesonanya sanggup melumpuhkan logika jutaan wanita, kini menjadi suaminya melalui sebuah perjodohan paksa yang tak bisa ia tolak demi Oma Ratna dan Nenek Asti.

Selena menghela napas panjang, membalikkan tubuhnya ke samping. Selain tiket konser itu, ada satu permintaan Elvano yang masih terngiang jelas sebelum mobil pria itu menghilang di kegelapan malam.

"Besok pagi, datanglah ke apartemenku," pinta Elvano. "Bukan sebagai dokter, tapi sebagai orang yang akan berbagi hidup denganku. Buatkan aku sarapan. Mari kita coba saling mengenal di ruang yang lebih pribadi sebelum hari pernikahan itu tiba."

Undangan itu terdengar sederhana, namun bagi Selena, itu adalah langkah awal memasuki wilayah paling rahasia milik seorang Elvano. Apartemen itu adalah benteng privasi sang superstar, dan besok, ia diminta untuk hadir di sana tanpa jarak.

Selena memejamkan matanya, berusaha mengusir bayang-bayang mantan kekasihnya yang dulu tega meninggalkannya. Ia takut, sangat takut jika suatu saat nanti Elvano akan melakukan hal yang sama—memilih panggung dan sorak-sorai dunia daripada rumah yang tenang.

Namun, di sela ketakutannya, ada rasa penasaran yang mulai tumbuh. Siapa sebenarnya sosok Elvano di balik pintu apartemennya? Apakah dia benar-benar pria dingin yang kesepian, ataukah ada rahasia lain yang sengaja ia sembunyikan dari seluruh dunia?

***

1
Sri Murtini
elvano kau benar " cinta ya bukan akting
Sri Murtini
Elfano jatuh cinta se jatuh"nya dipelukan kekasih hati. ternyata tidak selamanya perjodohan itu berdampak buruk.... ini memang ketemu pasangan sejatì
Penta Ning Thiyas
luar biasa
Penta Ning Thiyas
karyamu selalu keren.. dan nagih😍👍 semangat kak
Hugo Hamish
kak up dong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!