Di kota Valmere, nama Phantom dibisikkan seperti legenda.
Seorang kurir bayangan. Pembunuh yang tak pernah gagal.
Leon hidup di dunia yang gelap dan presisi—sampai satu malam peluru yang bersarang di tubuhnya memaksanya masuk ke sebuah klinik kecil di Distrik 6.
Di sana ia bertemu Alice Arden, seorang dokter yang tidak bertanya siapa dia, dan tidak takut pada darah yang dibawanya.
Namun ketika dunia bawah mulai memburu sesuatu di distrik itu, Leon menyadari satu hal yang berbahaya.
Target yang mereka cari…
Mungkin adalah satu-satunya orang yang memperlakukannya seperti manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 — Zona Tidak Aman
“Percepat itu artinya apa, Leon?”
Gray melempar pertanyaan itu dengan nada yang lebih tajam dari biasanya, menuntut penjelasan di tengah dengung statis alat komunikasi. Leon tidak langsung menjawab. Ia menyalakan mesin motornya, membiarkan deru rendah knalpot membelah kesunyian yang ditinggalkan oleh Rook beberapa saat lalu.
“Artinya kita berhenti menunggu,” sahut Leon dingin.
Motor itu mulai bergerak pelan, merayap menjauhi bayang-bayang di seberang klinik. Di balik helmnya, mata Leon terus memindai setiap sudut gelap, sementara Gray tetap terdiam di telinganya, mencerna maksud dari perintah baru tersebut.
“Kau ingin menarik mereka keluar secara paksa?” tanya Gray akhirnya saat Leon membelokkan kendaraannya ke jalan utama.
“Aku ingin tahu berapa banyak lintah yang sudah masuk ke area ini.”
Gray menghela napas pendek, suara napasnya terdengar seperti desis elektronik. “Itu bukan strategi yang bersih, Leon. Kau mempertaruhkan posisi kita.”
“Aku tidak butuh strategi bersih,” jawab Leon datar. “Aku butuh hasil.”
Beberapa menit kemudian, Leon menghentikan motornya di ujung Distrik 6, sebuah wilayah yang seolah dilupakan oleh cahaya. Lampu-lampu jalan di sana sudah lama mati, menyisakan kerangka bangunan tua yang berdiri layaknya nisan raksasa di bawah langit malam yang keruh. Leon mematikan mesin. Seketika, sunyi yang mencekam menyergap.
Ia turun dari motor, gerakannya seringan kucing hutan. “Sensor?” bisiknya pelan.
“Ada tiga titik panas di radius seratus meter,” lapor Gray cepat. “Mereka terdistribusi dengan pola yang rapi.”
Leon menyipitkan mata, menatap ke arah gang-gang sempit yang menyerupai labirin. “Pemburu?”
“Ya. Tapi… cara mereka memposisikan diri tidak terlihat seperti amatir yang lapar hadiah.”
Leon mengangguk kecil, sebuah gerakan yang hampir tak terlihat dalam kegelapan. “Bagus. Berarti ini tidak akan membosankan.”
Ia mulai melangkah masuk ke dalam gang. Bayangan gedung-gedung tua seolah menelan tubuhnya bulat-bulat, hanya menyisakan derap langkah yang nyaris tak terdengar di atas aspal retak.
Seorang pria berdiri diam di ujung gang, bersandar pada tembok yang dipenuhi grafiti kusam. Ia sedang merokok, ujung tembakaunya menyala kemerahan di tengah kegelapan. Tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang berada di wilayah konflik.
Leon berhenti beberapa meter di depannya. “Sudah lama menunggu?”
Pria itu melepaskan asap rokok dari mulutnya, lalu tersenyum miring. “Sejujurnya, aku berharap pertemuan kita akan sedikit lebih dramatis dari ini.”
Leon tidak memiliki selera untuk berbasa-basi. “Siapa yang mengirimmu?”
Pria itu menjatuhkan puntung rokoknya, menginjaknya hingga padam dengan ujung sepatu bot yang berat. “Maksudmu, siapa yang membayar untuk kepalamu?”
Leon diam, namun tangannya sudah berada dalam posisi siaga di dekat pinggang. Keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban bagi si pria asing.
Pria itu tertawa kecil, suara tawa yang kering dan tidak menyenangkan. “Kau benar-benar tidak peduli siapa yang memburumu, ya? Kau bertingkah seolah kau adalah puncak rantai makanan di sini.”
“Jawab saja,” desis Leon, maju satu langkah.
Pria itu mengangkat tangannya sedikit, telapak terbuka, seolah menyerah tapi matanya berkilat penuh tipu daya. “Helix.”
Nama itu menggantung di udara. Tidak ada kejutan di wajah Leon, hanya tatapan yang semakin mendingin. Pria itu memperhatikannya dengan saksama, mencoba mencari celah ketakutan. “Oh, kau sudah tahu rupanya.”
“Berapa orang yang mereka bawa?” tanya Leon pendek.
Pria itu memperlebar senyumnya, memperlihatkan deretan gigi yang tidak rata. “Cukup banyak untuk membuatmu tetap sibuk sampai fajar tiba.”
Tanpa peringatan, Leon menarik pistolnya. Gerakannya begitu halus dan presisi, seolah senjata itu adalah perpanjangan dari lengannya sendiri. Pria itu tidak bergerak, senyum miringnya masih bertahan di wajahnya.
“Jadi, ini akhirnya?” tanya pria itu pelan.
Leon menjawab tanpa ragu, “Ya.”
Tembakan pertama meledak, memekakkan telinga di lorong yang sempit itu. Bersih. Pria itu tumbang bahkan sebelum gema suaranya hilang. Namun, sebelum tubuh itu menghantam tanah, suara lain muncul dari berbagai arah.
Tap. Tap. Tap.
Langkah kaki terdengar serentak dari sisi kiri, dari balik tumpukan kontainer, dan dari atap bangunan di atas mereka. Leon bergerak instan, tubuhnya seolah sudah hafal pola serangan ini sebelum terjadi.
Satu bayangan muncul dari balik tong besi. Dor. Satu jatuh. Leon berputar di tempat, membalas tembakan dari arah atas. Dor. Tubuh kedua jatuh berdebam dari ketinggian.
Peluru menghantam dinding tepat di samping kepalanya, menyipratkan serpihan beton. Leon menunduk, meluncur dengan mulus ke balik kotak besi besar untuk berlindung.
“Empat orang tersisa,” lapor Gray di tengah hiruk-pikuk suara desingan peluru.
Leon tidak menjawab. Ia sudah bergerak lagi, keluar dari bayangan dan muncul di sisi yang tak terduga. Satu tembakan lagi, satu lagi nyawa melayang. Tersisa tiga. Namun, kali ini mereka tidak merangsek maju. Mereka mulai mundur dengan gerakan yang terkoordinasi.
“Profesional,” gumam Gray. “Mereka tidak panik meski kawan mereka tumbang.”
Leon mengamati pergerakan mereka dari balik celah perlindungan. Ia tidak mengejar, tidak juga terburu-buru. Salah satu dari mereka berteriak memberi komando, “Mundur! Amankan data!”
Leon membiarkan mereka menghilang ke dalam kegelapan. Beberapa detik kemudian, sunyi kembali menguasai Distrik 6.
Leon berdiri tegak di tengah gang yang kini berbau anyir besi. Mayat-mayat terkapar di sekelilingnya, darah mulai mengalir lambat mengisi celah-celah aspal yang retak. Ia menarik napas pendek yang stabil, seolah baru saja melakukan rutinitas biasa.
Gray berucap pelan, suaranya terdengar lebih berat. “Mereka tidak datang untuk membunuhmu malam ini, Leon.”
“Mereka menguji kekuatanku,” sahut Leon.
“Ya. Dan mereka mendapatkan apa yang mereka cari.”
Leon mendekati salah satu tubuh, berjongkok, dan menggeledah saku taktisnya dengan cepat. Ia menemukan sebuah chip kecil yang tertanam di balik kerah jaket pria itu. Ia mencabutnya dan menunjukkannya ke arah kamera kecil di pergelangan tangannya. “Analisis.”
“Sedang kupecah enkripsinya,” kata Gray. Keheningan berlangsung selama beberapa detik yang terasa panjang sebelum Gray melanjutkan, “Leon.”
“Apa.”
“Mereka bukan hanya pemburu hadiah. Orang-orang ini adalah unit pengintai tingkat lanjut.”
Leon terdiam, matanya menatap ke arah cahaya redup yang memancar dari pusat distrik. Ke arah klinik.
“Berarti…”
“Berarti mereka sudah menandai seluruh area ini sebagai target operasi,” Gray menyelesaikan kalimatnya dengan nada peringatan yang jelas.
Di sisi lain Distrik 6, lampu Klinik Arden masih menyala redup, menjadi satu-satunya sumber cahaya yang tampak hangat di tengah lingkungan yang dingin.
Alice berdiri di dekat jendela lantai dua, menatap keluar ke arah jalanan yang sepi. Gang di bawah sana terlihat kosong, namun bulu kuduknya meremang. Ada sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan—perasaan bahwa ribuan pasang mata sedang menatapnya dari kegelapan.
Ia menarik tirai sedikit, menutup pandangannya dari dunia luar, lalu kembali ke meja kerjanya. Namun, tangannya berhenti di udara sebelum sempat menyentuh stetoskop. Ia teringat cara Leon berdiri di luar tadi—siaga, tegang, dan penuh rahasia.
“Apa yang sebenarnya sedang terjadi, Leon…?” bisiknya pelan pada keheningan ruangan.
Kembali ke gang yang gelap, Leon masih berdiri di posisi semula. Pikirannya bergerak lebih cepat daripada peluru yang baru saja ia lepaskan.
“Mereka sudah masuk ke dalam sistem pertahanan distrik,” katanya pelan.
Gray menjawab, “Dan yang baru saja kau hadapi hanyalah lapisan pertama. Umpan.”
Leon memasukkan pistolnya kembali ke dalam sarung di balik jaketnya. “Rook?”
“Tidak terdeteksi di radar terdekat,” jawab Gray.
Leon menatap deretan atap bangunan yang seolah menyatu dengan langit hitam. Kosong, namun ia tahu ada seseorang di sana. Seseorang yang jauh lebih berbahaya dari unit pengintai tadi. “Dia tidak akan turun tangan sendiri dalam waktu dekat.”
“Dia menunggu kau kelelahan,” Gray setuju.
Keheningan kembali jatuh di antara mereka. Leon menatap ke arah klinik untuk terakhir kalinya malam itu. Lampu di sana masih menyala. Alice masih di sana, terjebak dalam gelembung ketidaktahuan yang berbahaya.
“Leon,” panggil Gray pelan.
“Apa.”
“Zona ini sudah tidak aman lagi bagi siapa pun. Termasuk dia.”
Leon tidak langsung menjawab. Ia menaiki motornya, menghidupkan mesin yang menderu rendah. Namun, ia tidak segera menarik gas. Matanya terpaku pada Klinik Arden yang terlihat rapuh dari kejauhan.
“Besok,” kata Leon pendek.
“Apa langkah selanjutnya?” tanya Gray.
Leon menatap lurus ke jalanan yang membentang di depannya, gelap dan tanpa ujung. “Dia harus pergi dari sini. Sebelum tempat ini menjadi kuburan.”
Gray terdiam sejenak sebelum menjawab, “Akhirnya kau menyadarinya.”
Leon menarik gas dalam-dalam. Motornya melesat, membelah malam dengan kecepatan tinggi. Namun sebelum suaranya benar-benar hilang ditelan angin, ia berbisik sangat pelan, hampir menyerupai sebuah janji.
“Hari ini… distrik ini masih milikku.”
Di kejauhan, di atas puncak gedung yang jauh lebih tinggi dari bangunan lainnya, sesosok bayangan berdiri tegak mengamati segalanya.
Rook.
Ia melihat motor Leon yang menjauh seperti titik cahaya kecil. Ia melihat mayat-mayat yang bergelimpangan di gang melalui teropong taktisnya. Pola serangan Leon, kecepatannya, titik lemahnya—semuanya sudah terekam.
Ia tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya yang dingin. “Cepat sekali, Phantom. Kau selalu begitu efisien.”
Rook memasukkan tangannya ke saku jaket, matanya kini beralih ke arah klinik yang lampu-lampunya masih menyala terang di tengah kegelapan.
“Bagus,” bisiknya pelan. “Tekanan ini akan mulai bekerja dari dalam.”
Angin malam yang kencang menyapu rambutnya, membuat jubahnya berkibar. Rook menoleh sedikit ke arah jalanan utama, senyumnya menghilang, digantikan oleh ekspresi predator yang telah menemukan mangsanya.
“Sekarang…”
Ia menjauh dari tepi gedung, menghilang ke dalam kegelapan yang lebih pekat.
“…kita lihat siapa yang pertama kehabisan waktu.”