"sebenarnya mau pria itu apa sih?"
kanaya menatap kala dengan sorot mata penasaran.
pria dingin itu hanya menatapnya datar, seperti biasa tanpa ekspresi.
"hhhhhh" kanaya mendengus kesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Kanaya memejamkan matanya, memaksa dirinya untuk tidur. Mulutnya sudah menguap sedari tadi, matanya juga sudah mengajak untuk terpejam, namun benaknya terlalu berisik, kanaya gelisah.
Tubuhnya tak bisa tenang, ia membolak balikkan tubuhnya, namun ucapan 'sayang' dari kala tadi tak mau pergi dari pikirannya. Cukup memporak porandakan perasaan kanaya yang memang sudah berbunga-bunga sejak pengakuan pria itu tadi.
"Tidurlah nduk, sudah malam" tegur ibu lembut mengagetkannya, ternyata ibunya belum tertidur.
"Iya bu.." sahut kanaya lirih menahan malu yang tiba-tiba menyergap.
Kanaya mencoba fokus, menahan gerakan tubuhnya yang gelisah. Ia masih memaksa matanya untuk terpejam, namun suara ibu tiba-tiba memecah konsentrasinya.
"Kamu sangat mencintai dia yah nduk? dan itu cukup bagi ibu, melihat senyum bahagia dari wajahmu, ibu senang.
Terus terang naya, senyum itu sudah lama tidak pernah ibu lihat"
Kanaya tersipu malu mendengar ucapan ibunya, ia memeluk ibunya dari belakang. Menyelusupkan kepala di pundak ibunya, bu risma tersenyum simpul, melihat kelakuan putrinya seperti gadis ABG yang baru jatuh cinta.
"Kamu sudah yakin dengan pilihanmu kan, Nduk?
Ibu tak mau melarang atau memaksa, karena ini semua adalah hidupmu, ibu dan adik-adikmu hanya bisa mendoakan kebahagiaanmu"
Bu risma merasakan anggukan kepala kanaya di punggungnya,
"Tapi ibu minta naya, berbahagialah nak, kamu berhak untuk itu"
"Terima kasih ibu..",sahut kanaya berbisik, semakin mengeratkan pelukannya.
"Dan untuk dokter zayyan, tolak dan jelaskan baik-baik yah nduk, begitu juga kepada alita, ibu minta tolong, jelaskan dengan baik-baik"
Tubuh kanaya menegang sesaat, yah—baru ia ingat ada alita yang harus ia pikirkan.
Kanaya melepaskan pelukan dari tubuh ibunya, telentang menatap langit-langit kamar ibu. Tubuh bu risma berbalik, netranya memperhatikan wajah kanaya dengan teliti.
"Kenapa, nduk?"
Kanaya menoleh, menatap netra ibunya, helaan nafasnya terdengar berat.
"naya tidak tahu bagaimana caranya mengatakan pada alita bu,
Jujur naya sangat menyayangi anak itu, naya tak sanggup menyakiti hatinya"
Ibu tersenyum, ia memahami kegalauan yang menerpa hati putrinya, kanaya memiliki hati yang lembut.
"Jelaskan terlebih dulu pada ayahnya, kemudian pikirkan cara yang terbaik, untuk menjelaskan pada gadis mungil itu"
Kanaya mengangguk pelan, rasa kantuk mulai menguasainya. Perlahan matanya terpejam, tertidur di samping ibu, yang menatapnya tersenyum.
Kanaya menyiapkan sarapan, dan menatanya di atas meja makan. Ia melirik jam dinding yang tergantung diruang tamu, jarum jam menunjukkan pukul 06.00 wib.
Kanaya hanya meletakkan 2 piring diatas meja, untuk kala dan juga untuk ibunya. Untuk dirinya sendiri dan adiknya, kanaya menyiapkan 2 gelas kopi pahit.
Tangannya dengan lincah mengisi bekal untuk adiknya sarapan di bengkelnya nanti, seperti kanaya, aksara juga tidak biasa sarapan dan hanya cukup dengan segelas kopi pahit.
Aksara keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan handuk yang tersampir di bahunya, aroma harumnya shampo tercium dari rambutnya yang masih basah.
Kanaya memandangi aksara yang duduk didepannya, meraih gelas kopi dan menyesapnya penuh nikmat.
"Aku pergi agak pagian mbak, hari ini aku mau merapikan barang-barang yang masuk kemarin yang belum sempat kurapikan"
Kanaya mengernyitkan matanya, menatap penuh selidik.
"Bukan karena kamu mau menghindari kala?"
Aksara menatap kanaya, anggukan pelan kepalanya membuat kanaya terdiam penuh tanya.
"Bukan aku tak menyukai pria itu, mbak, hanya aku sedikit enggan berhadapan dengannya pagi ini,
Aku merestui kok mbak, mbakkan tahu gimana aku"
Kanaya tahu, adiknya memang sedikit introvert, tapi ia yakin alasan sebenarnya, ketidaknyamanan aksara terhadap kala disebabkan penjelasan pria itu tadi malam. Aksara sedikit emosi tadi malam, dan kanaya memakluminya.
"Mbak, bekalnya udah dibanyakin kan? hari ini ujang juga akan masuk cepat, pagi ini kami akan merapikan barang-barang dulu, bengkel tetap buka seperti biasa"
"Oh..sebentar, mbak siapkan 1 lagi aja bekalnya" jawab kanaya beranjak dari duduknya, meraih kotak bekal kosong, dan menyiapkan 1 lagi untuk ujang, pekerja adiknya.
Kanaya melambaikan tangan, sampai adiknya hilang dari pandangan. Ia memutar tubuhnya cepat, gerakannya sedikit tidak stabil.
Kanaya terkejut karena kala berada di depannya, dengan gerakan cepat ia menarik tubuhnya supaya tidak menabrak kala.
Gerakan yang tidak stabil, membuatnya goyah. Tubuh kanaya malah ambruk ke depan, jatuh kedalam pelukan kala, yang dengan cepat menyambut tubuh kanaya.
Tangan kekar kala memeluk tubuh kanaya erat, sesaat mereka terpaku, detak jantung mereka berdetak seirama. Pipi kanaya perlahan merona merah, ia mendongakkan kepalanya.
Mata mereka saling menatap, detak jantung mereka semakin cepat berdetak. Netra coklat milik kala menatap sayu ke arah kanaya.
Aroma tubuh kanaya meresap masuk ke penciuman kala, membangkitkan rasa rindu dan candu di dalam hatinya.
Pelukan kala terasa makin erat ditubuh kanaya, dan tubuhnya merespon pelukan itu. Pelukan mereka semakin erat, mata mereka masih saling menatap, sesaat mereka merasa dunia sekeliling mereka mendadak sunyi, syahdu.
Kanaya merindukan momen ini, dan ia tahu, tatapan mata kala menuntut lebih. Kanaya hampir memejamkan matanya, kalau saja ia tak mendengar suara deheman dari ibunya.
Dengan cepat kanaya mendorong tubuh kala menjauhinya, berdua mereka menatap ibu dengan wajah memerah jengah salah tingkah, wajah kala bersemu merah.
"Sarapan sudah siap, nduk?" tanya ibu memecah kesunyian, sorot mata ibu menatap lucu ke arah mereka.
Kanaya beringsut dari sisi kala, melangkah perlahan menuju ibunya,
"Sudah naya siapkan bu" sahutnya pelan, rasa malu masih menguasai hatinya.
"Ayo, nak kala kita sarapan" ajak ibu menyadarkan kala yang masih terpaku malu.
Bibir ibu tersenyum simpul, kala melangkah mengikuti menuju meja makan, duduk dengan kepala masih menunduk malu.
Kala belum berani bersuara, gerakan tangan kanaya menyiapkan sarapan untuknya, membangkitkan kenangan. Senyum manis terkulum di bibirnya, namun tatapan mata dari ibunya kanaya itu menyadarkannya.
Dengan cepat kala menarik senyum manis itu dari bibirnya, ia memperbaiki posisi duduk, menatap penuh hormat ke arah bu risma yang masih tersenyum simpul. Kala menyadari arti senyum itu, ia menunduk malu lagi.
"Makanlah nak" perintah ibu lembut.
"Bukankah hari ini kamu akan kembali ke jakarta?"
Kala mengangguk, meraih sendok yang ada di piringnya, mulai menyuap nasi goreng itu ke mulutnya.
"Kapan kamu akan datang membawa keluargamu kemari" tanya ibu disela-sela sarapan mereka.
Kanaya menatap ibunya dan kala bergantian, mengapa ia merasa dirinya tak diajak membicarakan hal yang sedang dipertanyakan ibunya barusan.
"Secepatnya bu, saya akan usahakan secepatnya"
Ibunya kanaya mengangguk pelan,
"Ibu harap, memang harus secepatnya nak,
Ibu tahu kamu sudah ingin segera memboyong kanaya kan?," tanya ibu dengan mimik kocak menatap kala yang tersipu malu.
Menyadari ternyata calon mertuanya ini memahami isi hatinya.
"Ibu ingin kalian segera menghalalkan hubungan kalian, tapi beri kanaya waktu untuk menyelesaikan beberapa hal, bukan begitu nduk?" tanya ibu tiba-tiba mengalihkan perhatiannya pada kanaya.
Kanaya yang sedang menatap gawainya, terkejut oleh pertanyaan ibu. Namun dengan cepat ia mengangguk, tadi malam kanaya sudah membicarakan hal ini dengan ibunya.
Dan kanaya berjanji akan menyelesaikan secepatnya, ia tak mau memberi harapan palsu kepada alita dan ayahnya.
"Ya..bu" sahut kala mengangguk sopan.
"Saya akan memberi waktu kepada naya untuk menyelesaikan semua urusannya,
Saya siap kapan saja, begitu keluarga disini memberikan perintah untuk saya datang kemari,
Saya akan kemari membawa keluarga saya"
Janji kala dengan mantap, senyuman manis dari bibirnya membuat kanaya dan ibu ikut tersenyum.
Bersambung...