Claire Sophia-- seorang Nona muda yang tidak pernah memikirkan hidup. Baginya untuk apa bekerja toh dia sudah kaya sejak lahir. Namun suatu hari saat dia memberikan pelajaran bagi sang kekasih yang telah berani berselingkuh darinya.
Claire mendapatkan sebuah notifikasi..
[Notifikasi: Tekan YA untuk Masuk!]
Untuk mengubah takdir dan alur hidup nya di drama itu. Claire memutuskan untuk merelakan Suaminya untuk pemeran Protagonis.
Namun satu yang Claire tidak tau-- alur dan peran yang berubah akan mengacaukan jalan cerita--juga mengungkapkan sebuah rahasia yang tidak pernah di sangka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuan Besar Winston
Terperangkap dalam sangkar emas keluarga yang memuja kasta ibarat dipaksa bernapas dalam ruang hampa bagi Claire--- setiap sudut rumah itu memancarkan arogansi yang membuatnya muak hingga ke sumsum tulang. Di dunia asalnya, ia adalah sang pemegang takhta, pewaris tunggal imperium bisnis yang namanya saja sanggup membekukan darah lawan, namun di panggung sandiwara picisan ini, ia justru direduksi menjadi sosok Antagonis dangkal yang meraih kuasa lewat skandal ranjang bersama Julian.
Sungguh sebuah penghinaan bagi martabatnya. Namun, dunia ini melakukan kesalahan fatal jika mengira ia adalah wanita menyedihkan yang sama dengan pemeran Antagonis yang asli--- Claire yang sekarang jauh lebih berbahaya, lebih licik, dan memiliki aura dominasi yang mampu melumpuhkan siapa pun yang berani meremehkannya.
Ia tak akan membiarkan dirinya didikte oleh naskah takdir yang konyol ini, karena baginya, alur cerita bukanlah sesuatu untuk diikuti, melainkan tanah liat yang siap ia bentuk sesuka hati. Dengan seringai tipis yang menyimpan ribuan rencana mematikan, Claire bersiap mengambil alih tongkat estafet sebagai sutradara tunggal yang akan menghancurkan setiap kasta yang selama ini diagung-agungkan, karena ia bukanlah bidak yang akan tunduk pada keadaan, melainkan badai yang akan menyapu bersih siapa pun yang menghalangi jalannya.
Ana meletakkan garpunya dengan sengaja, menatap Claire rendah. "Lihatlah dia, Kak Yunda. Duduk di antara kita seolah-olah dia benar-benar selevel dengan darah biru keluarga ini. Benar-benar pemandangan yang merusak selera makan."
Yunda tersenyum sinis sambil menyesap wine. "Entah ramuan apa yang dia gunakan sampai Julian bisa terjebak permainan murahan di atas ranjang itu. Julian, sebagai kakakmu, aku sarankan lebih baik kau 'simpan' saja wanita ini di paviliun belakang. Lihatlah cara dia berpakaian, seolah dia memang Ratu malam ini."
Nyonya Amber menimpali dengan nada dingin. "Setidaknya, karena wajah cantiknya, dia tidak akan terlalu mempermalukan keluarga kita di depan publik. Meskipun bagiku, kecantikannya masih kalah jauh jika dibandingkan dengan Liora. Liora punya kelas, bukan sekadar polesan."
Ana mengangguk, tersenyum tipis. "Tentu saja, Ma! Liora adalah pilihan terbaik Kak Julian. Tapi gara-gara wanita murahan ini, pernikahan impian itu batal. Memuakkan sekali melihatnya merasa menang."
Michel tiba-tiba meletakkan sendoknya, menatap lurus ke arah Ana dan Yunda dengan mata bulatnya yang tajam. "Mata Tante-tante ini jelas ndak? Bica melihat ndak? Mommy cantik kalena dali Cana nya! Tante pelakol itu cantik kalena polecan nya ketebelan. Di cilam ail juga luntul cantikna!"
Suasana mendadak hening. Nyonya Amber tersedak, sementara Ana dan Yunda mematung dengan wajah memerah karena malu dan marah.
Yunda membentak. "Anak kecil tidak tahu sopan santun! Siapa yang mengajarimu bicara seperti itu pada orang tua?!"
Claire perlahan menyeka sudut bibirnya dengan serbet kain, gerakannya sangat anggun, tenang, namun auranya mendadak berubah sangat mencekam. Ia menatap Yunda dengan tatapan yang membuat bulu kuduk berdiri—tatapan seorang pewaris asli keluarga terkaya yang ditakuti di dunia asal nya.
"Sopan santun? Menarik sekali mendengar kata itu keluar dari mulut seseorang yang baru saja menghina ibu dari anak ini di depan matanya sendiri. Kak Yunda, jika kau ingin bicara soal level, mungkin kau harus memeriksa laporan keuangan perusahaan suamimu yang hampir kolaps bulan lalu. Bukankah memalukan jika kasta tinggi yang kau banggakan ternyata hanya topeng dari tumpukan hutang?"
Dirly-- suami Yunda sampai tersedak dan menundukkan wajah nya, tangan di bawah sana mengepal. Bahkan Yunda sampai melotot seolah berkata ' bagaimana kau bisa tau?'
Nyonya Amber merasa geram."Claire! Beraninya kau bicara seperti itu di rumah ini!"
Claire beralih menatap Nyonya Amber dengan senyum tipis yang mematikan. "Nyonya Amber, aku diam bukan karena aku tunduk. Aku diam karena aku sedang menikmati drama amatir yang kalian mainkan. Kalian pikir aku adalah wanita licik yang menjebak Julian? Memang benar.. tapi aku baru menyesalinya sekarang."
Claire tersenyum tipis--- aura otoritasnya memenuhi ruangan. Bahkan Julian pun terpaku melihat sisi istrinya yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Claire melirik Ana." Dan untuk Liora, jika dia sehebat itu, dia tidak akan membiarkan seorang wanita murahan merebut posisinya hanya dalam satu malam, bukan?"
Nyonya Mariam satu-satunya yang tersenyum kecil, menatap Claire dengan binar kekaguman tersembunyi. "Sudahlah... biarkan anak itu bicara jujur. Michel benar, kejujuran anak kecil seringkali lebih tajam daripada berlian yang kalian pakai."
Kakek Carlos mengetukkan tongkat kayunya ke lantai dengan keras. Duk! Duk!"Sudah cukup perdebatannya! Julian! Kakek dengar kau gagal menandatangani kerja sama dengan perusahaan global raksasa itu. Bagaimana bisa kau seceroboh itu?"
Julian menunduk, suaranya bergetar. "Maaf, Kek... Pihak mereka sangat tertutup. Mereka bilang... standar perusahaan kita belum memenuhi kriteria 'koneksi utama' mereka."
Claire tiba-tiba tertawa kecil, suara tawa yang elegan namun membuat bulu kuduk berdiri. Ia meletakkan gelas nya dengan gerakan yang sangat anggun—gerakan seorang ratu yang asli.
"Koneksi utama, ya? Menarik."
Yunda membentak. "Apa yang kau tertawakan, Claire? Kau tidak tahu apa-apa soal bisnis!"
Claire menatap Yunda dengan tatapan yang begitu dingin hingga Yunda terdiam. "Aku tertawa karena kalian sibuk meributkan kasta dan pakaian, sementara kalian bahkan tidak sadar sedang berada di ambang kehancuran. Kakek Carlos, perusahaan global yang Anda incar itu... bukankah dipimpin oleh seseorang misterius yang menyebut dirinya MR, A?"
Kakek Carlos mengernyit. "Bagaimana kau tahu?"
Claire berdiri perlahan, ia mendekati Michel dan mengusap kepalanya lembut, lalu melirik Nyonya Mariam yang sejak tadi hanya diam menatapnya dengan kasih sayang. Claire tidak menjawab, namun matanya yang penuh misteri membuat siapapun yang bertatapan dengan nya merinding.
Ketegangan yang semula memenuhi ruang makan—seperti benang kusut dari perdebatan yang tak kunjung usai—mendadak terputus saat seorang pelayan muncul dengan napas tersengal dan wajah pucat pasi.
"Tuan Besar! Maafkan kelancangan saya... Keluarga Winston... mereka sudah sampai di depan gerbang utama!"
Suasana seketika hening. Tak lama kemudian, suara langkah kaki yang teratur dan berwibawa bergema di lorong marmer—tap, tap, tap—sebuah simfoni langkah yang menandakan kedatangan penguasa.
Di ambang pintu, muncullah sosok pria paruh baya yang penuh wibawa, berjalan berdampingan dengan seorang wanita anggun berusia 48 tahun yang dagunya terangkat tinggi. Di sisi lain, seorang pemuda dengan tatapan dingin melangkah seirama--- Rayden.
Glenna tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. "Maaf, Ayah... kami terlambat karena ada sedikit kendala di perjalanan."
Claire duduk mematung, jemarinya mencengkeram gaun di bawah meja. Matanya menyipit, menatap lekat ke arah wanita itu sementara pikirannya berkecamuk.
" Nyonya Glenna..." batin Claire berbisik sinis. " Istri kedua dari keluarga Winston, putri kandung dari rumah ini, sekaligus bibi bagi Julian. Di dalam drama yang kusaksikan, wanita ini bukan sekadar figuran. Dialah sang arsitek kehancuran-- yang dengan kejam menyingkirkan istri pertama Tuan Winston, menjerat pria itu ke dalam lubang pernikahan yang menyesakkan, lalu dengan dingin mencoba melenyapkan anak tirinya sendiri demi ambisi. Dia adalah racun yang dibungkus sutra."
Kakek Carlos meletakkan garpunya dengan denting tajam. "Duduklah. Meja ini sudah cukup panas bahkan sebelum kalian datang."
Rayden menarik kursi untuk ibunya dengan gerakan mekanis. "Kami membawa hadiah untuk mendinginkan suasana, Kakek. Jika waktu yang kami buang dianggap merugikan, aku yang akan bertanggung jawab."
Claire menatap pemuda ini. " Sayang sekali.. pemuda berhati baik sepertinya harus memiliki ibu beracun.."
•
•
•
BERSAMBUNG