NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Musuh!!

Menikah Dengan Musuh!!

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: NaNa/ji-eun

not allowed to copy , cerita ini 100% hasil dari pikiran ku sendiri, jadi jangan copy cerita ini,

cerita ini berjudul *menikah dengan musuh!! *
pemeran perempuan dalam cerita ini sangat membenci seorang lelaki yang sangat nakal dan sering bolos waktu sma, dan nama nya adalah ALRESCHA dan kerap di panggil al/reska

ayana/ pemeran utama dari cerita ini sangat membenci al,namun al menyukai nya dari zaman sma hingga kuliah, namun al sama sekali tidak pernah mengungkapkan cinta nya kepada ayana, dan sekarang dia di pertemukan lagi, dan di paksa oleh kedua orang tua mereka untuk menikah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaNa/ji-eun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 12

Mereka pun berangkat menuju kebun binatang. Sesampainya di sana, kehadiran mereka langsung menarik perhatian. Banyak pengunjung yang melirik dan berbisik kagum melihat betapa serasinya keluarga ini dengan baju kembar mereka. Ayana berjalan dengan penuh percaya diri sambil menggandeng tangan Reva, sementara Al berjalan di sisi lain sambil sesekali merangkul pundak Ayana agar tidak terpisah di tengah keramaian.

"Al, lihat! Reva senang banget lihat jerapah," ucap Ayana antusias. Ia segera mengeluarkan ponselnya untuk mengabadikan momen saat Al mengangkat Reva agar bisa melihat hewan itu lebih jelas.

Di sela-sela berjalan santai, Al sesekali menggandeng tangan Ayana dengan erat.

 Tidak ada lagi rasa canggung atau curiga. Di hari yang cerah itu, mereka benar-benar menikmati waktu sebagai sebuah keluarga yang utuh, tanpa mempedulikan pandangan orang lain.

"Makasih ya Al, sudah mau pakai baju ini. Aku senang banget hari ini kita bisa kompak begini," bisik Ayana tulus saat mereka beristirahat sejenak.

Al mengangguk, lalu menatap Ayana dengan lembut. "Apa pun buat kamu dan Reva. Saya juga senang kalau kalian bahagia."

...****************...

Setelah momen bahagia di kebun binatang, sebuah getaran di ponsel Al memecahkan ketenangan malam itu. Sebuah pesan singkat masuk, namun pengirimnya adalah sosok yang selama ini menghilang tanpa jejak.

Alya: "Al, aku akan pulang minggu depan. Aku sudah selesai dengan urusanku di sini dan aku ingin menjemput Reva."

Al tertegun menatap layar ponselnya. Ada rasa sesak yang tiba-tiba muncul. Bukan karena ia tidak senang kakaknya pulang, tapi karena ia memikirkan bagaimana perasaan Ayana jika tahu Reva akan segera dijemput.

Al kemudian menghampiri Ayana yang sedang merapikan mainan Reva di sudut kamar. "Ayana, ada sesuatu yang harus saya sampaikan."

Ayana menoleh, menyadari raut wajah Al yang berubah serius. "Ada apa, Al? Soal kampus?"

"Bukan," Al menarik napas panjang. "Alya baru saja menghubungi saya. Dia bilang... dia akan segera pulang minggu depan untuk menjemput Reva."

Seketika gerakan tangan Ayana terhenti. Ruangan itu mendadak terasa sunyi. Meski Ayana sudah menyiapkan mentalnya dan berkata ia akan tegar, tetap saja kenyataan bahwa Reva akan pergi terasa seperti hantaman keras di dadanya.

"Minggu depan?" tanya Ayana pelan, suaranya sedikit bergetar namun ia berusaha tetap tenang. "Setelah setahun lebih dia nggak ada kabar, sekarang dia datang seolah-olah nggak terjadi apa-apa?"

Al mendekat dan menggenggam tangan Ayana. "Saya tahu ini berat. Tapi seperti yang kamu bilang kemarin, kita akan hadapi ini bareng-bareng. Kita akan minta penjelasan dia."

Ayana mengangguk, ia menarik napas dalam untuk menguatkan hatinya. "Iya, Al. Aku nggak akan biarkan dia bawa Reva begitu saja kalau dia nggak bisa buktiin dia ibu yang bertanggung jawab. Kita harus bicara bertiga nanti."

Kehadiran Alya yang sudah di depan mata menjadi ujian sesungguhnya bagi kekompakan Al dan Ayana.

Ayana tahu bahwa minggu depan akan menjadi hari yang emosional. Ia tidak ingin Reva merasa asing atau terkejut saat Alya datang. Dengan hati yang lapang, ia mulai menyiapkan mental gadis kecil itu pelan-pelan.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Sore itu, Ayana mengajak Reva duduk di karpet bulu kesayangan mereka. Ia mengambil sebuah album foto yang tersimpan rapi di laci meja rias.

"Reva, sini sayang. Mama mau kasih lihat sesuatu," panggil Ayana lembut.

Reva berlari kecil dan duduk di pangkuan Ayana. "Apa itu, Ma?"

Ayana membuka halaman pertama, menunjukkan foto Alya yang sedang tersenyum manis. "Lihat deh, cantik ya? Ini Mama Alya. Dia itu Mama kandung Reva yang selama ini kerja jauh di luar kota."

Reva menatap foto itu dengan polos, lalu beralih menatap Ayana. "Mama Alya? Terus... Mama Ayana?"

Hati Ayana sedikit mencelos, namun ia tetap tersenyum tegar. Ia mengusap pipi Reva.

 "Mama Ayana tetap jadi Mama Reva. Reva hebat, kan? Punya dua Mama yang sayang banget sama Reva. Nah, minggu depan, Mama Alya mau datang ke sini buat ketemu Reva."

"Ketemu Leva? Main baleng?" tanya Reva dengan mata berbinar.

"Iya, main bareng. Jadi Reva harus jadi anak pintar ya, jangan nakal kalau nanti ketemu Mama Alya," ucap Ayana sambil mengecup kening Reva.

Al yang berdiri di ambang pintu memperhatikan interaksi itu dengan perasaan haru. Ia kagum melihat betapa besarnya hati Ayana; meskipun ia tahu posisinya terancam, Ayana tidak sedikit pun menanamkan rasa benci atau asing pada sosok Alya di hati Reva.

Ayana mendongak dan melihat Al. Mereka saling melempar senyum penuh kekuatan. Ayana ingin Reva tahu bahwa kehadiran Alya bukan berarti ia kehilangan Ayana, melainkan menambah satu lagi orang yang mencintainya.

"Kita akan kenalin Reva ke Alya dengan cara yang baik, Al. Aku mau Reva bahagia punya dua ibu," bisik Ayana saat Al mendekat dan duduk di samping mereka.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Hari yang dinanti sekaligus mendebarkan itu akhirnya tiba. Sebuah mobil berhenti di depan pagar, dan jantung Ayana berdegup kencang saat melihat sosok wanita turun dengan koper besar. Itu Alya.

Ayana berdiri di ambang pintu, menggandeng tangan Reva yang tampak bingung melihat suasana rumah yang mendadak tegang. Al berdiri tegap di samping Ayana, memberikan kekuatan lewat kehadirannya.

"Al... Ayana..." sapa Alya dengan suara bergetar saat kakinya melangkah masuk ke teras.

Pandangan Alya langsung terkunci pada balita di samping Ayana. "Reva? Ini... Reva?" Alya menutup mulutnya dengan tangan, air matanya tumpah seketika melihat putrinya yang dulu ditinggalkan saat masih bayi, kini sudah bisa berdiri tegak dan menatapnya dengan rasa ingin tahu.

Alya mencoba berjongkok dan merentangkan tangan. "Sayang, ini Mama... Mama pulang."

Reva tidak langsung berlari. Ia justru mengeratkan pegangannya pada dahi daster Ayana, menyembunyikan wajahnya di balik kaki Ayana. "Mama... siapa itu?" bisik Reva polos kepada Ayana.

Ayana menarik napas dalam, mencoba menekan egonya. Ia berjongkok di samping Reva dan mengelus punggungnya lembut. "Sayang, ingat kan foto yang Mama kasih lihat kemarin? Ini Mama Alya yang Mama ceritain. Ayo, salim sama Mama Alya."

Dengan ragu, Reva melangkah mendekat. Alya langsung menghambur memeluk Reva dengan tangisan yang pecah, seolah ingin membayar semua waktu yang hilang selama setahun lebih ini. Ayana yang melihat pemandangan itu hanya bisa terdiam, ada rasa sesak yang menyeruak, namun ia tahu ini adalah hak Reva

.

Al melangkah maju, suaranya terdengar berat namun tegas. "Masuk dulu, Kak. Kita bicara di dalam. Ada banyak hal yang perlu Kakak jelaskan kepada kami, terutama kepada Ayana yang sudah menjaga Reva sendirian selama ini."

Alya mendongak, menatap Ayana dengan tatapan penuh rasa bersalah dan terima kasih yang mendalam. Suasana rumah yang biasanya ceria kini berubah menjadi sangat emosional, menandai babak baru dalam hidup mereka bertiga

Pintu mobil kembali terbuka, dan seorang pria dengan perawakan tegas namun tampak lelah turun menyusul Alya. Dialah Rezky, suami Alya sekaligus ayah kandung Reva.

Langkah Rezky terhenti sejenak saat matanya beradu pandang dengan Al dan Ayana. Ada guratan rasa bersalah yang amat dalam di wajahnya. Ia berjalan mendekat, lalu berdiri di samping Alya yang masih terisak memeluk Reva.

"Al, Ayana... maaf kami baru bisa pulang sekarang," ucap Rezky dengan suara rendah yang bergetar.

Ayana tertegun. Ia menatap pasangan di depannya bergantian. Di satu sisi, ia lega Reva akhirnya bertemu orang tua kandungnya, namun di sisi lain, hatinya perih mengingat setahun lebih ia dan Al yang berjuang membesarkan bocah itu sendirian.

"Masuk dulu, Kak, Bang. Nggak enak bicara di teras," potong Al dengan nada bicara yang berusaha tetap sopan meski terdengar kaku.

Mereka berempat duduk di ruang tamu. Reva, yang merasa asing, langsung berlari kecil dan memilih duduk di antara Al dan Ayana, memegang erat tangan Ayana seolah takut kehilangan pelindungnya selama ini.

 Pemandangan itu membuat Alya dan Rezky tertunduk lesu.

"Kami tahu permintaan maaf nggak akan cukup," Rezky memulai pembicaraan sambil menatap Ayana dengan tulus. "Pekerjaan di sana benar-benar mengikat kami, dan ada masalah kontrak yang membuat kami nggak bisa memegang ponsel atau pulang sama sekali. Kami salah karena membiarkan kalian menanggung beban ini sendirian."

Ayana menarik napas panjang, mencoba menahan gejolak emosinya. "Bang Rezky, Kak Alya... yang aku takutin bukan beban jagain Reva. Aku sayang banget sama dia. Tapi yang aku takutin itu mental Reva. Dia nggak kenal siapa orang tua aslinya sampai aku harus kenalin lewat foto setiap hari."

Suasana mendadak hening. Alya meraih tangan Ayana di atas meja. "Terima kasih, Na. Kamu sudah jadi ibu yang jauh lebih baik daripada aku buat Reva selama aku nggak ada. Aku nggak tahu harus balas apa."

Al menyandarkan punggungnya, matanya menatap Rezky tajam. "Lalu, rencana kalian sekarang apa? Mau langsung bawa Reva pergi begitu saja?"

Pertanyaan Al membuat suasana kembali tegang. Alya dan Rezky saling lirik, seolah ada keputusan berat yang harus mereka sampaikan.

Keputusan Rezky untuk membawa Reva pergi jauh seketika membuat suasana di ruang tamu menjadi beku. Ayana yang tadinya berusaha tegar, kini merasakan dadanya sesak luar biasa.

"Kami sudah memutuskan, Al, Ayana... setelah urusan di sini selesai, kami akan membawa Reva tinggal bersama kami di luar kota. Pekerjaan tetap kami sudah stabil di sana, dan kami ingin menebus waktu yang hilang sebagai orang tua kandungnya," ucap Rezky dengan nada yang berusaha tenang namun penuh penekanan.

Ayana terdiam, tangannya yang menggenggam jemari kecil Reva mendadak lemas. Ia menatap Reva yang masih asyik memainkan kancing baju Ayana, sama sekali tidak mengerti bahwa dunianya akan berubah total.

"Tinggal jauh? Maksud Bang Rezky... Reva nggak akan di sini lagi?" tanya Ayana dengan suara yang mulai bergetar.

Alya mengangguk pelan, matanya masih sembab. "Iya, Na. Kami mau Reva tumbuh di lingkungan baru bersama kami. Kami tahu ini mendadak, tapi dia anak kami..."

Al yang sedari tadi menyimak langsung menegakkan duduknya. Wajahnya yang dingin kini tampak menahan amarah yang terpendam. "Kak Alya, Bang Rezky... kalian sadar nggak sih? Reva baru saja mulai mengenal kalian. Dia bahkan belum berani memeluk kalian tanpa disuruh Ayana. Dan sekarang kalian mau membawanya pergi jauh dari satu-satunya 'Mama' yang dia tahu selama ini?"

"Al, kami ayahnya dan ibunya—" potong Rezky.

"Tapi Ayana yang ada saat dia sakit tengah malam! Ayana yang ngajarin dia bicara! Ayana yang dia cari setiap dia bangun tidur!" suara Al meninggi, membuat Reva terlonjak kaget dan langsung memeluk leher Ayana erat.

Ayana menarik napas dalam, mencoba menenangkan Reva sekaligus dirinya sendiri.

 Ia menatap Alya dan Rezky bergantian. "Aku nggak akan melarang kalian bawa Reva, karena itu hak kalian. Tapi tolong... jangan langsung bawa dia pergi jauh. Biarkan dia beradaptasi dulu. Jangan paksa dia kehilangan sosok yang dia anggap 'ibu' dalam satu malam. Kasihan Reva, dia bukan barang yang bisa dipindah-pindah begitu saja."

Rezky dan Alya terdiam seribu bahasa. Mereka melihat betapa eratnya Reva memeluk Ayana, seolah balita itu tahu bahwa perpisahan sudah di depan mata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!