NovelToon NovelToon
Cinta Maraton

Cinta Maraton

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:164
Nilai: 5
Nama Author: Eli Elita Septiyani

menceritakan tentang perjalanan seorang wanita yang mencari cinta sejatinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Elita Septiyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

musuh dalam selimut

Dulu Hamzah pernah ditu duh mencu ri hanya karena ia mis kin. Lu ka itu belum sem buh. Kini kambing majikannya hi lang dan sepeda an ak orang kaya ru sak karena dirinya. Apakah kali ini ia akan kembali diperma lukan di depan semua orang?

Bab 2 – Mari Berteman

“Ibu. Apakah benar, kita tidak boleh berteman dengan orang mis kin?” tanya Mala po los.

Ibunya menoleh, heran. “Apa maksudmu, Mala?”

“Tadi aku diga nggu teman. Lalu ada satu an ak yang menolongku. Dia baik sekali. Tapi dia tidak mau berteman denganku. Katanya dia an ak orang mis kin dan ta kut berteman denganku.”

Ibunya terdiam sejenak, lalu menghela nafas pelan. Ia menge lus kepa la Mala.

“Tidak, Nak. Itu tidak benar. Kita boleh berteman dengan siapa saja. Kita tidak boleh membedakan manusia. Kita semua sama di hadapan Tuhan.”

Mata Mala berbinar. “Tapi bagaimana kalau dia tidak percaya, Bu?”

“Kalau begitu,” kata ibunya lembut, “ajak saja dia ke ru mah. Ibu yang akan bicara. Kita jamu dia dengan baik.”

Mala tersenyum kecil. Tak menyangka ibunya akan mendukungnya berteman dengan an ak yang telah membantunya.

Mereka memang berada di bawah langit yang sama, tetapi memiliki keyakinan yang jauh berbeda. Mala tak sabar menunggu pagi untuk bertemu dengan Hamzah.

Ru mah mewah itu tak hanya indah oleh bangunannya, melainkan juga oleh sikap pemiliknya. Tak pernah membedakan sesama meski mereka bergelimpangan ha rta.

Keesokan harinya, Hamzah berjalan ke sekolah dengan kepala tertun duk. Setiap kali melihat seragam putih di depannya, jan tungnya berde gup lebih cepat.

Ia berharap Mala tidak melihatnya. Ia ma lu bukan karena telah menolong, melainkan karena meno lak persahabatan dengan cara yang tidak sopan.

Hamzah mempercepat langkah, berbelok ke arah kelas, pura-pura si buk.

“Hei, tunggu!”

Suara itu membuat Hamzah berhenti seketika.

“Namamu siapa?”

Hamzah mema tung. Ia tak berani menoleh.

“Kalau kamu tidak mau berteman denganku,” lanjut suara itu, “setidaknya aku boleh tahu namamu. Aku sudah bilang pada ibuku. Ibu bilang…”

“Namaku Hamzah,” potongnya cepat, lalu hendak pergi.

“Aku tidak mau masuk pen jara. Jangan berteman denganku.”

Mala menge jarnya beberapa langkah.

“Hei, kamu kenapa sih? Aku tidak akan memen jarakanmu.”

Karena gu gup dan tak memperhatikan jalan, k aki Hamzah tersan dung batu kecil.

Bruk.

Tu buhnya terja tuh ke tanah. Mala refleks tertawa kecil. “Hahaha.”

Namun tawanya segera terhenti. Ia berlari mendekat dan menyo dorkan t angan.

“Maaf, kamu tidak apa-apa?”

Wa jah Hamzah meme rah. Rasa ma lu bercampur sa kit membuat da danya

se sak.

“Tidak perlu,” katanya sambil bang kit sendiri. “Aku bisa.”

Mala mena rik ta ngannya perlahan. Ia terdiam, lalu tersenyum tipis.

“Baiklah. Namaku Mala.”

Hamzah menatapnya sekilas, lalu cepat-cepat memalingkan wa jah.

“Tapi maaf,” lanjut Mala, “aku tidak seja hat yang kamu pikirkan. Aku cuma ingin bilang… ibuku ingin berterima kasih padamu. Karena kamu sudah menolongku kemarin.”

Hamzah terdiam.

“Datanglah ke ru mahku nanti setelah pulang sekolah, ya. Ru mahku di ujung desa. Ayo, kita masuk kelas. Nanti terla mbat.”

Mala berlalu lebih dulu. Hamzah masih berdiri di tempatnya. Ha ti dan pikirannya mulai bertanya-tanya.

Kenapa dia mengundangku ke ru ma hnya?

Bagaimana kalau ini cuma tip uan?

Bagaimana kalau nanti aku ditang kap?

Sepanjang pelajaran, Hamzah tidak bisa fokus. Tulisan di papan tulis terasa ka bur. Keta kutan membuat da danya be rat.

Ia menun duk, lalu tiba-tiba tersenyum sendiri.

Kalau aku ta kut sendirian, kenapa tidak ajak amak?

Bel pulang berbunyi. Mala mendekatinya.

“Jan gan lupa datang ke ru mahku, ya,” katanya ceria. “Aku pulang dulu.”

Hamzah hanya mengangguk, lalu buru-buru pulang. Pukul empat sore, Mala mondar-mandir di ruang tamu. M atanya terus melirik jam dinding.

“Bu, kenapa Hamzah belum datang?”

"Dia menginap di pamannya "

selalu semangat membaca buku, dan mencari paman untuk meminta uang jajan

#fyp #viral #bismillahviral

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!