Trauma sang Letnan akan masa lalunya bersama seorang wanita untuk kesekian kalinya, membuatnya tidak ingin lagi berurusan dengan makhluk berjenis wanita.
Rasa sakit di hatinya membuatnya betah 'melajang', bahkan sampai rekan letting dan juniornya banyak yang memiliki momongan.
Namun, cara Tuhan mempertemukan manusia dengan jodohnya memang sangatlah adil. Ia sangat tidak menyukai gadis ini tapi.............
KONFLIK TINGKAT TINGGI. SKIP bagi yang tidak bisa membaca alur cerita berkonflik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Rahasia yang tersimpan.
Mata Bang Ali menatap tajam ke arah dokter senior di hadapannya. "Mohon ijin, Dokter. Saya tidak ingin Bang Rinto tau soal kehamilan Anye, setidaknya untuk saat ini. Saya benar-benar memohon bantuan Abang... tolong rahasiakan hasil pemeriksaan ini dari siapapun, termasuk dari dari Danki."
Dokter pun mengernyit dahi, terlihat waspada dengan permintaan juniornya namun ia paham betul situasi rumit yang sedang terjadi. "Kau mau menutupinya sampai kapan, Al? Perut Anye akan membesar, dan ini juga hak dia sebagai ibu dari anakmu, lagipula................"
"Tolong, Bang. Untuk sementara saja..!!" Sambar Bang Ali memutus pembicaraan dengan cepat, suaranya seperti menahan emosi. "Saya butuh waktu untuk menguatkan posisi saya sebagai suami. Anye hamil anak saya, anak yang saya harapkan agar dia bisa menerima kehadiran saya dan juga ikhlas menerima hati saya. Kalau Bang Rinto sampai tau, dia akan semakin nekat merebutnya. Saya tidak mau anak ini lahir tanpa ayah yang jelas, atau tumbuh di tengah keributan ini."
"Saya minta maaf kalau pertanyaan saya akan membuatmu tersinggung. Apa menurutmu... Anye pernah 'bersama' Rinto belakangan ini??" Tanya dokter hati-hati.
Bang Ali mengepalkan jemarinya dengan kuat. Ia menahan rasa sakitnya perasaan mengingat segala hal yang terjadi.
"Pasti. Maka dari itu saya mohon untuk Abang tetap merahasiakannya. Hanya itu saja, selebihnya.. Dunia akhirat, saya akan menanggungnya."
Ucap Bang Ali membuat dokter merasa syok. "Saya hanya bisa mengingatkan, tolong juga untuk kalian menjaga kestabilan emosi bumil. Tingkat stress juga bisa membahayakan janin apalagi Anye pernah hampir mengalami keguguran."
~
Di luar, suasana masih terasa panas. Bang Rinto bersandar dengan wajah pucat, ia memendam rasa gelisah yang tak bisa di sembunyikan. Begitu melihat Bang Ali keluar, ia langsung melangkah maju menyambar kerah baju juniornya.
"Gimana keadaan Anye?? Jawab, Al..!!" bentak Bang Rinto, matanya memerah.
Bang Ali menepis tangan seniornya dengan kasar, ia berdiri tegak membalas tatapan itu dengan tatapan yang tak kalah menusuk tajam. "Anye baik-baik saja. Dia cuma kelelahan dan stres berat karena pertengkaran kita. Lebih baik kita tidak usah menunjukkan situasi tegang di hadapannya. Tapi kalau memang Abang masih mau lanjut baku hantam setelahnya, saya juga akan menerimanya. Sekarang Abang pilih saja, sehat atau sakitnya Anye."
Bang Rinto pun melepas cengkeraman tangannya.
Jelas saat itu Bang Ali sudah bisa membaca sikap seniornya, tidak ada pria yang tega membiarkan wanitanya terbelenggu dalam kesakitan. Kini benar atau salah akan ia terima nanti, asalkan Anye dan calon bayinya sehat, ia akan menghadapi segala rintangan yang menanti.
Bang Rico menatap Rinto, lalu kembali pada Ali. Akhirnya ia menghela napas pasrah. "Kalau memang Anye sudah sehat, lebih baik kau bawa Anye pulang. Tapi kau harus janji, kau akan bertanggung jawab penuh. Dan Rinto... kau tenang dulu. Jangan bertindak nekat lagi."
Bang Rinto mengepalkan tangannya kuat-kuat, rasa frustrasi menguasai dirinya. Ia melihat Anye dibaringkan di ruang tindakan, wajah wanitanya itu juga teramat pucat dan tertutup selimut. Ia pun akhirnya terduduk lemas nyaris kehilangan kesadaran, air matanya meleleh deras lalu ia segera memejamkan matanya.
"Bawalah, tolong jaga dia."
...
Saat menuju perjalanan pulang, Bang Ali menatap wajah Anye yang sedang tertidur. Tangannya mengusap perut sang istri yang masih rata. Perasaannya tak karuan merasakan haru.
"Kamu ada di sini ya, sayang... Anak Papa ada di sini." bisiknya lirih, air mata bahagia menetes. "Papa janji, Papa akan lindungi Mama dan kamu. Papa tidak akan biarkan siapapun membawa kalian pergi. Kalian adalah alasan Papa bertahan, dan hanya jika Papa meninggalkan dunia ini, baru Papa ijinkan orang lain menjaga kalian.."
//
Dalam posisinya, Bang Rinto yang terpaku di tempat dengan amarah dari sebuah rindu yang tak tersampaikan. Perlahan kesadarannya benar-benar menurun.
"Astagaa.. Bantu Abang, Ron..!!!" Pinta Bang Rico.
Bang Ronald bergegas membantu seniornya untuk membawa sahabatnya ke ruang IGD.
~
"Hafiz.. Bolehkah saya meminta hasil pemeriksaan kesehatan Letnan Rinto??" Tanya Bang Ronald.
Memang saat Bang Rinto kembali datang, ia langsung meminta bagian kesehatan untuk memeriksa keadaan pria tersebut secara menyeluruh, termasuk tentang kemungkinan ada bagian-bagian vitalnya yang mungkin masih belum stabil.
"Mohon maaf, Dan. Kalau untuk urusan hasil kesehatan, kami tidak bisa memberikannya. Ini adalah data rahasia kedokteran........"
"Saya paham, tapi ada sesuatu yang saya takutkan. Kamu tau sendiri bagaimana kondisinya tadi. Kita punya hukum dan ketetapan yang berlaku. Negara ini mungkin masih mengijinkan poligami, tapi tidak dengan poliandri, kan. Dari hati nuranimu, tolong langgar satu hal saja. Saya akan sangat berterima kasih."
Serda Hafiz, ia seorang perawat di rumah sakit tentara.. menarik nafas panjang lalu membuangnya. "Ijin, Dan. Saya hanya menjabarkan sedikit saja garis besar atas kondisi Letnan Rinto berdasarkan hasil keadaan saat itu. Pertama, sekujur tubuh memang memar. Ada sedikit permasalahan pada bagian jantung, kelelahan dan dehidrasi lalu... Pada bagian panggul yang terbentur, terus terang membuat.. Kesuburan beliau cukup terganggu."
Sejenak Bang Ronald memejamkan mata. Apa yang di alami sahabatnya juga meninggalkan kepahitan tersendiri bagi dirinya.
"Apakah itu sudah pemeriksaan secara terperinci?? Dengan keadaan seperti itu apakah mungkin sistem repro*uksi nya juga terganggu??"
"Hmm.. Ijin, sepemahaman saya.. Tidak. Hanya untuk mendapatkan seorang anak, yang mungkin akan sedikit terhambat." Jawab Serda Hafiz.
"Allah Ya Rabb.." Bang Ronald mengacak acak rambutnya lali mengusap wajahnya dengan frustasi. "Perasaanku nggak enak."
.
.
.
.
memang rumit, percayakan kisah sesuai alur yang diinginkan othornya
semangat Thor.....sukses selalu