Tidak punya pilihan lain selain menikahkan Aruna dan Arka. karena sang calon pengantin wanita yang bernama Elia kabur di hari pernikahannya.
pernikahan itu hanya untuk dua tahun saja, itulah yang di katakan Arka di awal mereka setelah menjadi sepasang suami istri. tapi bagaimana kalau Arka beda pemikiran setelah tinggal satu atap yang sama dengan Aruna? dan bagaimana dengan Elia? apa sebtulnya alasan wanita itu kabur di hari pernikahannya?
cekidottt cerita keduaku. beri dukungan ya teman-teman❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Acaciadri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Seperti biasa, Aruna di turunkan di beberapa sebelum rumah Arka berada, namun kali ini tak semulus yang di kira. Sebab Aruna malah harus bertemu dengan salah satu tetangga julid yang punya bibir sepefti kaleng rombeng. Tika si Ratu gosip yang kebetulan habis dari luar dan kebetulan bukab hanya ada Tika tapi ada Mawa, alias bu RT juga.
Dan kalau bisa Aruna ingin sekali cepat lari dari sini supaya dia tak bertemu serta di tanya yang macam-macam oleh mereka berdua.
Sial..
“Eum Ri. Kamu cepetan pulang ya? Soalnya gue udah sakit perut banget.“Ucap Aruna dengan wajah yang terlihat cemas, netra matanya terus saja menatap ke arah Mawa dan Tika yang semakin mendekat. Sekitar beberapa kilo meter tubuh mereka berjarak, tetapi Aruna sudah bisa merasakan bagaimana tatapan mereka yang penuh kekopaan.
Ahhh dan yang lebih sialnya lagi. Si Rio masih duduk anteng di motornya dan belum juga mau pulang, oh ya ampun!
“Kenapa sih Run?.“Tanya Rio penasaran, wajah Aruna terlihat begitu cemas dan kedua netrnya bergetak-gerak gelisah seperti itu. Katanya dia sakit perut? Kok gejalanya aneh, sih?
“Ka, please lo segera pergi, ya! Jangan banyak tanya pokoknya. Karena nasib dan masa gue di pertaruhkan!.“Tukas Aruna yang refleks menyebut nama Atka suaminya dan tentu membuat Rio bertanya-tanya, siapa itu Arka?
“Siapa Ka? Apa kakak sepupu kamu, Run?.“
Aruna terlihat diam beberapa detik, tampaknya wanita itu sedang memproses apa yangsedang terjadi sebenarnya__sampai beberapa deti kemudian, Aruna pun tersenyum meringis.
“I..ya kakak sepupu, maaf ya. Tapi emang kakak sepupu gue itu galak, Rio. Katanya harus cepet masuk ke rumah.“
“Yaudah kalau gitu, gue temenin dan gue jelasin juga deh. Biar kakak sepupu lo gak marah dan salah paham.“
Jelas, dengan cepat Aruna pun menggiyang-goyangkan tangannya ke kanan dan kiri pun dengan kepalanya.
“Gak usah deh. Biar gue aja. sekarang pulang, ya? Gue harus buru-buru masuk ke dalam soalnya.“
“Lo masuk duluan, baru gue pulang.“Ujar Rio dan membuat Aruna menghela nafasnya jengah, astaga.. Aruna benar-benar menyesal karena sudah mengajak Rio keluar. Andai tahu seribet ini perkara pulang saja. Aruna lebih baik sendiri deh. Bingung-bingung sekalian.
“Please Ri, sekali ini aja!.“Ujar Aruna dan menatap Rio memelas, karena tatapan itu pada akhirnya Rio pun mengangguk, walau sebenarnya merasa amat sangat keberatan, mrngingat dia ingin memastikan Aruna baik-baik saja.
“Yaudah, gue pulang dulu. Lo jaga diri lo baik-baik.“Ucap Rio seraya tersenyum tipis dan satu tangannya tahu-tahu sudah menepuk-nepuk kecil rambut Aruna. Tentu Aruna tak sempat menghindar, dan Mawa serta Tika sempat melihatnya, dua ibu-ibu itu saling berbisik di belakang tubuh Aruna.
Aruna tak ambil pusing, dia hanya mengangguk dan melambaikan tangannya kepada Rio yang sudah memakai helm-nya dan kini sudah membalik motornya.
*****
“Dari mana bu, kok malam pulangnya?.“Tanya Tika dengan tingkat ke kepoan yang begitu tinggi. Sebelum menjawabnya, Aruna menghela nafasnya sedalam dan sebanyak mungkin.
Aruna mengingatkan dirinya, kalau orang seperti Tika pasti ada saja di mana pun berada__mau di lingkungan kerja, di lingkungan rumah sampai di manca negara dan tentu saja amat sangat menyebalkan sekali.
Aruna bisa saja memilih tak menjawab dan melengos pergi. Akan tetapi akan sangat terlihat menyebalkan sekali__dan Aruna memilih beramah-tamah, walau hatinya menggerutu dan tak terima, apalagi dengsn jelas tatapan Tika memindai seluruh tubuhnya dari atas sampai bawah. Sialan sekali.
“Iya nih, habis kumpul sama teman-tema. Kerja, bu.“Sahut Aruna sambil menyunggingkan senyum tipisnya ke arah Tika.
Kening Tika mengeryit”Kok bu Runa di anter sama cowok, sih? Apa pak Arka gak papa tuh? Atau udah izin?.“
Aruna mendengus pelan”Udah izin kok Bu Tika dan mas aarka mengizinkan alhamdulillah.“Jawab Aruna lagi.
“Oh syukur deh. Tapi cowok tadi ngusap kepala ibu, ya? Sama tatapan matanya dalem banget gitu lho, bu. Iya kan bu Rt?.“Kini Tika bahkan bertanya pada Bu Rt yang sedang sibuk dengan ponselnya, entah apa yang sedang di lakukan bu Rt dan Aruna pun tak peduli sebetulnya.
“Iya bu, saya lihat juga kok.“Sahut Bu Rt setelah dapat sikutan dari Tika.
“Oh, tadi kebetulan ada ulet di kepala saya ibu-ibu!.“
“Oalah, jadi karena ulet toh.“
“Iya bu, karena ulet..hehe. ibu-ibu, saya pamit duluan ya? Mas Arka udah chat saya, katanya saya harus segera sampai rumah, dia udah kangen soalnya.“Tukas Aruna yang ingin segera cepat-cepat pergi dari kedua ibu-ibu menyebalkan ini.
“Ohh, i..ya bu.“
“Silahkan bu Runa.“
*****
Baru saja tangannya hendak menyentuh pegangan pintu. Di saat itulah pintu rumah dari dalam di bukakan oleh Arka dan Arka terlihat berbeda, auranya dingin dan tatapan matanya tajam sekali, seolah-olah menghunus dan sampai menembus dada Aruna.
Ada apa sih? Memang Arka itu sedingin dan segalak itu, tapi Aruna merasa kalau ada sesuatu yang menbuat Arka seperti ini. Entah apa.
“Masuk.“Ujarnya, Aruna mengangguk kecil lalu masuk ke dalam rumah pria yang sudah menjadi suaminya itu.
Aruna duduk di sofa yang berdampingan dengan Arka, keningnya mengeryit dalam dan tatapannya tak lekat dari menatap wajah suaminya yang beberapa kali mengeluarkan nafasnya kasar.
“Ada apa, mas?.“Tanya Aruna yang sudah merasa teramat penasaran sekali.
“Kamu tahu?.“Tanyanya, Refleks Aruna menggelengkan kepalanya.
Lalu Arka menyodorkan ponselnya dan kedua mata Aruna membulat seketika tatkala melihat dengan begitu jelas dirinya dan Rio saling berhadapan, dengan satu tangan Rio mengusap kepala Aruna. Yang lebih mencengangkan lagi, di mana ekspresi wajah Aruna terlihat tersenyum bahagia pun dengan Rio__hei ini tidak seperti ini, Aruna bahkan tidak ingat berekspresi sebahagia itu.
Tunggu...
“Kenapa mas Arka? Dan bukannya__.“
“Bu RT yang memfoto di grup warga sini, Runa.“Potong Arka dengan suara seraknya yang terdengar geram sekaligus marah, apalagi tatapan matanya yang memicung dan terlihat begitu meng-intimidasi Aruna.
Sial, kenapa Aruna jadi terlihat seperti istri yang baru saja ketahuan habis selingkuh, sih?
“Tapi itu gak bener, mas. Saya, saya__.“
“Saya gak peduli soal itu, yang saya pedulikan adalah nama kamu yang mulai tercoreng di lingkungan perumahan ini, Aruna!.“Tegas Atka berdiri dan menghela nafasnya kasar, seketika perasaan Aruna menjadi tak karuan rasanya. Sial mudah sekali Aruna baper, padahal Aruna jelas tahu kalau Arka tidak peduli apapun tentangnya, namun Arka sangat peduli nama baiknya doang toh.
“Siapa dia? Dia pacar kamu? Selingkuhan kamu? Atau siapa_.“
Plakkk
Aruna pun menganga lebar dan tubuhnya bergetar sehabis memberikan satu tamparan telah di pipi Arka__entah kenapa, Aruna pun tak mengerti kenapa dirinya menampar Arka, sedang Arka yang di tampar pun kini menatap Aruna tak hanis pikir dengan satu tangan memegangi pipinya.
“Apa yang kamu lakukan, Aruna?.“Tanyanya dengan nada suara yang terdengar naik beberapa oktaf.
“Maaf mas, saya gak sengaja. Saya refleks.“
“Huhhh.. kalau kamh bukan perempuan sudah saya tonjol kamu, Run!.“
Aruna memutar kedua bola matanya jengah”Silahkan mas.“
“Jangan gila, saya gak mau di sebut kdrt dan di laporin sama kamu.“
“Terus maunya mas Arka, gimana? Saya minta maaf deh.“
“Saya mau kamu bersihin nama saya, saya gak suka nama saya tercoreng dengan tingkah kamu yang murahan itu.“Ujar Arka terdengar pelan dan lembut, namun mampu membuat hati Aruna berdenyut sakit, terlebih tatkala kata murahan yang keluar dari mulutnya.