Di tengah kekacauan lima klan bela diri yang saling berebut pengaruh dan rahasia kuno, lahirlah sebuah organisasi bernama bayangan kegelapan. Mereka adalah sekelompok pembunuh bayaran yang dilatih untuk menjadi mesin kematian tanpa emosi, sering kali ditugaskan untuk menghabisi para petinggi klan yang dianggap mengganggu keseimbangan atau menyimpan kekuatan terlarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 - PENGORBANAN PERAK
Di bawah tatapan Aristhos yang penuh penghinaan, Kaelan berdiri dengan luka menganga di pergelangan tangannya. Darah perak, yang merupakan esensi murni dari Klan Rembulan, menetes ke lantai kristal dan mengeluarkan uap dingin yang membekukan udara di sekitarnya. Aristhos tertawa, sebuah suara yang terdengar seperti pecahan kaca. "Kau pikir dengan menumpahkan darahmu, kau bisa mengubah aliran energi nadi bumi ini? Kau hanya mempercepat kematian ibumu, Kaelan!"
Namun, Kaelan tidak sedang mencoba menyerang Aristhos. Matanya yang merah tidak menatap sang paman, melainkan terpaku pada ribuan benang energi yang melilit tubuh ibunya. Ia menyadari satu hal yang tidak disadari Aristhos: benang-benang itu bukan sekadar penyedot energi, mereka adalah jembatan biologis. Jika ia bisa mengganti sumber energinya, ia bisa memutus koneksi tersebut tanpa membunuh ibunya.
"Rian... maafkan aku jika aku tidak kembali," bisik Kaelan pelan, sebuah monolog internal yang hanya didengar oleh jiwanya sendiri.
Kaelan melepaskan "Sutra Rembulan: Penjara Inti Kehidupan".
Bukannya menyerang ke luar, Kaelan menusukkan kedua belati hitamnya ke lantai kristal tepat di bawah kakinya. Ia memaksa seluruh Qi dari Inti Bulan Sejati untuk meledak masuk ke dalam jalur nadi bumi di bawah ruangan itu. Lantai kristal bergetar hebat, retakan besar menjalar ke segala arah, mengeluarkan cahaya biru yang menyilaukan.
"Apa yang kau lakukan?!" Aristhos berteriak, wajahnya yang tenang kini berubah menjadi topeng kepanikan. "Kau akan meledakkan seluruh tempat ini!"
Kaelan tidak memedulikannya. Ia menggunakan benang-benang perak dari darahnya sendiri untuk menjangkau tubuh ibunya. Benang-benang itu melilit setiap rantai energi yang mengikat wanita itu. Dengan kontrol presisi yang melampaui batas manusia, Kaelan mulai mengalirkan energinya sendiri ke dalam tubuh ibunya, bertindak sebagai "Baterai Hidup" sementara.
Rasa sakitnya tidak terlukiskan. Kaelan merasa seolah-olah jiwanya sedang ditarik keluar melalui lubang jarum. Setiap inci syarafnya terbakar oleh suhu dingin yang ekstrem dan tekanan nadi bumi yang liar. Kulitnya mulai pecah, mengeluarkan cahaya perak dari sela-sela lukanya.
"Lepaskan... dia!" raung Kaelan.
Dengan satu sentakan terakhir yang mengguncang fondasi Kota Takhta Langit, Kaelan memutus ribuan benang energi Aliansi. Tubuh ibunya jatuh dari udara, namun Kaelan menangkapnya dengan sisa kekuatannya. Rantai-rantai itu kini beralih melilit tubuh Kaelan, menyedot energinya sebagai gantinya.
"Kau gila!" Aristhos menerjang maju, pedang cahayanya siap memenggal kepala Kaelan. "Jika kau ingin menjadi wadahnya, maka kau akan mati sebagai wadah!"
Tepat saat pedang Aristhos akan mendarat, sebuah ledakan energi es hitam meletus dari tubuh Kaelan. Bukan serangan yang disengaja, melainkan reaksi balik dari nadi bumi yang menolak energi asing. Ledakan itu melemparkan Aristhos ke dinding kristal hingga retak.
Kaelan mendekap ibunya yang masih lemah. Wanita itu membelai pipi Kaelan dengan tangan yang gemetar. "Putraku... kau seharusnya tidak melakukannya..."
"Aku bukan lagi alat mereka, Ibu," bisik Kaelan. Rambutnya kini benar-benar putih transparan, tanda bahwa ia telah menggunakan hampir seluruh esensi hidupnya.
Di atas mereka, langit-langit ruang bawah tanah mulai runtuh. Pasukan elit Aliansi sudah berada di ambang pintu, dan Aristhos mulai bangkit kembali dengan kemarahan yang meluap-luap. Kaelan berada di titik terlemahnya, terjebak di jantung musuh dengan seorang ibu yang sekarat dan Penatua Wu yang pingsan di punggungnya.
Tindakan nekat ini telah membebaskan ibunya, namun ia kini telah mengunci dirinya sendiri dalam takdir kematian yang lebih cepat. Kaelan menatap lubang reruntuhan di langit-langit. Hanya ada satu jalan keluar: kehancuran total.
"Jika tempat ini adalah awal dari penderitaanku," Kaelan menancapkan belatinya lebih dalam ke inti kristal nadi bumi, "maka biarlah tempat ini menjadi kuburan bagi mimpi buruk kalian."