akhir zaman tiba, gerbang dimensi terbuka dan monster menghancurkan dunia, Rey kembali ke waktu sebelum gerbang pertama terbuka dan memiliki kekuatan baru untuk menghadapi zaman Akhir. Dia diberi kesempatan kedua untuk hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsyTamp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11 – Amukan Petir
Langit di atas laut menghitam sepenuhnya.
Angin laut bertiup kencang membawa bau asin bercampur amis darah monster. Ombak besar menghantam pantai tanpa henti, seolah laut sendiri sedang mengamuk.
Di kejauhan, pusaran air yang sebelumnya tenang kini membesar.
Layar pusat komando berbunyi nyaring.
[PERINGATAN: OBJEK RAKSASA NAIK KE PERMUKAAN]
[KODE: BOS MONSTER – GURITA RAKSASA]
“Dia naik!” teriak seorang operator.
Dari balik kabut laut, tubuh raksasa itu muncul perlahan.
Ukuran gurita itu sebesar gedung bertingkat. Kulitnya hitam keunguan, mengilap seperti baja basah. Delapan tentakel raksasa menjulur ke segala arah, masing-masing sebesar truk kontainer. Di tengah kepalanya, satu mata besar merah menyala terbuka.
Suara raungannya mengguncang udara.
“GROOOOOAAA—!!”
Di pantai, monster-monster kecil yang tadi mundur kembali bergerak maju, seolah mendapat perintah baru.
Kapten regu resmi mengangkat tangannya.
“Semua unit, siaga penuh! Target utama muncul!”
Superhuman pengendali air mencoba mengangkat ombak besar untuk menahan langkah gurita, tetapi satu tentakel menghantam gelombang itu dan menghancurkannya seketika.
BOOOOM!
“Unit pengendali suara, tekan pergerakannya!”
Gelombang suara ultra menghantam kepala gurita, membuatnya sedikit terhuyung. Namun hanya sesaat. Kulitnya bergetar lalu mengeras seperti lapisan baja.
“Tidak mempan!”
Tentakel-tentakel raksasa menghantam pantai.
Bangunan pinggir laut runtuh seketika. Beberapa monster kecil melompat melewati garis pertahanan regu resmi.
“Garis pertahanan jebol!”
“Kita mundur perlahan!”
Regu resmi mulai terdesak.
Seorang superhuman tipe tenaga super terhempas jauh ketika mencoba menahan satu tentakel.
Gadis tipe kecepatan nyaris tertangkap oleh belitan tentakel dan hanya selamat karena berguling di pasir basah.
Kapten regu resmi menggertakkan gigi.
“Semua unit, fokus bertahan! Jangan biarkan dia masuk kota!”
Namun gurita raksasa terus merayap maju, setiap gerakannya menghancurkan pertahanan.
Di atas gedung, Rey menatap medan perang dengan wajah tegang.
“Sekarang,” katanya pelan.
Boy menyalakan api di kedua tangannya.
“Waktunya kita turun.”
Leoni mengangkat senapannya.
“Aku ambil mata besarnya.”
Sila berdiri di samping Rey. Listrik tipis berderak di sekeliling tubuhnya.
Rey mengangguk.
“Unit Khusus… maju!”
Mereka melompat turun dari gedung dan langsung masuk ke medan tempur.
Rey membentangkan tameng besar di depan regu resmi yang terdesak.
BRAAANG!
Tentakel raksasa menghantam tameng itu dan memantul.
“Apa itu?!” teriak seorang prajurit.
“Unit Khusus datang!” teriak Boy sambil menghantam monster kecil dengan tinju berapi.
Leoni menembakkan peluru energi ke mata besar gurita.
DOR!
Gurita meraung kesakitan dan memutar tubuhnya ke arah mereka.
Sila mengangkat tangannya, petir besar menyambar dari langit dan menghantam salah satu tentakel.
KRAAAAK!
Tentakel itu gosong dan terputus, jatuh ke pasir dengan suara berat.
Namun gurita tidak mundur.
Sebaliknya, dua tentakel lain bergerak cepat.
Rey memperluas tamengnya untuk melindungi Sila.
“Tetap di belakangku!”
Salah satu tentakel berhasil menembus celah tameng.
SRRAAK!
Tentakel itu menusuk bahu Rey dan menghantam tubuhnya ke belakang.
“Kakak!!” teriak Sila.
Rey terhempas ke pasir, darah mengalir dari mulutnya. Pandangannya kabur.
“Rey!” teriak Leoni.
Boy mencoba menarik perhatian monster dengan ledakan api.
“HEY, TENTAKEL BESAR!”
Namun mata besar gurita tetap fokus pada Rey yang jatuh.
Sila berlari ke arah kakaknya.
“Kak… bangun… kakak…”
Rey setengah sadar.
“Jangan… mendekat…”
Namun saat tentakel lain terangkat tinggi, hendak menghantam Rey…
Sesaat, dunia terasa berhenti bagi Sila.
Gambar masa lalu tiba-tiba melintas di benaknya.
Kematian mereka di masa depan.
Tubuh kakaknya yang tertusuk.
Penyesalan yang tak pernah sempat terucap.
“Tidak…”
Suara Sila berubah.
“Aku… tidak akan kehilangan kakakku lagi.”
Petir di sekeliling tubuhnya meledak.
Langit seakan terbelah.
KRAAAAK!!!
Arus listrik raksasa turun dari awan dan menyelimuti tubuh Sila.
Rambutnya berdiri, matanya bersinar biru terang.
Tanah di sekelilingnya retak karena panas listrik.
“Energi Sila… melonjak!” teriak operator di pusat komando.
Sila menatap gurita raksasa.
“Kau… mati.”
Ia mengangkat kedua tangan.
Puluhan petir turun sekaligus, menghantam seluruh tubuh gurita.
BOOOOOM!
Kulit monster itu pecah-pecah seperti kaca hitam.
Ia mengerang keras, tubuhnya menggeliat.
Sila melompat tinggi.
Petir berkumpul di tangannya, membentuk tombak cahaya.
“Pergi dari dunia ini!”
Tombak petir itu dilemparkannya ke mata besar gurita.
DUAAAAAR!!
Ledakan cahaya menyelimuti pantai.
Ketika cahaya menghilang…
kepala gurita raksasa telah hancur.
Tubuhnya roboh perlahan ke pasir, tak bergerak lagi.
Monster-monster kecil di sekitarnya mendadak kehilangan arah.
Sebagian jatuh, sebagian melarikan diri ke laut.
Hening menyelimuti pantai.
Sila berdiri terhuyung.
“Kakak…”
Tubuhnya gemetar.
Listrik di sekelilingnya menghilang, dan ia jatuh pingsan.
“Sila!!” teriak Rey dengan sisa tenaga.
Ia memaksa bangkit, memeluk tubuh adiknya.
Darah masih mengalir dari lukanya.
Dengan tangan gemetar, Rey membuka ruang dimensinya.
Cahaya seperti pintu terbuka di udara.
Ia membawa Sila masuk ke dalamnya.
Padang rumput hijau dan udara segar menyambut mereka.
Rey menjatuhkan diri di tepi sungai kecil.
“Sila… bertahanlah…”
Kesadarannya hampir hilang.
Di luar, Leoni dan Boy masih bertarung.
Monster-monster kecil yang tersisa menyerang tanpa arah.
Leoni menembak satu per satu dengan presisi.
Boy membakar jalur agar monster tidak mendekati warga.
Regu resmi yang tersisa kembali membentuk formasi.
“Bos monster sudah mati!” teriak kapten regu resmi.
“Habisi sisanya!”
Ledakan, panah energi, dan gelombang suara kembali memenuhi pantai.
Sementara itu, di dunia hijau ruang dimensi…
Rey berlutut di samping Sila yang tak sadarkan diri.
Air sungai mengalir pelan.
Udara terasa menenangkan, tersimpan banyak energi murni di udara.
“Maafkan aku…” bisik Rey lemah.
“Masih… membuatmu kuatir…”
Di layar statusnya, angka-angka bergerak.
Namun Rey sudah tidak sempat memperhatikannya.
Matanya menutup perlahan.