Dunia runtuh bukan karena virus itu sendiri—melainkan karena vaksin yang dijanjikan sebagai penyelamat. Saat wabah menyebar dan ketakutan menguasai setiap sudut kota, pemerintah memerintahkan seluruh rakyat untuk menerima vaksin demi mencegah penularan. Mereka percaya itu adalah harapan terakhir umat manusia. Namun harapan itu berubah menjadi bencana.
Vaksin yang seharusnya melindungi justru memicu mutasi tak terduga. Tubuh manusia berubah, naluri mereka terdistorsi, dan kemanusiaan perlahan terkikis. Dalam hitungan waktu, peradaban yang dibangun selama ratusan tahun runtuh—bukan oleh penyakit, tetapi oleh “obat” yang diciptakan untuk menghentikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Satu — Vaksin yang Mengubah Segalanya
*Selamat membaca cerita baru aku!!**Semoga kalian suka!*
Arsya hampir tersandung saat mereka berbelok ke gang sempit di antara dua bangunan tua. Nafasnya memburu, dadanya terasa sesak seperti akan meledak. Suara jeritan masih terdengar dari jalan utama—disusul suara… gigitan. Basah. Kasar. Mengoyak.
“Masuk sini!” bisik pemuda yang menarik tangannya tadi.
Mereka menerobos pintu belakang sebuah minimarket kecil yang sudah setengah terbuka. Bau anyir samar bercampur dengan aroma plastik dan debu memenuhi ruangan. Lampu masih menyala, tapi rak-rak sudah berantakan—beberapa barang berserakan di lantai. Pemuda yang menariknya segera mendorong rak minuman untuk menghalangi pintu.
Sedangkan pemuda satunya lagi yang berdiri di belakang Arsya langsung memeriksa seluruh ruangan, “tempat ini aman untuk sementara. Kita disini dulu.” ujarnya membuat pemuda yang menutup pintu mengangguk ringan, kemudian dengan sengaja mereka mematikan lampu agar tidak terlalu mencuri perhatian sosok menyeramkan itu.
Ketiganya duduk di lantai sambil menstabilkan pernafasan, “yang tadi itu apa?” tanya Arsya sedikit gemetar.
“Manusia kanibal, itu yang kami tahu. Tapi mereka disebut Kanihu.”
“Bagaimana kalian mengetahuinya?”
“Kami adalah salah satu mahasiswa yang meneliti sebuah virus, namun dipertengahan waktu profesor kami berubah setelah vaksin yang ia dapat. Tidak lama dari kejadian itu, beberapa tentara dan kepolisian datang untuk mengurung profesor kami, dan dari situ kami mengetahuinya.”
“Karena vaksin itu, kami telah kehilangan beberapa teman setelah menjadi uji percobaan vaksin yang dibuat oleh ahli kimia.”
“Kalian ga dapat vaksinnya, kan?” tanya Arsya dengan menatap kedua pemuda itu dengan ragu. Salah satu pemuda yang menarik lengannya itu menggeleng pelan. “Hanya kami bertiga yang tidak mendapatkan vaksin, tapi teman kami yang satu lagi sudah lebih dulu menghilang entah karena kabur atau di kurung. Kami tidak tau.”
Suasana hening dalam ruangan, namun suasana di luar jauh dari kata hening. Masih terdengar suara teriakan tolong atau teriakan kesakitan.
“Ngomong-ngomong, siapa nama kalian berdua? Aku Arsya. Terima kasih banyak… kalau bukan karena kalian, mungkin aku sudah jadi santapan mereka.” Gadis itu berusaha tersenyum meski nafasnya masih belum stabil.
“Aku Niki,” jawab pemuda yang tadi menarik tangannya. “Dan dia Jay. Kami mahasiswa Kampus A, Fakultas IPA. Salam kenal, Arsya. Kalau boleh tahu, kamu tadi mau ke mana?”
“Awalnya aku ingin berangkat les di gedung F. Tapi… terhalang oleh kejadian menyeramkan itu.”
“Gedung F?” Niki mengangkat alisnya. “Itu dekat sekali dengan kampus kami.”
Arsya mengangguk pelan, namun tiba tiba tubuhnya menegang, senyumnya memudar ketika tatapannya terkunci pada sesuatu di balik kaca pintu masuk minimarket.
Sosok itu berdiri terdiam.. Tidak bergerak.
Tapi Arsya bisa merasakan bahwa saat ini.. Sosok itu solah sedang memperhatikan mereka. Suasana dalam ruangan pun membeku.
Untung saja Jay sudah menghalangi pintu masuk dengan rak tinggi yang didorong tepat di depannya. Sosok itu seperti ingin masuk, namun terhalang oleh tumpukan barang yang menutup akses jalan masuk.
“Jangan bergerak. Jangan bersuara.” bisik Jay nyaris tanpa suara.
Arsya menelan ludahnya pelan. Seluruh tubuhnya terasa kaku, seolah darahnya berhenti mengalir. Ia bahkan takut untuk bernapas terlalu keras. Yang bergerak hanyalah bola matanya—mengikuti setiap gerak kecil dari sosok mengerikan di balik kaca.
Makhluk itu memiringkan kepalanya. Gerakannya patah-patah, tidak wajar. Hidungnya mengendus-endus udara, seakan mencoba menangkap jejak keberadaan mereka.
Tak lama kemudian, suara benda terjatuh terdengar dari samping gedung tempat mereka bersembunyi.
BRAKK!
Suara itu menggema di antara bangunan, cukup keras untuk memecah keheningan.
Sosok di balik kaca itu langsung berhenti mengendus. Kepalanya bergerak cepat ke arah sumber suara. Dalam beberapa detik yang terasa sangat panjang, makhluk itu akhirnya melangkah pelan menjauh dari pintu masuk.
Langkahnya berat. Diseret. Lalu menghilang dari pandangan.
Arsya baru berani menghembuskan nafasnya—terbata-bata, nyaris tak terdengar. Ia menahannya sejak tadi, seolah jika ia bernapas sedikit lebih keras saja, sosok itu akan kembali berdiri di depan pintu.
Tangannya masih gemetar saat menggenggam tas di atas pangkuannya.
“Sudah pergi?” bisiknya hampir tanpa suara.
Jay tidak langsung menjawab. Ia masih mengintip dari celah rak, memastikan keadaan benar-benar aman.
Di luar, suasana kembali sunyi… terlalu sunyi.
Jay dan Niki segera berdiri, menatap ke sekeliling dengan waspada. Setelah memastikan keadaan di bawah relatif aman, mereka menyadari ada sebuah pintu tersembunyi di sudut ruangan, nyaris tertutup rak yang miring. Di sampingnya, terdapat tangga sempit menuju lantai dua.
“Kita cek ke atas,” bisik Jay.
Arsya mengikuti di belakang mereka, langkahnya pelan namun waspada.
Lantai dua ternyata menyerupai ruang istirahat kecil—seperti rumah susun sederhana. Ada dapur mungil di sudut ruangan, tempat tidur dengan selimut yang masih berantakan, kamar mandi kecil, serta beberapa lemari berisi pakaian yang tertata rapi. Kehangatan kehidupan sehari-hari masih terasa di sana… kontras dengan kekacauan di luar.
“Sepertinya ini tempat tinggal penjaga toko.” ujar Niki pelan.
Arsya berhenti di depan sebuah foto yang terpajang di atas meja kecil. Dalam bingkai itu, seorang pria tersenyum lebar sambil menggendong anak laki-laki yang tampak bahagia.
Jantung Arsya terasa diremas.
“Dan… Sosok menyeramkan yang kita lihat tadi..” suaranya mengecil, hampir tak terdengar, “adalah penjaga toko ini.” bisik Arsya.
Jay melangkah mendekat dan mengangguk pelan kepala ketika tatapannya mengarah ke foto yang Arsya maksud.
Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Yang mereka lawan bukan sekadar monster. Mereka adalah manusia yang pernah hidup… dan dicintai.
Jay menoleh ke arah Niki yang sejak tadi memeriksa setiap sudut ruangan dengan teliti. Laci dibuka perlahan, lemari digeser pelan, memastikan tak ada ancaman tersembunyi.
“Ada sesuatu di sini,” bisik Niki.
Ia menunjuk ke arah jendela samping yang sebagian tertutup papan kayu. Setelah dibuka sedikit, terlihat atap-atap rumah yang berdempetan—cukup dekat untuk dilompati satu sama lain.
“Jalan pintas,” lanjutnya pelan. “Dari sini kita bisa pindah ke beberapa rumah tanpa turun ke jalan.”
Jay mendekat dan mengamati jaraknya. Tidak mudah, tapi memungkinkan.
Jay dan Niki saling bertukar pandang satu sama lain, memahami situasi tanpa perlu banyak kata.
“Kita ambil bekal dulu.” ujar Jay akhirnya.
Mereka meninggalkan Arsya sebentar di ruang istirahat, lalu bergerak cepat namun tetap hati-hati menyusuri lantai dua. Beberapa makanan instan, roti kemasan serta botol-botol air mineral dimasukkan ke dalam tas yang mereka temukan.
Setelah merasa bekal yang mereka kumpulkan cukup untuk sementara waktu, Jay dan Niki segera kembali ke ruang utama. Tanpa membuang waktu, mereka menutup pintu ruangan yang menyembunyikan tangga menuju lantai dua.
Jay memutar kuncinya perlahan agar tidak menimbulkan suara.
Niki kemudian membantu mendorong lemari kecil dan beberapa kardus berat untuk menghalangi pintu tersebut. Mereka memastikan tak ada celah yang memungkinkan siapa pun—atau apa pun—masuk dengan mudah.
“Kita ngga tau berapa lama tempat ini aman,” gumam Niki pelan.
Jay mengangguk. “Setidaknya kalau mereka masuk ke bawah, mereka nggak langsung menemukan jalan ke atas.”
Arsya memperhatikan keduanya dalam diam. Cara mereka bergerak cepat, terarah, dan minim suara membuatnya sadar—ini bukan sekadar keberanian.
Mereka sudah memikirkan kemungkinan terburuk. Dan di dunia seperti sekarang, bertahan hidup berarti selalu selangkah lebih siap daripada kematian.
*Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa like dan votenya!**Babay, bersambung...*