𝐑𝐢𝐳𝐮𝐤𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧𝐢 𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐢𝐝𝐞𝐧𝐭𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐠𝐚𝐧𝐝𝐚. 𝐡𝐚𝐫𝐢-𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐢𝐚𝐬𝐚. 𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐞𝐦𝐮 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚. 𝐝𝐚𝐧 𝐭𝐚𝐤𝐝𝐢𝐫 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐢𝐬𝐢 𝐥𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazuki Taki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
**EPISODE 15 - HUJAN, SEKOLAH, DAN JARAK YANG MENDEKAT**
Pagi itu, langit di sisi barat kota cerah.
Rizuki berdiri di depan cermin apartemennya, mengenakan seragam sekolah menengah atas yang sudah lama tidak ia pakai. Kemeja putih rapi, blazer hitam, celana gelap. Rambut wolfcut hitamnya disisir sederhana, poni samping jatuh natural.
Ia menatap pantulan dirinya sendiri.
Bukan CEO.
Bukan pemilik Bluesky.
Hari ini… ia kembali menjadi siswa.
“Sudah lama,” gumamnya pelan.
Ia mengambil tas sekolah, memasukkan buku-buku yang sebenarnya jarang ia buka, lalu melangkah keluar apartemen.
SEKOLAH — KEHADIRAN YANG MENGUNDANG RIUH
Begitu Rizuki melewati gerbang sekolahnya, suasana langsung berubah.
Bisik-bisik muncul seperti gelombang kecil.
“Itu Rizuki, kan?” bisik-bisik diantara siswi yang melihat kedatangan rizuki.
“Akhirnya masuk lagi…”
“Katanya dia ngilang lama banget.”
“Gila, masih kelihatan dingin.”
Beberapa siswi berhenti berjalan hanya untuk menoleh.
Rizuki melangkah tenang, wajah datar, tatapan lurus ke depan. Seolah semua suara itu hanya angin lewat.
Namun ia tahu—hari ini, ia adalah pusat perhatian.
Di kelas, bangkunya masih kosong seperti ia tidak pernah pergi. Saat ia duduk, suasana sedikit canggung.
Seorang siswa laki-laki berbisik,
“Bro, kamu ke mana aja sih?”
Rizuki menoleh sekilas. “Urusan pribadi.”
Tidak ada penjelasan lanjutan.
Guru masuk, pelajaran dimulai. Tapi fokus kelas tidak pernah benar-benar kembali utuh.
PANGGILAN KEPALA SEKOLAH
Bel istirahat kedua berbunyi.
Saat siswa akan bergegas keluar kelas untuk istirahat tiba-tiba Seorang staf sekolah muncul di depan kelas.
“Rizuki, Kepala Sekolah memanggilmu.”
Semua mata tertuju padanya.
Rizuki berdiri, mengangguk singkat, lalu berjalan keluar kelas menuju ruang kepala sekolah.
Saat berjalan menyusuri lorong, semua murid baik laki-laki atau perempuan memandangi nya.
bukan karena aneh, melainkan karena cara jalan yang terlalu tenang dan elegan, tatapan mata yang tajam hingga memancarkan aura. Membuat rizuki seakan memiliki daya pikat tersendiri.
Saat tiba di Ruang Kepala Sekolah , ruangan itu terasa sunyi dan rapi.
Tampak seorang pria paruh baya berkumis tebal dengan kepala sedikit botak di depan, hingga tampak seperti orang yang kejam.
Pria paruh baya itu menatap Rizuki lama sebelum berbicara.
“Kamu tahu kenapa saya memanggilmu?”
“Karena saya lama tidak masuk sekolah,” jawab Rizuki jujur.
Kepala Sekolah menghela napas.
“Kamu siswa cerdas. Nilaimu selalu tinggi. Tapi kepintaran tidak akan berarti kalau kamu mengabaikan tanggung jawab.”
Rizuki diam.
“Ujian akhir sudah dekat,” lanjut kata kepala sekolah itu
“Itu akan menentukan kelulusanmu, masa depanmu. Saya tidak peduli seberapa hebat kamu di luar sana—di sini, kamu tetap murid.”
Rizuki mengangguk pelan.
“Saya mengerti.”
“Pastikan ini tidak terulang,” kata Kepala Sekolah tegas, tapi nadanya tidak kejam.
“Kamu punya potensi besar. Jangan sia-siakan.”
“Baik Pak Tidak akan,” jawab Rizuki.
Ia berdiri, memberi hormat singkat, lalu keluar ruangan.
Di dalam dadanya, bukan teguran yang ia pikirkan…
melainkan dua dunia yang semakin sulit ia jaga seimbang.
KEJUTAN DI TIMUR KOTA
Sore hari, langit di sisi timur kota berubah kelabu.
Vhiena berdiri di kelasnya, merapikan buku. Ayu dan Lala belum selesai dengan kegiatan ekstrakurikuler mereka.
“Aku pulang duluan, ya,” kata Vhiena.
“Awas hujan,” sahut Ayu.
“Kalau hujan, aku berteduh,” jawab Vhiena santai.
Ia keluar gerbang sekolah sendirian.
Dan benar saja—hujan turun tidak lama kemudian. Tidak deras, tapi cukup untuk membasahi rambut dan bahu.
Vhiena berhenti di depan gerbang, mencari tempat berteduh.
Saat itulah sebuah sosok berdiri di depan nya, beberapa langkah darinya.
Jaket hitam.
Rambut basah sedikit oleh gerimis.
Tatapan biru yang ia kenal.
Vhiena terkejut, jantung nya berdebar, mata coklat itu berbinar.
“Ki…?” suaranya hampir tidak terdengar.
Rizuki menatapnya, lalu tersenyum kecil.
“Aku jemput.”
Jantung Vhiena berdetak lebih cepat.
“Kamu… tahu aku pulang jam segini?” tanya vhiena dengan senyuman yang di sembunyikan.
“Perkiraan,” jawab Rizuki ringan.
Hujan turun lebih rapat.
“Ayu dan Lala?” tanya Rizuki.
“Pulangnya telat,” jawab Vhiena.
Rizuki mengangguk.
“Kalau begitu… Aku temenin kamu pulang ?”
Vhiena mengangguk, pipinya sedikit hangat.
BERJALAN DI BAWAH HUJAN
Mereka berjalan berdampingan menyusuri trotoar.
Hujan membasahi jalanan, suara rintiknya menjadi latar yang lembut.
“Sekolahmu bagaimana hari ini?” tanya Vhiena.
“Ribut,” jawab Rizuki jujur.
“Aku jadi bahan pembicaraan.”
Vhiena tertawa kecil.
“harus nya memang begitu sih.”
“Kamu?” tanya Rizuki.
“Biasa,” jawab Vhiena.
“Sekolah, tugas, pulang.”
Saat mereka jalan berdua, belum ada yang memulai berbicara lagi saat mereka merasa kehabisan objek obrolan. Keduanya merasa canggung untuk memulai.
Namun rizuki memberanikan diri bertanya lebih dulu.
"Rumah teman-teman kamu masih 1 komplek juga ?". Tanya rizuki untuk memecah kesunyian saat mereka jalan berdua.
“Aku tinggal serumah sama Ayu dan Lala. Tapi orang tuaku juga ada.”
Rizuki menoleh. “bersama Orang tuamu?”
“Iya,” kata Vhiena.
“Aku, Ayah dan Ibu. Kemudian Ayu dan Lala Kami tinggal bersama..”
Ia tersenyum.
Lalu rizuki bertanya," kesibukan ayah dan ibu kamu?"
"Ayahku hanya bekerja." Dan ibu mengurus kami bertiga di rumah". Ucap vhiena ringan dengan menoleh ke arah rizuki.
"Dimana ayah kamu bekerja* . Lanjut tanya rizuki.
“Ayahku bekerja di Bluesky Corporation.” vhiena menjawab dengan tersenyum.
Langkah Rizuki melambat sepersekian detik—nyaris tak terlihat.
“Bidang project construction,” lanjut Vhiena tanpa curiga.
“Beliau kepala pengawas. Sering pulang capek, tapi bangga dengan pekerjaannya.”
Rizuki menatap jalanan basah.
“Dia orang yang bertanggung jawab.?” tanya rizuki dengan sedikit melamun melihat ke arah hujan.
“Iya,” kata Vhiena ceria.
“Ayah bilang, Bluesky perusahaan yang adil. Pimpinan mereka jarang muncul, tapi keputusan-keputusannya selalu tepat.” vhiena melanjutkan cerita nya.
Rizuki diam.
Ia ingin berkata banyak hal.
Namun memilih menyimpan semuanya.
DI DEPAN RUMAH VHIENA
Mereka tiba di depan rumah vhiena.
minimalis, sederhana namun hangat.
Hujan mulai reda.
Vhiena berhenti, lalu menatap Rizuki.
“Terima kasih sudah mengantar sampai rumah. ”
Rizuki mengangguk.
“sama - sama” jawab singkat rizuki.
“Kamu pulang jalan kaki?” tanya Vhiena.
“Iya, Apartemenku tidak terlalu jauh.” ucap rizuki sedikit berbohong.
Vhiena menatapnya sesaat, lalu berkata pelan,
“Hati-hati.”
Rizuki tersenyum kecil.
“ terimakasih .”
Ia berbalik, melangkah pergi.
Vhiena berdiri di depan pintu, menatap punggungnya hingga menghilang di tikungan jalan.
PULANG SENDIRI
Rizuki berjalan di bawah sisa hujan. - pikirannya penuh.-
Tentang sekolah.
Tentang Bluesky.
Tentang ayah Vhiena.
Dan tentang betapa rumit hidupnya akan menjadi…- , jika kebenaran suatu hari terungkap.
CHAT SEBELUM TIDUR
Malam itu, ponsel Vhiena bergetar.
Rizuki:
“Sudah beberes dan mandi ?”
Vhiena:
“Sudah.
Terima kasih lagi, Ki.”
Rizuki:
“Aku senang bisa pulang bareng.”
Beberapa detik hening.
Vhiena:
“Aku juga.”
Rizuki menatap layar lama sebelum mengetik.
Rizuki:
“Hari ini… melelahkan, tapi berarti.”
Vhiena:
“Mungkin karena kamu tidak sendirian.”
Rizuki tersenyum kecil di kegelapan kamar apartemennya.
“Mungkin.” ucap rizuki dalam hati. dan tidak membalas chat itu.
Mereka mengakhiri malam dengan perasaan yang sama:
hangat, tenang, dan penuh hal yang belum terucap.
Tinggal bilang nunggu si dia apa ssh nya si?/Slight/
SMA kls 3, trnyta CEO😌
cnth
"Tuan Rizuki, maaf mengganggu! Saya lihat lampu masih menyala." kata Mira./Smile/
tapi tergantung masing-masing cerita sih, hehehe
kak skip titiknya /Whimper/
Skip titiknya kak. /Bye-Bye/