NovelToon NovelToon
Jodoh CEO Lumpuh

Jodoh CEO Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Terpaksa Menikahi Suami Cacat / CEO
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Itsaku

Pernah sesekali terlintas untuk pergi dari dunia ini selamanya. Mengakhiri takdir yang telah digariskan, yang terkesan tak adil. Karena sudah terlalu lelah dengan semuanya. Akan tetapi hati kecilnya kerap berkata, 'Jangan...!!'

Hingga suatu ketika dia benar-benar tak ingin melawan lagi. Bahkan untuk protes saja tak bisa dia lakukan lagi. Karena menurutnya itu tidak akan mengubah apapun pada kehidupannya...
Karena ketidakadilan sudah terlanjur mendarahdaging dalam dirinya...
Menjalani semuanya, apapun itu. Hingga tiba waktunya. Itulah keputusan terakhirnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itsaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Kedatangan Tamu

Di kediaman Bu Kartika. Aluna terus mempertanyakan keberadaan Yumna. Dia tidak mau makan, tidak mau belajar. Bahkan tidak menggambar dan mewarnai. Padahal itu adalah kegemarannya baru-baru ini. Dia sangat menyukai kedua kegiatan itu.

"Sayang, Bu Yumna sedang sakit. Aluna sudah dengar sendiri kan waktu papa Bara telepon." ujar Bu Kartika.

"Aluna mau lihat Bu Yumna, Oma. Sebentar..., saja." balas Aluna.

"Telepon saja ya. Bu Yumna khawatir Aluna sedih, kalau nanti Aluna lihat Bu Yumna." bujuk Bu Kartika.

"Aku mau pergi ke tempat Bu Yumna." putus Aluna. "Aku berani naik mobil!!" katanya lagi.

Bu Kartika dan Vivi saling pandang. Tatapan mereka seolah menyiratkan ketidakpercayaan, atas pernyataan yang baru saja dilontarkan gadis kecil itu.

"Aluna..., sayang..." kata Bu Kartika. "Saat ini Bu Yumna belum boleh ditemui. Harus banyak istirahat kata dokternya. Jadi, besok saja kalau dokter sudah mengizinkan. Oke...?!" kata Bu Kartika beralasan.

"Tidak mau...!!" teriak Aluna. "Aku mau lihat Bu Yumna...!!" suaranya semakin melengking saja.

"Nyonya, coba telepon tuan Bara dulu." sahut Vivi.

"Aluna tunggu di sini sama sus Vivi ya. Oma mau telepon papa Bara dulu." Bu Kartika mengusap dagu Aluna sebelum pergi.

"Sus..., beneran deh. Aku sudah berani kok naik mobil. Ayo ke rumah Bu Yumna. Ayo, sus...!!!" Aluna terus merengek sambil menarik lengan seragam Vivi.

"Iya. Kita tunggu papa, ya. Karena cuma papa yang tahu rumah Bu Yumna. Oke...?" balas Vivi.

"Semuanya jahat...!! Aku tidak boleh ketemu sama Bu Yumna...!!" teriak Aluna sambil berlari menaiki tangga.

"Nona...!!" Vivi mengejarnya.

Bu Kartika pun mengetahui hal itu. Dia tidak tega melihat cucunya seperti itu. Bu Kartika mengurungkan niatnya untuk menelepon Elbara. Dia justru menyusul Aluna ke kamar.

Di dalam kamar, Aluna menangis sambil tengkurap di kasurnya. Sedangkan Vivi sibuk membujuk Aluna agar lebih tenang.

"Sayang, Aluna..." panggil Bu Kartika sambil membelai rambut Aluna.

"Sini lihat Oma, sayang. Oma punya fotonya Bu Yumna." katanya kemudian.

Tangis Aluna tiba-tiba berhenti. Dia bangun sambil mengusap air matanya.

"Aluna..., lihat ini."

Bu Kartika akhirnya menunjukkan foto Yumna yang dikirim oleh Elbara. Dalam foto itu Yumna sedang tidur, posisinya duduk bersandar di headboard. Dengan wajah lebam dan bekas luka di sudut bibirnya. Bu Kartika khawatir Aluna akan histeris, seperti saat dia melihat lukanya sendiri atau luka orang lain.

"Oma..., aku mau ketemu Bu Yumna. Bu Yumna kasihan..." tangisnya kembali pecah. Tapi bukan tangis histeris karena ketakutan.

"Vi, beritahu supir untuk siapkan mobil. Kita ke sana." perintah Bu Kartika.

"Aku boleh ketemu Bu Yumna?" tanya Aluna dengan polosnya.

"Iya, sayang. Sini, Oma rapikan biar cantik. Masa mau ketemu Bu Yumna jelek begini." ujar Bu Kartika.

Beberapa saat kemudian Aluna melangkah riang keluar rumah. Digandeng oleh Omanya. Sedangkan Vivi berada di belakang mereka. Baik Bu Kartika maupun Vivi merasa berdebar-debar. Mereka gelisah. Apa benar Aluna berani masuk dalam mobil?!...

Langkah mereka tiba-tiba berhenti, ketika langkah kecil Aluna tertahan. Genggaman tangan Aluna di tangan Bu Kartika terasa lebih kuat. Jelas sekali masih ada ketakutan di sana. Tapi gadis kecil itu masih enggan untuk mundur. Seakan ada sesuatu yang tak kasat mata, yang mendorongnya untuk melangkah lebih jauh.

"Oma..., gendong..." ujarnya tanpa menoleh pada Omanya. Matanya fokus pada kendaraan roda empat di hadapannya.

Saat Bu Kartika mengangkat Aluna, Aluna langsung membenamkan wajahnya di dada Bu Kartika.

"Anak ini masih takut, tapi dia punya tekat yang kuat."

Sepanjang perjalanan, Aluna tidak mau melepaskan pelukannya. Dadanya yang berdetak kencang, bisa dirasakan oleh Bu Kartika yang sedang mendekapnya. Bu Kartika mengusap punggung Aluna, berharap Aluna akan tertidur. Karena menurutnya itu akan lebih baik. Daripada Aluna menahan rasa takut yang berlebihan.

___

Pada akhirnya mereka tiba di apartemen tempat Yumna tinggal. Bi Nuri sempat bingung, juga takut. Ketika Bu Kartika memperkenalkan siapa dirinya. Bi Nuri pikir, Bu Kartika datang untuk menyuruh Yumna pergi. Karena putranya ketahuan ingin memperistri Yumna.

"Kami datang ingin menjenguk Yumna, bibi."

Kalimat itu seketika menghapus semua pikiran negatif di benak bi Nuri.

"Cucu saya selalu merengek. Ingin sekali diajak kemari. Bisa kami ketemu Yumna?" tanya bu Kartika kemudian.

"Tentu. Nona ada di kamar. Mari...!!"

Bi Nuri mengantar mereka ke kamar Yumna.

Di dalam kamar, Yumna segera bangun setelah mendengar suara langkah kaki dari luar. Sebelumnya, dia juga mendengar suara Bu Kartika.

"Ibu...!!!" Aluna berteriak sambil berlari ke arah Yumna.

"Hai, cantik..." Yumna langsung memeluk gadis kecil yang lebih dulu menjatuhkan tubuh mungilnya pada Yumna.

Aluna kemudian menarik tubuhnya lagi, sedikit memberi jarak pada Yumna. Lalu dia melihat Yumna. Cukup lama. Sampai tiba-tiba tangan mungilnya terulur. Mengusap setiap bekas luka di wajah cantik gurunya.

"Ibu sakit sekali ya...?" tanya Aluna.

"Bu Yumna sudah jauh lebih baik. Apalagi sekarang Aluna datang." jawab Yumna.

"Kalau begitu, aku akan sering datang. Bolehkan Oma...?" Aluna menoleh ke belakang, ke tempat Omanya.

"Oh, sudah ingat ada Oma. Kirain lupa lho, mentang-mentang sudah ketemu Bu Yumna..." balas Bu Kartika menggoda cucunya.

"Terimakasih sudah datang, Bu. Maaf jadi merepotkan." sahut Yumna.

"Tidak sama sekali." balas Bu Kartika.

Bi Nuri tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Senyumnya tak hentinya terukir melihat interaksi Yumna dengan keluarga Elbara. Sedekat itu...

Kebetulan sudah mendekati jam makan siang. Bi Nuri pun menyiapkan makanan untuk mereka. Vivi turut membantu di dapur.

"Ibu, aku sudah tidak takut naik mobil." celoteh Aluna.

Yumna melirik Bu Kartika. Bu Kartika mengangguk pelan, seolah memberi isyarat agar Yumna mengiyakan saja semua perkataan Aluna. Sebenarnya Yumna memang ingin menanyakan hal itu pada Bu Kartika sejak tadi. Tapi dia ragu, karena Aluna masih enggan menjauh darinya. Siapa sangka, si kecil Aluna justru memulai obrolan tentang itu.

"Oh iya...!!" sahut Yumna. "Aluna sudah hebat sekarang. Anak pintar." puji Yumna.

"Ibu, kapan kita belajar lagi?" tanya Aluna kemudian.

"Sayang, Bu Yumna kan masih sakit. Besok kalau sudah sembuh." sahut Bu Kartika.

"Kapan ibu sembuhnya...?!!" balas Aluna sambil menatap Yumna.

"Bu Yumna sudah sembuh kok. Besok kita bisa belajar, kalau Aluna mau." ujar Yumna menjawab.

"Horeee...!!" Aluna berseru kegirangan. "Aku akan bilang sama suster Vivi."

Aluna segera turun dari ranjang, lalu berlari keluar kamar.

"Yumna, kamu sungguh baik-baik saja...?" Bu Kartika meraih tangan Yumna, lalu menggenggamnya.

Tangan Bu Kartika terasa hangat di kulit Yumna. Dan tiba-tiba mata Yumna penuh air mata. Melihat hal itu, Bu Kartika tergerak membawa Yumna dalam pelukannya. Yumna terkejut dengan reaksi Bu Kartika. Hingga membuatnya mematung. Yumna sama sekali belum tahu, kalau malam itu Bu Kartika mendengar semua ujaran kasar pak Jodi melalui handphone Vivi. Dan Bu Kartika benar-benar sakit hati mendengarnya.

"Kamu anak baik. Jangan sedih ya. Ada kami yang selalu menyayangimu." ujar Bu Kartika. "Mulai hari ini, kamu bisa anggap saya sebagai ibu kamu." imbuhnya.

Yumna tidak menjawab, dia justru semakin terisak sambil membalas pelukan Bu Kartika.

"Orang lain yang bukan siapa-siapa saja, menawarkan diri jadi ibuku. Tapi ibu kandungku justru tidak menginginkan aku. Begitu pula orang tua angkatku. Kenapa...?!!!"

___

Saat mereka menyantap makan siang. Tiba-tiba bel berbunyi. Semua menoleh ke arah pintu. Kecuali Aluna yang tetap fokus dengan makanannya.

"Bi, tolong dilihat dulu siapa yang datang." Yumna selalu mengingatkan hal itu pada bi Nuri, sebelum membuka pintu.

Bi Nuri pun melihat siapa yang datang dari kamera yang ada di dekat pintu. Lalu dia segera kembali ke meja makan.

"Nona yang kemarin." kata bibi.

"Felly..." gumam Yumna.

"Felly?!!" sahut Bu Kartika. "Jadi kemarin dia ke sini? Mau apa dia kemari?!!" tanya Bu Kartika pada Yumna.

Yumna tidak berani menjawab. Karena Yumna diam, akhirnya Bu Kartika yang beranjak dari meja makan, untuk menghadapi Felly. Calon menantunya yang gagal.

"Ta..., Tante...?!" gumam Felly saat melihat Bu Kartika yang membuka pintu.

"Tante Kartika ada di sini. Jadi benar, perempuan itu calon istri Elbara...?" batin Felly.

"Mau apa kamu kemari?" tanya Bu Kartika sambil menutup pintu. Tak ada kesan ramah sedikitpun.

"Tante..., kok di sini?" balas Felly kembali bertanya.

"Kamu belum jawab pertanyaan saya. Ngapain kemari?" balas Bu Kartika.

Felly menarik nafas dalam-dalam. Dia tidak bisa membuat alasan yang tepat. Sejak dulu aura Bu Kartika yang begitu kuat, selalu membuat Felly mati kutu. Dia pun memilih langsung menanyakan hubungan mereka dengan Yumna.

"Jadi benar, Elbara dan Yumna akan menikah?" tanya Felly pada Bu Kartika.

Tentu saja Bu Kartika terkejut dengan pertanyaan Felly. Karena Bu Kartika tidak tahu menahu soal itu.

"Felly, kamu dan anak saya tidak ada hubungan apa-apa lagi. Jadi tidak usah ikut campur urusan anak saya lagi!" ujar Bu Kartika memberi peringatan.

"Tante..., aku..., aku masih sangat mencintai Elbara. Tolong Tante mengerti..." pinta Felly.

"Tapi Elbara tidak. Saya hanya perlu mengerti anak saya. Bukan orang asing sepertimu. Yang tahunya hanya memanfaatkan Elbara." balas Bu Kartika.

"Tidak, tante. Aku mohon...!!" Felly tiba-tiba berlutut sambil memegang kaki Bu Kartika.

"Aku mohon bantu aku dekat lagi sama EL, Tante. Aku tidak bisa hidup tanpa dia. Aku mohon, Tante..." rengek Felly.

"Felly...!! Cukup...!!"

Suara itu membuat Felly dan Bu Kartika tersentak.

Elbara datang bersama Niko. Felly lantas berdiri, dia berlari ke arah Elbara dan bersimpuh di kaki Elbara. Mengutarakan permohonan yang sama.

"Kasih aku satu kesempatan lagi, EL. Aku janji tidak akan ngecewain kamu..." ujarnya.

"Niko. Bawa dia pergi!! Dan beri tahu keamanan, dia tidak boleh lagi menginjakkan kakinya di sini!!" ujar Elbara dengan tegas.

"EL...?!!" Felly terus memohon.

Elbara menyingkirkan tangan Felly. Felly pun diseret paksa oleh Niko, menjauh dari sana.

......................

1
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
bagus ceritanya doubel up thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!