Menumpang di rumah kakaknya sendiri seharusnya terasa aman.
Namun justru di sanalah semuanya berubah.
Di balik rumah tangga yang terlihat tenang, ternyata tersimpan jarak, kesunyian, dan luka yang tak pernah terlihat orang lain. Ia hanya berniat tinggal sementara… tapi semakin lama, ia mulai melihat sisi lain dari pria yang seharusnya tak boleh ia perhatikan.
Tatapan yang terlalu lama.
Perhatian yang terasa berbeda.
Dan debar yang muncul di waktu yang salah.
Ia tahu batasnya.
Ia tahu itu salah.
Tapi bagaimana jika hati justru tertarik pada seseorang yang tak pernah dimiliki siapa pun bahkan oleh istrinya sendiri?
Dan ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap…
hubungan terlarang itu perlahan menjadi sesuatu yang tak bisa lagi dihentikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syizha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Santai
"Woy, Kak. Apa-apaan kamu!" Alana yang tak terima. Ia ikut mendengar ucapan Liliana. Dia malah lebih geram dari pada aku.
Alana hampir mengejar Liliana, tetapi aku mencegahnya. Kuraih pergelangan tangannya.
"Biarin aja, Alana!" tuturku.
"Hah!" Alana terkejut karena aku tak seemosi dirinya.
"Mas, Mbak Liliana itu udah keterlaluan lho, Mas, sama kamu. Dia pura-pura nggak ngenalin kamu, Mas. Padahal kan Mas Juna itu suaminya. Dan bisa-bisanya dia jalan dengan cowok lain. Udah gitu tanpa perasaan berdosa lagi. Padahal kan udah kepergok kayak barusan."
"Mungkin laki-laki itu cuma temannya."
"Misal temannya pun, harusnya Mbak Liliana nggak perlu berbohong, nggak perlu pakek bilang nggak kenal sama Mas Juna. Kan tinggal dikenalin aja apa susahnya."
"Pasti dia punya alasan."
"Alasan apa, Mas? Itu tuh udah nggak masuk akal. Sekarang kejar lah, Mas, marahin dia. Bilang sama si laki-laki itu, kalau Mbak Liliana itu istrinya Mas Juna."
"Mas nggak mau gegabah, Alana. Mas nggak mau mempermalukan mereka."
Alana mengernyit mendengar ucapanku. Mungkin dia terheran mengapa aku bisa sesabar ini. Alasannya, aku memang dididik dari kecil seperti ini.
Aku adalah putra tunggal dari orang tuaku. Mereka adalah orang terpandang. Ayah dan Ibuku masih keturunan ningrat. Sejak kecil aku tumbuh dalam lingkungan yang menjunjung tinggi tata Krama dan kehormatan keluarga.
Didikan orang tuaku keras. Aku dituntut untuk selalu disiplin, dan penuh kehati-hatian. Dilarang untuk bertindak gegabah, apalagi membuat kesalahan yang bisa mencoreng nama keluarga.
Maka kebiasaan itu pun kubawa hingga sekarang. Aku tak ingin membuat keributan di tempat umum.
Mempermalukan diriku sendiri hanya karena emosi yang tak bisa kukendalikan.
"Kamu lapar?" Aku pun mengalihkan obrolan kami. Alana mengangguk.
"Kita cari makan, yuk!"
Giliran aku yang menggandeng tangannya.
Aku mengajak Alana
berjalan ke arah lain dari arah yang tadi dilewati oleh Liliana dan laki-laki yang bersamanya.
Setidaknya agar aku dan Alana tak bertemu lagi dengan mereka.
***
Aku dan Alana duduk di sebuah restoran cepat saji. Kami duduk saling berhadapan. Dan di atas meja kami, sudah tertata rapi makanan yang sesaat lalu kami pesan. Seperti pizza, ricebowl, onion ring, kentang goreng, dan dua minuman soda dingin.
Aku dan Alana mulai menikmatinya. Aku lihat, emosinya yang tadi terhadap sang Kakak, sudah berangsur-angsur mereda. Keceriaan kembali tersirat di wajahnya.
"Mas Juna!" panggilnya sambil mengunyah pizza yang baru saja ia seruput.
"Hmm?" Aku melihat ke arahnya.
"Boleh nanya?"
"Silahkan aja."
"Mas Juna itu beneran cinta ya sama Mbak Liliana?"
"Kalau Mas nggak cinta, Mas nggak mungkin nikahin Mbak kamu." Jawabanku santai.
"Apa sih yang bikin Mas Juna cinta sama dia? Kalau cantiknya dia kan standar, banyak cewek diluaran sana yang lebih cantik dari dia. Dan tentunya mau sama Mas Juna. Mbak Liliana kan jutek. Apalagi kalau sama Mas Juna. Pokoknya sikapnya nggak nyenengin lah."
"Apa ya yang bikin Mas suka sama dia?" Aku berpikir.
"Kayaknya nggak ada."
"Nggak ada gimana maksudnya?" Alana bingung dengan jawabanku.
"Nggak ada alasan. Mas nggak punya alasan apapun kenapa Mas bisa suka sama Mbak kamu," terangku.
"Dih, kok gitu?"
"Kan, mencintai seseorang nggak perlu selalu ada alasan."
"Huffff ... Iya deh iya." Alana akhirnya menyerah dengan kata-kataku.
"Kalau kamu?" Giliran aku yang bertanya.
"Aku kenapa?"
"Kamu udah punya pacar?"
"Belum."
"Udah pernah pacaran?"
"Ya udah pernah lah. Aku kan udah gede, Mas. Mana cantik lagi."
Aku tertawa. Alana sangat percaya diri. Tapi aku suka dengan sikap yang seperti itu.
"Mas Juna nggak mau nanya kenapa sekarang aku nggak pacaran?"
"Kenapa kamu sekarang nggak pacaran?" Aku mengikuti keinginannya. Bertanya seperti itu.
"Karena aku belum menemukan kriteria cowok idamanku."
"Oh." Tanggapanku hanya seperti itu.
"Mas Juna nggak mau nanya cowok idamanku tuh yang seperti apa?"
"Emang yang seperti apa?" Aku lagi-lagi patuh dengan perintahnya.
"Yang kayak Mas Juna."
Deg....