Karena pertumbuhan anak laki-laki terkadang memang sedikit lambat dari anak perempuan. Dan tinggi 182 sentimeter setelah 20 tahun berlalu, sudah lebih dari cukup untuk tidak membuat malu pemilik tinggi 160 sentimeter dengan kecentilannya…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyeon Gee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
DAR! DAR!
“UWAAAAAAAA……”
Riuh suara kembang api di taman kota Seoul malam itu membuat sorak keramaian semakin terdengar saat menyaksikan pernyataan cinta Irfan kepada Saputri untuk kedua kalinya setelah sekian lama menikah.
“Definisi dicintai ugal-ugalan, ya, gini,” ujar Orvina diantara keramaian.
“Rame, ya. Seru, seru,” ujar Maeve seraya tertawa riang.
Dan di sisi lain, diantara keramaian terlihat Echa menghela napas dan membuat Garra yang berdiri di sisinya pun menoleh.
“Mau gitu juga? Nanti kubikinkan di Tenggarong. Di tepian,” ujar Garra penuh semangat.
“GILA KAU!” umpat Echa setengah berteriak.
Sontak Garra tertawa renyah.
“Takut aja mau nyaingin Adekmu.”
“Kalo sama mendiang suamiku, aku mau,” ujar Echa dan membuat Garra seketika terdiam.
Garra pun mengalihkan pandangan, berusaha abai dan ikut bersorak seakan memberi ruang untuk Echa yang hanya setengah senang menikmati perayaan hari terakhir mereka sebagai peserta orientasi di Seoul.
“Aaahh..tenang, tenang. Udah sepiii,” ujar Garra yang tengah duduk di salah satu kursi panjang halaman rumah sakit.
“Ngapain jadi orang gila di sini?” umpat Min Gyu yang tiba-tiba datang dengan kedua tangan di saku jaket dan langsung duduk di sisi Garra.
“Gak usah ngatain aku. Kamu sendiri ngapain? Gak sama Jeni?”
“Jeni lagi ngumpul sama keluarganya, sekalian beres-beres barang buat besok pulang.”
“Kenalan sama keluarganya, lah,” sindir Garra.
“Bisa nanti. Kita lama juga di Indonesia.”
“Deketin anaknya, dong.”
“Itu sindiran buatku apa buatmu?”
Sesaat Garra melirik sinis Min Gyu yang tengah pura-pura menatap langit malam berkabut.
“Sisa anaknya, sih, aku. Echa-nya gampang.”
“Gampang? Baek Ho yang baru putus dari tunangannya aja bisa langsung jadian sama Rifa.”
“Aaaargghh! Serah!”
Melihat reaksi Garra yang begitu frustasi, Min Gyu hanya menahan senyum geli. Sampai Garra terdiam dan menghela napas cukup keras, dia menengadah menatap langit.
“Dulu kukira aku gak suka dia. Karena aku gak percaya sama cinta pandangan pertama. Menurutku cinta, tuh, perlu proses panjang. Kaya aku sama mantanku. Kupikir aku salah tapi, waktu dia makin deket ke David abis aku putus dari mantanku, ada rasa aneh. Tapi, lagi-lagi aku nangkis. Karena aku mikir mungkin dia cuma pelarian, karena enak diajak ngobrol.”
“Tapi, di saat-saat gitu, kamu pasti selalu ada.”
Ucapan Min Gyu pun membuatnya tersenyum sinis dan mengangguk pelan lalu menatap datar sekitar halaman rumah sakit yang sepi.
“Gak tau, Tuhan kasi buat hadiah atau cuma kenangan bagus. Tapi, setiap kali dia sedih, kena masalah, aku pasti ada. Dan bukan David. Makin ke sini, aku berusaha ngejauh karena aku tau, David punya rasa yang sama. Aku diam. Aku dukung, yang penting mereka seneng. Terus, David pulang, dan aku ngerasa ada tanggung jawab yang mesti kujaga.”
“Tapi, waktu tangkinya bener-bener kosong, kamu malah nikah sama cewe lain dengan alasan dia udah nutup hatinya. Shibal saekkiya(Brengs*k banget),” umpat Min Gyu.
Terlihat Garra hanya tersenyum sinis.
“Aku akui, aku bahkan gak ngerti apa-apa soal dia. Tapi, masih berani bilang kalo aku suka dia. Sampai aku nikah dua kali yang bahkan sama orang yang gak aku suka. Cuma kaya, oke, kita jalani. Tapi, ternyata gagal keduanya.”
“Bodoh gak, sih?” ujar Min Gyu.
“Hahaha…jangan kesal. Aku curhat, nih,” ujar Garra yang akhirnya tertawa geli melihat reaksi Min Gyu.
“Kalo tahun ini akhirnya masih sama. Kamu gak kepilih, mending mati,” omel Min Gyu.
“Hahahaha…bantuinlaah,” rayu Garra yang tidak bisa lagi menahan rasa gelinya.
“Kurang bantu apalagi aku? Proyekmu kuiyakan. Kucarikan seluruhnya yang terbaik. Kusediakan semua maumu. Tapi, sudah setahun ini gak ada maju-maju. Malah yang lain, yang cinlok massal.”
“AHAHAHAHAHAHA…”
Melihat Garra yang tertawa semakin keras membuat Min Gyu pada akhirnya tersenyum geli dan merangkul Garra lalu mengguncangnya.
“Ya! Kkeeumanhae(Hei! Berenti!)!” teriak Min Gyu yang akhirnya ikut tertawa.
“Hahahaha…ha, ha, haaa…”
Dan pada akhirnya, usai helaan napas keras, isak itu pun terdengar dan Min Gyu hanya bisa ikut menghela napas.
“Aku gak sanggup liat dia sedih. A, aku gak sanggup liat dia natap kosong. Aku gak sanggup ngelepas dia sama Zayn. Tapi, aku masih mau dia seneng. Aku gak mau gara-gara aku, di, dia jadi gak seneng dan malah inget David. Sedih lagi, sedih terus. Gak maju-maju. Aku takut, dia gak bisa ke mana-mana kalo sama aku,” jelas Garra disela isaknya.
“Haaa…pelan-pelan. Kubilang, pelan-pelan. Setiap detik aku selalu bilang, pelan-pelan kalo jalan. Kau tabrak sembarangan terus, sih,” omel Min Gyu yang akhirnya menepuk-nepuk cukup kuat Pundak Garra untuk menenangkannya.
Eojjeogesseo nan neoga ebseumyeon…(Apa yang bisa kulakuin kalo aku gak miliki kamu?)