Ini adalah Kelanjutan dari Novel Menikahi Tuan Muda Yang Kejam 2.
Berkisah tentang putri pertama Sean dan Viana yaitu Sevina Armadja yang memiliki sifat yang arogan, jago bela diri, namun berhati baik.
Hingga suatu hari, ia dijodohkan dengan seorang pria bernama David Pramudya, seorang yang sangat pintar, namun sangat kaku dan dingin.
Bagaimanakah kisah rumah tangga mereka?
Season 2
Berkisah tentang Davin Pramudya yang ditinggal nikah oleh cinta pertamanya. Hingga ketika ia menyelamatkan wanita yang hendak bunuh diri, ia pun
menikahi wanita tersebut karena menghindari perjodohan. Namun, pernikahan itu dilaksanakan dengan syarat bercerai setahun setelahnya.
Yuk kita simak kisahnya.
Follow instagram @yenitawati24
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenita wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Firasat
Seminggu telah berlalu. Sevina dan David sudah selesai berbulan madu. Kini saatnya mereka kembali pada aktivitasnya masing-masing. David bekerja di perusahaan barunya dan Sevina kuliah.
Hari ini tak seperti biasanya, David merasa gelisah. Apapun yang dilakukannya terasa tidak nyaman dan tidak mengenakkan hatinya.
"Dav, kau kenapa?" tanya seorang bawahannya yang tak lain adalah teman SMAnya dulu yang bernama Agus.
"Aku tidak tau. Rasanya hatiku tidak enak," ucap David sambil memegangi dadanya yang terasa sedikit sesak.
"Biasanya itu merupakan firasat buruk. Maafkan aku Dav, bukannya aku menakut-nakuti. Tapi itu biasa firasat pada orang yang paling dekat dengan kita," ucap Agus.
"Apa jangan-jangan Sevina kenapa-kenapa ya," ucap David.
"Teleponlah dia agar hatimu bisa lebih tenang," ujar Agus.
David mengangguk. Dia pun menelepon Sevina.
"Halo Dav." Sevina.
"Sedang apa, Se?" David.
"Sedang makan siang di kantin. Kau sedang apa? Sudah makan?" Sevina.
"Aku sedang bekerja. Aku akan makan siang sebentar lagi. Sudah dulu ya. Sampai bertemh di rumah." David.
"Oke bye." Sevina menutup teleponnya.
David menghela nafas lega.
"Bagaimana apa masih gelisah?" tanya Agus.
"Entahlah, ada rasa was-was sekaligus lega," jawab David.
"Ya sudah, mungkin kau memang sedang lelah saja. Sebaiknya kau tenangkan dulu pikiranmu. Istirahatlah di ruanganmu. Lagi pula hari ini kita tidak punya jadwal kan," ujar Agus.
"Iya, sebaiknya aku istirahat dulu. Aku tinggal ya, Gus," ucap David. Dia berdiri lalu melangkah menuju ruang kantornya.
Sesampainya di ruangannya dia merebahkan diri di sofa ruangan itu.
***
Sevina sudah selesai dengan mata kuliahnya.
"Hmm, sebaiknya aku pergi ke kantor David saja," gumam Sevina. Dia memasukkan barang-barang ke tasnya dan keluar dari kelas itu.
"Hai Se," sapa Edo yang baru saja datang dari arah belakang.
"Edo, ada apa?" tanya Sevina.
"Se, aku ingin ke kantor David. Dimana alamatnya?" tanya Edo.
"Aku juga akan kesana. Kita pergi bersama saka kesana," ujar Sevina.
"Ya sudah kau naik apa? Kalau dijemput supir, lebih baik suruh pulang saja agar kita semobil," ujar Edo.
"Iya aku bersama supir. Baiklah aku akan menyuruhnya pulang. Lagi pula aku akan pulang dengan David," ucap Sevina.
Edo mengangguk. Sevina menelepon supirnya dan menyuruhnya pulang. Setelah itu dia dan Edo pun pergi bersama naik mobil Edo.
Di perjalanan,
"Se, apa kau tau aku putus dengan Selly?" tanya Edo.
"Maaf jika kalian harus putus karena aku," ucap Sevina.
"Tidak apa. Lagi pula siapa yang mau menjalin kasih dengan gadis penghianat seperti dirinya," ucap Edo dengan sinis.
"Oh ya, ku dengar kau sudah selesai dengan Tesismu," ucap Sevina.
"Iya, aku lega sekarang karena tidak ada beban pikiran lagi," sahut Edo.
"Apa kau tidak berencana berbaikan dengan Selly. Maksudku dia mungkin saja sudah berubah," ucap Sevina.
"Dan kau kenapa tidak berbaikan dengannya jika menurutmu dia sudah berubah?"
Sevina terdiam sejenak.
"Hatiku masih belum siap menerimanya. Apalagi belum ada bukti bahwa bukan dia yang melakukan penyerangan terhadap kami," sahut Sevina.
"Memangnya apa yang membuat kalian yakin bahwa dia pelakunya?" tanya Edo.
"Orang-orang yang menyerang kami seperti tau bahwa aku mempunyai semprotan cabai ditasku sehingga mereka menggunakan perlindungan diri saat menyerang kami. Dan hanya Selly yang tau bahwa aku selalu membawa semprotan cabai," tutur Sevina.
"Sesederhana itukah? Lalu apa bagaimana kalian menemukan pengacau radio itu?" tanya Edo.
"Oh, saat itu kami.....Tunggu, darimana kau tau bahwa dimobil kami saat itu juga ada pengacau radionya? Apa Selly bercerita padamu?" Sevina menatap penuh terkejut.
"Ya, dia menceritakan semuanya. Ini semua memang rencananya. Aku tidak habis pikir ada manusia sejahat dirinya," ucap Edo.
Sevina mengepal erat tangannya. Dasar Selly kurang ajar. Awas kau ya aku tidak akan mengampunimu!"
Sevina mengeluarkan ponselnya. Dia mencari nomor Selly dan hendak meneleponnya. Namun ada yang aneh, tiba-tiba saja sinyal di ponselnya hilang. "Loh kok sinyalnya hilang. Kita kan sedang berada di kota," ucap Sevina.
"Oh, mungkin karena aku sedang mengaktifkan pengacau radioku," sahut Edo.
Sevina terkejut dengan ucapan Edo. "Ba-bagaimana kau bisa punya pengacau radio? Untuk apa?" tanya Sevina yang tiba-tiba saja merasa aneh dengan semua ini.
Edo hanya tersenyum menyeringai. Sorot matanya berubah tajam dan terlihat penuh dendam. Dia menambah kecepatan mobilnya hingga hampir mencapai batas.
"Edo!! Kau gila. Kurangi kecepatannya atau kita akan terbunuh!!" teriak Sevina.
"Biar saja kita mati bersama. Lebih baik kau mati daripada kau bahagia dengan orang lain!!" teriak Edo.
"Apa maksudmu?"
Ciiiit. Edo mengerem tepat dijalanan sepi. Jantung Sevina berdegup kencang. Tangannya bergetar dan tubuhnya terasa sangat lemas. "Apa yang terjadi denganku?" Sevina semakin memelankan suaranya.
"Wah ternyata obat yang aku campur di minumanmu sudah berfungsi ya. Obat itu akan melemahkan dirimu selama seharian," Edo tersenyum jahat.
"Edo kenapa kau melakukan ini?"
Sevina menyandarkan tubuhnya yang semakin melemah.
"Apa kau tau bagaimana rasanya menunggu? Apa kau tau bagaimana rasanya ditinggal menikah oleh orang yang kau cintai dan orang itu tidak tau bahwa kau mencintainya!!!" Edo berteriak seperti orang kesetanan.
"Aku mencintai David. Maafkan aku Edo. Sekarang kembalikan aku pada David. Aku berjanji tidak akan mengatakan ini," ucap Sevina.
"Hahaha semudah itu kau mengatakannya. Apa kau kira aku bodoh ha?"
"Edo aku mohon."
"Tidak, aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Pertama mari kita bersenang-senang dulu sayang." Edo membelai rambut Sevina.
Dia kembali menyalakan mobil dan melaju ke sebuah gedung tua. Dia memarkirkan mobilnya dan menutupinya dengan dedaunan dan ranting. Edo membawa pengacau radio itu bersama mereka agar mereka tidak terlacak. Setelah itu, dia menggendong Sevina yang sudah tidak berdaya. Untuk bicara pun Sevina sudah tidak mampu. Hanya matanya saja yang terbuka dan bulir air mata pun membasahi pipinya.
Mereka sampai ke sebuah ruangan dalam gedung tua itu. Edo langsung mengunci ruangan yang sebelumnya sudah dia bersihkan dan perbaiki. Edo meletakkan Sevina diatas ranjang dan menyalakan sebuah kamera perekam video.
"Bersiaplah sayang, aku kita akan mengukir kenangan. Kita akan membuat video percintaan kita lalu aku akan mengirimi David video itu dan menyebarkannya di Social Media. Setelah itu kita akan mati bersama meminum racun. Ah tidak, aku akan menyuntikkanmu racun dulu. Setelah itu aku akan meminum racun dan menyusulmu. Aku juga sudah menyiapkan surat bunuh diri jika David menemukan kita." Edo tersenyum menyeringai. Sungguh sangat menyeramkan. Sevina tidak menyangka Edo sanggup melakukan hal ini.
Edo mulai menyalakan perekam radio itu. Dia pun langsung membuka bajunya. Hanya tinggal celana dalam saja. Setelah itu di mulai merangkak keatas ranjang dan....
"Aarrrgggghhh."
Edo terjungkal ke lantai. Dia merasakan sakit di belakang kepalanya. Dia merabanya dan ada darah. Dia menoleh ke belakang dan terkejut melihat seseorang tengah memegang kayu balok yang habis dipukulkan ke kepalanya.
"David!!!" teriak Edo.