Novel ini berpisah tentang Aulia, seorang desainer muda berbakat yang bercita-cita tinggi. Setelah berjuang keras, ia akhirnya mendapatkan pekerjaan impian di perusahaan arsitektur terkemuka, dipimpin oleh CEO yang karismatik dan terkenal dingin, Ryan Aditama.
Sejak hari pertama, Aulia sudah berhadapan dengan Ryan yang kaku, menuntut kesempurnaan, dan sangat menjaga jarak. Bagi Ryan pekerjaan adalah segalanya, dan tidak ada ruang untuk emosi, terutama untuk romansa di kantor. Ia hanya melihat Aulia sebagai karyawan, meskipun kecantikan dan profesionalitas Aulia seringkali mengusik fokusnya.
Hubungan profesionalitas mereka yang tegang tiba-tiba berubah drastis setelah insiden di luar kantor. Untuk menghindari tuntutan dari keluarga besar dan menjaga citra perusahaannya, Ryan membuat keputusan mengejutkan: menawarkan kontrak pernikahan palsu kepada Aulia. Aulia, yang terdesak kebutuhan finansial untuk keluarganya, terpaksa menerima tawaran tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jawab Aku, Ryan.
Di ruangan Ryan, Ryan sedang rapat dengan Mira. "Mira, pastikan semua media menayangkan foto fitting Aulia, terutama yang menonjolkan gaunnya. Berikan narasi yang berfokus pada "pasangan berkuasa yang berbagi visi," perintah Ryan.
"Siap, Pak Ryan. Tapi, Bapak yakin kita harus fokus pada gaunnya? Bukankah itu terlalu soft?"
Ryan tersenyum tipis, "Tidak, Mira. Ini adalah pengalihan yang sempurna. Semakin mereka sibuk dengan gaun dan liontin, semakin mereka lupa bahwa pernikahan ini murni bisnis. Selain itu..." Ryan menatap ke meja Aulia. "Sebagai seorang arsitek, dia pantas mendapatkan sebuah desain yang sempurna."
Aulia menjalani hari-harinya dalam mode ganda, sebagai desainer yang bekerja keras, dan calon istri Ryan Aditama. Di kantor ia berdebat dengan Ryan soal sirkulasi udara; di chat dia harus membahas daftar undangan dan catering.
Dua minggu sebelum pernikahan kontrak, Ryan kembali memanggil Aulia ke ruangannya.
Di sana sudah menunggu seorang pengacara pribadi Ryan dan Mira yang terlihat gugup.
"Aulia, duduk." Perintah Ryan.
"Ada apa Ryan? Apakah ada masalah dengan kontraknya?" tanya Aulia khawatir.
"Tidak ada masalah, hanya perubahan mendadak," jawab Ryan. Ia menunjuk pengacara itu.
"Nona Aulia," sapa pengacara itu. "Klien kami bapak Ryan Aditama, telah merevisi salah satu peraturan. Karena status pernikahan akan segera diresmikan, dan Ibu Bapak Ryan mendesak adanya transparan finansial, Bapak Ryan memutuskan untuk memberikan Anda akses penuh ke rekening bersama, dan... kepemilikan saham minoritas di Aditama & Partners sebesar 5 %."
Aulia terperangah, "5%? Itu... Itu sangat besar, Ryan!"
"Itu adalah equty yang dibutuhkan untuk pernikahan ini tidak bisa digugat oleh Adnan, Aulia," jelas Ryan dingin. "Dia gak bisa menuduhmu hanya memburu uang pinjaman. Kamu sekarang adalah partner sejati. Jaminan keamanan finansialmu di perkuat. Tanda tangani ini."
Aulia memegang pena. Ia kini bukan hanya istri palsu. Tapi pemegang saham. Kontrak itu semakin mengikat dan semakin menguntungkan.
"Saya setuju," kata Aulia, tangannya gemetar saat menandatangani.
Mira tersenyum, "Selamat Nyonya Aditama. Anda baru saja menjadi wanita paling berkuasa di Jakarta."
Sore hari itu, Aulia berjalan pulang dari kantor. Ia memutuskan untuk pulang lebih cepat, untuk memeriksa kondisi Ibunya.
Saat ia memasuki koridor yang sepi di area lift, ia terkejut melihat Adnan sedang menunggu, bersandar di dinding.
"Selamat, Nyonya pemegang saham," sapa Adnan dengan suara sinis. "Baru Jadi Desainer Junior beberapa hari, sekarang sudah jadi pemilik perusahaan, cepat sekali ya, jalur kariermu?"
"Adnan, jangan membuat keributan," tegur Aulia. Dia ingin cepat masuk ke lift.
"Aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal," Adnan berjalan mendekat. "Kamu pikir, dengan 5% saham, kamu menang? Kamu salah Aku punya bukti, Nona Aulia. Bukti bahwa pernikahanmu sandiwara dari awal."
Adnan menyeringai, mengeluarkan sebuah flash drive kecil. "Aku punya rekaman. Rekaman percakapan Ryan dengan pengacaranya dua minggu lalu. Mereka membahas detail kontrak, uang yang dibayarkan ke ibumu. Semuanya, aku rekam dari luar ruang rapat. Aku akan membocorkannya ke dewan direksi tepat satu hari sebelum pernikahan."
Aulia merasakan darahnya mengering. Jika itu terjadi, Ryan akan tamat. Adnan akan mengambil alih, dan Aulia akan kehilangan segalanya, termasuk kemampuan untuk merawat ibunya.
"Kamu tidak akan berhasil. Mereka akan mengira itu hanya rekayasa," Aulia mencoba menyangkal.
"Oh, mereka akan percaya. Karena di dalam rekaman itu, Ryan mengatakan satu hal yang akan menghancurkannya," Adnan mendekati, membisikkan kata-kata yang mematikan di telinga Aulia.
"Dia bilang, dia akan menceraikanmu begitu Lavana selesai. Bahwa kamu hanyalah 'alat sekali pakai'."
Aulia terhenyak. Rasanya seperti di tampar. Semua kebaikan, ciuman, liontin, semua adalah sandiwara yang berbatasan waktu. Ia memang "hanya aat."
"Aku akan memberimu kesempatan terakhir," Adnan menatap Aulia dengan mata penuh hasrat. "Tinggalkan Ryan. Beritahu dia bahwa kamu tidak sanggup menikahinya. Batalkan pernikahan ini malam ini juga. Dan aku akan membiarkanmu pergi dengan uang yang sudah kamu terima. Bahkan aku akan melipatgandakannya."
"Kenapa kamu melakukan ini?" tanya Aulia, suaranya tercekat.
"Karena Aku menginginkan perusahaan ini," jawab Adnan dingin. "Dan aku menginginkan Ryan menderita. Dan Aku.... jujur saja tertarik dengan keberanianmu. Jadilah partnerku, bukan bonekanya Ryan."
Aulia menatap Adnan, lalu melihat flash drive yang dipegang Adnan yang memuat kehancuran Ryan dan masa.depan Lavana.
Ini bukan lagi tentang uangnya. Ini tentang menyelamatkan Lavana, dab menyelamatkan Ryan dari sepupunya.yang jahat.
"Tudak!" jawab Aulia tegas. "Aku gak akan membatalkannya pernikahan ini."
Adnan tertawa mengejek, "Bodoh! Kamu akan di buang Ryan, dan kamu tahu itu. Mengapa kamu melindunginya?"
"Karena aku adalah partnernya," kata Aulia, sambil mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. "Dan kami sudah sepakat, kami gak akan mentolerir pengkhianatan. Sekarang, menggir Adnan. Aku ada janji dengan partnerku.
Aulia berjalan melewati Adnan. Tapi tepat saat ia tiba di de0an lift, Adnan menyerang.
"Dasar perempuan murahan! Adnan membentak, lalu tangannya bergerak cepat, berusaha merebut tas Aulia. "Aku akan tunjukkan pada Ryan, siapa yang berkuasa!"
Aulia menjerit pelan.
Tiba-tiba sebuah langkah kaki cepat terdengar di koridor.
"Adnan, lepaskan dia!" suara Ryan menggelegar, penuh amarah yang terpendam.
Ryan berlari ke arah mereka. Wajah Ryan memerah, bukan karena terkejut, tapi karena marah. Ia melihat Adan mencengkeram lengan Aulia.
Ryan tidak bertanya, ia tidak bernegosiasi, ia hanya bertindak.
Dengan kekuatan luar biasa yang tidak terduga, Ryan menarik tangan Aulia menjauh, dan tangan kanannya langsung melayangkan pukulan keras, tepat ke rahang Adnan.
"Bugh"
Adnan langsung tersungkur ke lantai. Flash drivenya terlempar jauh. Darah mengalir dari sudut bibirnya.
"Beraninya kamu menyentuh calon isteri saya," desis Ryan berdiri di atas Adnan, napasnya memburu. Ryan menatap Adnan dengan mata yang benar-benar gelap. Mata itu tidak lagi sedingin es, tapi membara seperti larva.
Aulia menatap Ryan. Ia tidak pernah melihat sisi lain Adnan. Sisi yang begitu protektif, begitu emosional, dan begitu kasar.
Ryan berbalik, tubuhnya masih gemetar karena amarah. Ia memegang lengan Aulia, "Kamu baik-baik saja?"
Aulia mengangguk pelan, ia masih shock. "Aku baik-baik saja."
Ryan kemudian berjongkok, mengambil flash drive yang terlempar itu. Ia menatap Adnan yang merintih di lantai, lalu menatap Aulia.
"Ayo," Ryan menarik Aulia ke lift. Membiarkan Adnan terkapar di lantai koridor.
Begitu pintu lift tertutup, Ryan melepaskan cengkeramannya pada lengan Aulia. Ia bersandar di dinding lift, mengatur napas.
"Dia bilang, dia punya rekaman," kata Aulia pelan. "Rekaman kontrak kita."
Ryan mengeluarkan napas keras. Aku tahu. Itulah sebabnya aku memasang pengaman di koridor. Aku sudah menduga , dia akan berbuat ulah. Jangan khawatir flash ini ada di tanganku kananku.
Aulia menatap flash dive di tangan Ryan, lalu teringat kata-kata Adnan. Kata-kata yang menusuk hati Aulia.
"Ryan, panggil Aulia.... apa benar di rekaman itu kamu bilang aku hanyalah alat sekali pakai yang akan kamu ceraikan setelah Lavana selesai?"
Keheningan melanda lift. Ryan tidak menatapnya, dia hanya menatap lantai lift yang mengkilat.
"Jawab Aku, Ryan," desak Aulia, suaranya bergetar.
Ryan akhirnya mendongak, matanya menatap Aulia dengan pandangan yang sulit diartikan.
Bersambung....