Lembayung Senja, namanya begitu indah, namun, tak seindah nasib hidupnya.
Pernikahannya bahagia, tapi rusak setelah seorang wanita hadir diantara dirinya dan sang suami.
Fitnah yang kejam menghampirinya, hingga ia harus berakhir di penjara dengan tuduhan membunuh suaminya sendiri pada malam pertengkaran terakhir mereka.
Kelahiran bayi yang seharusnya menjadi hadiah pernikahannya bersama Restu Singgih suaminya, justru harus di warnai tangis nestapa, karena Lembayung melahirkan bayinya di balik jeruji penjara. Dua puluh tahun berlalu, Lembayung mendekam di penjara atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.
Setelah bebas, Albiru justru berkata bahwa ia malu memiliki Ibu seorang mantan narapidana.
Akankah Lembayung menemukan kembali kabahagiannya setelah sekian lama menanggung derita tanpa berbuat dosa? Bagaimana Lembayung memperbaiki hubungan dengan Biru yang kini telah sukses? Pembalasan apa yang akan Lembayung lakukan pada orang-orang yang telah mengkhianatinya dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Interogasi
#7
Derap langkah kaki Bu Halimah sangat cepat, hatinya mencelos hingga ke dasar jurang paling dalam, ketika mendengar kabar dari pemuka desa, bahwa putra tersayangnya telah pergi meninggalkannya.
“Restu, anak Mamak,” raungnya sepanjang perjalanan. Sementara Rasti dan Karmila mengikuti ibu mereka dengan perasaan tak menentu.
Ismail pun ikut mendampingi istrinya, karena ingin memastikan kebenaran kabar meninggalnya sang kakak ipar. Hatinya gelisah, dan bertanya-tanya, entah kenapa bisa terjadi peristiwa tak terduga semacam ini?
Ketika sampai di rumah Restu dan Ayu, susana ramai, mobil polisi datang cepat dari kantor terdekat, sekeliling rumah telah dipasang garis kuning agar para warga tidak ikut berdesakan masuk ke rumah yang kini menjadi TKP.
“Restu!” jerit Bu Halimah histeris kala melihat tubuh putranya tertutup kain jarit, dan banyak darah bersimbah di sekitar tubuhnya.
“Jangan tinggalkan Mamak, kenapa kau tega sama Mamak, Nak!” raung Bu Halimah. Rasti dan Karmila pun tak kuasa menahan tangis, setelah melihat jasad kakak sulung mereka yang meninggal dengan cara mengenaskan.
“Siapa pelakunya?! Siapa yang membuat anakku jadi begini?!” tanya Bu Halimah dengan suara lantang. “Bawa dia kemari, akan ku tikam belati serupa dengan apa yang dia lakukan pada putraku!” ancam Bu Halimah, tak takut pada aparat kepolisian yang masih memeriksa lokasi tempat kejadian perkara.
“Tenang, Mak, biarkan polisi yang bekerja,” bisik Karmila, coba menenangkan kesedihan ibunya.
“Macam mana Mamak bisa tenang, apa kau tahu rasanya jadi Mamak, bagaimana bila anakmu yang bernasib seperti ini?”
“Astaghfirullah, Mak. Jangan berkata begitu,” ucap Ismail, takut bila perkataan sang mertua kelak akan menjadi doa. “Ini musibah, Mak. Sabar.”
Bu Halimah kembali melanjutkan tangis sedihnya.
Tak lama kemudian, polisi menghampiri mereka, “Selamat malam, Pak, Bu.”
“Selamat malam, Pak. Kami keluarga korban,” ucap Ismail yang mau tak mau kini jadi juru bicara mewakili keluarga.
“Baik, sementara ini kami mengamankan istri korban, yang menurut keterangan saksi, telah menikam saudara Restu,” kata Pak Polisi.
“Apa?!”
Pekik Bu Halimah, Ismail, Karmila, dan Rasti bersamaan. Mana pernah mereka menduga bahwa Ayu tega berbuat demikian pada suaminya sendiri.
“Tidak mungkin, Pak. Kami mengenal Kak Ayu dengan baik, dia tak akan tega berbuat keji pada kakak kami,” kata Karmila coba meyakinkan.
“Betul, Pak. Kakak ipar saya itu, bahkan tak berani memotong leher belut, jadi mana mungkin—”
“Apa yang tidak mungkin?!” hardik Btersangka dengan mata melotot tajam pada anak dan menantunya yang justru membela orang yang membunuh putranya. Kini dadanya berselimut amarah yang sangat membara.
Ternyata menantu sholehah pilihan suaminya tak sebaik yang mereka kira selama ini.
“Lalu, siapa saksinya?”
Polisi membuka buku kecil tempat ia mencatat keterangan saksi, “Namanya Anjani.”
“Hah?!”
Semua terkejut dan saling pandang, setelah tahu siapa saksi kejadian.
Seharusnya melihat latar belakang Anjani saja, mereka bisa menyimpulkan kesaksian macam apa yang wanita itu berikan. Namun sebagai ibu dari korban, Bu Halimah terima mentah-mentah ucapan polisi, yang dilengkapi dengan analisa polisi.
Diam-diam, Karmila menggenggam erat tangan suaminya, belum apa-apa ia sudah takut. Ada hubungan apa Anjani dengan Restu, hingga pada malam hari wanita itu berada di rumah kakaknya.
Sudut mata Karmila menatap kalung yang tergeletak di sudut ruangan, pikirannya mengembara, mencoba menebak apa yang terjadi di rumah ini satu jam yang lalu. Karmila tak berani memungut kalung tersebut, karena mengira itu adalah barang bukti.
•••
Keesokan harinya.
Ayu dengan tubuh letihnya meringkuk di sel tahanan, berharap ada cahaya dalam gelap jalannya saat ini. Belum habis kesedihan dan duka atas kepergian suaminya, kini ia harus terbiasa menerima tuduhan seorang pembunuh.
Beberapa saat lalu, opsir memberinya peralatan sholat agar ia bisa menjalankan kewajiban lima waktunya. Kini tak ada lagi tempat mengadu dan berlari, selain pangkuan Ilahi. Jadi Ayu tak ingin lalai, karena hanya pada-Nya ia bisa berkeluh kesah. Pasti akan ada jalan terang jika tetap percaya pada rahmat dan kemurahan-Nya.
Klek!
Pintu tahanan dibuka, “Kau, kemarilah!” seru opsir yang bertugas pagi ini.
“Ini sarapanmu, makanlah! Setelah ini baru interogasi di mulai.”
Ayu tercenung, ia masih asing dengan istilah yang diucapkan opsir wanita tersebut.
“Interogasi itu apa, Bu?”
“Interogasi itu, pemeriksaan terhadap seseorang, untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya dari saksi, pelaku, bahkan korban.”
Meski paham, Ayu tak berekspektasi macam-macam. Hanya mengangguk pelan, lalu membawa nampan berisi makanannya pagi ini.
Hanya getir yang mampu Ayu rasakan, namun, ia berusaha keras menelan, demi janin dalam kandungan.
Setitik air mata turun begitu saja, andai kemarin ia tak meletakkan pisau di meja, andai kemarin ia merelakan kalung yang menjadi sumber perdebatan, tentulah saat ini suaminya masih bernyawa. Walau Ayu harus menerima kenyataan, yang Restu suguhkan bersama selingkuhannya.
Tak lama setelah Ayu menghabiskan makanannya, wanita itu pun di papah opsir wanita menuju ruang interogasi. Gemetar ketakutan, itulah yang Ayu rasakan, belum pernah ia ditatap dengan pandangan yang begitu mengerikan.
“Silahkan duduk, Bu,” ucap opsir tersebut.
Tapi Ayu enggan. “Jangan keluar dari sini, a-aku takut,” katanya lirih.
“Saya ada di depan pintu—”
“Tidak!” sahut Ayu cepat, ia tak mau di sini sendirian, setidaknya butuh pendampingan.
“Duduklah sampai pengacaranya tiba.” kata Pak Hendrawan, polisi yang akan menginterogasi Ayu.
Opsir wanita yang bernama Yuni itu pun duduk di sebelah Ayu, perasaan Ayu kembali tenang, karena sejenak ia mempunyai sandaran. Ayu tak melepaskan genggaman tangannya pada tangan Opsir Yuni.
“Bisa jelaskan awal mula kejadian semalam, Bu?”
Berbanding terbalik dengan wajahnya yang garang, rupanya Pak Hendrawan bertanya dengan nada yang lembut dan perlahan.
Ayu terlihat menunduk ketakutan, ia takut jika ucapannya diputarbalikkan seperti yang dilakukan Anjani semalam.
“Pak, apakah tidak sebaiknya kita menunggu pengacara? Bu Ayu butuh pendamping terpercaya.”
Pak Hendrawan berpikir sejenak, “Baiklah, tadi pengacara bilang masih di perjalanan, mungkin sebentar lagi tiba.”
Setelah menunggu beberapa saat, orang yang mereka tunggu pun tiba. Seorang pria berusia pertengahan tiga puluhan, wajahnya cukup tampan, dan penampilannya pun menawan. Disamping itu, ia terlihat matang dengan pesona kepandaian khas pengacara.
“Maaf, saya terlambat.”
Pria itu masuk kemudian mengambil tempat persis di depan Ayu, “Perkenalkan, saya Gunawan Wicaksono.”
Dengan percaya diri, pria itu mengulurkan tangan pada Ayu, namun, wanita itu hanya menangkupkan tangan di depan dada sebagai balasan. Ia tahu batasan antara lelaki dan perempuan, dan Ayu tak mau melampauinya.
“Beliau ini, pengacara yang bertugas di pengadilan tingkat daerah.”
Ayu mengangguk dengan wajah sayu, melihat Ayu yang masih malu-malu takut, Opsir Yuni pun mengusap punggung tangan Ayu. “Beliau adalah, orang yang akan mendampingi, dan membela Anda selama persidangan nanti.”
“Persidangan?”
“Iya, jika bukti-bukti mengarah pada Anda sebagai tersangka pembunuhan, maka pasti akan digelar persidangan.”
“Aku tidak bersalah! Kenapa harus aku yang duduk di persidangan!” kata Ayu lantang.
trims kak thor
Miranda mengutamakan cinta buta mungkinkah bakal cinta mati sama biru kita tunggu disebelah