NovelToon NovelToon
Ratu Yang Memilih Takdirnya

Ratu Yang Memilih Takdirnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Cintapertama
Popularitas:727
Nilai: 5
Nama Author: Anaya Barnes

Arcelia Virellia pernah menjadi putri yang hidup dalam kemewahan. Namun ketika bisnis keluarganya berada di ambang kehancuran, ia dijadikan alat transaksi melalui pernikahan politik dengan pewaris keluarga Ravert.
Pernikahan yang seharusnya menyelamatkan segalanya justru menghancurkan hidupnya.
Dihina keluarga suami…
Diabaikan oleh pria yang menjadi suaminya sendiri…
Dan ketika kematian misterius merenggut nyawa suaminya, Arcelia dituduh sebagai pembawa sial dan diusir tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira hidupnya telah berakhir.
Namun tiga tahun kemudian, seorang investor misterius muncul dan mulai menguasai dunia bisnis elit kota. Tidak ada yang tahu identitasnya… sampai wanita itu kembali muncul dengan nama yang membuat masa lalu mereka bergetar.
Arcelia telah kembali.
Bukan lagi sebagai putri yang patuh…
Melainkan ratu yang siap menagih semua pengkhianatan.
Karena bunga mawar mungkin terlihat indah…
Tapi mereka lupa bahwa mawar selalu memiliki duri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

Pagi itu udara terasa sedikit lebih panas dari biasanya.

Arcelia berdiri di depan cermin, merapikan seragam sekolahnya. Rambutnya ia ikat setengah, sederhana tapi rapi. Ia menatap bayangannya beberapa detik lebih lama.

Tenang. Jangan terlihat goyah.

Ia menarik napas panjang lalu turun ke ruang makan. Suasana pagi ini lebih sunyi. Papa Alveron sudah berangkat lebih dulu. Bang Kaiven terlihat siap pergi juga, jasnya sudah rapi, wajahnya serius.

“Bang berangkat sekarang?" tanya Arcelia.

"Iya Dek. Katanya ada meeting lanjutan."

Arcelia mengangguk.

Sebelum pergi, Bang Kaiven berhenti sebentar di depannya.

"Dek, jangan baca berita aneh-aneh hari ini."

Arcelia mengangkat alis tipis.

"Jadi, memang ada berita baru Bang hari ini?"

Bang Kaiven hanya tersenyum samar. "Kamu terlalu cepat menangkap sesuatu Dek."

Ia pergi tanpa menjawab jelas. Dan itu justru membuat Arcelia semakin yakin… situasinya tidak membaik.

Di sekolah, suasana terasa berbeda.

Beberapa siswa terlihat berbisik saat Arcelia berjalan melewati lorong. Tidak terang-terangan, tapi cukup jelas untuk disadari. Ia pura-pura tidak peduli. Namun suara itu tetap terdengar.

"Katanya perusahaan keluarganya lagi kena masalah besar."

"Serius? Pantesan kemarin ada berita."

Arcelia menggenggam tali tasnya sedikit lebih erat.

Jangan bereaksi.

Saat ia sampai di kelas, Kaelion sudah duduk di tempatnya.

Ia melirik Arcelia sebentar.

"Kamu dengar?"

Arcelia duduk.

"Dengar apa?"

"Rumor baru."

Nada suaranya tetap datar, tapi tatapannya tajam.

Arcelia menatap meja. "Rumor itu memang kerjaan orang yang tidak punya keberanian bicara langsung."

Kaelion terdiam beberapa detik.

"Kamu kuat."

Arcelia hampir tersenyum tipis.

"Aku cuma tidak mau memberi mereka tontonan."

Bel istirahat berbunyi.

Arcelia berjalan ke kantin bersama dua teman sekelasnya. Namun langkahnya terhenti ketika seseorang berdiri tepat di jalurnya.

Seorang gadis dengan rambut panjang bergelombang, seragamnya terlihat sedikit dimodifikasi agar lebih fashionable. Senyumnya tipis, nyaris sempurna.

"Arcelia Virellia, kan?"

Nada suaranya lembut… tapi terasa seperti jarum halus.

Arcelia menatapnya tenang. "Iya."

Gadis itu mengulurkan tangan. "Aku Selena Ravert."

Nama itu terasa familiar.

Ravert.

Mata Arcelia sedikit menyipit tanpa sadar. Selena tersenyum lebih lebar.

"Kakakku sering menyebut namamu."

Jantung Arcelia berdetak sedikit lebih cepat.

Kaelion?

"Oh ya?" Arcelia menjawab ringan.

Selena mengangguk kecil.

"Kalian satu kelompok proyek, kan? Dia jarang kerja sama dengan orang lain."

Kata-katanya terdengar seperti pujian.

Tapi ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat Arcelia merasa sedang dinilai.

Diukur.

"Semoga proyeknya lancar," lanjut Selena manis. "Jangan sampai masalah keluarga mengganggu akademikmu."

Kalimat itu terasa terlalu tepat. Terlalu sengaja.

Arcelia tersenyum tipis.

"Terima kasih atas perhatiannya."

Nada suaranya tetap sopan. Stabil.

Selena menatapnya beberapa detik, seolah menunggu reaksi lain. Namun ketika tidak mendapatkannya, ia hanya tersenyum lagi.

"Sampai jumpa, Arcelia."

Ia berjalan pergi dengan langkah anggun. Setelah Selena menjauh, teman Arcelia langsung berbisik.

"Itu Selena Ravert. Keluarganya salah satu investor besar di kota."

Arcelia terdiam.

Investor besar.

Nama belakang Ravert.

Adeknya Kaelion.

Dan sekarang… Keluarganya sedang diserang lewat saham. Perut Arcelia terasa sedikit mual. Jangan langsung menuduh. Tapi instingnya berkata… pertemuan itu bukan kebetulan.

Sore harinya,

Saat kelompok proyek mereka berkumpul di perpustakaan, Arcelia memperhatikan Kaelion lebih saksama. Ia sedang membaca dokumen dengan ekspresi fokus, seperti biasa.

"Kaelion," panggil Arcelia pelan.

Ia mengangkat kepala.

"Kamu punya saudara perempuan?"

Kaelion terdiam sepersekian detik.

"Iya."

"Selena Ravert?"

Ekspresinya berubah sangat halus. Hampir tidak terlihat… tapi Arcelia menangkapnya.

"Kalian sudah bertemu."

"Bertemu tadi siang."

Kaelion menutup bukunya perlahan.

"Apa yang dia katakan?"

"Dia cuma bilang semoga masalah keluargaku tidak mengganggu sekolah."

Keheningan muncul di antara mereka. Beberapa detik yang terasa lebih panjang dari seharusnya.

Kaelion akhirnya berbicara. "Selena tidak pernah mengatakan sesuatu tanpa tujuan."

Kalimat itu membuat bulu kuduk Arcelia meremang halus.

"Maksudmu?"

Kaelion menatapnya lurus. "Hati-hati dengannya."

Sepulang sekolah, Arcelia duduk di kursi mobil dengan pikiran penuh.

Selena Ravert.

Investor besar.

Rumor saham.

Senyum yang terlalu sempurna. Suara hatinya berbisik pelan. Kalau ini bukan kebetulan… berarti permainan ini lebih dekat dari yang kamu kira. Arcelia menatap jendela, melihat bayangan dirinya sendiri di kaca. Tatapannya tidak lagi sekadar gelisah. Ada kewaspadaan di sana.

Dan untuk pertama kalinya… Nama Ravert tidak lagi terdengar netral di telinganya.

Tanpa ia sadari, langkahnya sudah mulai masuk ke lingkaran yang sama dengan keluarga Ravert.

Angin sore berembus pelan melewati balkon kediaman keluarga Virellia.

Arcelia Virellia berdiri diam, gaun biru mudanya bergerak tertiup angin. Tatapannya kosong mengarah ke taman belakang, namun pikirannya jauh lebih kacau dari yang terlihat.

Pertemuan tadi siang dengan Kaelion Ravert masih terngiang jelas di kepalanya. Tatapan pria itu… bukan tatapan seorang sekutu. Itu tatapan seseorang yang menyimpan sesuatu.

“Kaelion Ravert…” gumamnya pelan.

Di sisi lain,

Istana keluarga Ravert, Kaelion berdiri di ruang kerjanya. Cahaya senja menyinari wajahnya yang tenang namun tegas. Di hadapannya, Selena Ravert duduk dengan senyum tipis yang terlalu manis untuk dipercaya.

“Kau terlihat tertarik padanya,” ujar Selena ringan.

Kaelion tak langsung menjawab.

“Aku hanya menjalankan apa yang seharusnya.”

Selena tersenyum tipis. “Apa yang seharusnya… atau apa yang kau inginkan?” tanya Selena

Keheningan menggantung.

Selena berdiri, berjalan perlahan mendekat.

“Ingat, Kak Kael. Pernikahan ini bukan hanya soal perasaan. Ini tentang kekuasaan.”

Kaelion menatapnya tajam.

“Aku tidak pernah lupa.” Namun dalam hatinya, ada sesuatu yang mulai goyah.

Di rumah keluarga Virellia,

Makan malam berlangsung lebih sunyi dari biasanya. Papa Alveron duduk di ujung meja, ekspresinya serius. Mama Mirella tampak gelisah. Bang Kaiven sesekali menatap Arcelia dengan tatapan penuh perlindungan, sementara Elvarin Adek bungsunya, mencoba mencairkan suasana namun gagal.

“Arcelia,” suara Papa Alveron akhirnya memecah keheningan. “Kau tahu apa arti hubungan ini bagi keluarga kita.” Tanya Papa Alveron

“Aku tahu, Papa,” jawab Arcelia pelan. “Tapi aku tidak akan membiarkanmu masuk ke dalam keluarga Ravert tanpa persiapan.” lanjutnya

Bang Kaiven langsung menyahut, “Kalau mereka berani menyentuh Arcelia, aku yang pertama akan berdiri di depannya.”

Arcelia tersenyum kecil. Ia bersyukur memiliki keluarga seperti ini. Namun jauh di dalam hatinya, ia merasakan sesuatu yang aneh. Seperti ada seseorang yang mengawasinya.

Malam itu,

Saat Arcelia hendak menutup tirai kamarnya, ia melihat bayangan samar di taman belakang. Seseorang berdiri di antara pepohonan. Jantungnya berdegup kencang.

“Siapa itu…?”

Bayangan itu menghilang secepat kilat. Arcelia mundur selangkah. Instingnya mengatakan ini bukan kebetulan. Dan tanpa ia sadari… Permainan sebenarnya baru saja dimulai.

1
Anaya Barnes
siap kaka
makasih udah mampir🙏
mfi Pebrian
aku dah mampir yah.....cerita nya bagus.....tetap semangat.
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya"Dialah sang pewaris"di tunggu yah....
Raine
jujur ceritanya bagus, tapi sedikit bosan untuk saya, narasi author di setiap bab selalu mengulang kalimat dengan arti yg sama, kayak udah baca tadi trus di baca ulang lagi dan lagi
mfi Pebrian: mampir kak di novel saya"Dialah sang pewaris"
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!