NovelToon NovelToon
Datanglah Padaku

Datanglah Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pihak Ketiga / Selingkuh / Cinta Terlarang
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: vennyrosmalia

Revania Agatha, Ibu muda berusia 32 tahun yang sudah memiliki seorang putra. Terjebak dalam dilema antara bertahan atau pergi disaat rumah tangganya tak lagi membuatnya merasa diinginkan oleh suaminya sendiri.

Nathan Alexander, pria dewasa dan mapan yang masih betah melajang dan disibukkan dengan karir yang dibangunnya. Namun tanpa di duga dirinya justru tertarik pada wanita yang sudah bersuami.

Gimana ya kisahnya, yuk ikutin ceritanya. ☺

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vennyrosmalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 20

Hari sudah cukup sore, Resa bahkan terus menguap lebar karena kantuk yang menyerangnya. Nathan akhrinya memilih untuk mengajak pulang dan hal itu disetujui oleh Vania.

Di mobil suasana cukup hening karena Resa sudah tertidur dengan lelap. Vania juga tidak tahu harus membuka pembicaraan seperti apa dengan Nathan.

"Terima kasih untuk hari ini." kalimat pembuka terucap dari Nathan.

Vania menoleh dan melihat Nathan tersenyum padanya. Vania mengangguk dan membalas senyum pria itu.

"Seharusnya Aku yang berterima kasih. Kamu sudah mengajak Kami bermain, bahkan Kamu tidak membiarkan Aku membayar semuanya." jelas Vania terkekeh.

"Aku senang melakukannya, terutama dengan Kamu juga Resa." ungkap Nathan.

Vania cukup terkejut mendengarnya. Vania merasa perkataan Nathan cukup ambigu.

"Kenapa seperti itu?" tanya Vania yang tidak bisa menutupi rasa ingin tahunya.

Nathan tampak berfikir sebelum menjawab dengan ucapan yang semakin membuat Vania terkejut.

"Karena aku suka dengan Kalian." jawab Nathan santai.

Vania melongo tidak percaya. Sesantai itu Nathan mengatakan suka, meskipun itu tertuju bukan hanya untuk dirinya tapi untuk Resa juga.

Nathan tertawa ringan dengan respon yang dilihatnya di wajah cantik Vania.

"Kenapa terkejut seperti itu Vania?" tanya Nathan.

Vania memalingkan wajahnya sejenak ke jendela untuk mengusir rasa gugup dan malunya. Wajahnya saja sampai terasa hangat.

"Ti tidak, hanya saja."

"Aku jujur mengatakan ini padaMu Vania. Tapi aku juga tahu denga posisi Ku." jelas Nathan.

Vania mengangguk saja. Dia juga tidak mau sampai terbawa perasaan hanya dengan pertemuan Mereka hari ini. Dia harus pandai membentengi diri karena bagaimanapun statusnya masih seorang istri.

.

.

"Rumahmu sangat sepi." ucap Nathan setelah Mereka sampai di depan rumah Vania.

Vania mengangguk, mobil Satria juga tidak ada di halaman. Kemungkinan Suaminya itu pulang lagi ke rumah Istri keduanya.

"Dirumah hanya ada Kami berdua?" jawab Vania.

"Suami Kamu?" tanya Nathan sok penasaran. Padahal Dia sendiri sudah tahu jawabannya.

Vania hanya menjawab dengan senyuman singkat. Kemudian Vania turun dan mencoba untuk menggendong Resa.

"Biar Aku saja Vania." ucap Nathan menawarkan diri.

Vania berfikir sejenak sebelum menganggukan kepalanya. Toh Satria tidak ada di rumah, dan ini juga Negara bebas yang orang-orangnya tidak terlalu peduli dengan urusan orang lain.

Nathan menggendong Resa yang tampak nyaman bersandar di bahu lebarnya. Vania sendiri menenteng beberapa mainan yang dibelikan Nathan tadi.

"Masuklah." ajak Vania pada Nathan.

Vania menyimpan barangnya di ruang tamu dan menuntun Nathan ke arah kamar Resa yanh ada di lantai 2.

Nathan dengan perlahan menidurkan Resa di kasurnya. Memakaikan selimut agar Resa tidak kedinginan. Tak lupa Nathan juga mengecup kening Resa.

Vania yang melihat itu cukup terharu. Nathan yang bukan siapa-siapa Resa saja bahkan Mereka baru bertemu beberapa hari lalu, tapi Nathan terlihat sayang pada Resa.

"Nathan, maaf ini sudah hampir malam."

"Ya Vania, Aku mengerti. Aku akan langsung pulang."

Nathan mengerti raut wajah Vania yang tidak enak. Vania mengantar Nathan sampai ke depan. Sebelum masuk ke dalam mobil Nathan berbalik dan melambaikan tangan pada Vania.

Vania terkekeh dengan tingkah Nathan yang seperti anak kecil. Dia tak ragu membalas lambaian tangan Nathan dan berkata.

"Hati-hati."

.

.

Satria dan Irene sedang makan malam dirumah. Sudah dua hari ini Irene sulit untuk menelan makanan karena selalu mual.

"Mas, bagaimana keputusan Kamu dengan permintaan Mba Vania?" tanya Irene.

Satria mengambil air di gelas untuk membantunya menelan makanan yang terasa menyangkut di tenggorokan.

"Aku belum tahu Irene, Kamu tahu Resikonya jika Aku bercerai dengan Vania." jawab Satria.

Dia juga bingung harus mengambil keputusan seperti apa. Satria tidak ingin Resa merasa tersakiti dengan perceraian kedua orang tuanya. Tapi untuk mempertahankan rumah tangga pasti Vania tidak mau menerimanya.

"Boleh Aku bertemu dengan Mba Vania Mas?"

Satria menatap mata sendu Irene. Satria tahu keadaan ini juga tidak baik untuk Irene yang sedang mengandung.

"Apa Kamu yakin Irene?"

Irene mengangguk antusias, setidaknya Irene pernah bertemu dengan Vania dan Irene bisa menangkap jika Vania memiliki sifat yang baik.

.

.

Keesokan harinya.

Satria pulang ke rumahnya dengan Vania. Dia ingin mengutarakan keinginan Irene yang ingin menemui Vania dan berbicara.

Suara mobil yang terparkir di halaman bisa Vania dengar dari balkon kamarnya. Vania yang sedang merenung segera bangkit untuk mengunci pintu kamarnya.

Dug dug dug

Baru saja Vania menguncinya, pintu terketuk dengan kencang dari luar. Suara Satria juga terdengar memanggil namanya.

"Vania, buka dulu pintunya."

"Ayo Kita bicara Vania."

Vania meremas dana menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak. Vania masih belum bisa menerima pengkhianatan Satria yang menikah lagi dengan perempuan lain di belakangnya.

"Ayah." panggil Resa yang keluar dari kamarnya.

"Sayang."

Satria segera menghampiri Resa. Dia membawa Resa kembali ke kamarnya.

"Bunda kenapa Ayah?" tanya Resa.

Satria mengelus rambut Resa. Dia memberikan senyun untuk menenangkan kerisauan yang terlihat di wajah mungilnya.

Satria benar-benar tidak mau membuat putranya bersedih. Tapi Nasi sudah menjadi bubur, semua ini pun terjadi karena ulahnya.

"Bunda sedang marah pada Ayah." jawab Satria.

"Marah kenapa? Apa Ayah bikin Bunda sedih lagi?"

Resa tentu sering melihat Bunda nya menangis sendiri. Meskipun Resa masih kecil, tapi Resa sudah bisa merasakan jika Bundanya menyimpan kesedihan dibalik senyum yanh selalu terlukis di wajahnya.

Hati Satria mencelos saat putranya sendiri tahu jika dirinya lah penyebab kesedihan Vania.

"Maafkan Ayah Resa, Ayah belum bisa jadi yang terbaik untuk Bunda juga Resa." sesal Satria yang tidak bisa lagi membela diri di depan Resa.

"Ayah harus minta maaf sama Bunda. Resa akan baik-baik saja kalau Bunda tidak bersedih."

Jawaban Resa sudah sangat menjelaskan bagaimana berartinya Vania untuk Resa. Satria sangat paham hal itu sebab Dia juga sadar jika selama ini sangat kurang perhatian pada Resa.

"Ya Sayang, Ayah akan meminta maaf pada Bunda sampai Bunda mau memaafkan Ayah."

Resa mengangguk dan memberikan pelukan untuk Satria. Lagi dan lagi Satria merasa bersalah pada Resa. Putranya tetap mau memeluknya meski dirinya sering mengecewakan Resa.

.

.

Teman-teman pembaca setia, terima kasih untuk perhatian kalian yang selalu membaca karya author.

Tapi boleh author minta untuk teman-teman meninggalkan jejak setelah membaca.

Dukungan kalian sangat berarti untuk semangat author dalam menulis setiap Bab nya.

Terima kasih sebelumnya. Jangan lupa Like ya teman-teman 😊

1
Indah Tuk Di Kenang
sakitya thorrr liat satria bahagia 😭😭semangat up therusss thorrr👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!