Menceritakan tentang 2 gadis bersaudara dimana dia adalah seorang anak yang di hidupi oleh pengusaha yang sangat kaya raya dan setiap pesaing kalah bisnis dari orang tua nya selalu saja mereka ingin selalu menjatuh kan orang tua Cahya dan Megy....
" Cahya kamu janji ya, akan membalaskan kedua orang tua kita" kata Megy sembari mengelap air mata adik nya yang menetes di pipi.
"Oke, gue janji kak, lu juga janji ya, kak? Ucap Cahya sembari berhenti menangis.
Cahya sekarang usiamu muda, kamu bisa ikut ke medan perang! Di sana kamu bisa mempelajari ahli beladiri apa saja? Kata Megy dengan serius.
Baiklah kak, gue akan pergi dulu! Titip ayah ya? Ucap Cahya.
Apakah orang tua nya akan jatuh atas segala yang dilakukan penjahat..?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebit S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Cahya Jadi Pemimpin
Seorang Pria yang berbadan besar dan tinggi lalu Ia memiliki tato naga dilehernya. Kemudian segera menghampiri Cahya.
"Ya, saya Miss?" Kata Pria yang bernama Husen sembari mendekati Cahya.
Cahya kemudian mengangguk lalu menatap tajam kearah pria itu lalu Ia segera berkata."Lu udah berapa tahun di dunia Jalanan, hah?"
Husen yang mendengar pertanyaan Cahya lalu menatap Cahya dengan takut-takut kemudian Ia langsung, menjawab."li..lima belas tahun, Miss?"
Cahya dengan dingin tanpa memandangnya lalu, berkata."Kalau lu, gue suruh lu pimpin mereka dan ketika gue panggil untuk suatu masalah di masa depan, apa lu mau?"
Husen yang mendengarkan permintaan Cahya memanggilnya pun menjadi tercengang dan tidak percaya. Dia tidak tahu kalau Cahya menatap dia itu sebenarnya sudah mengetahui keahlian pria bernama Husen dan Husen adalah orang yang cerdas bisa melakukan apa saja tetapi karena kurang dapat kepercayaan saja.
Dengan sangat hormat dan tunduk mengetahui ini adalah kesempatannya untuk menunjukkan apa yang Ia bisa. Husen dengan sumringah senang langsung tunduk dengan sangat Hormat dan langsung membungkuk di depan Cahya.
"Miss, saya siap melakukan apa saja dan tunduk atas perintah Miss, Cahya?" Kata Husen menggema disana.
Cahya kemudian mengangguk atas Ucapan Husen lalu. Ia segera menatap ke arah yang lainnya dan berdiri menatap dengan mata tajam ke teman-temannya.
"Woy, kenapa kalian tidak beri hormat kepada Miss Cahya? Cepat beri hormat sekarang? Kata Husen dengan membentak yang masih berdiri.
Kemudian 199 orang itu langsung mendengar ucapan dari Husen segera mengerti maksud Husen lalu mereka segera membungkuk Hormat.
Lalu seluruh orang yang 199 orang membungkuk dan memberi hormat kemudian semuanya dengan serempak, berkata."Miss kami semua siap melakukan apa saja. Dan akan mematuhi semua perintah dari Miss Cahya? Kami semua bersumpah?"
Suara semua orang menggema diatas atap gedung itu dengan teriakan para berandalan yang tersisa.
Kemudian Cahya segera menganggukkan kepalanya. Dan Ia memberikan kode kepada mereka semua diam.
"Husen, lu kemari." Panggil Cahya.
"Baik, Miss? Bawahan siap menerima perintah?" Ucap Husen dengan hormat.
"Ini ada Pil untuk membuat beladiri lu, meningkat? Gunakan dan manfaatkan sebaik-baiknya?" Kata Cahya dengan dingin menyerahkan Sebuah Pil.
"A..aaapa, jadi Miss tahu? Kalau saya sedang menghadapi hambatan?" Gumam Husen didalam hati.
Sementara Cahya melihat wajah Husen dengan bingung belum menerima Pil yang Ia berikan hingga Cahya segera ingin memasukkan lagi ke kantong.
"Oh jadi lu nggak mau? Ya sudah saya berikan ke yang lain saja, nanti?" Kata Cahya sembari ingin memasukkan Pil.
Husen yang masih tercengang lalu segera tersadar dari kebingungannya dan langsung segera berkata."Mau Miss, mau?"
Husen segera mengambil Pil yang disodorkan kemudian segera memasukkan didalam sakunya lalu membungkuk.
"Miss, terima kasih? Bawahan akan melakukan apa saja? Dengan sepenuh hati selama masih dalam kemampuan saya?" Kata Husen sembari mengelap air matanya yang terharu hingga membuatnya tersentuh.
"Dan ada satu hal lagi yang harus kalian lakukan? Tingkatkan kekuatan kalian kemungkinan dalam waktu dekat ini nanti kita akan menghadapi orang yang kuat dalang dari semua ini?" Kata Cahya mengingatkan.
" Baik Miss, saya akan memerintahkan semua nya? Untuk segera melakukan latihan? Saya akan pastikan itu?" Ucap Husen dengan penuh keyakinan.
Kemudian Cahya segera merogo sakunya dan langsung memberikan kunci untuk sebuah tempat tinggal.
"Husen, ini adalah kunci tempat tinggal Alamatnya nanti akan saya kirim ke lu, tapi ingat segera lakukan pelatihan sewaktu-waktu saya akan segera menghampiri tempat ini, dan ingin melihat perkembangan kalian?" Kata Cahya.
"Baik, Miss?" Jawab 200 orang dengan serempak.
Kemudian Cahya segera mendekati Megy dan pak Eko Wijaya lalu segera mendekati pak Eko Wijaya.
"Yah, kita pulang yuk?" Kata Cahya dengan manis sembari menyunggingkan senyuman.
Lalu Ayahnya Pak Eko Wijaya segera mengangguk kemudian langsung berjalan kearah pintu untuk menuruni atap gedung tua itu.
Reno yang sedang dalam keadaan tercengang bersama teman-temannya kemudian segera menghampiri Cahya dan langsung mengejar.
"Eeh Cahya, kok lu maen ninggalin kita Aja sih? Lu nggak liat apa cowok paling ganteng go internasional ini sedang kelelahan?" Kata Reno sembari berlari.
"Ren.." kata Kevin segera menegur Reno karena dia suka banyak bicara yang tidak penting.
Lalu Reno saat mendengar ucapan dari Kevin segera membungkam mulutnya untuk tidak banyak bicara lagi, kemudian mereka bertiga juga segera mengikuti Cahya pergi dari gedung tua itu.
****
Ke esokan nya di pagi hari Saat Cahya, Megy dan Pak Eko Wijaya sedang berada di dapur untuk sarapan mereka sedang asyik menyantap sarapan.
"Ayah, ini Coba lihat deh?" Kata Megy sembari menatap layar ponsel.
"Ada apa sih, emangnya? Kok kayak cemas gitu?" Kata Pak Eko Wijaya.
"Lihat aja, sendiri?" Kata Megy memberikan Hp nya kepada Eko Wijaya.
Lalu Eko Wijaya segera mengambil Hp yang di sodorkan oleh Megy dan menatap layar ponsel. Begitu Eko Wijaya membaca segera berdiri kemudian segera beranjak pergi dari dapur.
"Apa, gimana bisa terjadi? Apa ada yang mencoba menjatuhkan perusahaan ini?" Ucap Eko Wijaya.
Lalu Eko Wijaya segera menenggak Air minum nya dan segera pergi dari sana keruangan kerjanya.
Cahya yang sedang duduk di dapur segera mengerutkan alisnya lalu Ia segera menatap Megy.
"Egy, ada apa sih? Kok ayah kayak panik gitu? Apa ada masalah?" Ucap Cahya menatap ke arah Megy.
"Oh nggak, nggak ada apa-apa?" Kata Megy tidak ingin memberitahukan Cahya.
"Nggak mungkin, nggak ada apa-apa? Mana Hp nya sini, gue lihat?" Kata Cahya segera mengambil Hp Megy.
"Apa, ini bukannya perusahaan kita? Siapa yang ngelakuin ini?" Kata Cahya dengan geram.
Cahya yang melihat berita di internet kalau perusahaan Wijaya Grup Enterprise terbakar dan menyebabkan kerugian yang sangat besar sementara disana para investor yang melakukan kerjasama dengan perusahaan di Wijaya Grup Enterprise akan menuntut mereka kalau saham nya tidak bisa kembali.
Sementara, Eko Wijaya yang sedang berada di dalam ruang kerjanya segera menyalakan komputer lalu segera mengeluarkan Hpnya.
"Tuuuuut... Tuuuuuut.. Tuuuut..."
Suara Telepon yang tersambung belum diangkat sama yang punya telepon kemudian Pak Eko Wijaya yang sedang menelepon pun menunggu dengan khawatir.
"Loh, kenapa tidak di jawab ya?" Gumam Pak Eko Wijaya di dalam hati.
Kemudian Pak Eko Wijaya segera memencet Lagi nomor Hpnya lalu menelepon kembali nomor tersebut.
"Tuuuuuut... Tuuuuuuut.... Tuuuuut....."
Suara telepon terhubung kembali terdengar namun belum diangkat sama sekali. Hingga saat telepon sekian lama menunggu diangkat tidak di jawab sama sekali oleh yang punya telepon.
"Kenapa tidak diangkat ya? Biasanya, tiap kali saya hubungi selalu diangkat? Kali ini kenapa tidak diangkat?" Kata Pak Eko Wijaya berpikir.
ini seperti isi teks yang langsung up tapi mungkin lupa di edit lagi tanpa di kroscek
padahal isi ceritanya cukup oke