Sinopsis:
Liang Chen adalah pengembara yang memilih hidup sederhana dan menjauh dari dunia persilatan. Ia tidak mengejar kekuatan, nama besar, atau kekuasaan—hanya ingin hidup tanpa meninggalkan jejak. Namun sebuah pertemuan dengan seorang pria sekarat menyeretnya pada sebuah warisan berbahaya: sebuah kitab beladiri yang tidak mengajarkan kemenangan, melainkan cara mengakhiri konflik secepat mungkin.
Sejak itu, hidup Liang Chen berubah. Orang-orang mulai memperhatikannya, mengujinya, dan menyebarkan cerita tentangnya. Ia tidak lagi dinilai sebagai orang biasa, melainkan sebagai gangguan terhadap keseimbangan. Setiap keputusan kecil memicu reaksi berantai, setiap pertarungan melahirkan musuh baru yang tidak selalu datang dengan pedang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTEMUAN DI BAWAH POHON KERING
Fajar belum sepenuhnya pecah ketika Liang Chen meninggalkan gua.
Udara pagi menggigit kulit, menyusup melalui pakaian yang belum benar-benar kering dari keringat dan darah semalam. Langkahnya lebih lambat dari biasanya, tetapi stabil. Balutan yang diperbaiki Mei Lin membuat napasnya lebih lapang. Nyeri masih ada, namun terkontrol.
Ia mengikuti jalur kecil yang jarang dipakai orang. Rumput liar tumbuh tinggi, menutup bekas pijakan. Perbukitan kapur di sekitarnya membentuk bayangan panjang yang bergerak seiring matahari naik.
Titik merah di peta berada di lembah dangkal, di antara dua bukit yang tampak biasa saja dari kejauhan. Namun jika diperhatikan lebih saksama, lembah itu memiliki satu keanehan: hanya ada satu pohon besar di tengahnya. Pohon tua yang batangnya kering dan hampir tak berdaun.
Tempat yang mudah diawasi dari segala arah.
Dan sulit disergap tanpa terlihat.
Liang Chen berhenti di puncak bukit sebelum turun. Ia berjongkok, mengamati lembah dari balik batu besar.
Sepi.
Terlalu sepi.
Angin menyapu tanah kering, mengangkat debu tipis yang berputar di sekitar batang pohon tua. Tidak ada jejak kuda. Tidak ada asap. Tidak ada tanda perkemahan.
Namun keheningan seperti itu jarang berarti kosong.
Liang Chen menunggu.
Satu jam.
Dua jam.
Matahari naik semakin tinggi. Bayangan pohon menggeser arah perlahan.
Akhirnya, ia melihatnya.
Gerakan kecil di lereng sebelah barat.
Seseorang berdiri dari balik batu, seolah baru saja muncul dari tanah. Jubahnya abu-abu gelap, sederhana, tanpa lambang perguruan. Tubuhnya tinggi kurus, wajahnya bersih tanpa janggut, dengan mata yang tampak terlalu tenang untuk wilayah seperti ini.
Tak lama kemudian, dua sosok lain muncul dari sisi berlawanan.
Mereka tidak saling menyapa. Tidak ada isyarat mencolok.
Tetapi posisi mereka membentuk segitiga samar mengelilingi pohon tua.
Liang Chen menghembuskan napas pelan.
Lapisan keempat.
Ia tidak menunggu lebih lama.
Dengan langkah terukur, ia menuruni bukit dan berjalan menuju lembah terbuka.
Debu berderak di bawah sepatu kainnya.
Ketiga orang itu memalingkan wajah hampir bersamaan ketika ia memasuki jarak pandang jelas.
Tidak ada keterkejutan di mata mereka.
Seolah-olah mereka memang menunggu.
“Liang Chen,” kata pria kurus di tengah, suaranya ringan namun jelas. “Kau datang lebih cepat dari perkiraan.”
Liang Chen berhenti sekitar dua puluh langkah dari pohon.
“Kalian memilih tempat yang mudah dilihat,” katanya tenang. “Berarti kalian ingin bertemu, bukan memburu.”
Pria itu tersenyum tipis. “Kami ingin memastikan kau memahami situasi.”
“Silakan jelaskan.”
Dua orang di sisi kiri dan kanan tetap diam, tangan mereka berada di dekat gagang senjata masing-masing—sebuah pedang tipis dan sepasang golok pendek.
Pria di tengah melangkah satu langkah maju.
“Kau telah mengalahkan beberapa penguji kami. Itu fakta yang tak bisa diabaikan. Namun setiap tindakanmu menciptakan riak. Riak itu mengganggu keseimbangan wilayah ini.”
“Keseimbangan?” Liang Chen mengangkat alis tipis. “Dengan mengirim orang untuk membunuhku?”
“Kami tidak mengirim pembunuh. Kami mengirim penilai.”
Jawaban yang disampaikan tanpa emosi.
Liang Chen menatap lurus ke mata pria itu. “Dan penilaian hari ini?”
Pria kurus itu menghela napas pelan. “Hari ini bukan tentang menilai kekuatanmu saja. Kami ingin tahu niatmu.”
“Niat?”
“Kitab yang kau bawa. Asalnya bukan sembarangan. Orang-orang mulai mencari. Jika jatuh ke tangan yang salah, dampaknya luas.”
Liang Chen tidak menunjukkan reaksi, meski dadanya mengencang.
“Dan kalian menganggap tangan kalian yang paling tepat?”
Pria itu tersenyum samar. “Kami menganggap diri kami cukup rasional.”
Angin bertiup lebih kencang, membuat jubah mereka berkibar ringan.
Liang Chen menggeser kakinya setengah langkah, memastikan pijakan kokoh.
“Aku tidak berniat menjual atau memamerkan kitab itu,” katanya. “Aku hanya berjalan.”
“Kau berjalan melewati wilayah yang sensitif.”
“Wilayah yang tak memiliki papan nama.”
Dua pria di samping tampak sedikit bergerak, tetapi pria kurus itu mengangkat tangan, menenangkan.
“Kau cerdas,” katanya pada Liang Chen. “Itulah sebabnya kami menawarkan pilihan.”
“Pilihan apa?”
“Bergabung.”
Kata itu melayang di udara kering.
Liang Chen terdiam sesaat, lalu tertawa kecil.
“Kalian mengejarku berhari-hari hanya untuk merekrutku?”
“Kami menguji. Kini kami menilai hasilnya. Seseorang dengan kemampuanmu lebih berguna di dalam daripada di luar.”
“Dan jika aku menolak?”
Pria kurus itu tidak langsung menjawab. Tatapannya sedikit mengeras.
“Menolak berarti tetap menjadi variabel liar. Variabel liar menciptakan ketidakpastian. Ketidakpastian harus dikendalikan.”
Kalimat itu disampaikan tanpa ancaman keras, tetapi maknanya jelas.
Liang Chen merasakan denyut luka di rusuknya, seolah mengingatkannya bahwa tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Menghadapi tiga orang sekaligus dalam kondisi seperti ini adalah perjudian.
Namun menerima tawaran mereka berarti menyerahkan kendali atas langkahnya sendiri.
“Apa sebenarnya tujuan kalian?” tanyanya pelan.
“Kami menjaga agar perguruan-perguruan besar tidak saling menghancurkan wilayah netral. Kami memotong potensi konflik sebelum membesar.”
“Dengan cara membentuk jaringan bayangan?”
“Dengan cara memastikan informasi dan kekuatan tidak jatuh ke tangan yang gegabah.”
Liang Chen mengingat kata-kata Mei Lin.
Jika struktur seperti itu dibiarkan tumbuh tanpa tandingan, wilayah netral tidak akan lagi netral.
“Kalian berbicara tentang keseimbangan,” katanya. “Namun kalian menentukan sendiri apa yang dianggap seimbang.”
Pria kurus itu tersenyum lagi, kali ini lebih tipis.
“Setiap sistem membutuhkan pusat.”
“Dan kalian memposisikan diri sebagai pusat.”
Sunyi turun beberapa detik.
Kemudian pria di sisi kanan tiba-tiba melangkah maju.
“Cukup berbasa-basi,” katanya, suaranya lebih kasar. “Kita tidak punya waktu seharian. Terima atau—”
Kalimatnya terputus.
Liang Chen sudah bergerak.
Ia melangkah miring, bukan maju, mengubah sudut segitiga yang mereka bentuk. Gerakannya tidak cepat seperti kilat, tetapi presisi. Ia ingin melihat reaksi mereka.
Dua pria itu langsung menyesuaikan posisi, menutup celah.
Terlatih.
Pria kurus itu mengangguk pelan. “Refleksmu bagus. Sayang jika terbuang.”
“Aku belum menjawab,” kata Liang Chen.
“Jawabanmu sudah terlihat dari langkahmu.”
Tiga orang itu kini benar-benar bersiap.
Liang Chen menurunkan pusat gravitasi tubuhnya. Tangannya menggenggam gagang pedang, namun belum mencabutnya.
“Jika aku ingin bergabung,” katanya pelan, “apa yang harus kulakukan?”
Pria kurus itu mengangkat alis tipis. “Uji terakhir.”
“Melawan siapa?”
“Melawan kami bertiga. Bertahan sepuluh puluh jurus.”
Liang Chen menyipitkan mata.
“Dan jika gagal?”
“Kau tidak akan sempat menyesal.”
Angin kembali berputar di sekitar pohon kering.
Liang Chen menarik pedangnya perlahan. Bilahnya memantulkan cahaya matahari siang.
Ia menghitung jarak. Mengukur napas. Menilai luka di rusuknya.
Sepuluh puluh jurus dalam kondisi seperti ini hampir mustahil.
Namun mustahil bukan berarti tak bisa diupayakan.
“Baik,” katanya akhirnya. “Sepuluh puluh jurus.”
Pria kurus itu tersenyum tipis, lalu memberi isyarat kecil.
Dua rekannya bergerak bersamaan.
Serangan pertama datang dari kiri—tebasan horizontal cepat, mengincar pinggang. Liang Chen melangkah mundur setengah tapak, menangkis dengan sisi pedang, membiarkan benturan mengalir ke tanah melalui lututnya yang menekuk.
Belum sempat napasnya stabil, golok dari kanan menyambar ke arah bahu.
Ia memutar tubuh, membiarkan bilah itu melewati ujung kainnya, lalu menusuk cepat ke arah pergelangan lawan. Lawannya menarik tangan tepat waktu, mundur satu langkah.
Pria kurus di tengah belum bergerak.
Ia hanya mengamati.
Jurus ke delapan.
Jurus ke lima belas.
Liang Chen merasakan balutan di rusuk mulai mengencang oleh gerakan berulang. Rasa perih muncul kembali, tetapi ia menekannya.
Dua penyerang itu tidak terburu-buru. Mereka menjaga ritme, memaksa Liang Chen bergerak terus tanpa memberi celah bernapas.
Jurus ke dua puluh tiga.
Sebuah tendangan rendah hampir menyapu kakinya. Ia meloncat tipis, namun saat mendarat, golok kanan menyayat lengan bajunya.
Darah tipis merembes.
Pria kurus itu akhirnya bergerak.
Langkahnya ringan, hampir tak terdengar.
Serangannya lurus dan bersih, menusuk ke arah dada Liang Chen dengan pedang ramping yang entah sejak kapan sudah berada di tangannya.
Liang Chen memutar bilahnya, menangkis tepat waktu, tetapi getaran dari benturan itu menjalar hingga ke bahu.
Kekuatan pria ini berbeda.
Lebih terkontrol.
Lebih dalam.
Jurus ke tiga puluh satu.
Liang Chen menyadari sesuatu.
Mereka tidak berniat menghabisinya cepat. Mereka benar-benar menghitung.
Mengujinya.
Ia mengubah strategi.
Alih-alih terus bertahan, ia mulai memilih satu titik—pria dengan golok di kanan—sebagai sasaran tekanan. Setiap tangkisan ia arahkan untuk mendorong lawan itu sedikit menjauh dari formasi.
Perlahan, segitiga mereka mulai renggang.
Pria kurus menyadarinya, tetapi tidak menghentikan.
Mungkin bagian dari ujian.
Jurus ke empat puluh sembilan.
Napas Liang Chen semakin berat. Pandangannya mulai menyempit oleh fokus dan rasa nyeri yang terus menggerogoti rusuknya.
Namun dalam tekanan itu, pikirannya justru menjadi lebih tajam.
Ia tidak lagi sekadar bertahan.
Ia membaca pola.
Dan di balik pola itu, ia mulai melihat celah.
Pertarungan ini belum mencapai setengah dari yang diminta.
Namun Liang Chen tahu satu hal dengan pasti.
Jika ia mampu memecahkan ritme mereka sebelum jurus ke seratus, hasil hari ini akan jauh berbeda dari yang mereka perkirakan.