Menjadi seorang dukun bukanlah sebuah pilihan atau cita-cita, tapi sebuah panggilan jiwa...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecelakaan maut
"Kamu mau cari apa di sini, jika kamu mau cari kekayaan, kemewahan dunia, maka kamu harus ikut saya??" ujar Nyi Blorong
Wanita itu kemudian menunjukkan uang, emas, intan berlian dan beberapa barang mewah lain di depan saja.
"Pilih saja mana yang kamu mau, aku akan memberikannya, jika kau mau jadi pemuja ku," imbuhnya
Joko masih diam.
"Maaf Nyai, tapi saya tidak tertarik dengan semua itu, tujuan saya ke sini bukan untuk mencari kekayaan," jawab Joko
Nyi Blorong seketika murka mendengar penolakan darinya. Ia yang semula berwujud wanita cantik tiba-tiba berubah menjadi seekor ular raksasa dengan wajah wanita menyeramkan.
Joko membeku, wajahnya pucat pasi. Apalagi saat siluman itu mengancam untuk menghabisinya.
Namun tiba-tiba Joko teringat ucapan Kyai Rahman agar ia selalu membaca ayat kursi saat ia merasa terancam dengan keberadaan makhluk gaib. Hanya itu yang bisa ia lakukan saat itu. Ia tak mau lagi mengandalkan Dewi Poncowati untuk melindunginya, ataupun menggunakan kekuatan spiritualnya.
"Hanya Allah tempat mu berlindung dan meminta pertolongan,"
Kata-kata Kyai Rahman terus berdengung di telinganya.
Saat itu ia mulai membaca ayat kursi meskipun dengan suara terbata-bata. Meskipun bacaannya tidak fasih namun mampu mengusir Nyi Blorong.
Makhluk itu pun pergi, tepat saat adzan subuh berkumandang.
Di hari ke empat, joko merasa tubuhnya sangat lemah hingga ia memilih untuk melakukan tirakat dengan bersandar di dinding gua. Saat malam menjelang seorang pria dengan pakaian khas seperti seorang punggawa kerajaan datang menemuinya.
Sama seperti Nyi Blorong, pria itupun menawarkan sesuatu kepadanya.
Kali ini yang ia tawarkan adalah, jabatan, kekuasaan dan kedudukan.
"Jika kau ingin menjadi orang yang berpengaruh, bisa mempengaruhi orang lain, kau ingin kekuasaan, jabatan, atau kedudukan, maka ikutlah denganku dan aku akan memberikan semuanya jika kau menjadi pemuja ku,"
Lagi-lagi Joko menolak tawaran pria itu. Namun kali ini ia tidak marah mendengar penolakan Joko. Makhluk itu segera menghilang saat Joko menolaknya.
Di hari ke enam, Joko di datangi oleh lima dayang kerajaan cantik. Kecantikan mereka bak bidadari. Tubuhnya putih bersih, tubuhnya langsing, wajahnya sangat cantik dengan senyuman yang menawan. Ini adalah godaan paling sulit untuk pria lajang sepertinya.
Para wanita itu datang menghampirinya.
Kali ini para wanita itu menawarkan kesenangan dan kenikmatan dunia.
"Kalau kau menginginkan kenikmatan dan kesenangan dunia, maka ikutlah dengan kami,"
Joko kembali menolak tawaran mereka. Mendengar penolakan Joko para wanita itu langsung membuka pakaiannya hingga tak ada sehelai benangpun yang menutupi tubuh mereka.
Mereka lalu menghampiri Joko. Ada yang duduk di pangkuannya, ada yang bergelayut manja di pundaknya bahkan ada yang menciumi kakinya.
Saat itu Joko merasakan bir*hinya seketika naik. Tentu saja sebagai lelaki normal ia menginginkan sesuatu yang lebih dengan para wanita itu. Saat ia tak bisa mengendalikan hasratnya ia kembali teringat dengan pesan Kyai Rahman.
Ia pun membaca ayat kursi hingga membuat para dayang itu satu persatu menghilang dari pandangannya.
"Alhamdulillah," ucap Joko
Di hari ke tujuh Joko benar-benar merasa lemah, ia bahkan sholat sambil tiduran. Ia sudah tak bisa duduk, semuanya ia lakukan dengan berbaring, bahkan berwudhu saja ia harus tayamum.
Malam harinya saat ia merasa antara hidup dan mati, tiba-tiba Joko mendengar suara seseorang membaca ayat kursi dengan begitu merdu.
Netra Joko seketika terbuka, rasa lelah seketika sirna. Ia pun segera duduk dan mencari tahu siapa yang sedang membaca Al-Qur'an itu.
Seorang pria duduk tak jauh darinya sedang membaca Al-Qur'an. Merasa di perhatikan, oleh Joko, ia pun menyudahi bacaannya. Lelaki itu menyapanya dengan senyuman khas. Lelaki itu tidak asing baginya. Ia sangat mengenalnya. Bahkan untuk memastikan ia tidak salah lihat, beberapa kali Joko mengusap matanya.
Bahkan baju yang ia pakai sama persis dengan yang Joko pakai. Joko tersenyum sinis tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Ia berpikir dirinya sedang halusinasi karena dalam kondisi sangat lemah.
"Apa aku gagal melakukan tirakat, sehingga penguasa gua ini mengirim orang yang mirip dengan ku,"
"Kamu kaget ya melihat saya?" ucap pria itu membuat Joko terhenyak
"Kamu tidak salah lihat, aku adalah dirimu, Dirimu yang sesungguhnya, sejatineng awakmu iku aku," ucap pria itu
"Orang yang kamu cari selama ini adalah aku, dirimu sendiri. Karena hanya engkau sendiri yang tahu siapa dirimu dan apa yang kamu butuhkan dalam perjalanan spiritual ini,"
"Surat Al Ikhlas adalah kunci jika kamu ingin merasakan kehidupan yang tenang dan damai. Apa yang membuat mu risau selama ini adalah kamu tidak mengenal Tuhan, untuk itulah jika kamu ingin hidupmu tenang maka pelajarilah tentang Tuhanmu, belajar lah ilmu Tauhid mulai sekarang," ucap pria itu
"Kalau kau bertanya dimana aku bisa belajar tentang Tauhid, maka jawabannya ada dalam surat Al ikhlas," imbuhnya
Pria itu kemudian melepaskan sebuah gelang yang mirip dengan tasbih dan menyerahkannya kepada Joko.
"Pakailah tasbih ini untuk mengingat Allah,"
Joko menerima tasbih pemberian pria itu dan memakainya di lengan kanannya. Tepat saat adzan subuh berkumandang pria itupun pamit pergi.
Setelah pria itu menghilang tiba-tiba Joko merasa tubuhnya seketika membaik. Ia bisa bangun dan berdiri lagi. Ia merasa seperti terlahir kembali sebagai Joko yang baru. Tubuhnya segar dan ia juga tak merasa lapar lagi. Selesai sholat subuh Joko pun mengemasi barang-barangnya dan bersiap pulang.
Hari itu Pranyoto sudah menunggunya di mulut goa.
Pria itu kemudian mengajaknya beristirahat di sebuah saung di pinggir pantai.
Joko kemudian menceritakan apa yang di dapatnya dari tirakat itu kepada sang ayah.
"Yang penting kamu bisa kembali dengan selamat bapak sudah senang le, apapun itu Bapak akan selalu mendukungmu,"
Mereka pergi meninggalkan tempat itu ketika matahari mulai terbit. Perjalanan pulang ke rumah menjadi begitu menyenangkan bagi Joko. Tentu saja karena ia sudah menemukan apa yang di carinya.
"Sekarang aku hanya perlu menceraikan istriku, ya hanya aku yang bisa melakukannya sendiri," gumamnya dalam hati
Baru saja ia berpikir untuk menceraikan Dewi Poncowati tiba-tiba dari arah berlawanan sebuah truk tronton menabrak motor yang ia tumpangi hingga ia terpental ke jalan raya.
Tubuh Joko melesat menghantam trotoar jalan, namun anehnya Pranyoto selamat. Pria itu tidak mengalami luka serius. Begitupun dengan sepeda motor yang ia gunakan. Hanya lecet biasa, padahal dari rekaman cctv truk tronton itu menghantam motor itu dengan kecepatan tinggi.
Berbeda dengan sang Ayah, Joko mengalami retak tulang belakang, hingga kakinya dan tangannya patah
tp gmn ya dgn istri gaibnya apakh makin marah atau gmn
keadaan Joko tiba-tiba langsung normal lagi sehingga tak perlu melakukan operasi 😱😱😱
kenapa perawat langsung berteriak histeris setelah mengecek kembali keadaan Joko ???
kaki dan tangan Joko yang semula tak bisa di gerakkan setelah di sentuh oleh Riski kini udah bisa digerakkan kembali
karena saat inipun Joko juga sedang pake ilmu Islami untuk melawan Dewi Poncowati