NovelToon NovelToon
JENIUS RENDAHAN

JENIUS RENDAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Slice of Life
Popularitas:764
Nilai: 5
Nama Author: Yusuf Fikri

Melihat begitu banyak orang hebat di sekitarku membuatku merasa rendah di mata mereka. Bagi dunia ini, nilai akademis adalah segalanya. Namun bagiku, kreativitas merupakan hal terpenting sebagai pengubah karya imajinasi menjadi kenyataan. Apakah diriku, seorang siswa yang dianggap memiliki "kemampuan rendah", dapat membuktikan bahwa cara pandang mereka salah? Ini adalah kisah tentang membuktikan diri di tengah gempuran para jenius akademik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 : Kejutan Tangan Halus dan Godaan Senior

Pukul 09.00 pagi.

Pelajaran Bahasa Indonesia baru saja berakhir. Pak Guru keluar kelas dengan membawa tumpukan buku tugas mengarang. Suasana kelas X-A langsung riuh kembali, beberapa siswa masih mendiskusikan "Kitab Suci" strategi yang tadi pagi dibagikan Rafan.

Aku tidak membuang waktu.

Ada satu hal lagi yang harus kupastikan dengan Fazi sebelum teknis pendaftaran ditutup siang ini. Terutama mengenai slot cadangan untuk lari estafet yang masih kosong di sistem online.

Aku berdiri, merapikan sedikit seragamku, lalu berjalan keluar kelas tanpa pamit. Tujuanku jelas: Gedung B, Markas OSIS.

Langkahku cepat menyusuri koridor penghubung antar gedung. Angin sepoi-sepoi menerpa wajahku yang kini terekspos tanpa kacamata. Beberapa siswi dari kelas lain yang berpapasan denganku sempat menoleh dua kali, berbisik-bisik kaget melihat perubahan penampilanku, tapi aku mengabaikan mereka.

Aku menaiki tangga menuju lantai dua Gedung B.

Tepat saat kakiku menapak di bordes lantai dua yang sepi, tiba-tiba dunia menjadi gelap.

Sepasang tangan halus menutup mataku dari belakang. Aroma vanilla yang sangat familier langsung menyergap indra penciumanku.

"Coba tebak, ini siapa?" suara yang dibuat-buat berat berbisik di telingaku, disertai tawa kecil yang tertahan.

Aku menghela napas, sudut bibirku berkedut menahan senyum. Siapa lagi di sekolah ini yang berani melakukan hal kekanak-kanakan seperti ini padaku selain dia?

Aku mengangkat tanganku, memegang pergelangan tangan halus itu. Kulitnya lembut, kontras dengan tanganku. Perlahan, aku menurunkan tangan itu dari wajahku.

Aku berbalik badan.

Benar saja. Zea berdiri di sana sambil nyengir lebar, matanya menyipit jenaka. Napasnya sedikit terengah, tanda dia habis berlari mengejarku menaiki tangga.

"Ketebak ya?" tanyanya tanpa rasa bersalah.

"Parfummu terlalu khas, Ze," jawabku tenang. "Kenapa kamu ngikutin aku sampai sini? Ini wilayah kakak kelas."

Zea memiringkan kepalanya, menatapku dengan tatapan menantang yang imut.

"Kenapa harus pergi begitu saja tanpa bilang-bilang?" tanyanya balik. "Waktu istirahat kemarin kamu juga ngilang. Dan sekarang... aku penasaran. Kamu mau ke mana sih buru-buru banget? Mau ketemu cewek lain?"

Aku menatapnya datar. "Imajinasimu terlalu liar."

"Terus ke mana?" desaknya, maju selangkah mendekatiku.

Baru saja aku hendak membuka mulut untuk menjawab, sebuah suara wanita yang lembut namun bernada menggoda terdengar dari arah koridor di belakangku.

"Wah... wah... Pemandangan yang menarik di pagi hari."

Aku dan Zea menoleh bersamaan.

Di ujung koridor, berjalan dua orang siswa berseragam rapi dengan lanyard dan lencana OSIS di dada mereka. Mereka adalah siswa kelas 12.

Yang perempuan berambut ikal sebahu dengan wajah cantik yang dewasa—Kak Disa. Dan di sebelahnya, cowok berambut cepak dengan postur atletis—Kak Raka. Keduanya adalah saksi mata kemenanganku bermain catur melawan Fazi tempo hari.

Melihat kedatangan dua senior berseragam lengkap dengan aura otoritas OSIS, nyali Zea mendadak ciut.

Meskipun Zea adalah primadona di angkatan kelas 10, dia sebenarnya tipe yang canggung dengan orang asing, apalagi kakak kelas yang terlihat "berkuasa". Lingkaran pertemanannya di kelas 11 dan 12 bisa dihitung jari.

Tanpa sadar, Zea mundur dua langkah. Dia bergeser, menyembunyikan sebagian tubuhnya di balik punggungku. Tangannya memegang ujung seragam belakangku erat-erat, seperti anak kecil yang berlindung pada ayahnya saat melihat orang asing.

Kak Disa dan Kak Raka berhenti di depan kami.

Kak Disa menatapku, lalu melirik Zea yang mengintip takut-takut dari balik bahuku. Senyum geli merekah di wajah senior cantik itu.

"Hmm, benar-benar seperti rumor yang beredar ya," goda Kak Disa, matanya berbinar jahil. "Primadona kelas 10 beneran nempel banget sama kamu, Cal. Liat tuh, lengket kayak perangko."

Zea tersentak kaget, wajahnya memerah padam. Dia makin menenggelamkan wajahnya di punggungku.

"Aku jadi sedikit iri deh," lanjut Kak Disa sambil memilin rambutnya. "Punya 'Manajer Pribadi' yang setia ngikutin kemana-mana. Fazi aja kalah."

Kak Raka yang berdiri di sebelahnya hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan temannya. Dia menepuk bahu Kak Disa pelan.

"Sudahlah, Dis. Jangan digodain terus, kasihan anak orang. Mukanya udah merah banget tuh," tegur Kak Raka santai.

Kak Raka kemudian beralih menatapku. Tatapannya ramah, penuh rasa hormat yang jarang diberikan senior kepada junior.

"Callen," sapa Kak Raka. "Kamu ke sini mau ke Ruang OSIS, kan? Fazi udah nunggu di dalam. Katanya ada data tambahan soal bagan pertandingan lari yang mau dia kasih liat."

Aku mengangguk sopan. "Iya, Kak. Terima kasih infonya."

Zea yang bersembunyi di belakangku mendengar percakapan itu dengan jelas. Matanya mengerjap bingung.

Fazi? Menunggu Callen? Data tambahan?

Otak Zea berputar cepat. Kenapa kakak-kakak OSIS kelas 12 ini bicara seakrab itu dengan Callen? Kenapa mereka tahu nama Callen? Dan kenapa Fazi—Ketua OSIS yang legendaris itu—menunggu Callen secara khusus?

"Ya sudah, langsung masuk aja. Jangan pacaran di tangga, nanti ketauan guru piket," canda Kak Disa sambil mengedipkan sebelah mata padaku, lalu mereka berdua berlalu menuruni tangga.

Setelah mereka pergi, Zea perlahan melepaskan cengkramannya dari bajuku. Dia melangkah keluar dari tempat persembunyiannya, menatapku dengan pandangan penuh tanda tanya dan kekaguman baru.

"Cal..." cicitnya pelan.

"Hm?"

"Kamu... akrab banget sama anak OSIS kelas 12?" tanyanya tak percaya. "Mereka sampe tau nama kamu. Dan Kak Fazi nungguin kamu?"

Aku menatap Zea, lalu tersenyum tipis. Sangat tipis.

"Kan sudah kubilang, Ze," jawabku sambil berbalik melangkah menuju pintu Ruang OSIS. "Aku punya caraku sendiri untuk menang."

Zea terpaku di tempatnya sejenak, menatap punggungku yang berjalan menjauh. Sosok cowok di depannya ini semakin hari semakin terasa jauh dari kata "Rendahan". Dia seperti gunung es yang puncaknya makin tinggi setiap kali didaki.

"Tungguin!" seru Zea akhirnya, berlari kecil menyusulku. "Aku ikut masuk! Aku mau liat kamu ngapain aja sama Kak Fazi!"

Aku hanya menggeleng pasrah. Sepertinya, rapat strategiku dengan Ketua OSIS hari ini akan kedatangan tamu tak diundang yang cantik dan berisik.

1
Zumrotul Mukaromah
semangatt update kakk🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!