NovelToon NovelToon
Wajah Lain Di Balik Topeng

Wajah Lain Di Balik Topeng

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Putri asli/palsu / Fantasi Wanita
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Senjaku02

Apa yang kalian pikirkan tentang putri tertukar? Sang putri asli menderita? Oh kalian salah tentang Aurora Bellazena, gadis cantik bermata Dark Hazel itu adalah putri kandung yang tertukar. Kesalahan pihak rumah sakit membuat Aurora tertukar dengan Anjani Harvey.
Kembali ke rumah keluarga asli tak membuat Aurora di cintai. Namun, apa ia peduli? Tentu tidak ia hanya butuh status untuk menutup sesuatu yang berbahaya dalam dirinya, siapa Aurora sebenarnya? Ikuti perjalanan gadis cantik bermata Drak Hazel itu dalam novel ini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

  Mobil yang di tumpangi keluarga Harvey tiba di halaman luas kediaman mewah Harvey.

  Mereka semua turun dengan Aurora yang ada di gendongan Kaynen.

  "Kak, biarkan aku turun!" minta Aurora, dia malas sekali harus di manja. Karena sejak kecil ia terbiasa sendiri.

  "Diam! Kamu harus banyak istirahat Aurora dan biarkan Kakak menggendong kamu," kata Kaynen.

  "Benar, biarkan Kakak mu yang menggendong kamu dan manjakan kamu, sayang!" Adeline setuju dengan apa yang di katakan Kaynen.

  Aurora hanya bisa setuju, walaupun enggan dia tetap harus menerima semua perlakuan yang menurutnya tak perlu di lakukan.

  Kaynen mulai berjalan meninggalkan halaman, melangkah pelan menuju rumah dengan Aurora di gendongannya.

  "Selamat datang, Nona Muda!" beberapa pelayan menyapa dan menyambut kedatangan Aurora.

  "Sudah, Kak, turunkan aku!" kata Aurora, semua tiba di ruang tamu.

  "Baiklah!" akhirnya Kaynen setuju karena Aurora terus memberontak.

  Aurora di dudukkan di sofa, gadis itu menghela napas pelan sebab akhirnya ia lolos dari gendongan Kaynen.

Sedangkan di sisi lain.

TOK

TOK

TOK

  Ketukan pada pintu kamar membuat Anjani yang masih terlelap langsung tersentak, gadis cantik berwajah pucat itu menatap takut pintu kamarnya.

  "Jani, ini Kakak!" tapi suara dari Aruna membuat Anjani segera turun dari ranjang.

  Gadis itu berlari kecil menuju pintu dan tanpa basa-basi membuka pintu kamar dengan cepat,"Kak, kau datang?" Anjani bertanya dengan suara serak.

  Aruna langsung menarik Anjani masuk, dia menutup pintu dengan kencang dan setelah itu menatap Anjani dengan tatapan tajam.

  "Kau ini kenapa?" tanya Aruna penuh selidik.

  "Kak, aku tidak melakukan apapun," Anjani berkilah dengan air mata yang menetes pelan.

  "Tidak melakukan apapun? Apa kau yakin?" ketus Aruna.

  "Kak, ak-aku han-hanya," suara Anjani terbata, dia ingin berkilah. Namun, ia bingung bagaimana cara menjelaskan semuanya pada Aruna.

  "Sudahlah, Kau tidak perlu berkilah lagi, Anjani! Jelas ini semua salahmu," kata Aruna dengan sinis, dia tak bisa berkompromi lagi sebab ini menyangkut keselamatan adik kandungnya.

  "Kak, apa maksud mu?" tanya Anjani mengiba.

  "Kau harus Terima hukuman dan Maaf aku tidak bisa membantu," ujar Aruna.

  Mata Anjani mendelik, dia hanya berharap pada Aruna agar bisa membantunya, gadis itu mencekal lengan Aruna dengan takut,"Kak, tolong bantu aku! Maafkan aku karena tidak mendengarkan peringatan darimu," Anjani mengiba ia memohon pertolongan dari Aruna karena hanya dia yang bisa menolongnya.

  "Aku tidak bisa bantu, jadi terima hukumanmu!" tegas Aruna, dia menolak membantu sebab ia tak mau mendapatkan masalah juga. Walaupun dia kasihan. Namun, jelas keselamatannya sendiri adalah yang utama.

  Anjani terhenti sejenak, matanya membara oleh amarah yang tak tertahankan. "Kenapa kakak tak mau menolongku? Apakah sekarang kakak sudah menerima Aurora dan menyayanginya?" suaranya menembus ruang itu, penuh luka dan pengkhianatan. 

  Aruna menarik napas panjang, suaranya dingin namun tegas, "Anjani, kamu sudah kelewatan. Kak Kaynen dan Papa Mama sudah memperingatkan kita berulang kali, tapi kamu malah membuat masalah yang jauh lebih besar! Dan yang paling parah, Mama melihat langsung kamu menyiksa Aurora!" 

  Anjani menggigit bibirnya, dadanya sesak, "Dia sudah merebut Arion dariku! Dia pantas mendapat pelajaran." Kata-katanya terdengar kacau, penuh dengan kepedihan yang menggerogoti hatinya. 

  "Sudahlah, aku benar-benar lelah, Anjani. Turunlah ke bawah, temui mereka, dan minta maaf pada Aurora," Aruna menasihati dengan suara yang mengandung keputusasaan. 

  Tapi Anjani menggeleng kuat, matanya membara tak mau menyerah, "Tidak! Aku tak akan minta maaf pada Aurora. Aku tak salah apa-apa." Kekerasan hatinya seolah menjadi tembok tak tergoyahkan, menutup segala kemungkinan damai.

  "Terserah kamu..." suara Aruna datar, lelah membungkus kata-katanya seperti beban yang tak sanggup lagi ditanggung. 

  Tanpa menunggu jawaban, dia melangkah meninggalkan kamar Anjani, menapaki lorong yang sunyi menuju kamarnya sendiri, seolah ingin menghindar dari segala masalah yang menggelayuti.

  Anjani terdiam, menatap pintu yang tertutup perlahan. Kegagalan untuk mendapatkan bantuan dari Aruna menusuk hati, membuat napasnya sesak. 

  Rasa putus asa mendera, seperti gelombang besar yang menenggelamkannya perlahan. Tak ada lagi tumpuan, tak ada lagi harapan yang tersisa.

  “Sial...” geram Anjani dalam bisu, kata itu keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam, penuh kemarahan sekaligus keputusasaan.

  Hukuman itu kini tinggal selangkah lagi, dan dia tahu, kali ini dia benar-benar harus menghadapi semuanya sendiri.

...****************...

  Kembali di ruang tamu, saat ini mereka tengah duduk di ruang tamu kecuali Anjani dan Aruna yang tak ada disana. 

  Adeline duduk di samping putrinya, tangannya mengelus lembut surai yang terurai indah. Suaranya bergetar penuh kasih, "Bagaimana, masih pusing?" 

  Aurora menahan risih yang membuncah dalam hatinya, benci diperlakukan seperti gadis rapuh. Namun, bibirnya hanya mampu tersenyum kaku, "Masih sedikit..." 

  Tatapan Bastian penuh kehangatan, menyiratkan kekhawatiran yang mendalam. "Mau langsung kembali ke kamar?" 

  Aurora mengangguk perlahan, melewati rasa lelah yang menyiksa. Kaynen segera berdiri, menggenggam tangan Aurora dengan lembut tapi penuh kekuatan, membimbingnya masuk ke kamar. 

   Adeline menatap pelayan yang berdiri tak jauh dengan tatapan tegas namun lembut. "Mbak, segera antar bubur dan air putih ke kamar Aurora. Jangan sampai terlambat." Suaranya terdengar penuh perhatian, tapi ada kekhawatiran yang tersembunyi di balik kata-katanya.

  "Baik, Nyonya," jawab pelayan itu dengan kepala menunduk, kesungguhan terpancar dalam gerak langkahnya.

  Adeline menarik nafas panjang, pandangannya mengikuti sosok Aurora, melihat Kaynen yang tengah membantu memapah adiknya itu untuk melangkah menuju kamar. 

  Ada gelisah yang tak bisa disembunyikan di mata Adeline perasaan ibu yang selalu ingin menjaga, melindungi setiap saat.

  Sementara itu, pelayan itu berjalan cepat membawa makanan, melewati lorong sepi menuju kamar Aurora yang sedang menanti.

  Suasana itu hening, tetapi setiap detik terasa penuh arti, seperti mengikat satu harapan kecil agar putrinya merasa hangat dan diperhatikan.

1
MataPanda?_
terus kak semangat trus..
selalu d berikan kesehatan😄
Senjaku02: Aamiin. terimakasih ☺️
total 1 replies
MataPanda?_
trus semangat kak up banyak"😄
Senjaku02: siap🫡
total 1 replies
Nadira ST
🥰🥰🥰🥰🥰🥰💪💪💪💪💪💪💪
Nadira ST
kereeennnn🥰🥰🥰🥰🥰🥰💪💪💪💪💪💪☕☕☕☕☕
Allea
kirain mo bilang besok kamu akan dikembalikan ke keluarga kandungmu ternyata bukan
Allea
maaf thor drak hazel apa dark hazel
Senjaku02: dark hazel. maaf kalau typo😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!