Apa yang kalian pikirkan tentang putri tertukar? Sang putri asli menderita? Oh kalian salah tentang Aurora Bellazena, gadis cantik bermata Dark Hazel itu adalah putri kandung yang tertukar. Kesalahan pihak rumah sakit membuat Aurora tertukar dengan Anjani Harvey.
Kembali ke rumah keluarga asli tak membuat Aurora di cintai. Namun, apa ia peduli? Tentu tidak ia hanya butuh status untuk menutup sesuatu yang berbahaya dalam dirinya, siapa Aurora sebenarnya? Ikuti perjalanan gadis cantik bermata Drak Hazel itu dalam novel ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Setelah drama kecil itu usai, Aurora menelungkupkan wajahnya di atas meja, napasnya berat menahan gelombang emosi yang belum reda.
Matanya terpejam sejenak, seolah mencari ketenangan sebelum bel pelajaran menggema, mengusik keheningan yang tenang itu.
Di sampingnya, Seina menatap dengan penuh iba. Ia tahu, hidup bosnya penuh lika-liku dan kesedihan yang tak terlihat, sebelum maupun sesudah terungkapnya rahasia masa lalunya.
Dalam diam, Seina berjanji pada dirinya sendiri ia akan selalu setia berada di sisi Aurora, menjadi benteng pelindung dan tempat curahan hatinya.
Namun, tanpa melepas pandangannya dari buku yang saat ini ia baca, bukan rahasia umum lagi jika Seina gemar membaca dan itu menjadi satu-satunya temannya sebelum Aurora masuk ke sekolah DHS.
Aurora tahu betul jika Seina sempat menatapnya, tapi ia tak peduli. Baginya, Seina adalah satu-satunya orang yang mengerti siapa dirinya sebenarnya.
Maka ia memilih membiarkan segala perasaan itu berlalu, diam dalam kepercayaan yang tak perlu diucapkan.
...****************...
Beberapa saat kemudian, bel sekolah berdentang nyaring, menandai dimulainya pelajaran.
Tak lama setelah itu, pintu kelas terbuka perlahan, dan sosok guru perempuan berhijab masuk dengan langkah tenang.
Suaranya yang lembut namun tegas mengalir bak aliran sungai jernih saat mengajarkan bahasa Inggris, membuat setiap kata yang diucapkannya mudah meresap ke dalam benak siswa-siswi.
Aurora, yang tadi tenggelam dalam kelelahan dengan wajah menelungkup di atas meja, perlahan menegakkan tubuhnya.
Matanya kini terpaku pada papan tulis, penuh tekad dan siap menyerap setiap pelajaran yang akan diberikan.
Dunia seolah menghilang di sekelilingnya hanya suara guru dan pelajaran yang berarti.
Setelah menjelaskan materi dengan suara tegas, guru itu menyerahkan tugas berupa pilihan ganda nomor 1 hingga 25, lengkap dengan esai di akhir.
Ruangan seketika hening, hanya terdengar suara hela nafas panjang siswa-siswi yang mencoba menenangkan diri. Keluhan-keluhan kecil terdengar, namun tak satu pun yang menyerah.
Aurora duduk dengan tatapan tajam, bibirnya menutup rapat, menandakan tekad bulatnya untuk menyelesaikan tugas itu dengan penuh konsentrasi.
Tugas itu seolah jadi mainan bagi Aurora, otak cerdasnya bekerja tanpa hambatan, sementara teman-teman di sekitarnya masih bergumul dengan soal-soal rumit.
Hanya dalam 15 menit, Aurora sudah menyelesaikan semuanya dengan penuh percaya diri, tak jauh berbeda dengan Seina yang juga menyelesaikan tanpa kesulitan.
Di sisi lain, Anjani, sang juara yang sering dipuji, malah terlihat kebingungan. Matanya yang biasanya bercahaya sekarang terpejam lelah, menghadapi soal yang sulit untuk dimengerti.
Waktu berlalu begitu saja, membuktikan bahwa kecerdasan Anjani tak seluas Aurora yang bagai air mengalir, menguasai segala bidang akademik maupun non-akademik, dengan kelincahan dan ketajaman yang nyaris sempurna.
Di dunia yang menuntut serba cepat itu, Aurora berdiri kokoh sebagai sosok yang tak sekadar pintar, tapi juga penuh keunggulan di setiap sudut kemampuan.
...****************...
Siang itu penghuni kantin heboh, beberapa dari mereka menggosip pesta topeng untuk tahun ini. Acara rutin demi menggalang dana sekaligus penerimaan beasiswa di tahun ajaran baru.
"Tidak terasa tahun ajaran baru sebentar lagi, dan ya ampun pesta topeng!" salah satu gadis berteriak heboh saat berbicara tentang pesta topeng.
"Kamu benar, Kira-kira tahun ini siapa ya yang bakalan jadi couple terbaik?" mereka berpikir, sebab tahun kemarin Bulan dan Abi yang mendapatkan gelar Couple terbaik walaupun Abi bukan lah tipe pria romantis.
"Entahlah, kita tidak memiliki gosip tentang Couple untuk tahun ini, aku kira Arion akan benar-benar jadian dengan Anjani karena keduanya di tunangkan.
Namun, aku salah sepertinya tidak ada hubungan antara Anjani dan Arion," yang satu malam bergosip hal yang akhir-akhir ini menjadi tranding.
"Benar, aku berpikir begitu juga, sudahlah Anjani yang sombong itu tidak selevel dengan kita," yang lain berceletuk lagi.
"Benar, aku awalnya berpikir baik jika ia sombong sebab Harvey masuk jajaran orang terkaya. Namun, dia bukan anak kandung Harvey jadi apa yang akan ia sombongkan?" yang satu lagi melirik Sinis Anjani di kursi lain.
Yang lain setuju, Anjani boleh sombong dan angkuh saat belum ketahuan ia bukan putri Harvey. Namun, sekarang semua orang tahu putri asli dari keluarga Harvey sudah kembali dan banyak dari mereka tak lagi takut menyinggung Anjani.
"Gosipnya panas ya Ra?" Seina membuka percakapan, tidak pernah bicara lebih dulu membuat Aurora segera menoleh pada Seina.
"Kau bicara lebih dulu?" tanya Aurora tak percaya.
"Jangan mulai, aku hanya berucap saja," kata Seina malas.
"Baiklah, nanti malam akan ada pekerjaan, aku tunggu kamu di cafe biasa!" ucap Aurora dengan nada dingin.
"Tenang saja," angguk Seina, dia sudah paham, malam ini akan ada pertemuan besar dan Aurora juga dirinya harus datang.
Keduanya melanjutkan makan siang mereka, tak peduli dengan gosip yang terus panas mengalir dari setiap bibir dan menyambar setiap telinga murid DHS.
"Kau tidak mau mengajak Aurora?" Araina memulai pembicaraan saat melihat Arion diam saja melihat Aurora di kursi lain.
"Aku harus bagaimana Araina? Kau tahu kan Aurora benci padaku," Arion mengeluh, dia bingung bagaimana cara menaklukkan Aurora yang dingin bak es batu itu.
"Baru kali ini aku melihat Arion frustasi, biasanya ia yang dikejar sekarang malah dia mengejar tapi gagal," itu sebuah simpati. Namun, di telinga Arion yang sensitif. Ucapan Bulan malah seperti ejekkan.
"Kau ini bersimpati atau sedang mengejek aku Bulan?" tanya Arion kesal.
"Sebenarnya aku tak berniat bersimpati, sebab menurut ku kau ini kan memang tidak pantas di beri simpati," jelas Bulan acuh, dan itu menghadirkan gelak tawa di antara mereka.
"Benar, ya sebut saja ini karma," sambung Clarin.
"Kalian semua bukan sahabat yang baik," protes Arion.
Sedangkan mereka semua kembali menyemburkan tawa, melihat Arion yang biasa mempermainkan para gadis di sekolah ini. Namun, sekarang frustasi karena di tolak satu gadis putri asli keluarga Harvey.
Tawa mereka pecah, menimbulkan bisik-bisik lain di kantin itu, banyak yang menginginkan masuk di antara cirkel para tuan dan Nona muda keluarga kaya itu.
Namun, tak akan mudah masuk kesana sebab mereka mencari kesetiaan dan bukan harta, karena banyak tuan dan Nona Muda yang tak jujur di sekolah itu menimbulkan banyak kontroversi daripada kebaikan alami.
Anjani melihat itu, ia ingin sekali masuk. Namun, baru mengutarakan keinginan saja ia sudah di ejek oleh Araina yang sejak awal tak suka padanya.
Sedangkan orang yang di Terima oleh semua nampak acuh, Aurora tak peduli ia tidak butuh pengakuan di sekolah ini, hanya saja dirinya butuh status Harvey sebagai sesuatu yang tak dapat mengusiknya hingga akhir.
itu aruna gk ikut liat rekaman cctv, diakan yg paling ambisi..
hshaaa...kenyataan tak sesuai ekspektasi🤣
coba lanjut
btw aku kirimin kopi thor
selalu d berikan kesehatan😄