Naya percaya cinta cukup untuk mempertahankan pernikahan.
Namun tekanan dari ibu mertua yang terus menuntut keturunan, ditambah kemunculan masa lalu suaminya dengan sebuah kenyataan pahit, membuat hidup Naya perlahan runtuh.
Ini bukan kisah perempuan yang kalah, melainkan tentang Naya—yang pergi, bangkit, dan menemukan bahagia yang benar-benar ia pilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3. Antara Takut Dan Keyakinan
Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya. Naya berbaring di atas kasurnya, menatap langit-langit kamar yang mulai kusam. Lampu sudah ia matikan sejak lama, namun matanya tak juga terpejam. Setiap kali ia memejamkan mata, suara Adit kembali terngiang di telinganya.
Mau kan kamu menikah denganku?
Pertanyaan itu sederhana, namun dampaknya begitu besar. Naya menarik selimut hingga ke dada, mencoba menenangkan detak jantungnya yang belum juga kembali normal. Ia merasa seolah hidupnya sedang berada di persimpangan yang belum pernah ia kenal sebelumnya.
Tak ingin terus larut dalam gelisah, Naya akhirnya bangkit. Ia menyalakan lampu kecil, mengambil air wudu dengan langkah pelan, lalu menggelar sajadah di sudut kamar. Udara dini hari terasa dingin, namun justru memberi ketenangan yang ia butuhkan.
Dalam salat tahajudnya, Naya menangis. Air mata itu jatuh tanpa ia tahan. Bukan karena sedih semata, melainkan karena takut. Takut salah memilih, takut berharap terlalu jauh, dan takut jika keputusannya kelak justru menjauhkannya dari ridha Allah.
“Ya Allah,” bisiknya lirih di sela sujud panjang, “Engkau tahu hatiku lebih dari siapa pun. Jika ini bukan jalan terbaik, tolong jauhkan aku sebelum aku terlalu berharap. Tapi jika ini memang Engkau kehendaki, kuatkan lah aku untuk menerimanya.”
Doa itu terucap berulang kali. Naya tidak meminta jawaban instan. Ia hanya ingin hatinya dituntun agar tidak salah melangkah. Baginya, pernikahan bukan sekadar kebahagiaan dunia, melainkan tanggung jawab seumur hidup yang akan ia bawa hingga akhirat.
Menjelang Subuh, Naya masih duduk di atas sajadahnya. Dadanya terasa lebih ringan, meski kegelisahan itu belum sepenuhnya hilang. Ia tahu, ujian ini tidak akan selesai dalam satu malam.
Pagi harinya, Naya tetap menjalani rutinitas seperti biasa. Setelah salat Subuh, ia mengenakan gamis kerja dan hijab sederhana, lalu melangkah ke kebun. Embun masih menempel di daun-daun sayuran, dan udara pagi terasa segar. Biasanya, suasana seperti ini selalu membuat hatinya tenang.
Namun pagi itu berbeda.
Tangannya memang sibuk menyiram tanaman, tetapi pikirannya melayang entah ke mana. Beberapa kali ia berhenti tanpa sadar, menatap satu titik kosong di depannya. Bahkan ia hampir mencabut tanaman yang masih sehat karena terlalu melamun.
“Naya,” gumamnya menegur diri sendiri.
Ia menarik napas panjang, berusaha kembali fokus. Namun bayangan masa depan tiba-tiba muncul begitu saja. Bagaimana jika ia benar-benar menerima lamaran Adit? Bagaimana hidupnya nanti?
Naya membayangkan dirinya harus meninggalkan Desa Sukamerta. Meninggalkan kebun yang selama ini menjadi sandaran hidupnya. Meninggalkan rumah sederhana peninggalan orang tuanya. Ia membayangkan kehidupan di kota yang asing, penuh orang-orang dengan latar belakang berbeda.
Apakah ia akan mampu beradaptasi?
Pertanyaan itu membuat langkahnya terhenti. Ia menyadari, ketakutannya bukan hanya tentang Adit, tetapi tentang dirinya sendiri. Tentang rasa rendah diri yang selama ini ia pendam. Pendidikan yang hanya sampai Madrasah Aliyah. Kehidupan yang jauh dari gemerlap kota. Dan masa lalu yang penuh keterbatasan.
“Apa aku pantas?” bisiknya lirih.
Angin pagi berembus pelan, menggerakkan daun-daun di sekitarnya. Naya menunduk, menatap tanah di bawah kakinya. Selama ini, ia merasa cukup dengan hidup sederhana yang ia jalani. Ia tidak pernah iri pada kehidupan orang lain. Namun kini, perasaan itu datang tanpa ia minta.
Ia takut tidak diterima di dunia Adit. Takut menjadi beban. Takut dianggap tidak sepadan.
Namun di balik semua ketakutan itu, ada satu hal yang tidak bisa ia pungkiri—hatinya mulai membuka ruang untuk harapan. Sekecil apa pun, harapan itu ada. Dan justru itulah yang paling menakutkan baginya.
Naya kembali melanjutkan pekerjaannya, meski langkahnya terasa lebih berat. Ia sadar, hidupnya sedang berubah, meski ia belum tahu akan dibawa ke arah mana.
Siang itu, matahari sudah mulai meninggi ketika Naya masih berada di kebun. Keringat membasahi pelipisnya, namun ia belum berniat beristirahat. Tangannya sibuk memetik daun-daun tua dan membersihkan gulma yang tumbuh di sela tanaman. Setiap gerakan ia lakukan dengan perlahan, seolah memberi ruang bagi pikirannya untuk terus berbicara.
Kebun ini, pikir Naya, adalah saksi hidupnya selama bertahun-tahun. Dari sinilah ia belajar bertahan setelah kedua orang tuanya tiada. Dari tanah inilah ia memperoleh rezeki, juga ketenangan. Setiap sudut kebun menyimpan kenangan—tentang ibunya yang dulu mengajarinya menanam, tentang ayahnya yang sering tersenyum bangga melihat hasil panen pertama.
“Kalau aku pergi,” bisiknya pelan, “siapa yang akan merawat semua ini?”
Pertanyaan itu menggantung di udara. Naya menatap deretan tanaman cabai yang mulai berbuah. Kebun ini bukan sekadar ladang penghasilan, melainkan bagian dari dirinya. Membayangkan meninggalkannya terasa seperti melepaskan sebagian jiwanya sendiri.
Saat itulah, suara langkah pelan terdengar dari arah rumah. Seorang perempuan paruh baya berdiri di tepi kebun, memperhatikannya dengan tatapan lembut. Ibu Naya—perempuan yang selama ini menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki—tersenyum tipis saat pandangan mereka bertemu.
“Kamu kelihatan melamun sejak pagi,” ujar sang ibu sambil mendekat. “Capek, Nak?”
Naya tersenyum kecil. “Sedikit, Bu.”
Ibunya tidak langsung bertanya lebih jauh. Ia ikut duduk di bangku kayu kecil di pinggir kebun, menatap tanaman-tanaman dengan pandangan yang penuh arti. Beberapa saat mereka terdiam, hanya ditemani suara angin dan serangga siang hari.
“Kamu berubah akhir-akhir ini,” ucap ibunya akhirnya. “Ada sesuatu yang kamu pikirkan?”
Naya menggenggam ujung gamisnya. Dadanya terasa sesak. Selama ini ia selalu menyimpan semuanya sendiri, tapi entah mengapa kali ini ia merasa tak sanggup lagi. Perlahan, ia mengangguk.
“Ada seseorang, Bu,” katanya pelan. “Mas Adit… yang waktu itu ke sini.”
Ibunya menoleh, sorot matanya terkejut namun tetap tenang. “Lalu?”
“Dia… berniat melamar,” lanjut Naya dengan suara nyaris bergetar.
Hening sejenak. Ibunya menarik napas panjang, lalu menatap wajah Naya dengan saksama. Tidak ada kemarahan, tidak pula penolakan. Hanya kekhawatiran yang jujur.
“Kamu sudah memikirkannya matang-matang?” tanya ibunya lembut.
Naya menggeleng pelan. “Itu yang membuatku bingung, Bu. Aku takut. Takut tidak pantas, takut tidak siap, takut meninggalkan semua ini.”
Ibunya meraih tangan Naya, menggenggamnya erat. “Menikah memang bukan perkara ringan, Nak. Bukan hanya soal cinta, tapi soal kesiapan menjalani hidup bersama. Wajar kalau kamu takut.”
Air mata Naya menetes tanpa ia sadari. “Aku tidak ingin salah langkah, Bu. Aku tidak ingin mengecewakan siapa pun.”
Ibunya mengusap punggung tangan Naya perlahan. “Tidak ada yang bisa memutuskan selain kamu sendiri. Tapi ingat, Allah tidak akan memberi ujian di luar kemampuan hamba-Nya.”
Kata-kata itu sedikit menenangkan hati Naya. Ia merasa tidak sendirian lagi menghadapi kebingungan ini.
Malam harinya, setelah menunaikan salat Isya, Naya kembali menggelar sajadah. Kali ini ia meniatkan salat istikharah. Dengan hati yang masih diliputi keraguan, ia menyerahkan semua kegelisahannya kepada Allah.
Ia tidak meminta mimpi indah atau tanda besar. Ia hanya memohon agar hatinya dituntun pada keputusan yang benar.
Hari-hari berikutnya, Naya rutin melakukan istikharah. Tidak ada mimpi aneh atau kejadian luar biasa. Namun perlahan, ada ketenangan yang mulai mengisi hatinya. Ia masih takut, tapi ketakutan itu tidak lagi menyesakkan seperti sebelumnya.
Suatu sore, saat ia kembali bekerja di kebun, Naya menyadari sesuatu. Ia tidak lagi bertanya apakah ia pantas atau tidak. Pertanyaan itu berganti menjadi, apakah aku siap belajar dan bertumbuh?
Ia mengangkat wajahnya, menatap langit yang mulai berubah warna. Untuk pertama kalinya sejak lamaran itu terucap, Naya merasa bahwa jawabannya mungkin tidak harus hitam atau putih.
Sore itu, Naya duduk di beranda rumahnya sambil menatap kebun yang mulai diselimuti cahaya keemasan. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah dan daun basah. Di tangannya, ponsel jadul yang sudah beberapa hari ini sering ia tatap tanpa benar-benar ia nyalakan.
Sejak beberapa malam terakhir, hati Naya terasa lebih tenang. Bukan karena semua pertanyaan telah terjawab, melainkan karena ia mulai menerima bahwa ketenangan tidak selalu datang bersama kepastian. Kadang, ia hadir dalam bentuk keberanian untuk jujur pada diri sendiri.
Perlahan, Naya menekan tombol panggil.
Nada sambung terdengar beberapa detik sebelum suara Adit menyapa dari seberang sana.
“Assalamu’alaikum, Nay.”
“Wa’alaikumsalam, Mas,” jawab Naya. Suaranya terdengar lebih mantap dari yang ia kira.
Mereka berbincang ringan beberapa saat. Tentang kabar, tentang aktivitas masing-masing. Namun seperti sebelumnya, Naya tahu percakapan itu tidak akan berhenti di sana. Ada hal yang perlu ia sampaikan.
“Mas,” panggil Naya akhirnya, menarik napas panjang. “Aku mau jujur.”
Adit terdiam sejenak. “Aku dengar.”
Naya menatap lurus ke depan, seolah Adit bisa melihatnya. “Aku takut. Banyak hal yang aku pikirkan sejak Mas bicara soal menikah. Tentang perbedaan kita, tentang kehidupanku yang sederhana, tentang kemampuanku nanti.”
Ia menggenggam ponsel erat-erat. “Aku takut tidak bisa menjadi istri yang Mas harapkan.”
Suara di seberang sana terdengar lebih lembut dari biasanya. “Nay,” ucap Adit pelan, “aku tidak pernah mencari kesempurnaan.”
Naya menahan napas.
“Aku datang dengan niat baik,” lanjut Adit. “Aku tahu latar belakangmu, aku tahu kehidupanmu. Justru itu yang membuatku yakin. Kesederhanaan mu, caramu menjaga diri, caramu menjalani hidup… itu bukan kekurangan.”
Kata-kata itu membuat mata Naya berkaca-kaca. Ia tidak menyangka akan mendengarnya.
“Aku juga tidak ingin kamu merasa terpaksa,” tambah Adit. “Kalau kamu butuh waktu, aku akan menunggu. Aku tidak ingin keputusan ini lahir dari rasa takut.”
Percakapan itu berlangsung cukup lama. Tidak ada janji berlebihan, tidak ada desakan. Hanya dua orang yang sama-sama berusaha jujur pada perasaan dan niat masing-masing. Saat telepon itu berakhir, Naya meletakkan ponselnya perlahan.
Hatinya terasa hangat.
Ia belum memberikan jawaban pasti. Namun untuk pertama kalinya, ia tidak merasa tertekan oleh pertanyaan itu. Ia sadar, menerima niat seseorang tidak harus selalu disertai jawaban instan.
Malam itu, Naya kembali berdiri di tengah kebunnya. Langit sudah gelap, bintang-bintang bertaburan di atas sana. Ia menatap tanaman-tanaman yang selama ini setia menemaninya.
“Aku belum pergi,” gumamnya pelan. “Aku hanya sedang belajar melangkah.”
Ia tahu, keputusannya belum sempurna. Masih ada ketakutan, masih ada keraguan. Namun ia juga tahu, menutup hati sepenuhnya bukanlah solusi.
Bersambung...
Selamat sore selamat membaca terimakasih