Arka Baskara, dikirim oleh dinas ke Desa Sukamaju. Tugasnya menjadi Pejabat (Pj) Kepala Desa termuda untuk membereskan kekacauan administrasi dan korupsi yang ditinggalkan kades sebelumnya.
Arka datang dengan prinsip kaku dan disiplin tinggi, berharap bisa menyelesaikan tugasnya dengan cepat lalu kembali ke kota.
Namun, rencananya berantakan saat ia berhadapan dengan Zahwa Qonita. Gadis ceria, vokal, dan pemberani, anak dari seorang Kiai pemilik pesantren cukup besar di desa.
Zahwa adalah "juru bicara" warga yang tak segan mendatangi Balai Desa untuk menuntut transparansi. Baginya, Arka hanyalah orang kota yang tidak paham denyut nadi rakyat kecil.
Bagaimanakah kisah Arka dan Zahwa selanjutnya? Hanya di Novel "Ada Cinta di Balai Desa"
Follow Me :
Ig : @author.ayuni
TT: author ayuni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Nama Merubah Segalanya
Zahwa menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan batuk kecil akibat tersedak. Matanya masih terpaku pada layar ponsel di atas meja pada foto laki-laki itu. Wajah yang tak asing. Wajah yang pernah datang dengan niat baik, dengan keberanian yang jujur, lalu pergi dengan langkah berat.
Ibu Karina mengamati reaksi Zahwa dengan saksama. Ia melihat perubahan ekspresi itu, kaget, salah tingkah, lalu perlahan berubah menjadi kebingungan yang sulit disembunyikan.
“Kenapa Nak?” tanya Ibu Karina, suaranya dibuat senatural mungkin.
Zahwa menelan ludah.
Ibu Karina menarik napas pelan. Inilah saatnya. Ia tahu, tak mungkin kebenaran ini disimpan lebih lama. Terlalu banyak benang yang sudah terjalin dan semesta seolah sengaja membawa mereka ke satu titik yang sama.
“Zahwa,” panggilnya lembut.
Zahwa mengangkat wajahnya. “Iya, Bu?”
Ibu Karina menggenggam tangan Zahwa di atas meja. Hangat. Menenangkan. “Nak… laki-laki di foto itu anak Ibu.”
Deg!
Dunia seolah berhenti berputar.
Zahwa membeku. Detik demi detik berlalu tanpa suara. Kata-kata itu menggantung di udara, lalu jatuh begitu saja menghantam kesadarannya tanpa aba-aba.
“Anak… Ibu?” ulang Zahwa lirih, hampir tak bersuara.
Ibu Karina mengangguk pelan. “Iya, Arka anak ibu"
Zahwa menutup matanya. Dadanya terasa sesak, napasnya tertahan. Dunia terasa mendadak sempit terlalu sempit untuk menampung semua perasaan yang menyerbu sekaligus, kaget, malu, bingung, dan perasaan bersalah yang tiba-tiba membesar.
“Ya Allah…” bisiknya.
Ia teringat semua hal. Semua percakapan. Semua curhat yang mengalir begitu saja dari bibirnya tentang rindu, tentang kekecewaan, tentang seseorang yang datang lalu ia minta mundur. Tentang prinsipnya yang tak bisa ditawar. Tentang hatinya yang berusaha kuat meski terluka.
Dan kini ia tahu, semua itu ia ceritakan… pada ibu dari laki-laki itu.
Wajah Zahwa memerah. Ia menarik tangannya pelan, lalu menunduk dalam-dalam. “Bu… Zahwa… Zahwa minta maaf.”
Ibu Karina terkejut. “Maaf untuk apa, Nak?”
“Zahwa sudah lancang. Zahwa banyak bercerita, banyak mengeluh… padahal Zahwa tidak tahu kalau Ibu adalah..” suaranya tercekat, tak sanggup melanjutkan.
Ibu Karina bangkit dari kursinya, lalu duduk di samping Zahwa. Tangannya kembali memeluk bahu gadis itu, kali ini lebih erat.
“Dengarkan Ibu,” katanya pelan namun tegas. “Kamu tidak salah apa-apa.”
Zahwa menggeleng pelan. “Tapi Zahwa sudah menyakiti Pak Arka, Bu. Dan tanpa sadar… mungkin juga menyakiti Ibu.”
Ibu Karina tersenyum pahit. “Yang menyakiti bukan kamu, Zahwa. Yang paling bersalah di sini adalah Saya dan Papa nya Arka.”
Zahwa mengangkat wajahnya cepat. “Bu?”
Ibu Karina mengusap pipi Zahwa dengan lembut, matanya berkaca-kaca. “Arka memang tidak bercerita perihal, kamu meminta ia mundur, Ibu pun tidak peka saat itu pada perasaan Arka...”
Zahwa terdiam, mendengarkan.
“Papa Arka keras kepala. Ia punya gambaran sendiri tentang masa depan anaknya. Dan Ibu… Ibu terlambat menyadari betapa besar luka yang kami buat.” Suara Ibu Karina bergetar. “Bukan hanya pada Arka. Tapi juga pada kamu. Pada Abah dan Ummi kamu.”
Air mata Zahwa jatuh tanpa ia sadari.
“Zahwa tidak marah, Bu,” ucapnya lirih. “Zahwa hanya… tidak ingin memulai sesuatu yang Allah tidak ridhoi.”
Ibu Karina memeluk Zahwa erat-erat. “Dan justru karena itu, Ibu semakin yakin. Kamu perempuan yang tepat.”
“Kenapa dunia ini terasa kecil sekali, Bu… Zahwa merasa dunia ini sangat sempit”
“Semesta tidak pernah salah,” potong Ibu Karina lembut.
“Mungkin Allah memang ingin Ibu mendengar semuanya. Dari kamu. Bukan dari Arka.”
Zahwa terdiam.
Ibu Karina menghela napas panjang, lalu berbisik, “Sekarang izinkan Ibu menebus kesalahan. Restu itu sedang Ibu perjuangkan. Dan kali ini, Ibu tidak akan mundur.”
Zahwa mengangkat wajahnya perlahan. “Bu… jangan karena Zahwa.”
“Bukan karena kamu,” jawab Ibu Karina mantap. “Tapi karena kebenaran. Karena kebahagiaan anak Ibu. Dan karena adab yang selama ini kamu jaga.”
Sunyi menyelimuti mereka sejenak. Hanya suara sendok beradu pelan dan langkah pelayan di kejauhan.
“Ibu tidak akan memaksa kamu” sambung Ibu Karina. “Ibu tahu. Dan Ibu menghargai itu.”
Zahwa mengangguk pelan.
***
Ibu Karina kembali ke kursinya. Ia mencoba mengembalikan suasana agar Zahwa tak semakin tenggelam dalam pikirannya. Makanan di meja mulai mendingin, tapi keduanya nyaris tak menyentuhnya.
Baru saja Ibu Karina hendak mengambil sendok, ponsel di samping piringnya bergetar pelan.
Layar menyala.
Nama Aka terpampang jelas, lengkap dengan fotonya di layar.
Ibu Karina tersenyum refleks senyum seorang ibu yang selalu muncul setiap kali nama anaknya muncul di layar. Ia lalu mengangkat wajahnya, menoleh ke arah Zahwa, seolah ingin berkata “Arka menelepon.”
Namun sebelum jemarinya menyentuh tombol hijau, Zahwa panik.
Ia cepat-cepat menggeleng. Matanya membesar, napasnya sedikit tercekat. Dengan gerakan terburu-buru namun tetap sopan, Zahwa mengangkat kedua tangannya sedikit, lalu menyatukannya di depan dada, kode memohon.
“Bu… tolong,” bisiknya hampir tak bersuara. “Jangan bilang dulu.”
Ibu Karina terdiam. Senyumnya memudar, berganti tatapan penuh pengertian.
Zahwa menunduk. “Zahwa… Zahwa masih butuh waktu untuk mencerna semuanya. Tolong, Bu. Jangan biarkan tahu dulu kalau Ibu sedang bersama Zahwa.”
Ibu Karina menatap wajah Zahwa yang kini terlihat rapuh. Gadis yang biasanya lantang, berani, dan penuh keyakinan itu sedang berusaha berdiri di tengah badai perasaannya sendiri.
Tanpa berkata apa pun, Ibu Karina mengangguk pelan.
Ia menggeser ponselnya sedikit menjauh, lalu menjawab panggilan itu.
“Halo, Nak,” ucapnya lembut.
Zahwa reflek menahan napas.
Dari balik layar, suara Arka terdengar samar namun jelas.
“Ma, Mama lagi di mana? Sudah makan?”
Ibu Karina tersenyum kecil, suaranya tetap tenang. “Mama sudah makan, ini di restoran bersama Mahasiswa relawan yayasan.. Kamu sendiri gimana? Jangan telat makan, Arka.”
Zahwa menunduk semakin dalam. Ia merasa bersalah namun juga lega.
“Masih di kantor, Ma. Masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan,” jawab Arka. “Mama jangan terlalu capek”
Ibu Karina melirik Zahwa sekilas, lalu menjawab dengan jujur yang dipilih hati-hati. “Capek sedikit, tapi menyenangkan. Mama bertemu orang-orang baik.”
Zahwa menggigit bibirnya.
“Syukurlah,” kata Arka. “Kalau Mama sudah sampai rumah, kabari ya.”
“Iya, Nak. Hati-hati kerja.”
Panggilan berakhir.
Sunyi kembali mengisi ruang di antara mereka.
Zahwa mengangkat wajahnya perlahan. “Terima kasih, Bu…”
Ibu Karina meraih tangan Zahwa, menggenggamnya lembut. “Ibu mengerti. Semua ini memang tidak mudah.”
Zahwa mengangguk, matanya berkaca-kaca. “Zahwa tidak ingin dia tahu dari cara yang salah. Zahwa ingin… kalau nanti dia tahu, semuanya sudah pada tempatnya.”
Ibu Karina tersenyum penuh kasih. “Dan itu alasan kenapa Ibu semakin yakin kamu perempuan yang sangat menjaga adab.”
Zahwa terdiam.
Di dalam hatinya, ada gelombang perasaan yang belum sempat ia beri nama. Antara rindu yang pernah ia kubur, luka yang belum sepenuhnya sembuh, dan harapan yang diam-diam mulai mengetuk kembali.
Di luar restoran, sore mulai beranjak malam.
Dan tanpa Arka sadari, dua perempuan yang paling berarti dalam hidupnya sedang duduk berhadapan menyimpan sebuah rahasia kecil yang kelak akan mengubah segalanya.
...🌻🌻🌻...
berharap zahwa bijaksana tdk termakan fitnah kejam andini
lanjut kak thor🙏
smoga restu pak baskara segera turun