Akibat ledakan di laboratorium, Jenara terbangun menjadi ibu tiri jahat di sebuah desa kerajaan Campa. Ia adalah wanita yang dibenci warga, ditakuti tiga anak tiri, dan akan ditinggalkan oleh suaminya.
Jenara menolak akhir itu.
Dengan pengetahuan sebagai peneliti bahan pangan sekaligus kemampuan memasaknya, Jenara membuat anak-anak dan para orang tua menjadi lebih sehat.
Perlahan, warga yang membencinya mulai bergantung padanya.
Tiga anak tiri yang ketakutan mulai memanggilnya Ibu.
Dan, saat kemampuannya menarik perhatian istana, rahasia terbesar pun terbongkar. Suami tampan yang selalu menjaga jarak itu bukanlah peternak desa biasa, melainkan sosok yang tak ia sangka.
Mampukah Jenara mengubah takdir ibu tiri jahat menjadi akhir bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ICHA Lauren, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Larangan Keras
Pak Kepala Desa langsung menanggapi dengan wajah berbinar.
“Saya dan seluruh warga Desa Tanjung Wana akan sangat bangga, jika salah satu warga kami bisa mengikuti kompetisi memasak."
Surya Wiratna tersenyum tipis. “Kalau begitu, Pak Kepala Desa harus memastikan acara penyambutan Gubernur berjalan lancar. Terutama menu masakannya.”
Ia menambahkan dengan nada lebih serius, “Dan ingat, Nyonya Gubernur memiliki lambung yang sensitif. Beliau tidak bisa makan pedas dan berminyak.”
Pak Kepala Desa segera mengangguk hormat. “Saya akan mengingatnya, Tuan.”
Tak lama kemudian, Surya Wiratna berdiri. “Saya mohon diri.”
Pak Kepala Desa segera mengantarnya hingga ke depan rumah, tempat dua prajurit istana masih berjaga.
Sementara itu, di ruang tengah, Jenara langsung dihampiri oleh Ibu Kepala Desa.
“Jenara, aku juga ingin mencicipi masakan belalang."
“Tentu, Bu,” jawab Jenara lembut.
Ia segera mengambilkan satu bola gurih goreng dan sedikit kuah sup dalam mangkuk kecil. Ibu Kepala Desa mencicipinya perlahan. Matanya melebar, sebelum akhirnya tersenyum puas.
“Dengan bakatmu ini, aku yakin kau bisa ikut kompetisi di istana dan membawa nama baik desa kita.”
Ibu Kepala Desa kemudian menepuk kedua tangannya untuk menarik perhatian para ibu.
"Ibu-ibu sekalian, lebih baik kita segera berdiskusi hari ini. Kita tentukan menu apa saja yang akan disajikan untuk Gubernur. Mari kita duduk dan bermusyawarah.”
Mereka pun duduk melingkar di atas tikar ruang tengah.
Salah satu ibu membuka pembicaraan, “Masakan unggulan desa kita adalah ayam panggang rica dan sayur labu santan. Tapi… Nyonya Gubernur tidak bisa makan pedas.”
Suasana menjadi hening, sebelum Jenara berbicara di tengah forum.
"Demi kesehatan Nyonya Gubernur, kita harus menghindari makanan yang pedas, asam, dan berminyak."
Seorang ibu lain mengangkat tangan ragu-ragu. “Bagaimana kalau kita buat sup bola belalang, tapi ditambah mi supaya lebih mengenyangkan?”
“Mi dari tepung gandum juga sulit dicerna oleh orang yang menderita gangguan lambung," sanggah Jenara. "Kecuali, mi tersebut kita buat dari tepung sagu. Sagu lebih lembut bagi lambung dan mudah dicerna.”
“Dari sagu?” ulang para ibu hampir bersamaan.
Jenara mengangguk. “Kita sajikan mi sagu dengan bakso sapi dan telur puyuh di dalamnya. Kuahnya ringan, tidak pedas, dan mengandung protein."
Ibu Kepala Desa tampak terkesan. “Lalu belalang akan diolah menjadi apa?”
“Menjadi abon manis untuk isian nasi kepal,” jawab Jenara mantap. “Kita bisa menambahkan jamur dan irisan mentimun rebus di dalamnya."
Beberapa ibu mulai mengangguk-angguk.
“Tapi abon butuh waktu pengeringan,” lanjut Jenara. “Jika Ibu-ibu setuju, saya mohon besok para bapak diberitahu untuk menangkap belalang lebih banyak di sawah.”
Tepat saat itu, Pak Kepala Desa yang baru masuk mendengar kalimat terakhir.
“Idemu bagus, Jenara. Besok akan kuumumkan kepada para petani untuk menangkap belalang."
"Terima kasih, Pak Kepala Desa," balas Jenara tersenyum tipis. "Untuk sajian daging utama, kita akan membuat bebek panggang merah. Menu ini biasanya disukai kalangan bangsawan.”
Para ibu kembali terkejut. “Bagaimana membuatnya merah? Apakah dengan cabai?”
“Bukan. Dengan beras merah yang dihaluskan, lalu dicampur madu serta rempah. Warnanya alami dan tidak pedas. Besok akan saya tunjukkan caranya. Karena itu, kita perlu latihan dulu.”
Mereka semua mengangguk setuju dan sepakat untuk latihan memasak bersama di balai desa. Pembahasan berlanjut ke kudapan dan minuman.
Setelah cukup lama bermusyawarah, Jenara mohon diri. Namun sebelum ia pulang, Ibu Kepala Desa menghentikannya.
“Tunggu sebentar, Jenara."
Wanita tua itu masuk ke dapur, lalu kembali membawa ayam goreng madu utuh dan beberapa buah-buahan segar yang tadi hendak disajikan kepada utusan Gubernur.
“Bawalah ini untuk suami dan anak-anakmu. Mereka pasti menunggumu.”
Jenara tertegun, tidak menyangka akan diberi makanan sebanyak ini oleh istri Kepala Desa. Usai mengucapkan terima kasih, Jenara pun melangkah pulang menuju rumahnya dengan hati riang.
***
Langit telah berubah jingga ketika Jenara memasuki halaman rumah. Suasana tampak lengang.
Tadi siang Seran masih menggali tanah, menyusun pematang, dan meratakan dasar lubang untuk persiapan kolam lele. Kini pria itu tak terlihat lagi bayangannya. Pasti Seran sudah masuk bersama anak-anak.
Dengan wajah ceria, Jenara membuka pintu rumah dan memanggil anak-anaknya. “Gita, Gatra, Giri, Ibu sudah pulang!"
Suara kecil menjawab dari ruang tengah. Ketika Jenara masuk, ia mendapati ketiga anaknya duduk melingkar bersama Seran. Di hadapan mereka terbentang beberapa lembar daun lontar dan arang kecil sebagai alat gambar.
Merasa penasaran, Jenara mengintip. Di atas daun lontar tergambar pemandangan sawah dengan garis-garis halus, gunung di kejauhan, dan matahari yang hampir tenggelam. Meski sederhana, komposisinya tampak hidup.
“Ini… kalian yang menggambar?” tanya Jenara tak percaya.
Gatra mengangkat wajahnya yang berbinar. “Ayah yang ajari, Bu.”
Jenara tersenyum lebar sambil mengusap kepala Gatra. Lalu, pandangannya beralih pada daun lontar milik Seran.
Gambar yang terpampang jauh lebih rumit. Sebuah perahu kecil di tepi pantai dengan bayangan ombak yang digurat hanya dengan beberapa garis. Tekniknya rapi dan proporsional.
Seingat Jenara, di zaman ini hanya kaum bangsawan atau mereka yang mendapat pendidikan istana yang pandai melukis seperti Seran.
Namun, Jenara cepat-cepat menepis pikirannya sendiri. Ia berdeham ringan.
“Anak-anak, Ibu siapkan makan malam, ya. Ada ayam goreng madu dan buah-buahan dari Ibu Kepala Desa.”
“Ayam madu?!” seru 3G serempak.
Melihat kegembiraan anak-anak, Jenara bergegas menuju dapur. Ia mulai menata ayam goreng madu di atas piring dan memotong buah-buahan.
Tak berselang lama, langkah berat terdengar mendekati Jenara.
“Kenapa kau lama sekali di rumah kepala desa?” tanya Seran dengan suara rendah. "Aku menunggumu.”
Jenara sedikit terkejut. Ucapan suaminya terdengar seperti kerinduan yang tak diakui.
“Ada utusan Gubernur,” jawab Jenara. “Kami berdiskusi untuk menyiapkan menu makanan. Bila Gubernur terkesan, salah satu dari kami bisa ikut kompetisi memasak di istana. Yang menang bisa menjadi koki istana."
Belum sempat Jenara melanjutkan, tiba-tiba Seran memegang bahunya. Dengan satu gerakan tegas, pria itu memutar tubuh Jenara hingga mereka saling berhadapan.
“Kau tidak boleh ikut kompetisi di istana,” pungkas Seran dengan tatapan tegas.
Jenara membeku. “Memangnya kenapa? Setiap orang di desa pasti bercita-cita ingin menjadi koki istana.”
“Sekali aku bilang tidak, artinya tidak," ulang Seran. Nada suaranya tidak meninggi, tetapi penuh tekanan.
“Bila kau memaksa ikut… besok kita akan pindah dari desa Tanjung Wana. Aku akan membawamu pergi."
Jantung Jenara terasa berhenti sesaat. Ancaman Seran terlalu tiba-tiba, terlalu keras. Mungkinkah Seran bersikap sekeras ini, karena ia memiliki hubungan yang tak biasa dengan permaisuri?
to, bagaimana dgn triplets?