11 tahun Yuse dilatih jadi ksatria. Tugas pertamanya membawanya ke Desa Angin yang hancur misterius 5 tahun lalu. Di sana ia bertemu Yamaika, gadis pengendali badai yang menyimpan trauma. Ternyata kehancuran desa itu bukan bencana... tapi pengkhianatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andre kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesucian burung phoenik
di ambang Lembah Hitam mendadak berubah menjadi neraka yang mencekam.
Angin yang semula berembus pelan kini menderu kasar di sela-sela tebing batu yang tajam. Kabut beracun menggulung turun dari lembah, pekat seperti tinta hitam, membawa bau kematian yang menyengat hingga menusuk hidung—bau daging busuk bercampur logam berkarat. Setiap tarikan napas terasa seperti menghirup ribuan jarum. Pohon-pohon di hutan mati itu berdiri kaku tak berdaun, cabang-cabangnya merentak ke atas seperti tangan kerangka yang meminta pertolongan. Tidak ada suara jangkrik, tidak ada lolongan serigala. Hanya desisan angin dan derap langkah ketiga orang itu yang terasa semakin berat.
Jalan menanjak yang terjal seolah tak memberi ampun. Batu-batu tajam menusuk telapak kaki meski terlindung sepatu tebal. Keringat dingin membasahi punggung Yuse, padahal udara di sekitar sedingin es hingga menusuk tulang.
Di tengah kesunyian yang menyesakkan itu, langkah Yuse mendadak goyah.
Bruk!
Tubuh tegapnya tersungkur hebat ke atas tanah berbatu. Debu beterbangan menutupi wajahnya. Ia bertumpu pada kedua lutut yang gemetar, tangan kanannya mencengkeram dada erat-erat seolah ingin menahan sesuatu yang hendak keluar dari sana. Tulang rusuknya terasa diremas ratusan tangan tak kasat mata. Napasnya putus-putus, berjuang menghirup udara yang mendadak terasa langka.
Keputusannya untuk memaksakan diri bertarung habis-habisan di kedai tadi malam, ditambah perjalanan cepat yang menguras seluruh tenaga, membuat luka dalam bekas hantaman Drugsana tempo hari kembali terbuka. Darah lama yang belum sepenuhnya berhenti kini mengalir deras di dalam tubuhnya, diam-diam meracuni kesadarannya.
"YUSEEE!"
Jeritan Cindy memecah keheningan malam. Suaranya pecah, penuh ketakutan yang tak bisa lagi ia sembunyikan. Ia langsung berlutut di samping pemuda itu, mendekap bahunya dengan tangan yang gemetar hebat. Kuku-kukunya mencengkeram kain baju Yuse seolah takut jika ia melepaskannya, pria itu akan lenyap begitu saja.
Beberapa langkah di depan, Brisa terhenti. Ia berbalik, dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, tatapan matanya yang biasanya sedingin es kini terguncang. Matanya melebar saat melihat darah merah pekat mengalir deras dari sela-sela bibir Yuse, menetes membasahi tanah kering hingga membentuk genangan kecil yang berkilau di bawah sinar bulan.
"Sial! Organ dalammu pendarahan hebat!" desis Brisa, nada suaranya yang biasa tenang kini mulai menyiratkan kepanikan. Ia segera berjongkok di sisi lain Yuse, tangannya terulur hendak mengambil botol obat dari saku—namun tiba-tiba terhenti di udara. Luka separah ini… obat biasa sama sekali tidak akan berguna.
Yuse berusaha bangkit, mencengkeram gagang pedangnya sebagai penyangga. Wajahnya pucat pasi, bibirnya gemetar hebat. Namun tubuhnya menolak diperintah. Rasa sakit yang menyiksa menghantam kesadarannya seperti palu godam, membuatnya kembali mengerang tertahan dan jatuh berlutut lagi.
"Uhuk… Di… di saat seperti ini…" umpat Yuse pelan, marah pada kelemahannya sendiri. Suaranya tercekat bercampur darah. Matanya berkaca-kaca—bukan karena takut mati, tapi karena perih dan rasa bersalah yang menyesakkan. Aku bersumpah akan melindungi mereka… tapi justru akulah yang jadi beban.
Hahaha… Sungguh pemandangan yang sangat mengharukan.
Sebuah tawa melengking dan penuh ejekan tiba-tiba menggema dari balik kabut tebal. Suaranya memantul di dinding tebing, berlipat ganda menjadi ratusan suara yang bersahut-sahut mengejek. Pohon-pohon mati di sekeliling seolah ikut berbisik menyambut kematian mereka, dedaunan keringnya berderak padahal tak ada angin yang bertiup.
Dari balik bayangan batu karang, sesosok pria berpakaian serba hitam dengan topeng iblis yang mengerikan perlahan melangkah keluar. Topeng itu bermata merah menyala, ukirannya membentuk raut wajah yang sedang tertawa sinis. Di sela-sela jarinya berkejaran belasan jarum hitam beracun yang memancarkan aura gelap yang pekat. Bau busuk yang jauh lebih tajam daripada kabut lembah menyertainya. Dialah pembunuh bayaran yang telah menghabisi nyawa Mila—utusan langsung dari pria bertopeng itu.
"Kalian kira bisa masuk ke Lembah Hitam ini dengan selamat?" ujarnya pelan namun penuh hasrat membunuh, setiap kata yang keluar seolah pisau yang diseret di atas batu tajam. "Tugasku membungkam Mila sudah selesai. Sekarang, saatnya mengirim kalian bertiga ke neraka!"
Tanpa menunggu aba-aba, ia melesat secepat kilat. Tubuhnya memudar menjadi bayangan hitam yang membelah kabut tebal.
Menyadari bahaya maut yang datang, Brisa langsung melompat maju dan menghunus sepasang belatinya.
Clang! Clang! Clang!
Pertarungan berkecepatan tinggi pecah di tengah kegelapan. Dentingan besi beradu menciptakan percikan api yang menyala sesaat, seperti kunang-kunang yang mati sebelum sempat bersinar.
Namun, pria bertopeng itu jauh lebih lincah dan licik. Ia sama sekali tidak berniat bertarung adil. Senyum di balik topengnya makin melebar. Ia terus melompat ke sana ke mari, melempar jarum beracun ke arah Yuse dan Cindy dari sudut yang tak terduga. Gerakannya persis seperti ular berbisa—tidak pernah menyerang dari depan.
Brisa terpaksa membagi fokusnya. Setiap kali hendak menyerang, ia harus mundur cepat demi menangkis jarum-jarum mematikan yang mengarah ke posisi Yuse yang terbaring lemah. Perlahan namun pasti, pertahanan Brisa mulai goyah. Ia tak bisa menyerang habis-habisan, pun tak bisa bertahan sempurna.
Bruk!
Sebuah tendangan telak menghantam bahunya. Tulang bahu Brisa berderak keras, tubuhnya terlempar beberapa meter dan mengguling di atas batu tajam hingga punggungnya terluka parah.
Melihat Brisa terkapar dan Yuse yang tak berdaya, pria bertopeng itu tertawa puas. Tawanya menggema ke seantero lembah, penuh kepuasan seorang pemburu yang melihat mangsanya kehabisan napas.
Ia melompat tinggi ke udara, tubuhnya berputar sekali di angkasa. Dari balik jubahnya, ia mengacungkan puluhan jarum hitam yang kini bergetar hebat memancarkan asap ungu mematikan. Semua jarum itu mengarah tepat ke dada Yuse.
"Mati kau, Ksatria Amatir!"
Ia melepaskan seluruh jarum itu sekaligus.
"YUSEEEE!!!"
Melihat maut yang tinggal sekejap lagi menghantam pria yang dicintainya, waktu seolah berhenti berputar bagi Cindy. Dunia di sekelilingnya menjadi sunyi senyap. Yang terlihat hanya wajah pucat Yuse, darah di sudut bibirnya, dan jarum-jarum maut yang meluncur turun.
Di detik kritis antara hidup dan mati itu, sesuatu yang tersembunyi jauh di dalam diri sang putri akhirnya meledak hebat. Rasa takut kehilangan sosok yang telah menyelamatkan nyawanya sejak kecil memicu kekuatan kuno yang tertidur dalam darahnya—darah kerajaan Arpati, darah yang mengalir dari garis keturunan yang pernah mengikat janji dengan burung Phoenix legendaris.
Buku Janma Manunggal yang erat ia peluk mendadak terasa sangat panas. Kulit sampulnya bergetar hebat, lalu memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan mata. Huruf-huruf kuno di atasnya bergerak sendiri, menyusun mantra suci yang bahkan Cindy sendiri tak pernah mengerti artinya.
BOOOMMM!!!
Gelombang api merah keemasan yang dahsyat membubung tinggi menembus langit malam. Cahayanya menghalau kegelapan, membakar habis kabut beracun hingga tak tersisa sedikit pun. Tanah di bawah mereka bergetar hebat dan retak, batu-batu kecil melayang lalu meleleh menjadi cairan panas.
Tubuh Cindy perlahan terangkat melayang. Rambut emasnya berkibar liar seolah ditiup angin surga. Dari punggungnya, sepasang sayap api raksasa yang megah mengepak perlahan—wujud asli burung Phoenix. Panasnya murni, suci, namun sekaligus mengerikan dan menghancurkan. Setiap kepakan sayap itu membuat udara di sekitar bergetar hebat.
Matanya yang biasa lembut dan penuh kasih kini menyala terang seperti bara api. Lidah api kecil menari di dalam pupil matanya. Tekanan aura yang ia pancarkan begitu kuat hingga sisa-sisa jarum hitam itu hangus menjadi abu bahkan sebelum sempat menyentuh tanah.
"Jangan… berani… menyentuhnya!"
Suara Cindy kini bergema penuh wibawa yang menakjubkan, seolah membawa gema ribuan tahun peradaban. Bukan lagi suara seorang gadis muda, melainkan suara yang membuat seluruh alam semesta tunduk pada titahnya.
Pria bertopeng yang masih melayang di udara terbelalak ketakutan. Untuk pertama kalinya seumur hidup menjadi pembunuh, ia merasa gemetar ketakutan. Tubuhnya mendadak kaku tak bisa bergerak sedikit pun, terhimpit tekanan aura Phoenix yang begitu pekat.
"K-kekuatan apa ini?!" jeritnya panik, keringat dingin bercucuran deras di balik topengnya. "Aura Phoenix sejati… Tidak mungkin! Bagaimana bisa gadis muda sepertimu menguasai kekuatan tingkat akhir dari Janma Manunggal?!"
Tanpa belas kasihan, Cindy menghentakkan kedua tangannya ke depan.
Badai api merah keemasan meluncur deras seperti air bah yang murka. Ia tak berbentuk gelombang liar, melainkan berubah menjadi sosok burung api raksasa yang mengepakkan sayapnya, membuka paruhnya, dan menjerit. Jeritan itu membakar udara, membakar keraguan, membakar segala dosa dan kejahatan.
"AAAGHHH!!!"
Jeritan kesakitan yang mengerikan terdengar saat jubah dan kulit pria bertopeng itu hangus terbakar. Ia terlempar jauh puluhan meter, menabrak dinding tebing batu hingga menciptakan retakan besar. Batu-batu raksasa runtuh menimpanya, tertutup debu dan asap tebal.
Ketika debu mereda, ia tergeletak diam di tanah. Topengnya pecah berkeping, memperlihatkan wajah pucat penuh luka bakar yang parah. Ia masih bernapas, namun hanya rintihan pelan yang lemah yang keluar dari mulutnya.
Setelah memastikan ancaman itu runtuh, Cindy perlahan mendarat kembali ke tanah. Sayap apinya meredup perlahan, menyusut menjadi kilatan cahaya kecil di punggungnya sebelum akhirnya lenyap sepenuhnya. Namun kehangatan murni dari api itu tidak hilang—ia mengalir masuk ke dalam tubuh Yuse, perlahan meredakan rasa sakit yang menyiksa, menghentikan pendarahan dalamnya seketika, dan menutup semua luka di kulitnya.
Cindy langsung ambruk berlutut, seluruh tenaganya terkuras habis. Ia memeluk tubuh Yuse yang lemas dengan derai air mata yang tak bisa lagi ia tahan.
"Yuse… kumohon bertahanlah… jangan tinggalkan aku…" tangisnya pecah di pundak pemuda itu, panas dan basah.
Yuse perlahan membuka matanya. Rasa sakit di dadanya kini hampir hilang sepenuhnya. Ia menatap wajah Cindy yang basah oleh air mata, lalu tersenyum lemah namun hangat.
"Aku… tidak akan pergi ke mana-mana," bisiknya pelan.
Brisa terpaku diam di tempatnya berdiri, napasnya masih memburu. Ia menatap tebing yang hancur, lalu beralih menatap sosok Cindy bergantian. Gadis kerajaan yang selama ini ia anggap lemah dan hanya jadi beban, ternyata menyimpan kekuatan paling dahsyat yang menjadi satu-satunya kunci keselamatan mereka di tempat terkutuk ini.
Di kejauhan, dari dalam mulut Goa Tengkorak yang gelap gulita, terdengar suara lonceng kuno berbunyi satu kali. Pelan, dalam, dan penuh peringatan yang mengerikan.
Perang yang sebenarnya baru saja akan dimulai.