"Aku butuh istri untuk mendapatkan warisan Kakek, dan kamu butuh uang untuk pengobatan ibumu. Adil, kan?" — Aksara Danendra.
Bagi Aylin, pernikahan ini hanyalah transaksi pahit. Ia rela membuang harga dirinya dan menjadi 'Istri Bayaran' demi pengobatan sang ibu. Ia berjanji tidak akan melibatkan hati, apalagi pada pria dingin dan penuh rahasia seperti Aksara. Bagi Aylin, semua lelaki sama saja brengsek.
Namun, bagaimana jika di atas kertas kontrak yang dingin itu, benih cinta justru tumbuh secara perlahan? Dan bagaimana jika saat cinta itu mulai mekar, Aylin menyadari bahwa dirinya hanyalah tameng untuk rahasia gelap suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.15 -Luka Yang Tersembunyi
"Jangan pikirkan ucapan Kakek," kata Aksara memecah keheningan di dalam mobil.
"Ya, aku tahu," balas Aylin pendek.
"Pernikahan kita hanya untuk kesepakatan. Tidak akan ada anak di antara kita," lanjut Aylin datar. Ia tahu betul bagaimana rasanya hidup tanpa sosok ayah dan tanpa keluarga yang lengkap, jadi ia tak ingin mengulang lingkaran setan itu. Apalagi pernikahannya dengan Aksara hanya kesepakatan yang tak akan pernah ada akhir, jadi Aylin tidak mau anaknya menjadi korban.
Aksara menatap Aylin sesaat. Bukan begitu maksudnya, tapi Aylin menangkap hal yang berbeda. Berpuluh menit kemudian, mereka sudah sampai di basement apartemen. Aksara melirik ke arah mobil Arvano yang terparkir tak jauh dari sana. Dengan isyarat mata, ia meminta Arvano untuk pergi lebih dulu agar tidak terlihat oleh Aylin.
"Kenapa? Ada penampakan?" ceplos Aylin. Pasalnya, tempat parkir apartemen mewah tersebut sangat sepi. Jika sendiri, ia tak akan berani.
"Hah, penampakan? Memang ada? Jangan mikir yang aneh-aneh. Ayo cepat, masih banyak kerjaan yang harus aku selesaikan," kata Aksara sambil berjalan lebih dulu. Aylin malah semakin merapat karena takut. Lebih tepatnya, trauma akan kesunyian itu mulai datang menyergapnya.
Di kantor Perusahaan Pradipta, Reynan masih memeriksa laporan yang diberikan Julian beberapa menit lalu—sebuah laporan lengkap tentang Aylin.
Berhenti sekolah demi mengurus ibunya yang mengalami gangguan mental.
Kalimat itu membuat Reynan terdiam lama. “Aylin… maafkan Papa, Nak,” bisiknya lirih.
Pandangan Reynan jatuh pada alamat tempat tinggal Aylin dan Rosalind saat ini—sebuah apartemen mewah di kawasan PIK. Bibirnya terangkat tipis saat melihat foto pernikahan yang terlampir. Aylin berdiri anggun dalam balutan gaun putih, sangat mirip dengan Rosalind di masa mudanya.
Rosalind… perempuan itu bahkan masih terlihat cantik di usianya yang menginjak empat puluh tahun.
“Papa akan menemui kamu,” gumam Reynan. “Dan meminta maaf.”
Ia menutup map laporan itu, bersiap untuk pulang. Namun langkahnya terhenti saat ponselnya berdering nyaring.
“Papa!” jerit seorang gadis dari seberang sambungan.
“Azkia? Ada apa, Nak?” tanya Reynan, nada suaranya langsung berubah tegang.
“Tolong aku, Pa. Aku ditahan polisi,” isak Azkia di seberang sana.
“Astaga,” desis Reynan. “Apa yang kamu lakukan?”
“A-aku… maaf, Pa,” lirihnya.
“Papa akan datang.” Sambungan terputus.
Satu jam kemudian, Reynan sudah berada di kantor polisi. Di sana, Lusi berdiri gelisah bersama Abidzar. Beberapa orang tua lain juga terlihat—mereka adalah orang tua dari teman-teman Azkia.
“Mas,” bisik Lusi panik, “Azkia dilaporkan diduga memakai barang haram. Bebaskan dia, Mas. Tolong,” lanjutnya dengan suara bergetar.
Reynan tak menanggapi istrinya. Ia justru menatap petugas di depannya. “Bagaimana hasil pemeriksaannya? Anak saya terbukti memakai?” tanyanya tegas.
“Tidak, Pak,” jawab polisi itu.
“Namun anak Anda kedapatan memegang barang tersebut.” Petugas menunjukkan barang bukti berupa sebuah botol kecil dan sedotan.
Reynan mengangguk pelan. “Bolehkah saya menemui anak saya?”
Di ruang tahanan, Azkia langsung bangkit begitu melihat Reynan.
“Papa!” jeritnya sambil menangis.
“Papa bebaskan aku, kan? Aku nggak salah, Pa. Aku dijebak!”
Reynan menatap putrinya lama. Tak ada kemarahan di wajahnya—hanya kekecewaan yang mendalam.
“Papa nggak akan membebaskan kamu,” ucap Reynan akhirnya.
“Mas!” seru Lusi panik.
“Pa!” Azkia menjerit lebih keras.
Reynan tetap berdiri tegak. “Kamu harus belajar bertanggung jawab atas pilihanmu, Azkia,” katanya dingin.
“Papa tidak akan menyelamatkan kamu dari kesalahanmu sendiri.”
Tangis Azkia pecah. Lusi menatap Reynan tak percaya. Dan di saat yang sama, Reynan teringat satu nama lain—seorang anak yang dulu ia tinggalkan, yang justru tumbuh kuat tanpa pernah menuntut apa pun darinya.
Aylin.
Abidzar mendekati Azkia dan menguatkannya. Ia berjanji akan membebaskan sang adik, lalu bergegas pergi dari kantor polisi.
"Abid, kembali! Jangan bebaskan adikmu!" seru Reynan. Namun, Abidzar tidak mendengarkan sang ayah.
"Mas, kenapa sih? Biarkan saja. Azkia harus bebas, dia hanya difitnah sama lelaki itu," tunjuk Lusi pada lelaki yang sejak tadi duduk di pojok. Bima, teman satu sekolah Azkia. Bima hanya tersenyum miring lalu memejamkan mata.
"Papa sudah memperingatkan mu, Kia. Jangan pernah bergaul dengan preman itu. Tapi apa? Kamu ngeyel, bilang kalau mereka baik. Lihat sekarang, mereka meninggalkanmu dan membuatmu masuk penjara," balas Reynan kesal.
Azkia menangis terisak, sementara Lusi panik tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya bisa menunggu anak sulungnya kembali dengan membawa keajaiban.
*
*
Kembali ke sisi Aylin.
Apartemen terasa terlalu sunyi. Rosalind sudah tidur, sementara Aksara pergi kembali dengan alasan pekerjaan setelah mengantarnya pulang. Aylin berdiri di dapur, menunggu air mendidih, namun pikirannya melayang entah ke mana. Jam di dinding berdetak pelan, tapi suaranya justru terasa memekakkan telinga.
Tangannya mengambil cangkir, menuangkan air panas perlahan. Tiba-tiba, tangannya gemetar hebat. Sedikit air tumpah mengenai kulitnya. Panasnya membuat Aylin tersentak, namun bukan rasa perih itu yang membuat dadanya sesak.
Bayangan itu datang begitu saja. Suara bentakan. Nada keras yang dulu sering ia dengar. Tatapan dingin yang membuatnya merasa kecil dan tidak diinginkan.
Aylin menjatuhkan cangkir ke wastafel. Ia menutup telinganya rapat-rapat, tubuhnya merosot perlahan hingga bersandar pada kabinet dapur. Napasnya memburu, seolah terperangkap dalam ruang sempit yang tak terlihat.
“Bukan sekarang…” bisiknya lirih. “Sudah berlalu…”
Namun tubuhnya tidak bisa dibohongi. Dada Aylin terasa sangat berat, seolah ada tangan tak kasatmata yang menekan kuat jantungnya. Jarinya mencengkeram ujung baju, mencoba menenangkan diri. Beberapa menit berlalu. Aylin akhirnya menarik napas panjang berulang kali, hingga getaran di tangannya mereda.
Ia bangkit perlahan, menatap pantulan dirinya di kaca lemari. Wajahnya pucat, matanya kosong.
“Aku baik-baik saja,” ucapnya pada diri sendiri, meski suaranya nyaris tak terdengar. “Aku sudah sembuh.”
Ponselnya bergetar di meja. Pesan dari Aksara: Aku pulang agak malam. Jangan tunggu.
Aylin membaca pesan itu lama. Terlalu lama untuk sekadar kalimat singkat. Ada rasa lega, tapi juga sesuatu yang lain. Takut? Atau justru merasa aman karena ia sendirian? Ia meletakkan ponselnya, lalu berjalan ke balkon.
Lampu-lampu kota menyala, indah dan jauh. Dunia di luar sana tampak berjalan normal, seolah tidak peduli pada luka yang diam-diam berdenyut di dalam dadanya. Aylin memeluk lengannya sendiri. Trauma itu tidak hilang. Ia hanya sedang bersembunyi. Dan Aylin tahu, suatu hari nanti, ia akan kembali muncul.
Di sisi lain, Aksara berada di sebuah klub malam bersama teman-temannya. Ia sudah mulai merasa bosan dan jenuh. Dulu ia menikmati suasana ini, tapi sejak ada Aylin, semuanya terasa berbeda.
"Pengantin baru, jangan cemberut dong. Belum dapat jatah, hm?" goda salah satu teman Aksara, membuat Arvano mendelik tajam.
"Shit! Berisik kalian. Gue pulang dulu, sudah jam dua belas malam," pamit Aksara dingin.
"Loh! Baru juga jam segini. Biasanya juga lo balik subuh," yang lain menyahut heran.
"Kalian saja, aku mau pulang." Aksara pun pergi meninggalkan ruangan VIP tanpa memedulikan tatapan teman-temannya.
Hal itu membuat Arvano sangat marah. "Kenapa sih? Biarin saja, Van. Aksara itu pengantin baru, harusnya kita nggak usah undang dia tadi," celetuk teman lainnya.
"Berisik!" balas Arvano kesal.
Ia menatap teman-temannya yang berpasangan. Ada rasa iri yang membakar dadanya karena mereka bisa bebas menunjukkan hubungan mereka. Sedangkan dia? Ia harus sembunyi-sembunyi. Bahkan mungkin semut pun tidak tahu bahwa Aksara adalah miliknya.
Bersambung ...
Selamat Tahun Baru 🎇🎆🎇
😄😄
🤣
berarti muka'mu tetap datar ya Aks...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣