Setelah patah hati dimanfaatkan teman sendiri, Alana Aisyah Kartika dikejutkan dengan tawaran yang datang dari presdir tempatnya bekerja, Hawari. Pria itu menawari Lana menikah dengan anak satu-satunya, Alfian Abdul Razman yang lumpuh akibat kecelakaan. Masalahnya, Fian yang tampan itu sudah menikah dengan Lynda La Lune yang lebih memilih sibuk berkarier sebagai model internasional ketimbang mengurus suaminya.
Hawari menawari Lana nikah kontrak selama 1 tahun dengan imbalan uang 1 milyar agar bisa mengurus Fian. Fian awalnya menolak, tapi ketika mengetahui istrinya selingkuh, pria itu menjadikan Lana sebagai alat balas dendam. Lana pun terpaksa menikah karena selain takut kehilangan pekerjaan, adiknya butuh biaya untuk kuliah.
Namun, kenyataan lain datang menghadang. Fian ternyata bukan anak kandung Hawari melainkan anak seorang mafia Itali yang menghilang sejak bayi.
Mampukah Lana bertahan dengan pria galak, angkuh, dan selalu otoriter ini? Lalu, bagaimana nasib mereka ketika kelu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Berangkat
Fian menghela napas. Kenapa situasinya jadi sulit begini, padahal ia tidak ingin mengubah kehidupannya kini. Bagaimana kalau ia tidak menyukai kehidupan di sana? Bisakah ia kembali ke Jakarta?
Fian meminta waktu sehari untuk berpikir, tapi orang-orang itu tak mau pergi dari rumahnya. Mungkin karena mereka mengira Fian akan kabur kalau tidak mau pulang ke Itali. Fian bahkan pusing karena orang-orang itu menempati ruang tamunya untuk tempat tinggal.
***
"Apa!?" Giorgio membelalakkan matanya.
Wanita yang berpakaian pelayan di depannya, wajahnya tertunduk dan nampak bingung. Ia memainkan kedua telunjuknya dengan saling berkaitan.
"Kau hamil dan minta tanggung jawabku? Hei, jangan-jangan kau hanya ingin anak yang dikandungmu memakai nama Fiore, iya kan? Dengan siapa saja kamu tidur, hah? Jangan baru tidur denganku sekali, kamu malah menuntutku!" kilah Giorgio geram.
Wanita muda itu mengangkat wajahnya yang sendu sambil menggelengkan kepala. "Tidak, Tuan. Aku tidak pernah tidur dengan orang lain." Wajah cantiknya kini mulai basah dengan air mata.
"Jangan bohong kamu!" Giorgio semakin murka. Kedua tangannya di samping mulai terkepal.
"Sungguh, Tuan," ucap wanita itu bingung. Bukan apa-apa. Yang terjadi bukanlah keinginannya, tapi pemaksaan anak majikannya. Lalu kini, ia harus menerima konsekuensinya. Padahal mendatangi pria ini saja untuk memberi tahu soal ini, butuh keberanian.
"Brenggsek! Kau mau memerasku ya!" Giorgio mendorong wanita itu hingga terjatuh ke tanah.
"Tidak, Tuan ...." Pilu hati wanita itu karena pria itu menyangkal anak yang dikandungnya.
Giorgio melihat sekeliling. Ia takut ketahuan walaupun sudah berada di taman belakang rumah yang terlihat sepi. Bagaimana kalau ayah dan ibunya tahu, terlebih bagaimana kalau pacarnya juga tahu? Ia memang tergoda dengan kecantikan pelayannya itu hingga memaksanya berhubungan intim, tapi ia tak menyangka apa yang terjadi saat itu telah membuahkan hasil dengan cepat.
"Baik, aku akan memberimu kompensasi, tapi kamu harus berhenti dari pekerjaanmu sekarang dan pergi dari sini. Aku tidak mau melihatmu lagi," ucapnya setengah berbisik. Matanya masih melihat sekitar, jangan sampai ada yang mengetahui pertemuan mereka berdua.
"Tapi, Tuan ...."
"Tidak ada tapi-tapi! Kalau sampai aku melihatmu lagi, aku tidak jamin hidupmu akan panjang! Kau mengerti!?" Mata pria itu nyalang sudah. Ia begitu marah karena harus berhadapan dengan masalah ini. Sorot matanya begitu tajam pada wanita itu.
Sang wanita dengan lemah mengangguk, pasrah. Tidak ada yang bisa ia pertahanan. Lebih baik pulang kampung dan membesarkan bayi itu sendirian.
"Ya sudah. Berapa nomor rekeningmu. Sini, biar aku transfer." Giorgio mengeluarkan ponselnya.
***
Di dalam pesawat, Fian lebih banyak diam dan menatap ke luar jendela. Ia masih bingung dengan keputusannya berangkat ke Itali bersama dengan rombongan pria ini, tapi ia tak punya pilihan. Seperti kata Hawari, ia mau tak mau harus menghadapinya. Menghadapi kenyataan yang selalu disangkalnya. Pun ia juga sering berkhayal tentangnya.
Sejak kecil, Fian sudah tahu ia bukanlah anak kandung pasangan Hawari dan Sarah. Itu karena banyak yang membicarakan dirinya sebab warna kulit dan wajahnya berbeda dari kedua orang tuanya. Hawari pun tidak menyangkal ketika ditanya, tapi Fian sendiri malah yang ketakutan kehilangan kedua orang tua angkatnya ini ketika tahu kenyataan itu. Ia merasa dibuang orang tua kandungnya, walaupun Hawari mengatakan hal yang sebaliknya.
"Mas, kok belum dimakan steak-nya?"
Fian menoleh pada istrinya. "Aku malas makan ini. Apa ada menu lainnya?"
"Tadi pilihannya gak dilihat?" lanjut Lana mengerut dahi.
"Aku gak begitu ingin makan, Lana," ujar pria itu dengan mata sendu.
"Makanlah, biar sedikit. Atau mau ganti menu? Tadi ada nasi goreng dan spaghetti gitu. Kenapa ...."
"Ya udah, nasi goreng aja."
"Kenapa gak milih ...." Lana memperhatikan wajah suaminya. Sepertinya pria itu tak fokus melihat dan mendengar apa pun yang diucapkannya. "Ya udah, aku panggil pramugarinya dulu ya."
Untung saja, makanan bisa ditukar walaupun dicemberuti sang pramugari. Fian akhirnya mau makan, walau lebih sering melamun hingga makannya jadi lama.
Mereka berada di business class jadi kursinya tidak banyak walau semua kursi terisi. Di belakang, duduk kelima orang utusan orang tua Fian. Mereka duduk melingkar mengelilingi kursi Fian dan Lana.
Setelah makan, Fian mulai bermanja pada Lana. Ia memeluk lengan istrinya dan mulai memejamkan mata. "Kita tidur saja, yuk! tempatnya masih jauh." Pria itu bersandar ke belakang.
Lana tersenyum tipis. Paling tidak suaminya sudah makan sehingga ia tidak khawatir pria itu akan jatuh sakit. Lana merapikan kerudungnya sebelum bersandar.
***
"Kamu yakin hari ini dia sampai di sini?" sahut pria bersuara berat di ujung sana.
"Iya, Sayang. Eugine yang menjemput langsung Alessandro ke Indonesia dan ternyata kini mereka sudah naik pesawat menuju ke sini," ujar Viviana masih meletakkan ponselnya di telinga.
"Ok, aku akan coba tahap pertama."
"Hati-hati, Sayang. Eugine membawa empat bodyguard untuk melindungi Alessandro. Dia juga membawa seorang wanita."
"Mmh, mungkin istrinya."
"Vivianna!"
"Oh, Adrian memanggil. Aku tutup dulu ya." Vivianna yang panik segera mematikan ponsel. Seketika pintu terbuka.
Wajah pria paruh baya itu muncul. "Kamu kenapa masih di kamar? Apa kamar Alessandro sudah siap? Bagaimana dengan makan siangnya?"
Wanita itu merengut. "Kamu pikir aku pembantu, apa? Kan kamu bisa tanya sendiri ke pelayan?" Mulutnya makin mengerucut.
"Hei, bukankah kamu yang mengaturnya? Pertanyaanku gak aneh, 'kan?" Pria bule berambut hitam kecoklatan itu bingung menghadapi istrinya. "Itu anakku juga, apa aku tidak bisa sedikit saja meminta bantuan darimu?" Adrian melangkah masuk. "Padahal aku selalu memenuhi permintaanmu setiap kali itu menyangkut Giorgio."
"Ya sudah, aku kerjakan." Vivianna malas berdebat dengan suaminya hingga beranjak berdiri dan pergi ke luar. Ia bergerak dengan langkah yang sedikit diseret.
"Pastikan itu makanan yang terbaik ya? Oke?"
Vivianna sempat berhenti melangkah mendengar ucapan Adrian. Bola matanya berputar karena kesal. Ia menghela napas pelan. "Iya ...," jawabnya dengan malas. Kembali ia meneruskan langkahnya ke dapur.
***
Fian sudah keluar bandara bersama Lana dan rombongan. Mobil penjemput pun sudah datang.
Namun, kemudian Lana meminta waktu sebentar. "Mas, aku mau ke toilet dulu."
Fian melihat sekitar. "Oh, di sana." Ia menunjuk ke sebuah lorong di sebelah sebuah toko karena ia melihat papan petunjuk di atas.
Lana pun melangkah ke sana.
"Jangan lama-lama ya." Fian memperhatikan istrinya sampai hilang dari pandangan.
Lana keluar dari bilik kecil toilet. Toilet kebetulan sepi. Tiba-tiba seorang wanita mendorongnya kembali ke dalam tempat sempit itu.
"Eeh ...." Lana melihat seorang wanita berwajah Eropa yang berpakaian petugas kebersihan bandara. "Ka-mu ...." Kemudian ia sadar, wanita ini pasti tak bisa bahasa Indonesia. "Eh, you ...."
"Kamu istri Alfian, 'kan?"
Kedua mata Lana membola. "Oh, bisa bahasa Indonesia ya? Eh, iya, Saya istri Alfian."
"Apa kamu bisa bujuk suamimu untuk ikut denganku?"
"Eh?" Lana melongo. "Kenapa?"
"Ikut saja denganku, kalian pasti akan selamat."
Lana memperhatikan wajah wanita di depannya. Wajahnya cantik walau tidak pakai make-up. Rambutnya hitam diikat ke belakang dengan warna kulit putih seperti Fian. Ia memakai topi sehingga wajahnya tidak terlalu jelas kecuali seperti sekarang, mereka saling berdekatan.
Namun, bagaimana bisa Lana percaya pada wanita ini karena mereka baru saja bertemu di negara asing ini. "Eh, maaf. Kami dijemput ...."
Bersambung ....