Di dunia Arcapada, tempat sihir kuno Nusantara berpadu dengan teknologi mesin uap, Raden Bara Wirasena hidup sebagai pangeran terbuang yang dikutuk menjadi wadah Api Garuda.
Dikhianati oleh Catur Wangsa yang korup, Bara bangkit dari debu sebagai Dewa Kujang.
Bersama putri bangsawan yang terusir dan preman berhati emas, ia memimpin Pasukan Surya untuk meruntuhkan tirani Kaisar Brawijaya VIII.
Namun, perebutan takhta hanyalah awal. Jejak ayahnya yang hilang menuntun Bara menyeberangi samudra mematikan menuju Benua Hitam, di mana ancaman kiamat yang sesungguhnya sedang menanti.
Ini adalah hikayat tentang revolusi, pengorbanan, dan pembakaran takdir demi era baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Telinga Tikus dan Ratu Distrik Merah
Bab 26: Telinga Tikus dan Ratu Distrik Merah
Penjara Benteng Besi - Level 5 (Hari ke-3).
Dalam kegelapan total, waktu kehilangan maknanya. Tidak ada matahari terbit atau terbenam. Hanya ada ritme tetesan air dari langit-langit gua yang bocor. Tes... Tes... Tes...
Bara duduk bersila di lantai dingin. Di depannya, ada mangkuk besi berisi bubur berwarna abu-abu yang baunya seperti kaus kaki basah. "Bubur Protein", begitu sipir menyebutnya. Terbuat dari campuran sisa makanan, tepung tulang, dan serangga yang digiling.
Bara menatap bubur itu dengan jijik, perutnya melilit perih.
"Makan," suara Empu Angin terdengar dari balik dinding. "Kalau kau muntah, telan lagi. Tubuhmu butuh bahan bakar untuk melawan dinginnya Batu Laut."
Bara menyendok bubur itu dengan tangan gemetar. Rasanya pahit dan berpasir. Dia menelannya paksa, menahan keinginan untuk memuntahkannya.
"Bagus," komentar Empu Angin, seolah bisa melihat menembus dinding. "Sekarang, tutup matamu. Apa yang kau dengar?"
"Suara air menetes. Napas Bapak. Dan suara tikus menggerogoti sesuatu," jawab Bara.
"Dangkal," cemooh Empu Angin. "Itu suara yang didengar telinga fisik. Gunakan tulangmu. Tempelkan punggungmu ke dinding. Batu ini padat. Dia menghantarkan getaran dari jarak satu kilometer."
Bara menurut. Dia menempelkan punggung dan belakang kepalanya ke dinding sel yang lembap.
Awalnya hening. Tapi perlahan, Bara mulai menangkap getaran halus.
Dug... Dug... Dug...
"Ada langkah kaki," bisik Bara. "Berat. Berirama. Tiga orang."
"Jarak?" tanya Empu Angin.
"Jauh... mungkin dua lorong dari sini?"
"Salah. Mereka ada di atas kita. Di Level 4. Itu patroli sipir yang sedang menyeret mayat," koreksi Empu Angin. "Dengarkan gesekannya. Sreeet... itu bunyi tumit kaki yang diseret."
Bara merinding. Orang tua ini mengerikan. Dia buta di dalam sel, tapi dia tahu segalanya.
"Kenapa kau mengajariku ini, Empu?" tanya Bara. "Bukankah kau membenciku karena menyebut nama Raden Wijaya?"
Hening sejenak.
"Aku membenci Wijaya karena dia bodoh," suara Empu Angin terdengar getir. "Dia Raja yang terlalu baik. Dia percaya pada Catur Wangsa. Dia pikir perdamaian bisa dicapai dengan senyuman dan diplomasi. Akibatnya? Dia diracun, dan aku dibuang ke sini."
Empu Angin menghela napas panjang.
"Tapi kau... kau beda. Kau punya api yang lebih ganas. Aku bisa mencium bau asap di jiwamu, Nak. Kau bukan tipe yang akan tersenyum saat ditikam. Kau tipe yang akan membakar rumah si penikam."
"Jadi?"
"Jadi, aku bosan," dalih Empu Angin. "Dan kalau kau mati cepat, aku tidak punya teman ngobrol. Mulai sekarang, aku akan melatihmu 'Ilmu Raga Bayangan'. Cara membunuh tanpa Prana. Cara menjadi hantu."
---
Sementara itu, di permukaan.
Malam di Distrik Merah (Kembang Sore) selalu meriah. Lampu-lampu lampion merah menyala remang-remang, menyamarkan wajah-wajah lelah para buruh pabrik yang mencari hiburan murah, judi, dan arak oplosan.
Seorang wanita berjalan menyusuri gang semnit yang becek. Dia mengenakan tudung lusuh yang menutupi sebagian besar wajahnya.
Itu Rara Anjani.
Tidak ada lagi gaun sutra. Tidak ada lagi parfum melati. Anjani kini mengenakan pakaian goni kasar yang dia curi dari jemuran warga. Rambut panjangnya yang indah telah dia potong pendek sebahu dengan pisau dapur agar tidak dikenali.
Dia berhenti di depan sebuah bangunan kayu bertingkat tiga yang paling megah di distrik itu. Papan namanya bertuliskan: "Istana Bunga Terlarang".
Dua penjaga bertubuh kekar dengan tato naga menghadangnya.
"Eits, mau ngapain, Neng? Mau melamar kerja jadi kupu-kupu?" goda salah satu penjaga sambil menyeringai mesum.
Anjani mengangkat wajahnya sedikit. Matanya dingin, memancarkan aura bangsawan yang tidak bisa disembunyikan oleh baju gembel.
"Aku mau bertemu pemilik tempat ini. Nyai Drupadi," kata Anjani tegas.
Para penjaga tertawa terbahak-bahak. "Nyai Drupadi? Kau pikir siapa kau? Gelandangan mau ketemu Ratu Distrik?"
Salah satu penjaga hendak mencolek dagu Anjani.
CRAK!
Gerakan Anjani secepat kilat. Dia menangkap jari penjaga itu, memuntirnya ke belakang, lalu menendang lututnya hingga patah.
Penjaga itu menjerit. Temannya kaget dan mencabut golok.
"Ada keributan apa ini?"
Suara wanita yang berat dan berwibawa terdengar dari balkon lantai dua.
Seorang wanita paruh baya yang cantik, mengenakan kebaya merah menyala dan memegang pipa cerutu panjang, menatap ke bawah.
Nyai Drupadi. Penguasa dunia bawah tanah Ibu Kota.
"Nyai!" penjaga yang masih berdiri melapor gugup. "Gelandangan ini membuat onar! Dia memaksa bertemu Nyai!"
Drupadi menatap Anjani. Dia melihat cara berdiri Anjani. Tegak. Angkuh. Kuda-kuda bela diri keluarga bangsawan.
Drupadi tersenyum tipis, menghembuskan asap rokoknya.
"Gelandangan yang bisa mematahkan lutut preman dalam satu detik bukan gelandangan biasa," kata Drupadi. "Bawa dia naik. Lewat pintu belakang."
---
Ruangan itu wangi dupa dan mawar. Drupadi duduk di kursi malasnya, sementara Anjani berdiri kaku di depannya.
"Duduklah, Rara Anjani," kata Drupadi santai.
Anjani tersentak. "Kau tahu siapa aku?"
"Sayangku, aku tahu warna celana dalam Kaisar kalau aku mau," Drupadi tertawa kecil. "Berita tentang 'Putri Wangsa Tirtamaya' yang kabur dari pertunangan dan membakar asrama bersama anak haram Wijaya sudah jadi gosip terpanas minggu ini."
Anjani melepas tudungnya. "Kalau begitu, kau tahu kenapa aku di sini."
"Kau mau menyelamatkan pacarmu yang dikurung di Level 5?" tebak Drupadi. "Lupakan. Itu misi bunuh diri. Tidak ada yang pernah keluar dari sana."
"Dia bukan pacarku," sangkal Anjani cepat, pipinya memerah sedikit. "Dia... rekan. Dan dia satu-satunya harapan untuk menghancurkan Catur Wangsa."
"Dan apa untungnya buatku?" Drupadi menatap tajam. "Aku pedagang informasi, Anjani. Bukan pahlawan revolusi. Bisnisku lancar di bawah pemerintahan sekarang."
"Benarkah?" Anjani menatap balik. "Aku dengar pajak tempat hiburan naik 200% bulan lalu. Aku dengar anak buahmu sering diciduk tanpa alasan oleh Elang Hitam. Sampai kapan kau mau diam, Nyai?"
Drupadi terdiam. Asap rokoknya mengepul.
"Kau punya mulut yang tajam, persis ibumu dulu," gumam Drupadi.
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka kasar.
Seorang pemuda besar masuk sambil membawa nampan berisi teh. Dia memakai celemek pelayan yang kekecilan untuk badannya yang berotot.
"Nyai, tehnya su— Lho? Mbak Anjani?!"
Anjani menoleh. "Jaka?!"
Itu Jaka, sahabat Bara. Dia ternyata sudah menyusup ke sini lebih dulu dengan menyamar menjadi pelayan magang.
"Kalian saling kenal?" Drupadi mengangkat alis. "Bagus. Hemat waktu perkenalan."
Drupadi mematikan rokoknya di asbak emas. Wajahnya berubah serius.
"Baiklah. Aku tidak suka Catur Wangsa. Terutama si babi Rangga itu. Tapi aku tidak punya pasukan tempur. Aku cuma punya mata dan telinga."
"Itu yang kami butuhkan," kata Anjani. "Kami butuh denah penjara. Jadwal pergantian penjaga. Dan... akses ke saluran pembuangan limbah penjara."
"Saluran limbah?" Jaka meringis. "Jangan bilang kita mau masuk lewat jamban lagi?"
"Itu satu-satunya jalan yang tidak dijaga sihir, Bodoh," kata Anjani.
Drupadi membuka laci mejanya, mengeluarkan sebuah gulungan kertas tua.
"Ini cetak biru sistem drainase Ibu Kota zaman dulu. Penjara Benteng Besi dibangun di atas reruntuhan kuil kuno. Ada celah ventilasi di Sektor 5 yang terhubung ke sungai bawah tanah."
Drupadi menyerahkan peta itu pada Anjani.
"Tapi ingat," peringatkan Drupadi. "Kalian butuh pengalih perhatian. Kalian tidak bisa menyusup kalau penjaganya siaga penuh."
"Pengalih perhatian..." Anjani berpikir keras. Matanya menatap Jaka, lalu menatap Drupadi. "Nyai, minggu depan adalah Festival Bulan Purnama, kan? Saat Kaisar mengarak pusaka kerajaan keliling kota?"
"Ya. Kenapa?"
Anjani tersenyum tipis. Senyum yang berbahaya.
"Bagaimana kalau kita buat pesta kembang api yang sedikit... berlebihan?"
---
Glosarium & Catatan Kaki Bab 26
Distrik Merah (Ring Luar): Area kumuh tempat hukum kerajaan lemah. Tempat berkumpulnya buronan, pedagang pasar gelap, dan informasi ilegal.
Ilmu Raga Bayangan: Teknik bela diri kuno yang diajarkan Empu Angin. Fokus pada efisiensi gerakan, serangan titik vital, dan penyembunyian hawa keberadaan (Stealth), cocok untuk Bara yang sedang kehilangan Prana.
Festival Bulan Purnama: Event besar tahunan di ibu kota. Momen strategis di mana penjagaan terbagi antara mengawal festival dan menjaga penjara.