NovelToon NovelToon
BODYGUARD DENGAN MATA LANGIT

BODYGUARD DENGAN MATA LANGIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kultivasi Modern / Mata Batin / Tamat
Popularitas:23.8k
Nilai: 5
Nama Author: Blue79

Calvin Arson hanyalah pemuda miskin yang hidup dari berjualan di pinggir jalan. Suatu hari, ia menemukan sebongkah batu giok aneh yang mengubah seluruh takdirnya. Dari situlah ia memperoleh kemampuan untuk melihat menembus segala hal, serta "bonus" tak terduga: seorang iblis wanita legendaris yang bersemayam di dalam tubuhnya.

Sejak saat itu, dunia tidak lagi memiliki rahasia di mata Calvin Arson.

Menilai batu giok? Cukup satu lirikan.

Membaca lawan dan kecantikan wanita? Tidak ada yang bisa disembunyikan.

Dari penjaja kaki lima, ia naik kelas menjadi pengawal para wanita bangsawan dan sosialita. Namun, di tengah kemewahan dan godaan, Calvin Arson tetap bersikap santai dan blak-blakan:

"Aku dibayar untuk melindungi, bukan untuk menjadi pelayan pribadi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blue79, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35

Di dalam toko giok, suasananya berantakan.

George dan Regina benar-benar ingin membenturkan kepala ke tembok. Ini benar-benar kerugian total; prajurit tumbang, harta pun melayang.

Membayangkan hari-hari ke depan tanpa pelanggan, toko sepi, bahkan uang sewa pun tidak sanggup dibayar, tatapan Regina kembali mengeras. Ia berkata, “Suamiku, masalah ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Batu giok itu harus kita rebut kembali. Kalau tidak, seluruh keluarga kita akan makan batu. Rumah, mobil, semuanya akan jadi milik orang lain. Kita bakal jadi pengemis!”

George menatap beberapa preman yang tergeletak sambil merintih. Untuk sesaat, ia tidak punya ide. Kekuatan Calvin terlalu mengerikan. Meja panjang sebesar itu saja bisa ditendang terbang. Kalau ia maju sendiri, bukankah ia akan dihantam sampai hancur?

Seorang preman yang bahunya tertancap golok semangka adalah bos kelompok itu. Ia cukup keras kepala dan tidak banyak mengeluh. Ia berkata, “Kalau dugaanku tidak salah, bocah itu pasti seorang praktisi bela diri. Kak George, di organisasi kami juga ada praktisi bela diri, bahkan yang sangat kuat. Menurutku, urusan ini harus segera dilaporkan untuk meminta bantuan bosku. Bosku bukan hanya punya orang, tapi juga ini.”

Ia mengangkat tangan membentuk isyarat pistol.

“Sekuat apa pun praktisi bela diri, tetap takut benda ini. Mereka belum lari jauh, kita kejar sekarang. Tapi, bosku punya aturan; untuk urusan seperti ini, dia minta bagian setengahnya.”

Regina langsung mengambil keputusan. “Setengah juga lebih baik daripada tidak dapat sama sekali. Cepat telepon bosmu! Bocah sialan itu, sebaiknya dilumpuhkan sekalian.”

Ada sebagian wanita yang memang tidak masuk akal, bahkan menakutkan. Regina sebenarnya sama sekali tidak punya dendam dengan Calvin. Hanya karena Calvin tanpa sengaja berkomentar “terlalu mahal”, ia langsung menyimpan kebencian. Ketika harta besar muncul di depan mata, ia nekat melangkah lebih jauh, membuat situasi makin tak terkendali. Sampai sekarang, ia berharap bisa mencabik-cabik Calvin.

Di tempat lain.

Calvin bersama Raditya dan Vivian berjalan cepat menuju luar pasar. Tempat ini berada di lingkar dalam pasar sehingga jarak ke pintu utama cukup jauh. Ditambah lagi, lalu-lalang wisatawan dan pedagang sangat padat. Saat mereka tiba di pintu keluar, sepuluh menit sudah berlalu. Setelah menunggu lima hingga enam menit lagi, barulah mereka mendapatkan sebuah taksi.

“Cepat, langsung ke bandara,” kata Vivian.

Sopirnya seorang pria paruh baya. Ia menoleh, lalu melirik Raditya di samping sambil tersenyum, kemudian perlahan menjalankan mobil. “Sekarang sedang masa festival judi batu. Jalan sekitar sini macet semua. Tidak bisa mengebut.”

Ia lalu bertanya, “Acaranya belum selesai, kalian sudah pulang? Dapat hasil?”

Vivian tertawa kecil. “Tidak ada. Kurang beruntung, uang habis buat judi. Ada urusan mendesak di rumah. Tolong cepat, ya, kami mengejar pesawat.”

“Baik, aku usahakan. Jalan utama macet, aku ambil jalan kecil.”

Calvin tersenyum ke arah Vivian tanpa bicara. Sopir itu memang sangat hafal daerah sekitar. Ia membelok ke kawasan komersial, melewati dua gang kecil, lalu masuk ke jalan kerikil di pinggiran. Mobil berguncang sebentar sebelum kembali ke jalan nasional. Tak lama kemudian, Calvin melihat sopir itu menelepon.

“Paman Santo, ini Boy. Aku ke bandara sebentar lewat Jalur Kecil Nomor Tiga, cepat kok. Iya, daging babi yang kau minta akan kubawakan pas pulang. Jangan khawatir.”

Setelah menutup telepon, ia berkata agak canggung, “Pamanku sudah tua, suka sekali makan daging babi. Tadi jalanan macet, aku sampai lupa. Nanti harus mampir beli.”

Vivian tersenyum kecil. Namun, melalui kaca spion, Calvin bertatapan dengan Raditya. Suara di telepon itu memang pelan, tetapi mereka bukan orang biasa sehingga tentu mendengarnya dengan jelas. Di seberang, paman itu sempat berkata, “Bagus. Tetap tenang, jangan sampai ketahuan. Tunggu di tempat lama.”

Sementara itu, Vivian masih larut dalam kegembiraan karena Calvin memotong batu dan mendapatkan giok kelas atas jenis lama kualitas kaca. Tiga juta berubah menjadi harta bernilai lebih dari lima miliar. Ia benar-benar tidak tahu harus menggambarkannya dengan apa; keberuntungan yang melawan langit.

Benar-benar sekali tebas langsung kaya. Keuntungan tahunan perusahaannya, Atelier Jewelry, hanya satu hingga dua miliar saja. Dalam sekejap, Calvin telah melampauinya.

Rasanya aku juga ingin kembali dan berjudi beberapa kali lagi. Datang ke Rumbai Merah, mereka berdua untung besar, tapi aku tidak berjudi sama sekali. Menyebalkan, batin Vivian.

Saat Vivian merasa sedikit kesal, Calvin tiba-tiba mengulurkan tangan dan dengan lembut menekan punggung tangannya, bahkan mencubitnya pelan.

Apa ini?

Vivian terkejut dan refleks ingin menarik tangannya. Dalam hati ia berpikir, Bocah ini tidak mungkin sebrengsek itu, kan? Baru saja bilang mau memberikan giok terbaik padaku secara gratis, sekarang malah menyentuhku. Dia menganggapku apa? Wanita yang menjual diri?

Ia mengangkat kepala dan menatap Calvin dengan tajam, berusaha melepaskan pergelangan tangannya. Namun, tenaga Calvin sangat besar sehingga ia tidak bisa melepaskan diri. Saat hendak memarahinya, Calvin justru mencengkeram lebih erat, mencubit beberapa kali, lalu berkedip padanya dan perlahan mendekatkan kepala.

Ya Tuhan, jangan-jangan dia mau menciumku? Waktu itu dadaku sudah disentuh, kali ini masa ciuman pertamaku juga mau direbut?

Vivian bergulat batin, ragu apakah harus menamparnya. Namun, Calvin tidak mendekat ke bibirnya. Ia hanya mencondongkan wajah ke telinga Vivian dan berbisik pelan, “Kak, sopirnya bermasalah. Nanti ikuti aku.”

Mata Vivian langsung membelalak. Namun, sebagai wanita elite dunia bisnis, ia mampu mengendalikan emosi. Lagi pula, ada dua pria di sisinya. Jantungnya kembali tenang. Ia justru merasa bersalah karena telah salah paham pada Calvin.

Pada saat yang sama, Calvin sudah melepaskan tangannya dan mengaktifkan penglihatan tembus pandang untuk mengamati tubuh sopir itu. Di balik ujung celana sopir, terselip sebuah belati.

Hmm, entah pihak mana yang kali ini bergerak. Kekayaan memang sesuatu yang bisa membuat orang gila.

Sebenarnya, cara terbaik adalah mengendalikan sopir, berbalik arah, lalu mengganti kendaraan. Namun, Calvin tidak bisa menyetir. Ia juga khawatir sopir itu nekat menginjak gas dan menabrakkan mobil. Dalam kondisi itu, sekalipun ia seorang kultivator dengan Teknik Angin Cepat, mustahil untuk kabur seketika, terlebih ada Vivian dan Raditya. Di sisi lain, ia juga ingin tahu siapa yang berada di balik rencana ini.

Tak lama kemudian, mobil keluar dari jalan nasional dan berhenti di depan sebuah pabrik terbengkalai. Sopir berkata dengan nada minta maaf, “Maaf, sepertinya perutku bermasalah. Di sini ada toilet. Tunggu sebentar, aku segera kembali.”

Ia mencabut kunci dan turun. Calvin segera menarik Vivian untuk turun juga, Raditya menyusul di belakang.

“Pak, jangan buru-buru. Kami juga mau ke toilet. Sekalian saja.”

Sopir itu tertegun, wajahnya tampak kaku. Tidak mungkin ia melarang mereka ikut, jadi ia hanya bisa tersenyum kaku dan membawa mereka masuk ke pabrik kosong itu. Namun, baru saja mereka masuk, terdengar ledakan keras dari luar.

Boom!

Sebuah truk besar berwarna biru entah dari mana datangnya menghantam bagian depan taksi. Taksi itu berputar dua kali seperti mainan, lalu terguling keras dan menabrak dinding. Beberapa orang serentak menoleh ke luar.

Wajah Vivian pucat pasi, tubuhnya gemetar. Orang-orang ini terlalu kejam; ini jelas percobaan pembunuhan.

1
Jujun Adnin
lagi
Mahpud Toxs
mantap boss.
Achmad
semangat Thor
Achmad
gasss Thor
Achmad
lanjutkan thor
Achmad
interesting
Achmad
semangat Thor lanjut jangan kendor terimakasih
Night Watcher
cepetan up throrrr.. dah kangen sama kak polwan nih.. 🤭🤭
Jujun Adnin
ok
Night Watcher
hayuu kanjuuuttt.. jgn lama2 mampir.. cerita pokoknya cepet disentil.. 💪
Night Watcher
dirasa2in emang lelet & bodoh perinya.. 🤦
Jujun Adnin
kopi
Jujun Adnin
good
Gege
apik dan epic yang jelas tidak ada kalimat hasil generate ai...💪
Jujun Adnin
lebih
MU Uwais
lanjut
Achmad
mengapa MC nya sombong
Jujun Adnin
yang banyak
Lasimin Lasimin
bagus
Jujun Adnin
lagi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!