"Ibu mau kemana? " suara Rara kecil nyaris tak terdengar.
Ibu menoleh sekilas. Mata mereka bertemu sejenak, lalu ibu buru-buru membuang pandangan. Ia mendekat, memeluk Rara sekilas. cepat sekali, seperti orang yang terburu-buru ingin pergi dari mimpi buruk.
"Kamu di sini dulu ya sama ayah. Kalau ada rezeki, kamu dan Alisya ibu jemput," bisiknya pelan, sebelum berbalik.
Rara tak mengerti. Tapi hatinya nyeri, seperti ada yang hilang sebelum sempat digenggam. Ketika mobil itu perlahan menjauh, ia masih berdiri mematung. Air matanya jatuh, tapi tak ia sadari.
"Rara Alina Putri" Namanya terpanggil di podium.
Ia berhasil wisuda dengan peringkat cumlaude, matanya berkaca. kepada siapakah ini pantas di hadiahkan?
Jika hari ini ia berdiri sendiri di sini. Air bening mengalir tanpa terasa, Langkah Kecil Rara sudah sejauh ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Juara Yang Sunyi
Rara masih menatap rapornya. Perasaan yang datang bercampur aduk—antara bangga dan tak percaya. Ia tak pernah menyangka, semua usaha dan lelahnya mampu membawanya melangkah sejauh ini.
“Ra, kira-kira ayahmu nanti bakal senang atau nggak, ya?” tanya Karin pelan.
Rara mengangkat wajah, menatap Karin sekilas, lalu menggeleng. Ia sendiri tak mampu menebak bagaimana reaksi ayahnya setelah tahu ia meraih juara dua.
“Kakak hebat, ya?” sela Alisya dengan mata berbinar.
“Tapi aku nggak bisa kayak Kak Rara,” lanjutnya polos.
Ucapan itu membuat Rara mendekat. Ia berjongkok di hadapan adiknya, tersenyum hangat.
“Kamu pasti bisa, asal belajarnya sungguh-sungguh,” ucapnya penuh keyakinan.
“Tapi aku nggak sehebat Kakak menghitung,” balas Alisya lirih sambil melangkah gontai di pematang sawah.
Rara terkekeh pelan. Alisya memang sulit fokus. Ia lebih suka bermain daripada duduk belajar bersamanya.
Mereka terus berjalan menyusuri pematang dengan hamparan padi yang mulai menguning. Angin sore berembus pelan, membawa aroma tanah dan jerami. Tak lama kemudian, mereka tiba di jalan beraspal berkerikil. Panas aspal menembus telapak kaki Rara melalui sepatu yang sudah menipis.
Bahkan ibu jempol kakinya telah mengintip keluar—menjadi saksi kecil dari perjuangan yang ia jalani selama ini.
Panas terasa menyengat, namun langkah Rara justru ringan. Ejekan yang selama ini ia terima perlahan berganti dengan ucapan selamat dari orang-orang yang dulu memusuhinya.
Terkecuali Alea.
Tatapan gadis itu masih tajam. Bahkan setelah tahu Rara menjadi juara, Alea justru mencibir tanpa ragu.
“Kamu cuma kebetulan saja,” ucapnya singkat namun nyelekit. “Lihat catur wulan berikutnya. Pasti nggak akan juara lagi.”
Rara hanya menoleh sekilas. Tak ada balasan. Ia memilih diam—bukan karena kalah, melainkan karena tak ingin membiarkan kata-kata itu merampas kebahagiaannya hari ini.
Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, Rara akhirnya sampai di depan rumahnya. Dari luar terdengar suara yang tak lagi asing baginya.
“Ayah sudah pulang,” desisnya pelan.
Tangannya mulai gemetar, bukan karena takut dimarahi, melainkan karena terlalu gembira ingin menyampaikan kabar itu. Senyum mengembang di wajahnya, jantungnya berdebar tak beraturan.
Rara melangkah masuk ke dalam rumah dengan napas tertahan. Seorang laki-laki paruh baya menoleh sekilas ke arahnya, lalu kembali memusatkan perhatian pada wanita paruh baya di sampingnya.
Rara menggenggam rapor itu erat-erat.
“Ayah… Rara juara dua,” ucapnya bergetar, penuh harap.
Laki-laki itu mendelik sejenak, lalu mengangguk pelan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Rara mengulurkan rapornya, berharap ayahnya akan melihat. Namun harapan itu harus berujung pahit.
“Simpan rapornya baik-baik, jangan sampai hilang.”
Ucapan itu menyadarkan Rara dari mimpi singkatnya. Dadanya sesak. Perasaan yang tadi membuncah tiba-tiba meredup begitu cepat.
“Ayah tidak mau melihat dulu?” tawarnya sekali lagi, berharap keputusan itu berubah.
Ayahnya meraih rapor Rara, lalu meletakkannya begitu saja di atas meja.
“Tukar bajumu dulu. Habis itu makan, ajak adikmu.”
Ada air mata yang ia tahan agar tak jatuh di depan ayahnya.
“Udah, cepat sana ganti baju,” timpal wanita di sebelah ayahnya sambil menyunggingkan senyum sinis.
Rara beranjak meninggalkan dua orang dewasa itu. Hatinya bergejolak. Bahagia ini hanya miliknya—tidak untuk dibagi.
Di bilik kecil yang sempit, akhirnya ia menumpahkan air mata yang sejak tadi tertahan. Ia terisak, berusaha menahan suara agar tak mengganggu ayahnya yang masih berbincang hangat dengan ibu tirinya.
Alisya duduk di samping kakaknya, diam seribu bahasa.
Di balik pintu sempit itu, Rara menangis sendirian, menjadi juara tanpa pelukan, tanpa pujian, tanpa siapa pun yang berucap: “Kamu hebat, ya?”