NovelToon NovelToon
Rival Tapi Nempel

Rival Tapi Nempel

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Basket / Persahabatan / Slice of Life / Keluarga / Teen School/College
Popularitas:261
Nilai: 5
Nama Author: Kairylee

Rakha dan Keenan sudah bertahun-tahun saling benci. Satu keras kepala, satu lagi dingin dan gampang naik darah. Dua-duanya sama-sama ahli bikin masalah.

Sampai pelatih baru datang dan memaksa mereka jadi duo inti. Lebih parahnya lagi... ada aturan tambahan. Mereka harus selalu bersama, mulai dari latihan bareng, ngerjain tugas bareng, bahkan pulang pergi bareng. Pokoknya 24/7.

Awalnya terjadi keributan yang cukup besar. Tapi lama-lama, mereka mulai terbiasa. Bahkan tanpa sadar… mereka selalu menempel.

Dan masalahnya cuma satu, bagaimana kalau "benci" itu pelan-pelan berubah jadi sesuatu yang jauh lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairylee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 — Rakha Latihan Sendiri

Cahaya di lapangan basket hampir sepenuhnya padam.

Tinggal tiga lampu yang bertahan—dua dari tribun, satu dari sisi gawang. Itu pun remang-remang, memancarkan cahaya kuning yang jatuh seperti selimut tipis di rumput yang mulai basah.

Lapangan terlihat sunyi. Terlalu sunyi untuk jam segini.

Nayla sebenarnya tidak berniat ke sana. Ia hanya ingin lewat, mengambil buku yang tertinggal di ruang aula. Tidak lebih.

Tapi baru dua langkah—suara itu terdengar.

Thud… thud… thud…

Bola memantul lagi dan lagi.

Pelan, tapi penuh tekanan—seperti seseorang yang menolak berhenti sebelum benar-benar puas pada dirinya sendiri.

Nayla spontan menoleh.

Di tengah lapangan yang hampir kosong itu, hanya ada satu sosok yang masih bertahan.

Rakha.

Nayla belum pernah melihatnya latihan sendirian. Biasanya, begitu sesi selesai, Rakha adalah orang pertama yang pergi. Tidak pernah berlama-lama. Tidak pernah berlebihan.

Tapi sekarang—ia memantulkan bola ke dinding, mengejar pantulannya, lalu mengulang lagi.

Lagi.

Dan lagi.

Gerakannya cepat, rapi. Tapi ada sesuatu yang terlihat berbeda. Bahunya sedikit turun, napasnya lebih berat. Seolah tubuhnya bergerak lebih cepat daripada pikirannya.

Seperti sedang membuktikan sesuatu.

Pada siapa?

Nayla tidak tahu. Mungkin… pada dirinya sendiri.

Tangannya menggenggam pagar besi tanpa sadar.

"Serius latihan sendiri? Jam segini?" bisiknya pelan, lebih pada dirinya sendiri daripada siapa pun.

Ada perasaan aneh menyelinap—campuran penasaran, khawatir, dan sesuatu yang tidak bisa ia beri nama. Perasaan yang membuat kakinya tetap diam di tempat, bukannya melangkah pergi seperti rencana awal.

Di tengah lapangan, Rakha menarik napas panjang. Bahunya turun perlahan, seolah menurunkan beban yang tidak terlihat. Ia menunduk sebentar.

Lalu memulai lagi.

Passing.

Tangkap.

Pivot.

Dan satu passing lagi—lebih tenang.

Seolah ia mencoba menghapus kesalahan dari tubuhnya sendiri lewat repetisi.

Rakha mengambil ancang-ancang. No-look pass yang siang tadi sempat berhasil saat drill bersama Keenan. Gerakannya sama. Sudutnya sama.

Tapi malam ini, bola melenceng jauh ke sisi lapangan.

Rakha mengumpat pelan. "Sial… harusnya bisa."

Nada frustrasinya kali ini tidak tertahan. Ia mengejar bola dengan langkah cepat yang kehilangan kerapian—gerakan seseorang yang didorong tekanan, bukan ambisi.

Nayla akhirnya tidak tahan.

Ia membuka pagar kecil dan melangkah masuk ke lapangan. Pelan. Hati-hati. Seakan takut kehadirannya sendiri bisa merusak sesuatu. Udara malam menggigit kulit lengannya, membuatnya merinding.

Rakha tidak menyadarinya.

Ia mengambil bola lagi. Menatapnya lama bukan sebagai alat latihan, melainkan seperti sumber masalah yang tak kunjung selesai. Lalu ia melempar lagi. Passing ke segala arah, ritmenya semakin cepat, semakin memaksa.

Lampu lapangan yang setengah mati mengikuti gerakannya dengan malas. Bayangan Rakha terpecah-pecah di permukaan lapangan, seperti pikirannya sendiri.

Satu passing meleset keras.

Bola memantul, berlari ke tepi lapangan, lalu berhenti tepat di depan sepasang sepatu.

Nayla menunduk.

Bola itu diam di kakinya.

Rakha spontan menoleh.

Terkejut.

Lalu defensif—semuanya terjadi dalam satu kedipan. Seperti seseorang yang tertangkap sedang melakukan sesuatu yang tidak ingin ia akui.

"Nayla?"

Suara itu keluar pelan, sedikit serak. Dan untuk pertama kalinya, tidak terdengar ketus sama sekali.

Nayla membungkuk, mengambil bola.

"Um… aku nggak sengaja lihat."

Rakha mengusap tengkuknya cepat. Kebiasaan lama. Gerakan orang yang berusaha terlihat biasa saja, padahal pikirannya sedang tidak rapi.

"Aku cuma… nyelesain yang tadi," katanya singkat. Terlalu singkat, seolah kalimat yang lebih panjang bisa membocorkan sesuatu.

"Sendirian?" Nayla mengangkat bola sedikit. "Ini udah malam."

Rakha menarik napas, menahannya sebentar, lalu melepasnya perlahan. Seperti sedang memilih jawaban yang tidak membuatnya terdengar lemah.

Biasanya dia lancar bicara. Terlalu lancar.

Kalau soal Keenan, dia bisa berdebat tanpa henti. Tapi sekarang—jelas dia berhati-hati.

"Tim duo-nya nggak jalan," akhirnya ia berkata. Nada suaranya rendah. Jujur, tapi setengah tertahan.

"Harusnya aku bisa ngatur ritme Keenan," lanjutnya. "Tapi malah berantakan. Tadi siang… kacau banget."

Ia terdiam setelah itu.

Seolah pengakuan sekecil itu saja sudah cukup menguras tenaga.

Nayla mendekat pelan. Langkahnya ringan, seperti tidak ingin mengusik ruang yang Rakha jaga rapat-rapat.

"Menurutku nggak separah itu," ucapnya lembut.

Rakha menggeleng. Tatapannya jatuh ke lantai lapangan.

"Kamu nggak ngerti, Nay. Duo itu harusnya saling ngerti. Baca ritme. Isi kekurangan satu sama lain."

Ia berhenti sebentar, rahangnya mengeras. "Tapi aku sama dia… kayak kabel korslet."

Nayla menahan senyum kecil.

"Korslet," katanya, "tapi tetap nyala."

Rakha mengangkat kepala sedikit. "…Apa?'

"Kalian ribut mulu, iya," lanjut Nayla. "Tapi tetap sejalan. Tadi siang, pas no-look pass itu—Keenan nangkep tanpa mikir. Itu bukan sekedar kebetulan biasa."

Rakha menelan ludah. Pandangannya berpaling ke sisi lapangan, seolah mencari tempat lain untuk menaruh perasaan yang tiba-tiba jadi terlalu penuh.

"He’s annoying," gumamnya.

"Tapi kamu selalu percaya sama dia," balas Nayla, tenang. Tidak menekan. Tidak menghakimi.

Rakha tidak menjawab.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak mencoba menyangkalnya juga.

Nayla melangkah sedikit lebih dekat. Kini jarak mereka tinggal beberapa langkah kaki, cukup dekat untuk melihat bagaimana napas Rakha berubah, melambat.

"Kamu kapten yang bagus, Rakha," ucap Nayla. Suaranya nyaris seperti bisikan. "Kamu cuma… terlalu keras sama diri sendiri."

Bibir Rakha terangkat tipis. Bukan senyum sepenuhnya—lebih seperti rasa lelah yang akhirnya menemukan celah untuk keluar.

Ia tetap diam.

Tapi Nayla bisa melihat perubahannya. Bahu Rakha turun sedikit. Bukan tanda menyerah, melainkan tanda ia berhenti menahan diri.

Rakha menghembuskan napas panjang, lebih panjang dari sebelumnya.

"Aku cuma pengen tim kami jalan dengan baik," katanya lirih. "Keenan itu berbakat. Banget."

Ia berhenti sebentar, menatap bola di tangannya.

"Tapi kadang… gue ngerasa gagal bikin dia fokus."

Nayla tersenyum kecil, bukan mengejek. Lebih tepatnya seperti seseorang yang baru saja mendapatkan informasi terbaru.

"Keenan selalu fokus kok," katanya pelan. "Dia cuma punya… mode pamer kalau tau lagi ditonton."

Rakha melirik ke Nayla, nada suaranya sedikit dongkol tapi tidak benar-benar marah.

"Aku tau banget sifatnya yang itu."

Nayla menahan tawa. "Tadi siang dia freestyle gara-gara sadar aku lagi lihatin. Aku aja baru ngeh setelahnya."

Rakha langsung menghembuskan napas, setengah kesal, setengah pasrah.

"ASTAGA… itu bahkan bukan bagian dari drill."

"Justru makanya itu," Nayla menahan tawa kecil. "Dia pamer."

Rakha menutup wajahnya dengan satu tangan. "Seriusan deh… dia tuh nyebelin banget."

"Nyebelin sih iya," Nayla mengakui, "tapi kamu nggak benci dia sama sekali."

Rakha mengangkat kepala perlahan. "…Hah?"

"Seriusan kamu lihat aku kayak gitu…?" suaranya pelan, hampir nggak percaya.

Nayla tersenyum kecil—bukan mengejek, bukan sok tahu. Lebih kayak… seseorang yang benar-benar memperhatikan.

"Aku lihat kamu selalu usaha sendirian," katanya lembut. "Aku lihat kamu capek, marah, tapi tetap nutupin Keenan tiap dia salah. Kamu jaga dia bahkan pas kalian lagi kacau."

Rakha langsung membuang muka, batuk kecil.

"A-apa sih… aku nggak segit—"

"Kamu iya." Nada Nayla tidak menekan. Tidak memaksa. Hanya menyatakan apa yang ia lihat.

Rakha terdiam, wajahnya setengah berada di bawah bayangan ring.

Untuk pertama kalinya, ia tidak terlihat galak.

Tidak terlihat seperti kapten sempurna yang semua orang kira. Yang ada cuma Rakha versi yang lebih jujur, lebih rapuh sedikit, tapi juga lebih manusia.

Nayla tersenyum tipis, mengayun bola pelan di tangannya.

"Intinya… kalian sebenarnya kuat kalau nyambung. Tadi aku lihat. Kalian masih suka bentrok, bukan karena nggak cocok."

Rakha menatapnya lama.

Mungkin sedikit kaget karena ada orang yang bisa membaca sesuatu yang bahkan ia sendiri berusaha sembunyikan.

"Kamu kapten yang hebat, Rakha. Serius."

Rakha memalingkan wajah cepat—bukan karena menolak, tapi karena ia jelas nggak biasa dapat pujian yang begitu langsung.

Beberapa detik kemudian ia menggumam,

"Jangan bilang-bilang Keenan aku latihan gini. Dia pasti ribut sok perhatian."

Nayla pura-pura membuka catatan ponselnya. "Catatan manajer, kapten latihan sembunyi-sembunyi. Sangat rahasia. Siap disebarkan kalau perlu."

"HEY—" Rakha mendelik kecil, lebih panik daripada marah.

Nayla nyengir, akhirnya menyerahkan bola kembali.

"Tapi kalau kamu mau… kita bisa latihan bareng. Aku nggak jago, tapi at least aku bisa lempar balik. Lebih baik daripada kamu ngomel ke tembok."

Rakha terhenti.

Seperti otaknya butuh beberapa detik buat memproses tawaran sederhana itu.

"Latihan… sama kamu?" Ia mengulang pelan.

Nayla mengangguk. "Ya. Daripada kamu nahan semua sendirian."

Rakha menatap bola di tangannya, lalu menatap Nayla lagi.

Ada sesuatu di matanya—campuran kaget, lega, dan sedikit… percaya?

Ia mengembuskan napas.

"…Boleh deh."

Tapi ia langsung buru-buru menambahkan,

"Tapi lemparan ku agak keras."

Nayla ngakak. "Iya, Kapten. Tenang aja."

Rakha menggeleng, tapi ujung bibirnya terangkat sedikit. Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak terlihat sendirian.

1
Panda
jejak yaa kak

kayanya bakal keren, aku tunggu sampai chapter 20 baru kebut baca 🤭
Kairylee: okee kak, selamat menunggu... semoga memuaskan, soalnya baru nyelam juga disini/Smile//Smile/
total 1 replies
Anna
ih lucu/Chuckle/
r
😚🤍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!