NovelToon NovelToon
Pewaris Yang Tertukar

Pewaris Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Identitas Tersembunyi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

Di balik kemewahan keluarga Mahendra, tersembunyi sebuah rahasia kelam. Bertahun-tahun lalu, Alisha Pratiwi diculik dan dipisahkan dari orang tua kandungnya, Ragendra dan Helena Mahendra. Sementara itu, kebohongan besar ditanam rapi oleh dalang licik bernama Bram Santoso.

Tanpa menyadari takdir yang terhubung, Alvaro tumbuh sebagai pewaris keluarga Mahendra, sedangkan Alisha hidup dalam kesederhanaan dengan identitas yang bukan miliknya. Ketika kebenaran perlahan terkuak, cinta, pengkhianatan, dan perebutan hak waris tak lagi bisa dihindari.

Siapakah pewaris yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 — Darah yang Membuka Rahasia

Bab 4 — Darah yang Membuka Rahasia

Sejak kecil, Alisha Mahendra tumbuh di dalam istana kemewahan.

Rumah keluarga Mahendra berdiri megah dengan pilar tinggi dan lantai marmer mengilap. Lampu kristal menggantung indah di langit-langit, memantulkan cahaya hangat setiap malam. Taman luas dengan air mancur menjadi tempatnya bermain sejak balita.

Namun kemewahan itu perlahan membentuk sesuatu dalam dirinya.

Alisha kecil bukan anak yang lembut.

Ia manja.

Egois.

Dan terbiasa merasa bahwa semua yang ada di rumah itu adalah miliknya.

Di usia empat tahun, ia sudah berani memerintah pelayan.

“Buka sepatuku!” perintahnya sambil mengangkat kaki kecilnya tanpa menoleh.

Pelayan yang lebih tua tersenyum sabar dan berlutut.

“Baik, Nona.”

Jika minumannya tidak sesuai selera, ia akan mendorong gelasnya menjauh.

“Aku maunya yang dingin! Ini tidak enak!”

Helena sering mencoba menegurnya.

“Alisha, jangan seperti itu. Bicara yang sopan.”

Namun setiap kali ditegur, Alisha hanya memeluk Helena manja.

“Tapi Mama sayang Alisha, kan?”

Dan hati Helena selalu luluh.

Ragendra pun tak jauh berbeda. Ia terlalu bahagia memiliki anak perempuan setelah sekian lama menanti. Apa pun keinginan Alisha, hampir selalu dipenuhi.

Tanpa mereka sadari, benih keangkuhan tumbuh subur.

Saat Alisha masuk sekolah dasar elit, sifat itu semakin terlihat jelas.

Hari pertama sekolah, ia datang dengan mobil mewah dan tas bermerek yang bahkan belum diluncurkan di toko umum.

Anak-anak lain memandangnya kagum.

Alisha menikmati itu.

Ia berjalan dengan dagu sedikit terangkat, langkah percaya diri seolah sekolah itu dibangun khusus untuknya.

Di kelas, ia memilih duduk di bangku depan tanpa bertanya.

“Itu tempatku,” protes seorang anak perempuan.

Alisha menatapnya dingin.

“Sekarang bukan.”

Anak itu terdiam.

Dalam waktu singkat, Alisha menjadi pusat perhatian. Bukan karena ia paling pintar, tapi karena ia paling berani dan paling dominan.

Ia sering memerintah teman-temannya.

“Ambilkan pensilku.”

“Tukarkan tempat dudukmu denganku.”

“Kamu tidak boleh main kalau tidak ikut aturanku.”

Beberapa anak menurut karena takut. Beberapa karena ingin dekat dengan anak keluarga Mahendra.

Guru pernah memanggil Helena.

“Bu, Alisha anak yang cerdas, tapi dia cenderung mengatur teman-temannya.”

Helena tersenyum canggung.

“Mungkin dia hanya percaya diri.”

Namun jauh di dalam hati, ia tahu putrinya terlalu terbiasa menjadi pusat dunia.

Di rumah, sifat itu makin menjadi.

Jika makanan terlambat lima menit, ia mengeluh panjang.

Jika Ragendra sibuk menerima telepon bisnis, ia mengetuk meja dengan kesal.

“Ayah tidak dengar Alisha bicara?”

Ragendra biasanya langsung menutup telepon.

“Iya, Sayang. Ada apa?”

Ia selalu menang.

Dan karena selalu menang, ia tak pernah belajar kalah.

Waktu berjalan cepat.

Alisha tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik dan anggun. Wajahnya memesona. Rambutnya terawat. Setiap pesta keluarga, ia menjadi bintang kecil yang dipuji para tamu.

Namun kecantikan itu berjalan berdampingan dengan tatapan tinggi.

Ia jarang tersenyum tulus.

Ia lebih sering tersenyum tipis penuh arti.

“Alisha itu berkelas,” bisik orang-orang.

Tapi tak sedikit yang berkata pelan,

“Dia terlalu sombong.”

Suatu sore, hujan turun deras membasahi halaman rumah Mahendra.

Langit kelabu menggantung berat.

Alisha baru saja pulang dari les menunggang kuda. Ia kesal karena bajunya sedikit terkena lumpur.

“Kenapa hujan sih! Bikin kotor semua!” bentaknya.

Ia berjalan cepat melintasi taman yang basah.

“Nona, hati-hati! Licin!” teriak pelayan.

Namun Alisha mengabaikan.

Ia tidak suka diperingatkan.

Langkahnya terpeleset.

Tubuhnya terjatuh keras menghantam besi pembatas taman.

“AAAAGH!!!”

Jeritannya menggema.

Darah mengalir dari lengan dan pahanya. Warna merah kontras dengan lantai marmer putih.

Para pelayan panik.

Helena berlari keluar dengan wajah pucat.

“ALISHA!”

“Aku sakit, Ma! Sakit sekali!” teriaknya sambil menangis histeris.

Ragendra langsung memerintahkan mobil disiapkan.

Dalam hitungan menit, mereka melaju menuju rumah sakit.

Di ruang UGD, dokter bergerak cepat.

“Pasien kehilangan cukup banyak darah. Harus transfusi segera.”

Helena tanpa ragu berkata,

“Ambil darahku!”

“Dan darah saya,” tambah Ragendra.

Sampel darah diambil.

Waktu terasa lambat.

Alisha terbaring pucat, masih sempat mengeluh lemah.

“Aku tidak mau di sini… cepat sembuhkan aku…”

Helena menggenggam tangannya erat.

Tak lama kemudian dokter keluar dengan wajah serius.

“Maaf, Pak… Bu…”

Ragendra berdiri.

“Ada apa, Dok?”

Dokter menarik napas dalam.

“Golongan darah Nona Alisha tidak cocok dengan Anda berdua.”

Helena menggeleng cepat.

“Tidak mungkin.”

“Kami sudah periksa dua kali,” lanjut dokter hati-hati.

“Secara medis… kemungkinan besar Nona Alisha bukan anak kandung biologis Anda.”

Dunia runtuh dalam satu kalimat.

Ragendra menatap hasil laboratorium dengan tangan gemetar.

Helena terduduk lemas.

Semua kenangan—tangisan pertama, langkah kecil, panggilan “Mama”—berputar di kepalanya.

Transfusi tetap dilakukan menggunakan darah pendonor rumah sakit.

Nyawa Alisha selamat.

Namun rahasia besar telah terkuak.

Di lorong sepi rumah sakit, Helena menangis dalam pelukan Ragendra.

“Bagaimana bisa…?”

Ragendra menutup wajahnya.

“Kalau ini benar… berarti anak kita di luar sana.”

Helena menatapnya dengan mata sembab.

“Tapi Alisha…”

“Kita tetap mencintainya,” suara Ragendra parau.

“Tapi kita harus menemukan darah daging kita.”

Hening panjang menyelimuti mereka.

Lalu Ragendra berkata tegas,

“Alisha tidak boleh tahu.”

Helena mengangguk cepat.

“Dia tidak akan sanggup.”

Malam itu juga, Ragendra menemui seorang pria bernama Detektif Damar.

“Saya ingin Anda mencari anak kandung kami,” ujar Ragendra pelan.

“Berdasarkan apa?” tanya Damar.

“Catatan rumah sakit lima belas tahun lalu. Ada bayi yang lahir hampir bersamaan.”

Helena menambahkan lirih,

“Anak kami tertukar.”

Damar mengangguk serius.

“Saya akan telusuri semuanya. Tapi ini tidak mudah.”

“Kami siap membayar berapa pun,” jawab Ragendra.

“Yang penting anak kami ditemukan.”

Sementara itu, di kamar rumah sakit, Alisha terbangun.

“Mama ke mana?” tanyanya ketus pada perawat.

“Orang tua Nona sebentar lagi masuk.”

“Aku tidak suka ditinggal.”

Tak ada yang ia tahu…

Darah yang mengalir di tubuhnya bukan darah Mahendra.

Di tempat lain, seorang gadis sederhana tengah menjalani hidup penuh doa—tanpa tahu bahwa takdir sedang bergerak mendekat.

Rahasia itu…

Segera membuka pintu yang tak bisa lagi ditutup.

#Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!