Shasha hanyalah gadis desa biasa yang sedang berjuang menyelesaikan kuliahnya lewat beasiswa. Namun, hidupnya hancur dalam semalam ketika ia diculik oleh Jake Giordino, seorang pemimpin organisasi hitam yang paling ditakuti.
Shasha tidak melakukan kesalahan apa pun. Dosanya hanyalah satu, yaitu karena ia dicintai oleh pria yang diinginkan Lana, adik perempuan Jake.
Demi memuaskan obsesi sang adik, Jake mengurung Shasha di sebuah mansion tersembunyi. Shasha dipaksa menghilang dari dunia agar pria yang mencintainya bisa berpaling pada adik sang mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Hadapan Keputusasaan
Mobil mewah yang dikendarai Kevin akhirnya berhenti dengan sempurna di garasi mansion yang luas. Tanpa menunggu Kevin membukakan pintu untuknya, Jake sudah terlebih dahulu turun dengan langkah yang penuh otoritas. Ia melangkah menuju bangunan utama, melewati hamparan halaman hijau yang tertata rapi, lalu menaiki anak tangga batu yang megah.
Di ujung tangga, ia berhenti sejenak, memejamkan mata untuk menghirup udara segar pegunungan yang bercampur dengan aroma gurih masakan yang tidak familiar.
“Ada apa, Tuan?” tanya Kevin yang berhenti di sampingnya dengan wajah bingung karena sang atasan tidak kunjung masuk.
Jake tidak menanggapi. Ia melangkah masuk ke dalam mansion. Pengawal yang berjaga di pintu depan langsung menunduk hormat dan membukakan pintu untuknya. Di dalam, suasana tetap formal dengan para pengawal yang siaga, namun perhatian Jake sama sekali tidak tertuju pada mereka. Matanya terkunci pada area dapur, di mana gadis tawanannya tengah sibuk membuat sesuatu di sana.
Kevin yang baru masuk juga mengikuti arah pandangan Jake, “Saya akan menyekapnya lagi di kamar atas.”
“Hentikan,” ucap Jake datar tanpa melepaskan pandangannya dari Shasha.
“Pergilah,” perintah Jake kemudian, tidak hanya kepada Kevin tetapi juga kepada seluruh pengawalnya.
Kevin yang mengerti kode itu segera memberikan instruksi agar seluruh pengawal keluar, meninggalkan mansion itu hanya untuk Jake dan tawanannya.
Jake melangkah mendekati dapur. Ia mengamati punggung Shasha yang kini terbalut dress putih pemberiannya. Gadis itu tampak sangat fokus menata telur orak-arik dan roti panggang di atas piring, hingga tidak menyadari kehadiran sang predator di belakangnya.
“Sepertinya kau sudah menganggap tempatku sebagai rumahmu sendiri.”
Shasha tersentak hebat. Ia buru-buru membalikkan badan dengan mata melebar, “K-Kau sudah pulang?”
“Kenapa?” Jake melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka, “Kau pasti berharap aku tidak kembali agar bisa kabur dengan mudah.”
“T-tidak.” Shasha menggeleng takut, bergerak mundur hingga pinggangnya menabrak meja dapur yang keras.
Jake semakin mendekat, memposisikan kedua tangannya di sisi tubuh Shasha, dan mengurung gadis itu dalam intimidasi yang menyesakkan. Napas Shasha otomatis tertahan, posisi sedekat ini benar-benar menyiksanya.
“K-kau jangan k-kurang ajar!” peringat Shasha meski suaranya bergetar.
Jake menyeringai tipis, “Sebenarnya apa yang dipikirkan oleh otak kecilmu?” Wajah Jake semakin maju, membuat Shasha terpaksa memalingkan wajahnya ke samping.
Tiba-tiba Jake tersenyum mengejek, “Aku hanya ingin melihat apa yang kau buat,” ucapnya sambil melirik piring di belakang punggung Shasha.
Shasha langsung menatap tajam setelah menyadari pria itu hanya sedang mempermainkan rasa takutnya.
“Kecewa?” tanya Jake dengan nada mengejek.
Shasha mendorong tangan Jake dengan sekuat tenaga, “Dasar gila!” umpatnya sambil melangkah menjauh.
Jake menyilangkan tangan di depan dada, memperhatikan Shasha dengan tatapan dingin, “Hari ini aku berbaik hati padamu karena membiarkan tawanan sepertimu bisa berkeliaran dengan bebas.”
“Jika kau berbaik hati, maka lepaskan aku!” tantang Shasha.
“Ada syaratnya.”
Shasha mengerutkan kening, tidak menyangka akan mendapat jawaban positif, “Apa syaratnya?”
Jake mendekati gadis itu lagi, sorot matanya berubah gelap, “Jadilah pelayan di atas ranjangku.”
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Jake, “Kurang ajar!”
Jake justru tertawa kecil, mengusap pipinya yang tidak terasa sakit sama sekali, “Kalau begitu, aku tidak akan pernah melepaskanmu.”
“Pria jahat!” Shasha mulai terisak, air mata kemarahan mulai jatuh, “Sebenarnya apa salahku?! Kenapa kau melakukan ini semua padaku?!”
Wajah Jake seketika berubah menjadi sedingin es. Ia hanya menatap lurus pada Shasha yang sibuk mengusap air matanya.
“Percuma aku bertanya padamu. Karena kau tidak akan pernah memberitahu alasan kenapa kau menyekapku,” isak Shasha lagi.
Jake menghela napas panjang, lalu melirik masakan Shasha yang sudah siap di atas piring, “Jangan buang tenagamu untuk melawanku. Sekarang makanlah masakanmu itu,” ucapnya sebelum berbalik untuk pergi.
Namun Shasha justru tertawa miris, membuat langkah Jake kembali terhenti, “Untuk apa kau baik padaku? Bukankah kau ingin aku cepat mati?!”
Mendengar itu, emosi Jake tersulut. Dengan gerakan kilat, ia kembali mendekat dan mencekik leher Shasha. Gadis itu langsung memberontak dan memukul-mukul tangan kekar yang menghimpit jalan napasnya.
“Aku bisa saja membunuhmu dengan mudah,” desis Jake tepat di depan wajah Shasha, “Tapi tidak sekarang. Kau hanyalah mainan bagiku. Sebuah mainan tidak pantas mendapat kematian begitu cepat.”
Jake menghempaskan wajah Shasha dengan kasar hingga gadis itu terhuyung. Dan tanpa menatapnya lagi, Jake benar-benar melangkah pergi meninggalkan dapur, meninggalkan Shasha yang terduduk lemas meratapi nasibnya di tengah kemegahan dapur yang kini terasa seperti penjara yang lebih mengerikan dari sebelumnya.
Sepeninggal Jake, ia berusaha menenangkan diri sambil mengusap air mata yang terus mengalir di pipinya. Dinginnya lantai yang merambat ke tubuhnya, ternyata tidak mampu meredam sesak yang menekan dadanya. Ia menarik napas panjang, seolah berusaha menguatkan diri, lalu perlahan bangkit dari posisinya.
Pandangan matanya kemudian jatuh pada sepiring makanan yang baru saja ia buat di atas meja dapur. Telur orak-arik dan roti panggang itu tampak sederhana, namun entah mengapa terasa begitu berat untuk disentuh.
Tanpa menunggu lebih lama, Shasha memilih untuk mengambil piring itu, lalu kembali duduk di lantai. Punggungnya bersandar lemah pada kaki meja dapur dengan tubuh yang meringkuk seakan mencari perlindungan.
Ia menggigit roti panggang itu perlahan. Gigitan pertama terasa hambar, bahkan sebelum ia sempat menelannya, air matanya kembali luruh. Isakannya tidak bisa lagi ditahan dan tenggelam dalam kesunyian dapur yang dingin.
Sementara di ruang kerja, Jake menjatuhkan tubuhnya ke kursi kebesarannya dengan kasar. Sandaran kursi berderit pelan, seolah ikut merasakan amarah yang belum mereda. Kepalanya berdenyut ketika bayangan Shasha kembali menyerbu pikirannya. Apalagi saat gadis itu berteriak putus asa dengan isakan yang pecah tanpa kendali. Semua itu membuat dadanya terasa sesak, namun bukan oleh rasa bersalah.
Jake menegakkan tubuhnya, rahangnya juga ikut mengeras. Wajahnya yang kaku kini tenggelam dalam pikiran yang berkeliaran. Beberapa detik berlalu sebelum sudut bibirnya terangkat perlahan. Seringaian tipis, dingin, dan penuh makna kembali terukir di wajahnya.
“Kuberi kau pelajaran, gadis nakal,” gumamnya pelan.
Matanya menyipit, memantulkan kilat rencana yang telah tersusun rapi. Rencana yang sama sekali tidak menyisakan ruang bagi belas kasihan.