Dewi seorang istri yang di tinggal merantau suaminya Abi ke Kalimantan dan harus tinggal di kampung merawat mertua dengan uang kiriman seadanya dari sang suami, Dewi pun harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup dengan sang mertua.
Hingga suatu ketika Dewi mendapati sebuah rahasia besar dari teman Abi, ternyata Abi diam-diam menikah lagi, hati Dewi hancur dan dia pun nekat ke Kalimantan untuk memastikan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundae safiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dewi kecelakaan
Bruuukkkkkk!
''Aaaaaaaaaaaa!''
Tiba-tiba saja dari arah belakang ada sepeda motor yang melintas dan nyeruduk Dewi yang sedang nyebrang jalan.
''Astagah...nona maaf...maaf saya nggak sengaja, apa Anda terluka?!'' tanya pengendara motor tersebut yang langsung membantu Dewi untuk bangun.
''Ah nggak papa cuma lecet sedikit kok, maaf saya yang salah nyebrang nggak lihat-lihat'' ucap Dewi sembari melihat luka lecet di sikunya.
''Ah tidak Anda terluka ,bagaimana kalau Anda saya bawa ke rumah sakit dulu untuk di periksa, sungguh saya minta maaf saya tadi belok kurang hati-hati'' ucap orang yang menabrak Dewi dengan rasa cemas.
''Beneran saya nggak papa kok, maaf saya harus membelikan makanan ibu saya, saya sudah di tunggu'' Dewi pun bersusah payah untuk bangkit.
''Ah baiklah kalau Anda kekeh nggak mau saya bawa berobat, kalau gitu begini saja, saya kasih uang untuk Anda berobat sendiri nanti, bagaimana?'' ucap orang itu pada Dewi, Dewi pun memandang wajah orang tersebut kemudian tersenyum dan berkata.
''Mas...sungguh saya nggak papa kok Anda nggak perlu cemas atau bertanggung jawab apa pun, beneran deh'' ucap Dewi meyakinkan pria tersebut.
''Ah tidak-tidak, saya mohon jangan menolaknya please, mohon di terima...maaf saya sedang terburu-buru saya harus pergi sekarang!'' pria itu pun meninggalkan sejumlah uang pada Dewi kemudian tanpa menunggu lama bergegas melajukan kembali sepeda motornya dengan terburu-buru dan pergi begitu saja.
Dewi melihat uang yang ada di tangannya dan kemudian menghitungnya, mata Dewi pun terbelalak saat selesai menghitung uang tersebut.
''Hah...satu juta, masya Allah banyak banget orang itu ngasih uang'' ucap Dewi antara syok dan juga senang mendapatkan Rejeki nomplok dari kecelakaan yang di alaminya.
''Ini mah musibah membawa berkah namanya, hehehe..lumayan bisa buat makan beberapa hari ke depan, aduh duh duh...ah kok ya tiba-tiba sakit sih lututku'' keluh Dewi sembari tertatih-tatih berjalan minggir, kemudian Dewi pun mendekat ke arah pedagang kaki lima yang menjual nasi goreng, Dewi pun segera membeli 2 bungkus nasi goreng untuk dirinya dan juga Bu Raminah.
Setelah mendapatkan nasi goreng Dewi pun ke tukang buah dan membelikan beberapa buah untuk mertuanya.
''Ah untung dapat rejeki nomplok jadi aku bisa belikan buah untuk ibu, pasti ibu senang deh'' ucap Dewi dengan rasa senang dan puas.
Dewi pun kembali ke rumah sakit sembari menenteng beberapa bungkusan kantong keresek di tangannya, sesekali Dewi melihat ke arah kantong tersebut sembari tersenyum puas, dengan langkah ringan dan ceria Dewi pun kembali ke kamar rawat inap sang mertua.
''Bu...'' panggil Dewi saat sudah masuk ke dalam kamar rawat inap mertuanya beberapa saat kemudian, Bu Raminah pun membuka matanya dan menoleh ke arah Dewi.
''Kau sudah kembali Wi..beli apa aja?'' tanya Bu Raminah sembari melihat ke arah kantong keresek yang di bawa Dewi.
''Nasi goreng Bu, sama tadi Dewi beli sedikit buah'' ucap Dewi sembari menaruh bungkusan tersebut di atas nakas.
Mata Bu Raminah pun langsung melek seketika saat mendengar kata nasi goreng, perutnya pun sudah mulai keroncongan, air liurnya pun mulai keluar, beberapa kali Bu Raminah menelan ludah tak sabar untuk segera mencicipi nasi goreng tersebut.
''Ibu di situ saja biar Dewi suapin, luka ibu nggak boleh di bawa banyak gerak'' ucap Dewi sembari membuka bungkusan nasi goreng dan segera menyuapkannya pada ibu mertunya.
''Heeemmmm enak banget wi, sungguh ini enak banget'' ucap Bu Raminah seperti anak kecil yang baru saja mendapat makanan lezat.
''Iya-iya memang enak kok, dari aromanya juga sudah bikin ngiler'' sahut Dewi sembari terus menyuapi Bu Raminah.
''Wi...kamu sudah telepon Abi?'' tanya Bu Raminah tiba-tiba. Dewi pun terdiam sejenak, dia bingung harus bilang apa sama sang mertua.
''Ah sudahlah ibu sudah tau jawabannya, pasti dia nggak perdulikan sama keadaan ibu'' sahut Bu Raminah yang sudah paham akan watak anak semata wayangnya itu.
''Bu..jangan di ambil hati, yang penting masih ada Dewi di sini yang ngerawat ibu kok, ibu jangan banyak pikiran'' ucap Dewi dengan lembut.
''Hah...untung ibu punya menantu yang baik seperti kamu Wi, kalau tidak entah bagaimana nasib ibu di masa tua ini, sudah sakit-sakitan eh anak sendiri malah nggak peduli'' keluh Bu Raminah.
''Ah ibu ngomong apa sih Bu, Dewi yang beruntung punya mertua yang baik dan sabar seperti ibu, Dewi sudah lama nggak merasakan kasih sayang seorang ibu, dan berkat ibu Dewi bisa merasakannya bu'' ucap Dewi dengan mata berkaca-kaca.
''Duh Gusti, baik banget ini anak, kalau sampai Abi mengecewakannya pasti dia akan menyesal seumur hidup, Abi ibu berharap kamu nggak macam-macam di seberang sana, kalau sampai itu terjadi ibu nggak sanggup hidup lagi'' ucap Bu Raminah dalam hati.
Selesai menyuapi sang mertua Dewi pun segera memakan jatah nasi goreng miliknya karena dia juga sudah sangat lapar.
''Wi tangan kamu kenapa itu kok bisa berdarah?!'' tanya Bu Raminah saat melihat ke arah Dewi dan terlihat noda darah di sikunya.
''Oh ini tadi Dewi tak sengaja jatuh karena terpeleset bu, tapi nggak papa kok Dewi nggak sakit'' jawab Dewi dengan yakin supaya Bu Raminah tak cemas lagi.
''Itu kamu minta suster buat bersihin lukanya nanti infeksi loh!'' pinta Bu Raminah dengan sangat perhatian.
''Iya bu tenang saja nanti sehabis makan Dewi ke UGD'' jawab Dewi, dan Bu Raminah pun tak lagi meributkan masalah lukanya Dewi.
''Hoaaaammmm....ah ibu ngantuk, ibu tidur duluan ya'' ucap Bu Raminah yang sudah merasa ngantuk karena perut kenyangnya.
''Iya, ibu tidur saja, ada Dewi yang jagain kok'' jawab Dewi sembari menyendok suapan terakhir nasi goreng miliknya.
Tak berapa lama kemudian Bu Raminah pun terlelap dalam tidurnya, sedang Dewi pun langsung pergi ke UGD untuk mengobati lukanya.
"jangan cemas ini hanya luka luar, sebentar juga sembuh" ucap perawat yang mengobati luka Dewi.
"iya sus, makasih ya sus" jawab Dewi pada perawat yang sudah selesai mengibatinya.
"sama-sama" kemudian perawat itu pun segera membereskan alat-alat medisnya, Dewi pun segera kembali untuk menemani sang mertua.
Saat melihat Bu Raminah tertidur pulas Dewi pun ikut merasakan kantuk, kemudian Dewi pun tidur di lantai dengan beralaskan karpet dengan selimut jaket, untung saja dia pakai kaos kaki sehingga dinginnya idara malam di rumah sakit tak begitu terasa, tapi senyaman-nyamannya tempat hanya rumah lah yang jadi tempat ternyaman yang sebenarnya.
cinta boleh wi gobloogg jangan