Di dunia Arcapada, tempat sihir kuno Nusantara berpadu dengan teknologi mesin uap, Raden Bara Wirasena hidup sebagai pangeran terbuang yang dikutuk menjadi wadah Api Garuda.
Dikhianati oleh Catur Wangsa yang korup, Bara bangkit dari debu sebagai Dewa Kujang.
Bersama putri bangsawan yang terusir dan preman berhati emas, ia memimpin Pasukan Surya untuk meruntuhkan tirani Kaisar Brawijaya VIII.
Namun, perebutan takhta hanyalah awal. Jejak ayahnya yang hilang menuntun Bara menyeberangi samudra mematikan menuju Benua Hitam, di mana ancaman kiamat yang sesungguhnya sedang menanti.
Ini adalah hikayat tentang revolusi, pengorbanan, dan pembakaran takdir demi era baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Pelabuhan Tikus dan Tangan-Tangan Cepat
Bab 16: Pelabuhan Tikus dan Tangan-Tangan Cepat
Dermaga Karang bukanlah tempat wisata. Ini adalah kota transit yang terletak di percabangan Sungai Brantas, tempat bertemunya kapal-kapal dagang dari hulu dan perahu-perahu nelayan kumuh. Udaranya berbau amis ikan asin, tar kayu, dan keringat kuli panggul.
Jalanannya becek, dilapisi papan kayu ulin yang sudah berlumut. Di sini, hukum rimba berlaku lebih telanjang daripada di Hutan Maya. Siapa yang punya uang, dia raja. Siapa yang punya golok, dia dewa.
Bara berjalan pincang menyusuri pasar ikan yang ramai. Caping lebar menutupi sebagian besar wajahnya. Pakaiannya yang robek-robek dan penuh lumpur kering membuatnya tampak tak ubahnya seperti pengemis atau kuli yang baru dipecat.
Perutnya berbunyi nyaring.
"Mitra, kau punya uang, kan?" tanya Garuda. "Jangan bilang koin emasmu hanyut di sungai."
"Masih ada," jawab Bara sambil menepuk pinggangnya. Kantong uang dari Anjani masih aman, terbungkus plastik kulit ikan agar kedap air. "Tapi aku tidak bisa belanja dengan koin emas di tempat kumuh begini. Itu sama saja mengundang rampok satu kampung."
Bara butuh uang receh. Dan dia butuh baju kering.
Dia berhenti di depan sebuah kedai nasi yang ramai. "Warung Mbok Darmi". Aroma sambal terasi dan ikan goreng menggelitik hidung.
Bara duduk di bangku panjang di luar, di samping seorang kakek tua yang sedang merokok linting.
"Nasi, satu porsi. Lauk apa saja yang sisa," pesan Bara pada pelayan.
"Bayar di muka," kata pelayan itu ketus, melihat penampilan Bara.
Bara merogoh saku tersembunyi di balik ikat pinggangnya, mengeluarkan satu keping perak kecil—sisa kembalian dari Kota Raja.
Mata pelayan itu membelalak. Keping perak itu cukup untuk makan seminggu di sini.
"S-siap, Den! Sebentar!" Sikapnya berubah 180 derajat.
Saat menunggu makanan, Bara mengamati sekeliling. Matanya yang terlatih menangkap detail-detail kecil: pedagang yang menyembunyikan belati di balik dagangan, kuli yang bertukar kode tangan, dan... seorang anak kecil kurus yang sedang mengendap-endap di dekat rombongan pedagang sutra yang kaya.
Anak itu—mungkin berusia 10 tahun—bergerak sangat licin. Tangannya menyambar kantong uang si pedagang gemuk dalam sekejap mata, lalu menghilang ke balik keranjang rotan.
"Teknik Copet Langkah Bayangan," komentar Bara dalam hati. "Gerakannya lumayan untuk ukuran anak kecil. Tapi dia ceroboh. Baunya terlalu menyengat."
Anak itu tidak menyadari bahwa salah satu pengawal pedagang itu—seorang pendekar bayaran tingkat Adhikara Puncak—sudah melihatnya dari pantulan cermin di toko seberang.
"HEI! MALING!" teriak pengawal itu.
Suasana pasar langsung ricuh. Anak itu lari kencang, melompati meja-meja dagangan. Tapi pengawal itu lebih cepat. Dia melempar sebuah jaring pemberat.
Bruk!
Anak kecil itu jatuh terjerat jaring. Kantong uang curiannya terlempar keluar.
"Dasar tikus dermaga!" Pedagang gemuk itu menghampiri, wajahnya merah padam. "Berani mencuri uangku?! Potong tangannya!"
Dua pengawal lain menghunus golok. Warga sekitar hanya menonton, tidak ada yang berani menolong. Di Dermaga Karang, pencuri memang biasa dihukum potong tangan atau ditenggelamkan ke sungai.
Anak itu meronta-ronta ketakutan. "Ampun, Tuan! Saya cuma lapar! Adik saya sakit!"
"Peduli setan!" Pedagang itu mengangkat kakinya, hendak menginjak kepala anak itu.
Bara menghela napas panjang.
"Jangan ikut campur, Mitra," peringatkan Garuda. "Kita sedang buron. Menarik perhatian di sini berbahaya."
"Aku tahu," jawab Bara, tangannya mengambil sebuah tulang ayam sisa dari piring kakek di sebelahnya. "Tapi kalau aku membiarkan anak berbakat mati konyol, itu mubazir."
Wush.
Bara menjentikkan tulang ayam itu dengan jari tengahnya.
Tulang kecil itu melesat secepat peluru, tak terlihat oleh mata biasa.
TUK!
Tulang itu menghantam tepat di titik saraf lutut pedagang gemuk itu.
"ADUH!" Pedagang itu tiba-tiba kehilangan keseimbangan, kakinya lemas. Dia jatuh terjungkal ke depan, wajahnya mendarat tepat di tumpukan kotoran kuda di jalanan.
PLOK!
Semua orang terdiam sejenak, lalu tawa meledak. Pemandangan pedagang sombong yang makan kotoran kuda terlalu lucu untuk dilewatkan.
Para pengawal panik membantu bos mereka. "Tuan! Tuan tidak apa-apa?"
Di tengah kekacauan itu, Bara menjentikkan satu kerikil lagi.
CTAK!
Kerikil itu memotong tali jaring yang mengikat si anak kecil.
Anak itu cerdas. Begitu jaring longgar, dia tidak buang waktu. Dia langsung menyelinap keluar, menyambar kembali kantong uang curiannya (dasar nekat!), dan lari menghilang ke dalam gang sempit.
Bara tersenyum tipis, lalu menyuap nasi ikan asin yang baru diantar pelayan.
"Dunia ini memang panggung komedi," gumam Bara.
Namanya Kancil. Bukan nama asli, tapi nama jalanan.
Kancil berlari sampai napasnya mau putus. Dia masuk ke sebuah gubuk reyot di kolong jembatan. Di sana, terbaring seorang gadis kecil yang menggigil demam.
"Nih, Tiara," Kancil mengeluarkan kantong uang itu dengan tangan gemetar. "Kakak dapat uang. Kita beli obat ya."
Kancil membuka kantong itu. Isinya banyak koin emas. Cukup untuk hidup setahun! Tapi... Kancil juga tahu, uang sebanyak ini berbahaya. Kalau dia membelanjakannya, orang akan curiga.
Tiba-tiba, bayangan seseorang menutupi pintu gubuk.
Kancil melompat, menghunus pisau karatan kecilnya. "Siapa disitu?! Jangan masuk atau kutusuk!"
Sosok itu masuk. Dia memakai caping lebar. Di tangannya ada bungkusan nasi bungkus yang masih hangat.
Itu pria dari warung tadi.
"Kau menjatuhkan ini tadi," kata pria itu—Bara—melempar kantong uang curian itu ke pangkuan Kancil.
Kancil bingung. Dia kan sedang memegang kantong uangnya? Dia melihat ke tangannya. Kosong.
Kapan pria ini mengambilnya?!
"Kau..." Kancil mundur ketakutan. "Kau pendekar?"
Bara duduk di atas peti kayu bekas, membuka capingnya.
"Namaku Elang," kata Bara. Dia meletakkan nasi bungkus di dekat adik Kancil. "Makanlah. Adikmu butuh makanan, bukan koin emas. Emas tidak bisa dikunyah."
Kancil menatap nasi itu, lalu menatap Bara. Perutnya sakit karena lapar. Akhirnya dia menyambar nasi itu dan menyuapi adiknya dengan lahap.
"Kenapa Tuan menolong saya?" tanya Kancil dengan mulut penuh. "Tuan yang menembak kaki pedagang tadi, kan?"
"Matamu jeli," puji Bara. "Aku butuh sesuatu darimu, Kancil."
"Apa? Tuan mau minta jatah preman?"
"Aku butuh informasi. Dan aku butuh penunjuk jalan yang tahu jalan tikus menuju Pasar Gelap."
Kancil berhenti mengunyah. Matanya menyipit.
"Pasar Gelap? Tuan mau beli budak? Atau senjata?"
"Aku mau menjual barang," Bara menepuk dadanya (tempat peti Teratai Emas dan beberapa Mustika sisa buruan). "Dan aku mau mencari kapal yang berani berlayar ke hulu Sungai Brantas menuju Trowulan tanpa diperiksa patroli Kekaisaran."
Kancil terdiam. Permintaan itu berat. Tapi pria ini sudah menyelamatkan nyawanya. Dan dia memberi makan adiknya.
"Saya tahu jalannya," kata Kancil. "Tapi masuk ke Pasar Gelap harus punya Sandi. Dan Tuan... penampilan Tuan terlalu mencolok. Bukan karena jelek, tapi karena aura Tuan."
"Aura?"
"Ya. Tuan baunya seperti... darah kering dan besi panas. Orang-orang di Pasar Gelap sangat sensitif dengan bau aparat atau pembunuh bayaran."
Bara tersenyum. Bocah ini menarik.
"Kalau begitu, ajari aku cara menjadi tikus got sepertimu," tantang Bara.
Pasar Gelap Dermaga Karang tidak terletak di bawah tanah, melainkan di atas rakit-rakit besar yang mengapung di tengah sungai, tertutup kabut malam. Tempat ini berpindah-pindah setiap malam untuk menghindari razia.
Bara dan Kancil menaiki sampan kecil mendekati rakit utama.
Penampilan Bara sudah berubah. Dia tidak lagi memakai baju pendekar. Dia memakai rompi kulit bekas nelayan, celana kain yang digulung setinggi lutut, dan ikat kepala kain batik lusuh. Dia juga mengolesikan lumpur sungai ke leher dan lengannya untuk menutupi bau sabun/bersih.
"Sandi?" tanya penjaga rakit, seorang pria bertubuh raksasa dengan tato buaya di wajahnya.
"Ikan busuk berenang ke hulu," jawab Kancil lantang.
Penjaga itu menatap Bara. "Siapa orang baru ini?"
"Paman saya dari desa. Bisu dan tuli. Mau jual pusaka warisan kakek buat bayar hutang judi," bohong Kancil lancar sekali tanpa berkedip.
Bara memasang wajah melongo, mulut sedikit terbuka, dan mengangguk-angguk bodoh sambil memegang bungkusan kain erat-erat. Akting kelas Oscar.
Penjaga itu mendengus meremehkan. "Masuk. Jangan bikin onar. Pajak masuk 2 koin tembaga."
Mereka berhasil masuk.
Di dalam, suasana Pasar Gelap sangat hidup tapi sunyi. Transaksi dilakukan dengan berbisik. Ada yang menjual racun, organ hewan langka, kitab jurus curian, hingga informasi rahasia.
Bara berjalan mengikuti Kancil menuju sebuah lapak di pojok yang dijaga oleh wanita tua bermata satu.
"Nyai Soka," sapa Kancil. "Paman saya mau jual barang bagus."
Wanita tua itu—Nyai Soka—menghisap pipanya. Asap berwarna ungu mengepul.
"Barang apa? Kalau cuma keris karatan, buang saja ke sungai."
Bara maju. Dia membuka sedikit bungkusan kainnya. Dia tidak memperlihatkan Peti Teratai Emas (itu terlalu berbahaya). Dia memperlihatkan Taring Ular Sanca Kembang Bulan (yang dia simpan satu sebagai cadangan, sisanya dikasih ke Anjani).
Mata satu Nyai Soka membelalak. Pipa rokoknya jatuh.
"Ini..." Nyai Soka mengambil taring itu dengan tangan gemetar. "Taring Sanca Bulan tingkat Bumi Pala? Masih segar? Energinya belum hilang?"
"Berapa?" tanya Bara singkat (lupa kalau dia sedang pura-pura bisu).
Kancil menepuk jidatnya. Yah, ketahuan.
Nyai Soka menatap tajam Bara. "Kau tidak bisu. Dan kau bukan paman bocah ini. Aura di taring ini... ada sisa hawa panas yang aneh. Siapa kau sebenarnya?"
Suasana menegang. Dua pengawal bayangan Nyai Soka muncul dari kegelapan, menghunus belati.
Bara tetap tenang. Dia mengambil kembali taring itu.
"Aku penjual yang tidak suka banyak tanya," kata Bara, suaranya memberat. Aura Prana-nya bocor sedikit—hanya sedikit, tapi cukup untuk membuat lilin di meja Nyai Soka padam. "Nyai mau beli atau tidak? Kalau tidak, lapak sebelah pasti mau."
Nyai Soka menelan ludah. Insting pedagangnya mengatakan orang ini berbahaya. Sangat berbahaya.
"Aku beli," kata Nyai Soka cepat. "500 koin emas. Dan... informasi gratis."
Bara tersenyum. "Deal. Aku butuh info tentang kapal ke Trowulan. Kapal yang cepat dan diam."
Nyai Soka memberikan kantong uang berat kepada Bara.
"Hanya ada satu kapal yang gila itu," kata Nyai Soka. "Si Walet Merah. Kaptennya seorang wanita gila bernama Kapten Jihan. Dia akan berlayar besok subuh. Tapi hati-hati... dia membenci laki-laki."
Setelah transaksi selesai, Bara dan Kancil kembali ke sampan.
"Tuan Elang kaya raya sekarang!" mata Kancil berbinar melihat kantong emas itu.
Bara mengambil segenggam koin emas (sekitar 50 keping) dan memasukkannya ke saku Kancil.
"Ini bagianmu sebagai pemandu. Gunakan untuk menyewa tabib terbaik buat adikmu. Dan pindahlah dari kolong jembatan."
Kancil ternganga. "Tuan serius?"
"Serius. Tapi ada syaratnya."
"Apa?"
"Lupakan kau pernah melihatku. Lupakan wajahmu. Kalau ada yang tanya, bilang saja kau memandu hantu."
Kancil mengangguk cepat sambil menangis haru. "Terima kasih, Tuan Hantu! Saya janji!"
Bara mendayung sampan menjauh. Dia menatap langit malam.
Trowulan. Ibu kota Majapahit kuno.
Di sana, jawaban tentang asal-usulnya, tentang Garuda, dan tentang kematian orang tuanya menunggu.
Dan Kapten Jihan... wanita pembenci laki-laki?
"Sepertinya perjalanan kita tidak akan membosankan, Mitra," kekeh Garuda.
"Semoga dia tidak melempar kita ke hiu sungai," balas Bara.
Glosarium & Catatan Kaki Bab 16
Dermaga Karang: Kota pelabuhan fiktif di hilir Sungai Brantas. Merupakan zona abu-abu yang tidak sepenuhnya dikuasai hukum kerajaan.
Sandi (Kata Sandi): Kode rahasia yang digunakan dunia bawah tanah (Underworld) untuk mengidentifikasi kawan atau lawan.
Adhikara Puncak: Tingkatan pendekar level 1 tahap akhir. Cukup kuat untuk menjadi kepala keamanan pedagang biasa, tapi lemah di hadapan pendekar sejati.
Si Walet Merah: Nama kapal legendaris yang terkenal karena kecepatannya. Walet adalah burung yang cepat dan lincah, simbol yang cocok untuk kapal penyelundup.