Dari kecil Perlita Cascata selalu di perlakukan tidak baik oleh keluarganya, dan sekarang dia juga harus merasakan sakitnya penghianatan dari kedua orang terdekatnya tepat di hari pernikahannya. Perlita harus merelakan calon suaminya menikahi kakak perempuannya yang bernama Ariana karena saat dirinya akan melaksanakan akad nikah, sang Kakak ketahuan hamil anak dari calon suaminya Perlita. Berharap mendapat simpati dari keluarganya tapi apa yang Perlita dapatkan, mereka semua malah mendukung pernikahan tersebut dan meminta Perlita untuk mengalah.
Bagaimana kehidupan Perlita selanjutnya? Apakah dia bisa melupakan pria yang sudah menyakitinya?
Ikuti terus kisahnya di sini ya!!😊
Terima kasih🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MartiniKeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman masa SMA
Sore ini Perlita memutuskan untuk jalan-jalan di sekitaran hotel menikmati pemandangan pantai yang berada di belakang hotelnya. Perlita sore itu menggunakan maxi dress berwarna putih dan dengan rambut panjangnya yang tergerai. Tidak lupa dia juga membawa tas selempang kecil yang menggantung di bahunya.
"Perfect."Gumam Perlita menatap pantulan tubuhnya di cermin. Setelah dirasa penampilannya sempurna dia lalu keluar dari kamar hotelnya dan langsung turun menuju lobby.
"Rame juga yah."
Perlita berjalan di keramaian orang-orang yang juga sedang menghabiskan waktu sore mereka di pantai. Ada yang sama dengan dirinya yang seorang diri, ada juga yang bersama pasangan dan keluarga mereka. Perlita berjalan menelusuri bibir pantai sampai akhirnya dia menemukan restoran yang berada di tepi pantai.
Perlita masuk ke restoran tersebut dan mencari meja yang menghadap ke arah pantai. Dirinya lebih memilih menikmati senja dari restoran tersebut. Lalu memesan menu seafood yang memang menjadi andalan restoran tersebut.
"Ternyata enak juga yah liburan sendiri begini." Gumam Perlita dengan memandangi ombak yang saling berkejaran. Dia begitu menikmati senja dan deburan ombak yang membuat dirinya candu. Mendengar deburan ombak pantai entah kenapa selalu membawa ketenangan di hatinya.
"Perlita."
"Zahra." Perlita bangkit dari duduknya ketika melihat teman masa SMA nya dulu.
Perlita dan Zahra cipika cipiki dan berpelukan.
"Kangen banget deh aku sama kamu. Oh iya kamu apa kabar Perl?"
"Aku baik Ra, kalau kamu gimana kabarnya? Makin cantik aja deh sekarang."
"Aku juga baik, kamu mah bisa aja deh Perl. Mana mungkin aku semakin cantik, orang aku udah ada anak dua loh Perl."
"Oh iya? Ketinggalan berita aku mah."
"Kamu sih terlalu sibuk sampai-sampai nggak tahu kabar bestie lama kamu ini."
"Aku kira kamu masih di Prancis loh Ra. Aku juga nggak aktif di sosial media jadi nggak tahu deh kabar teman-teman lama. Tapi aku punya kok kontak kamu."
"Makanya masuk grup alumni lah Perl, btw si Vito masuk grup alumni loh. Kok kamu nggak masuk sih Perl? Bukannya kalian soulmate yah? Terakhir aku dengar kabar kalian mau nikah yah? Tapi undangannya nggak ada di grup, makanya kami pada nggak tahu loh."
Perlita langsung menghela nafas kasar.
"Apa aku salah ngomong Perl?"
Zahra tentu heran dengan perubahan ekspresi temannya itu. Memang tidak banyak teman Perlita dan Vito yang mengetahui pernikahan mereka batal, hanya teman-teman yang diundang Perlita dan Vito serta teman-teman yang masih berkomunikasi dengan mereka saja.
"Pernikahan kami batal di detik-detik mau akad nikah Ra."
"Batal? Kok bisa Perl? Apa yang terjadi?" tanya Zahra yang tentu terkejut mendengar ucapan Perlita.
"Vito selama ini ternyata berselingkuh dengan kakak kandung aku dan di saat kami akan melaksanakan akad nikah, kak Ariana ketahuan hamil dan aku dipaksa untuk merelakan Vito menikahi Ariana. Aku bisa apa Ra? Kamu pasti tahu kan bagaimana perlakuan orang tua aku sama aku selama ini."
"Ya ampun Perl, maaf yah aku malah membuka luka kamu. Tapi aku yakin kok itu semua terjadi karena Tuhan lebih sayang sama kamu Perl. Masih banyak laki-laki yang jauh lebih baik dari pada si Vito itu. Tetap semangat yah Perl."
"Nggak apa-apa kok Ra. Kamu bener, Tuhan sayang sama aku. Kalau ketahuannya saat kami sudah menikah kan lebih sakit lagi rasanya Ra. Aku sekarang tidak mempermasalahkan itu lagi. Mungkin sudah takdir aku seperti ini kan. Siapa tahu setelah hujan akan datang pelangi."
"Kamu benar Perl."
"Kamu menetap di Bali Ra?"
"Tidak Perl. Kebetulan suami aku ada sedikit kerjaan di sini jadi aku ikut sekalian jalan-jalan. Tapi suami aku punya rumah di sini. Kalau ada waktu main lah ke rumah aku Perl. Kebetulan aku di Bali satu bulan. Kalau kamu gimana? Kamu lama nggak di Bali?" tanya Zahra.
"Seminggu aja Ra. Aku baru tadi siang sampai di Bali."
"Berarti bisa dong kita ngabisin waktu bareng, kalau kamu nggak keberatan aku siap kok jadi tour guide-nya kamu Perl. Kebetulan aku udah berkali-kali datang ke Bali untuk nemenin suami kerja."
"Apa kamu nggak repot kalau jadi tour guide nya aku? Gimana dengan kedua anak kamu Ra?"
"Aku nggak repot kok Perl. Anak aku juga dijaga sama pengasuh kok. Jadi aku bisa kok nemenin kamu. Tapi kamu nya merasa keberatan nggak kalau aku temani selama di Bali?"
"Kalau aku mah senang kalau ada temen liburan di sini Ra. Apalagi ini pertama kalinya aku datang ke Bali."
"Oke deh, aku bakalan bawa kamu keliling-keliling Bali deh. Kita juga sudah lama nggak main bareng. Pasti bakalan seru deh." Zahra merasa senang bisa menghabiskan waktu bersama Perlita karena memang sudah lama mereka tidak bertemu.
"Aku pamit pulang dulu yah Perl. Maaf nggak bisa nemenin lebih lama di sini. Soalnya aku tadi cuma minta izin keluar sebentar sama Pak suami," kata Zahra pamitan.
"Iya Ra, kamu hati-hati yah."
"Sampai jumpa besok Perl." Zahra melambaikan tangannya ke arah Perlita dan Perlita membalas lambaian tangan tersebut. Perlita kembali sendiri menikmati senja sembari menikmati seafood pesanannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Sayang, mampir makan malam dulu yuk!"
Saat ini Ariana dan Vito sedang dalam perjalanan pulang dari rumah sakit.
"Di rumah aja kita makan malamnya. Nanti beli makan di warung makan dekat kontrakan aja."
"Ha? Beli di warung makan yang kecil itu sayang? Nggak ah, makanan di sana pasti nggak enak. Nggak higienis juga kalau makan di sana. Kita beli di restoran aja kan bisa take away."
"Memangnya kamu ada uang?" tanya Vito.
"Ya pakai uang kamu lah sayang."
"Uang aku saat ini sudah menipis sayang. Kan sekarang udah akhir bulan. Jadi yah kita harus hemat dulu lah."
Raut wajah Ariana langsung berubah kesal. Seumur hidupnya tidak pernah makan makanan di warung makan kecil yang berada di dekat kontrakannya. Tapi setelah dengan Vito dirinya harus memakan makanan tersebut.
"Kamu kenapa sih sayang? Padahal makanan di sana enak-enak loh. Aku sejak pindah ke sana selalu beli makanan di sana. Mana murah lagi."
"Sayang, aku mana biasa makan makanan di warung seperti itu. Yang ada nanti aku sakit perut lagi. Mana aku lagi hamil lagi. Kenapa kamu nggak cari tambahan uang buat kehidupan kita aja sih sayang."
"Cari uang tambahan? Maksud kamu apa Riana? Yang bener aja, aku kamu suruh kerja double begitu? Kalau kamu mau hidup enak, minta aja uang ke Mama dan Papa kamu. Kamu kan anak kesayangan mereka, aku yakin mereka pasti kasih kamu uang kok. Kalau nggak kamu minta di beliin rumah aja buat tempat tinggal kita. Jadi kan kita nggak perlu ngontrak lagi. Kamu itu anak emas Mama dan Papa kamu Riana, seharusnya kamu harus pandai memanfaatkan keadaan itu. Kan lumayan kalau Mama dan Papa kamu beliin kamu rumah. Kita nggak perlu ngontrak lagi kan dan kita juga bakalan dapat pujian dari orang lain. Karena baru aja nikah tapi sudah bisa membeli rumah."
Vito berusaha untuk mempengaruhi Ariana supaya istrinya itu meminta uang dan rumah kepada kedua mertuanya.
Terima kasih untuk yg sudah mampir🙏Semoga kalian sehat dan rejeki kalian selalu lancar. Jgn lupa tinggalkan like n komentarnya ya🙏😊
Thor jangan di bikin apes mulu peran utama pls aku baru selesai baca yg peran utama dari awal Ampe ending apes mulu