NovelToon NovelToon
Kembali Ke Tahun 2005

Kembali Ke Tahun 2005

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Misteri / Nikahmuda / Time Travel / Cintapertama
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nunna Zhy

Pernikahan seharusnya menjadi awal kebahagiaan, tetapi bagi Dara Sarasvati, tapi justru menjadi akhir dari mimpi-mimpi mudanya. Rutinitas rumah tangga dan keterbatasan hidup membuatnya mempertanyakan semua pilihan yang pernah ia buat.

Satu malam, pertengkaran dengan suaminya, Aldi Laksamana, mengubah segalanya.

Dara pergi—dan terbangun kembali di masa SMA, di tahun 2005.

Di hadapan kesempatan kedua ini, Dara dihadapkan pada dilema yang tak terbayangkan:
mengubah masa lalu demi dirinya sendiri, atau mempertahankan masa depan yang kelak menghadirkan anak yang sangat ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nunna Zhy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rasa Yang Sama

Long weekend datang seperti jeda yang tak benar-benar ia inginkan.

Aldi sebenarnya tak berniat pulang. Asrama lebih mudah—lebih sepi, lebih steril dari hal-hal yang bisa mengacaukan fokusnya.

Tapi Ayahnya tak berhenti menelepon.

Pesan suara.

Panggilan tak terjawab.

Nada yang pura-pura santai tapi jelas memaksa.

Akhirnya Aldi menyerah.

Motor berhenti di depan rumah yang sudah sangat ia kenal. Cat pagarnya mulai pudar. Pohon mangga di halaman masih berdiri miring seperti dulu.

Begitu ia membuka helm—

Langkahnya terhenti.

Dara.

Gadis itu berdiri di teras, membawa tas kain kecil. Rambutnya terikat rendah, wajahnya tampak lebih kurus dari terakhir kali ia lihat.

Tatapan mereka bertemu.

Hanya satu detik.

Tapi cukup untuk membuat waktu terasa janggal.

Tak ada senyum.

Tak ada sapaan.

Dara justru mengalihkan pandangan lebih dulu. Ia menyerahkan bungkusan makanan ke Ayah Aldi yang berdiri di pintu.

“Dimakan, Om,” katanya lembut.

Nada suaranya sopan. Hangat.

Untuk semua orang—

kecuali Aldi.

Ia berbalik. “Saya pamit ya, Om.”

Dan pergi.

Tanpa melihat Aldi lagi.

Bahkan tidak sekali pun.

Suara gerbang menutup terdengar kecil… tapi entah kenapa rasanya seperti sesuatu yang benar-benar ditutup.

“Akhirnya kamu pulang juga, Al,” ujar Ayahnya ringan, seolah tak menyadari dunia anaknya baru saja bergeser satu derajat.

Aldi masih menatap ke arah jalan tempat Dara menghilang. Tenggorokannya kering.

“Dia—”

“Oh, namanya Dara. Sekolah di SMA Bimantara juga. Kamu nggak kenal?” Ayahnya masuk ke rumah sambil membawa bungkusan itu.

Aldi ikut masuk, meletakkan helmnya. “Ngapain dia ke sini?”

Ayahnya berhenti di meja makan. Wajahnya berubah sedikit lebih serius.

“Waktu kamu di asrama kemarin… Ayah sempat sakit.”

Alis Aldi langsung mengernyit. “Sakit apa? Kok nggak bilang?”

“Cuma tekanan darah turun,” jawab Ayahnya pelan. “Ayah ke rumah sakit sendiri. Tapi di sana Ayah sempat pingsan.”

Dunia Aldi terasa bergetar tipis.

“Beruntung ada Dara di sana. Dia lagi anter mamanya kontrol. Dia yang bantu panggil perawat. Dia juga yang nemenin Ayah sampai sadar.”

Aldi diam.

Ayahnya membuka bungkusan makanan itu. Masakan rumahan. Masih hangat.

“Sejak itu… dia datang tiap sore. Bawain makanan. Nemenin Ayah ngobrol. Bahkan pernah bantu bersihin dapur waktu Ayah lagi lemes.”

Setiap kalimat seperti batu kecil yang dilempar pelan ke dada Aldi.

Tak keras.

Tapi cukup untuk membuatnya sesak.

“Anak itu baik banget, Al,” lanjut Ayahnya pelan. “Jarang ada anak muda sekarang yang setulus itu. Ayah sampai malu sendiri. Bukan siapa-siapa dia buat kita… tapi perhatiannya besar.”

Aldi menunduk. Tangannya mengepal pelan di samping tubuhnya.

“Dia kadang tanya kabar kamu juga,” tambah Ayahnya, tanpa sadar menusuk lebih dalam. “Bilang kamu pasti lagi sibuk ngejar mimpi.”

Sunyi memenuhi ruangan.

Di luar, suara motor lewat sesekali terdengar.

Aldi baru sadar sesuatu yang menyakitkan:

Dara tetap ada di hidupnya.

Tetap peduli.

Bahkan saat ia sendiri memilih menjauh.

Dan yang lebih menyakitkan—

Dara memperlakukan Ayahnya dengan lembut,

sementara padanya… gadis itu bahkan tak sanggup menoleh.

“Mau makan?” tanya Ayahnya sambil membuka kotak bekal yang dibawa Dara.

Aroma hangat langsung menyebar di ruang makan kecil itu.

“Sambal goreng kentang sama ayam goreng… wah, Al,” Ayahnya tersenyum, “ini kan menu kesukaanmu. Ayah ambilkan ya.”

Aldi tak menjawab.

Ia berdiri di sana, diam, seperti suara di sekitarnya mendadak jauh. Matanya hanya mengikuti gerakan tangan Ayahnya—sendok mengambil nasi, uap tipis mengepul, lauk disusun pelan di atas piring.

Gerakan sederhana.

Tapi entah kenapa membuat tenggorokannya terasa sempit.

Piring itu diletakkan di depannya.

“Masih hangat,” kata Ayahnya, lalu duduk di seberang.

Aldi menatap makanan itu lama.

Sambal goreng kentang dengan potongan kecil hati ayam. Warna merah kecokelatan yang familiar. Ayam gorengnya kering di luar, pasti lembut di dalam—ia tahu itu tanpa harus menyentuhnya.

Karena ia pernah makan masakan seperti ini berkali-kali.

Dimasakkan oleh orang yang sama.

Tangannya bergerak pelan, mengambil sendok.

Ragu.

Seperti bukan cuma makanan yang hendak ia telan, tapi sesuatu yang jauh lebih berat.

Suapan pertama masuk ke mulutnya.

Dan dunia berhenti.

Rasa gurih pedas yang pas. Kentang yang lembut tapi tak hancur. Bumbu ayam yang meresap sampai ke dalam.

Persis.

Persis seperti dulu.

Bukan “mirip”.

Bukan “hampir”.

Sama.

Napas Aldi tersendat.

Dadanya mendadak sesak oleh sesuatu yang tak ada hubungannya dengan rasa pedas.

Ingatan datang tanpa permisi—

Dara berdiri di dapur kecil, mengikat rambut asal, mengomel karena Aldi tak sabaran nunggu ayam matang.

Dara meniup sendok panas sebelum menyuapinya sambil tertawa.

Dara berkata, “Kalau kamu capek kerja, makan yang banyak biar kuat.”

Sendok di tangan Aldi berhenti di udara.

Ia menunduk cepat, menahan sesuatu yang tiba-tiba naik ke matanya.

Aldi menelan.

Susah payah.

Rasa makanan itu terlalu familiar—sehangat dulu, sesakit sekarang.

Bersambung...

1
Vivi Zenidar
karyanya bagus..... semoga akan banyak yg baca dan menyukai
achi
wihhh makin seru thorr👍👍👍
achi
naluri orang tua pasti selalu ada
achi
wkwkwk mari kita lihat siapa yg kebakar duluan
achi
kurang waktu buat komunikasi mereka dulu
achi
sama2 mau ubah takdir tp kalo dah jodoh pasti dikasi jalan
achi
semangatt ka nulis cerita ini 😍😍😍
I'm Girl
nah kan bner, si aldi emang dr masa depan
I'm Girl
cie cemburu si aldi
I'm Girl
ini Aldi pasti dr masa depan deh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!