Darah kakaknya masih basah di gaun pestanya saat Zahra dipaksa lenyap.
Melarikan diri dari belati ayahnya sendiri, Zahra membuang identitas ningratnya dan bersembunyi di balik cadar hitam sebagai Fatimah. Di sebuah panti asuhan kumuh, ia menggenggam satu kunci logam bukti tunggal yang mampu meruntuhkan dinasti berdarah Al-Fahri. Namun, Haikal, sang pembunuh berdarah dingin, terus mengendus aromanya di setiap sudut gang.
Di tengah kepungan maut, muncul Arfan pengacara sinis yang hanya percaya pada logika dan bukti. Arfan membenci kebohongan, namun ia justru tertarik pada misteri di balik sepasang mata Fatimah yang penuh luka. Saat masker oksigen keadilan mulai menipis, Fatimah harus memilih: tetap menjadi bayangan yang terjepit, atau membuka cadarnya untuk menghancurkan sang raja di meja hijau.
Satu helai kain menutupi wajahnya, sejuta rahasia mengancam nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Janji Ibu Sarah
Suara pecah belah yang menghantam lantai ubin terdengar seperti ledakan di tengah kesunyian panti asuhan pagi itu. Ibu Sarah berdiri mematung dengan telapak tangan menutupi mulut, sementara di hadapannya, seorang pria berseragam hitam legam melempar map cokelat dengan kasar ke atas meja kayu yang sudah mulai lapuk.
Pria itu menatap sekeliling ruangan dengan pandangan meremehkan, seolah debu yang menempel di dinding panti adalah kotoran yang menajiskan sepatunya. Fatimah yang baru saja kembali dari rumah sakit segera berlari mendekat, merangkul bahu Ibu Sarah yang gemetar hebat karena syok yang mendalam.
"Apa yang kalian lakukan di sini? Siapa yang memberi kalian izin untuk masuk dan merusak barang kami?" tanya Fatimah dengan suara yang bergetar namun penuh penekanan.
Pria berseragam itu tertawa kecil, suara tawanya terdengar hambar dan penuh penghinaan di telinga Fatimah yang sedang panik. Ia mengetuk meja dengan ujung jarinya yang memakai cincin emas besar, menunjukkan simbol kekuasaan yang ia miliki atas tanah yang sedang mereka pijak.
Ia tidak menjawab pertanyaan Fatimah secara langsung, melainkan mengeluarkan selembar surat perintah dengan cap stempel merah yang sangat mencolok. Fatimah merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat nama perusahaan milik ayahnya tertera jelas di bagian kepala surat tersebut sebagai pemilik baru lahan panti.
"Panti asuhan ini berdiri di atas tanah yang salah, Nona, dan Ibu Sarah sudah tahu betul bahwa masa sewa tempat ini sudah habis sejak kemarin," jawab pria itu dengan nada dingin.
Ibu Sarah menggelengkan kepala dengan cepat, air mata mulai mengalir membasahi pipinya yang sudah mulai keriput dimakan usia. Ia memegang erat lengan baju Fatimah, mencari kekuatan dari satu-satunya orang yang ia percayai bisa menjaga rahasia besar di balik pendirian panti asuhan ini belasan tahun yang lalu.
Keadaan menjadi semakin kacau saat beberapa anak panti mulai mengintip dari balik pintu kamar dengan wajah ketakutan. Mereka tidak mengerti mengapa rumah tempat mereka berlindung tiba-tiba didatangi oleh orang-orang berwajah garang yang membawa linggis dan alat berat di halaman depan.
"Tolong, beri kami waktu satu minggu lagi, saya berjanji akan mencari jalan keluarnya," mohon Ibu Sarah dengan suara yang nyaris hilang.
Fatimah merasa dadanya sesak melihat martabat Ibu Sarah diinjak-injak oleh orang suruhan ayahnya sendiri di depan matanya. Ia tahu bahwa ini adalah bagian dari rencana besar untuk menyeretnya keluar dari persembunyian dengan cara menghancurkan semua hal yang ia cintai.
Cadar yang ia kenakan kini terasa sangat lembap oleh keringat dingin yang mengucur deras karena ia harus menahan diri agar tidak berteriak menyebutkan identitas aslinya. Jika ia mengaku sebagai Zahra Al Fahri sekarang, mungkin panti ini selamat, namun nyawa Arfan yang sedang kritis di rumah sakit akan kembali terancam.
"Kalian tidak punya hati nurani, ke mana anak-anak ini harus pergi jika panti ini kalian ratakan dengan tanah hari ini?" teriak Fatimah sambil berdiri melindungi Ibu Sarah.
Pria itu tidak peduli, ia justru memberi isyarat kepada para pekerja di halaman untuk mulai memasang pagar seng di sekeliling bangunan utama panti asuhan. Ibu Sarah jatuh terduduk di kursi, ia seolah kehilangan seluruh tulang penyangganya saat melihat papan nama panti asuhan yang ia lukis sendiri mulai dicopot paksa.
Fatimah berlutut di depan Ibu Sarah, menggenggam tangan wanita tua itu yang terasa sedingin es di bawah terik matahari yang mulai menyengat. Ia bersumpah dalam hati bahwa ia tidak akan membiarkan sejarah kelam ayahnya menghancurkan masa depan anak-anak yatim yang tidak berdosa ini.
"Ibu, jangan menyerah, aku akan pergi menemui mereka dan memastikan janji kita tetap tegak," bisik Fatimah dengan keyakinan yang dipaksakan.
Ibu Sarah menatap mata Fatimah dalam-dalam, ia melihat kilatan tekad yang sama dengan yang ia lihat pada malam saat Fatimah pertama kali datang dengan gaun berdarah. Ia tahu bahwa Fatimah sedang bersiap untuk masuk kembali ke dalam sarang serigala demi menyelamatkan domba-domba kecil yang ada di panti ini.
Namun, ketakutan Ibu Sarah bukan hanya soal bangunan panti, melainkan soal keselamatan jiwa Fatimah yang selama ini sudah ia anggap sebagai putri kandungnya sendiri. Ia tidak ingin Fatimah kembali menjadi Zahra yang penuh luka dan kehampaan hanya karena ingin menebus kesalahan yang sebenarnya dilakukan oleh orang tuanya.
"Jangan lakukan itu, Nak, aku lebih baik kehilangan bangunan ini daripada harus kehilangan dirimu lagi," sahut Ibu Sarah sambil terisak pelan.
Percakapan emosional mereka terputus saat suara deru mesin buldozer mulai menderu keras di depan gerbang panti asuhan yang sudah mulai miring. Para tetangga mulai berdatangan dan berbisik-bisik, namun tidak ada satu pun dari mereka yang berani mendekat untuk menolong karena takut pada ancaman pria berseragam itu.
Fatimah berdiri tegak kembali, ia merapikan kerudungnya yang mulai berantakan akibat angin kencang yang membawa aroma solar dari alat berat tersebut. Ia mengambil ponsel miliknya yang sempat ia sembunyikan di balik cadar, mencoba menghubungi satu nomor yang ia harap masih aktif dan bisa memberinya bantuan hukum darurat.
"Jika kalian berani menyentuh dinding ini satu inci saja, aku pastikan seluruh media nasional akan tahu bahwa perusahaan Al Fahri menindas anak yatim!" ancam Fatimah sambil mengangkat ponselnya tinggi-tinggi.
Ancaman itu membuat pria berseragam itu berhenti melangkah sejenak, ia tampak menimbang-nimbang risiko reputasi perusahaan yang saat ini sedang dalam pengawasan ketat pemerintah. Ia menatap Fatimah dengan kebencian yang mendalam, merasa terhina karena seorang wanita bercadar berani menantang otoritasnya di depan umum.
Ia mendekati Fatimah hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa jengkal saja, mencoba mengintimidasi dengan postur tubuhnya yang besar dan aroma rokok yang menyengat. Fatimah tidak berkedip sedikit pun, ia menatap balik pria itu dengan keberanian seorang pejuang yang sudah tidak lagi memiliki rasa takut akan kematian.
"Kau pikir ancaman kosongmu akan berhasil? Kami punya surat resmi, dan kau hanyalah orang asing tanpa identitas yang jelas di sini," ejek pria itu dengan nada merendahkan.
Fatimah tersenyum di balik cadarnya, sebuah senyuman pahit yang mengandung makna bahwa ia memiliki lebih banyak kartu di tangannya daripada yang pria itu bayangkan. Ia teringat akan sebuah dokumen rahasia yang pernah Arfan tunjukkan padanya tentang sejarah tanah ini yang sebenarnya merupakan wakaf abadi dari kakek Fatimah.
Jika ia bisa menemukan akta wakaf asli tersebut, maka seluruh surat perintah penggusuran ini tidak akan lebih dari sekadar tumpukan kertas sampah yang tidak berguna. Ia menoleh ke arah gudang belakang tempat Ibu Sarah menyimpan barang-barang lama milik keluarga pendiri panti asuhan yang mungkin menyimpan kunci keselamatan mereka.
"Ibu, katakan padaku di mana kunci peti kayu milik kakek, aku harus menemukannya sekarang juga sebelum terlambat!" seru Fatimah dengan terburu-buru.
Ibu Sarah tertegun, ia seolah baru tersadar dari mimpi buruknya dan teringat akan amanat yang pernah dititipkan kepadanya bertahun-tahun yang lalu. Ia merogoh saku bajunya dengan tangan gemetar, mengeluarkan sebuah kunci kecil berkarat yang selama ini ia kalungkan di lehernya sebagai jimat keberuntungan.
Fatimah segera menyambar kunci itu dan berlari menuju gudang belakang melewati para pekerja yang mencoba menghalanginya dengan tatapan tajam. Ia harus berpacu dengan waktu, karena ia mendengar suara mesin alat berat itu mulai bergerak maju menghancurkan pagar kayu pembatas halaman.
"Tetaplah di sini, Ibu, jangan biarkan mereka masuk ke dalam ruangan utama sampai aku kembali membawa bukti itu!" perintah Fatimah sambil terus berlari.
Debu di dalam gudang membuat Fatimah terbatuk-batuk, namun ia tidak peduli dan terus mengobrak-abrik tumpukan kardus tua yang sudah berjamur. Tangannya meraba-raba di bawah lemari kayu besar, mencari peti kecil yang digambarkan oleh Ibu Sarah sebagai harta karun terakhir panti asuhan ini.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, ujung jarinya menyentuh permukaan logam yang dingin dan kasar di sudut ruangan yang paling gelap. Ia menarik peti itu keluar dengan tenaga sisa yang ia miliki, memasukkan kunci kecil itu ke dalam lubangnya, dan memutarnya dengan sekali sentakan kuat.
"Ya Allah, tolong mudahkan jalanku untuk menyelamatkan rumah bagi mereka yang tidak memiliki tempat untuk pulang," doa Fatimah dalam hati.
Peti itu terbuka dengan suara derit yang memilukan, menyingkap tumpukan surat-surat kuning yang sudah rapuh termakan usia namun masih terbaca dengan jelas. Di atas tumpukan itu, terdapat sebuah map kulit berwarna hitam dengan segel kerajaan lama yang menunjukkan bahwa tanah panti adalah milik sah rakyat untuk tujuan sosial.
Fatimah mengambil map itu dengan tangan gemetar, ia merasa seolah kakeknya sedang memeluknya dari alam sana dan memberinya senjata untuk melawan ayahnya sendiri. Namun, saat ia hendak berdiri, ia mendengar suara langkah kaki yang berat mendekat ke pintu gudang yang terbuka lebar.
"Ternyata kau benar-benar menemukan apa yang selama ini dicari oleh tuan besar, Zahra," suara Haikal terdengar dari balik pintu yang menggelap.