Di balik tembok gedhe SMA Dirgantara, ada lima cowok paling kece dan berkuasa yang jadi most wanted sekaligus badboy paling disegani: ALVEGAR. Geng ini dipimpin Arazka Alditya Bhaskara, si Ketua yang mukanya ganteng parah, dingin, dan punya rahang tegas. Pokoknya dia sempurna abis! Di sebelahnya, ada Rangga Ananta Bumi, si Wakil Ketua yang sama-sama dingin dan irit ngomong, tapi pesonanya gak main-main. Terus ada Danis Putra Algifary, si ganteng yang ramah, baik hati, dan senyumnya manis banget. Jangan lupa Asean Mahardika, si playboy jago berantem yang hobinya tebar pesona. Dan yang terakhir, Miko Ardiyanto, lumayan ganteng, paling humoris, super absurd, dan kelakuannya selalu bikin pusing kepala tapi tetep jago tebar pesona.
AlVEGAR adalah cerita tentang cinta yang datang dari benci, persahabatan yang solid, dan mencari jati diri di masa SMA yang penuh gaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Kencan pertama dan janji di bawah bintang
Setelah badai di hutan mereda, sekolah kembali berjalan normal. Namun, ada pemandangan yang membuat seisi SMA Dirgantara gempar. Arazka, sang ketua yang terkenal sedingin es dan bicara seperlunya, kini terlihat berjalan di koridor sambil menggandeng tangan Maura dengan sangat lembut. Tidak ada lagi gertakan, tidak ada lagi wajah tegang.
🍦 Sisi Lain Sang Ketua
Sore itu, Arazka menjemput Maura di depan ruang OSIS. Ia tidak membawa motor sport-nya yang bising, melainkan mobil hitam yang nyaman.
"Hari ini, aku mau bawa kamu ke suatu tempat yang nggak ada hubungannya sama ALVEGAR atau OSIS," ujar Arazka sambil membukakan pintu mobil untuk Maura.
Maura tersenyum, pipinya merona. "Mau ke mana, Arazka?"
"Rahasia. Pokoknya kamu cukup duduk manis," jawab Arazka lembut. Ia sempat mengusap rambut Maura pelan sebelum mulai menyetir.
Mereka sampai di sebuah bukit yang menghadap ke arah kota. Di sana sudah tertata rapi sebuah piknik kecil dengan lampu-lampu tumblr yang cantik. Arazka ternyata sudah menyiapkan ini semua dengan bantuan Miko (yang sempat dipukul Arazka karena hampir membocorkan rahasia ini seminggu yang lalu).
"Kamu yang nyiapin ini semua?" Maura menutup mulutnya tak percaya.
"Aku dibantu Miko sedikit, tapi konsepnya dari aku. Aku mau kita mulai semuanya dari nol, Maur. Tanpa kontrak, tanpa paksaan. Cuma aku dan kamu," Arazka menatap Maura dalam-dalam.
💬 Percakapan dari Hati ke Hati
Mereka duduk beralaskan kain kotak-kotak, menikmati pemandangan lampu kota yang mulai menyala satu per satu.
"Maura," panggil Arazka pelan. "Aku tahu aku punya banyak kekurangan. Aku gampang cemburu, aku egois, dan aku sering bikin kamu takut. Tapi sejak kejadian di hutan itu, aku sadar... kehilangan kamu adalah ketakutan terbesar aku."
Maura menggenggam tangan Arazka. "Aku juga takut, Zka. Tapi liat kamu yang sekarang, yang jauh lebih tenang dan lembut, bikin aku merasa aman lagi."
"Aku janji, khusus buat kamu, aku bakal selalu jadi rumah yang nyaman. Bukan penjara yang ngekang," Arazka mengecup punggung tangan Maura lama.
🍕 Miko, Fanila, dan Misi Rahasia
Sementara itu, di sebuah kafe tidak jauh dari bukit tersebut, Miko, Fanila, Asean, dan Yasmin sedang "memantau" dari kejauhan menggunakan teropong milik Miko.
"Gila, Bos Arazka beneran jadi soft boy!" seru Miko sambil makan pizza. "Liat tuh, dia pegangan tangan terus! Gue yang jomblo panas nih!"
"Berisik, Miko! Fokus pantau perimeter, takutnya ada anak Black Roses atau orang suruhan Clarissa yang mau ngerusak momen mereka," sahut Keysha yang sedang berdiri siaga di dekat jendela.
Yasmin menghela napas sambil memakai lipgloss. "Tapi gue seneng liat mereka. Maura berhak dapet kebahagiaan setelah trauma kemarin. Arazka bener-bener nepatin janjinya buat berubah."
🌑 Bayangan di Tengah Kebahagiaan
Namun, tidak semua orang merayakan momen ini. Di markas ALVEGAR yang sepi, Danis duduk sendirian menatap lapangan basket yang gelap. Ia memegang ponselnya, melihat foto Maura yang baru saja diunggah oleh Miko di story WhatsApp dengan caption:
"Ketua kita sudah luluh!"
Hati Danis terasa perih. Ia senang Maura bahagia, tapi rasa cemburu itu tetap ada. Tiba-tiba, Kinara masuk membawa kotak makan.
"Kak Danis... belum pulang?" tanya Kinara pelan.
Danis hanya menggeleng. "Bentar lagi, Kin."
Kinara melihat layar ponsel Danis yang masih menampilkan foto Maura. Kinara menunduk, ia tahu hati Danis belum sepenuhnya untuknya. Ia merasa hanya menjadi pelampiasan atau bayang-bayang.
Di sisi lain ruangan, Rangga sedang menelepon seseorang di balkon.
"Biarkan mereka bahagia dulu," bisik Rangga pada orang di seberang telepon. "Biarkan Arazka menurunkan seluruh pertahanannya. Saat dia sudah merasa paling aman dan paling mencintai Maura... itulah saat kita akan merampas semuanya dari dia. Termasuk nama baiknya."
Rangga menutup telepon dan menatap ke arah bukit di kejauhan dengan tatapan penuh kebencian.
TO BE CONTINUED