Sadewa dan Bianca sudah bersahabat dari kecil. Terbiasa bersama membuat Bianca memendam perasaan kepada Sadewa sayang tidak dengan Sadewa,dia memiliki gadis lain sebagai tambatan hatinya yang merupakan sahabat Bianca.
Setelah sepuluh tahun berpacaran Sadewa memutuskan untuk menikahi kekasihnya,tapi saat hari H wanita itu pergi meninggalkannya, orang tua Sadewa yang tidak ingin menanggung malu memutuskan agar Bianca menjadi pengantin pengganti.
Sadewa menolak usulan keluarganya karena apapun yang terjadi dia hanya ingin menikah dengan kekasihnya,tapi melihat orangtuanya yang sangat memohon kepadanya membuat dia akhirnya menyetujui keputusan tersebut.
Lali bagaimana kisah perjalanan Sadewa dan Bianca dalam menjalani pernikahan paksa ini, akankah persahabatan mereka tetap berlanjut atau usai sampai di sini?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibu Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bagian 35
Sadewa dan Bianca memasuki apartemen,di sana mereka melihat mama Hanum yang duduk di sofa sambil memakan buah.
"Kalian udah sampai."
Bianca langsung duduk disamping mama Hanum kemudian dia memeluk mama Hanum dari samping.
"Mama kok buru-buru pulang sih,Caca kan masih kangen." ucap Bianca dengan nada manja.
Mama Hanum mengelus rambut Bianca,"mama ga enak disini lama-lama apa lagi kalian pengantin baru, lagian papa di rumah ga ada yang urusin,masa papa di urus si blue (kucing milik Sadewa) yang ada papa pusing ngurusin bule."
"Jadi kangen blue gembul." ucap Bianca.
"Makanya sekali-kali kalian pulang,masa sampai mama ke sini."
Ada rasa bahagia di dada Sadewa saat melihat Bianca dan mamanya saling menyayangi.
"Sebenarnya yang anaknya mama itu aku apa Caca?." pertanyaan Sadewa mendapat lemparan anggur dari mama Hanum.
"Bianca,kamu itu cocok jadi saudaranya Malin Kundang yang suka membangkang kepada orang tua." ucap mama Hanum.
Bianca tertawa mendengar ucapan mama Hanum apa lagi melihat wajah Sadewa yang cemberut.
"Ga adil banget." ucap Sadewa dengan suara pelan.
"Mama mau ngasih tau kalau mama sama papa mau keluar negeri dalam waktu lama Karena ada urusan jadi kalian berdua yang akur,mama cuma mau kalian bahagia dan pesan dari papa segera kasih kami cucu yang banyak,bosen banget punya anak cuma sebiji." ucap mama Hanum.
"Mama minta cucu kaya minta dibeliin kucing aja,bikin nya itu butuh proses ma." ucap Sadewa seenaknya sedangkan Bianca yang merasa itu adalah hal yang memalukan untuk dibahas hanya diam saja sambil salah tingkah.
"Halah akal-akalan kamu aja, sayang kalau Malin Kundang ini macem-macem sama kamu langsung lapor mama,biar mama kutuk jadi sikat WC."
"Ga ada yang lebih bagusan ma." protes Sadewa.
Mama Hanum hanya menatap Sadewa sambil menunjuk tangannya yang terkepal.
"Aku lebih percaya kalau aku ini anak pungut."ucapan Sadewa dibalas tawa oleh mama Hanum dan Bianca.
Bianca dan Sadewa mengantarkan mama Hanum sampai ke mobil.
"ingat pesan mama kalian harus saling menyayangi,dan jangan lupa cucu yang lucu buat mama,by."
Setelah memastikan mama Hanum sudah pulang Sadewa dan Bianca kembali ke dalam apartemen.
Sadewa melihat Bianca menuju kamar tamu,"mau kemana kamu?" tanya Sadewa.
"Istirahatlah Dewa,capek banget aku." jawab Bianca.
"Katanya kamu minta kesempatan tapi malah tidur nya misah."
"Emang harus tidur bareng?." tanya Bianca dengan gugup.
"Ya terserah kamu sih, padahal ini juga untuk kemajuan hubungan kita mana ada suami istri tidur dikamar terpisah."
Bianca Tanpa memikirkan perkataan Sadewa yang ada benarnya.
"Emm,jadi kita harus sekamar ya,tapi boleh ga kalau kita di kamar tamu aja."
Sadewa menatap lekat Bianca,dia paham kenapa Bianca mengatakan hal tersebut setelah kemarin Bianca melihat foto-fotonya bersama Sarah.
"Yaudah kalau gitu." Sadewa berlalu dihadapan Bianca dia langsung masuk ke kamar tamu diikuti Bianca yang panas dingin.
Sadewa langsung merebahkan tubuhnya di kasur Bianca.
"Kamu ga mau mandi dulu?." tanya Bianca.
"Nanti aja,aku capek banget." jawab Sadewa.
Bianca meninggalkan Sadewa yang sudah tertidur dengan tubuh tengkurap.
Bianca membersihkan tubuhnya yang terasa lengket karena sudah beraktivitas seharian.
Saat melihat Sadewa yang tertidur rasanya Bianca belum percaya jika hubungan mereka beberapa langkah lebih maju.
Bianca merebahkan tubuhnya di samping Sadewa,tidak bosan dia memandang wajah Sadewa yang terlihat tenang saat tertidur.
"Makasih udah ngasih aku kesempatan." setelah mengatakan hal tersebut Bianca ikut tertidur.
......................
Sementara di bagian lain Arsen yang sedang fokus mengecek laporan fokusnya teralihkan saat seseorang masuk keruangan nya tanpa mengetuk pintu.
"Apa maksud kamu kembali ke Indonesia kemudian mendekati Bianca."
"Bukankah tidak sopan masuk ke ruangan seseorang tanpa mengetuk pintu." jawab Arsen yang masih fokus menatap berkas dimeja nya.
"Aku tau apa yang kamu rencanakan, jangan melibatkan Bianca didalamnya,kalau mau menghancurkan Sadewa aku mohon jangan mengikut sertakan Bianca."
Arsen bangkit dari kursinya mendekati orang tersebut.
"Sepertinya adikku sudah benar-benar jatuh cinta kepada istri musuhnya." ucap Arsen sambil tersenyum mengerikan.
"Aku ga bakal biarin kamu dan wanita jahat itu membuat Bianca terluka, camkan itu Arsen." Raka memberikan ancaman kepada Arsen.
Laki-laki tersebut adalah Raka,dia dan Arsen adalah saudara kembar yang memiliki dendam kepada keluarga Sadewa.
"Terserah apa yang kamu katakan,aku peringatkan dari sekarang lebih baik jangan bermain hati dengan Bianca karena nanti kamu akan ikut hancur bersama mereka." ucap Arsen.
"Justru kalimat itu yang seharusnya aku katakan,kamu yang harus berhati-hati dengan permainan kamu."
Setelah itu Raka meninggalkan ruangan Arsen.
Arsen menatap gedung - gedung disekitar perusahaannya.
"Adikku yang malang,dia berpikir jika aku mudah di kendalikan oleh perasaan, bahkan Sarah yang sangat dicintai Sadewa bisa aku buat bertekuk lutut,apa lagi Bianca."
Arsen dengan jumawa mengatakan hal tersebut tanpa berpikir jika Bianca dan Sarah adalah dua pribadi yang berbeda.
......................
Sore harinya Sadewa terbangun lebih dulu,saat membuka mata dia langsung dihadapkan dengan wajah cantik Bianca yang sangat cantik.
Tanpa sadar Sadewa menyingkirkan anakan rambut yang menutupi wajah Bianca.
"Aku ga nyangka kalau kamu tumbuh menjadi wanita secantik ini, padahal dulu kamu kalau makan es krim selalu belepotan." Sadewa tersenyum saat mengingat hal lucu tentang Bianca.
Bianca menggeliat saat merasakan pergerakan Sadewa pura-pura tertidur, melihat Bianca yang masih terlelap dia bangkit dari tempat tidur dia keluar menuju dapur untuk minum, kemudian dia kembali ke kamarnya untuk mandi.