Menikah dengan seseorang yang tumbuh bersama kita sejak kecil—yang rasanya sudah seperti saudara kandung sendiri—namun harus terpaksa menikah dengannya. Itulah yang kualami.
Namaku Alif Afnan Alfaris, seorang arsitek.
Sedangkan dia, Anna Maida, adalah adik sepupuku sendiri. Sepupu, kata ayahku, sudah sah untuk dinikahi—alasannya demi mendekatkan kembali hubungan darah keluarga. Namun sungguh, tak pernah sedikit pun terlintas di benakku untuk menikah dengannya.
Hubungan kami lebih mirip Tom and Jerry versi nyata. Setiap bertemu, pasti ribut—hal-hal kecil saja sebenarnya. Dia selalu menolak memanggilku Abang, tidak seperti sepupu-sepupu yang lain. Alasannya sederhana: usia kami hanya terpaut satu hari.
Anna adalah gadis cerdas yang menyukai hidup sederhana, meski ayahnya meninggalkan warisan yang cukup banyak untuknya. Ia keras kepala, setia, penyayang… dan menurutku, terlalu bodoh. Bayangkan saja, ia mau dijodohkan dengan pria yang sama sekali tidak ia kenal, di usia yang masih sanga
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann,,,,,,, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rahasia kami laki laki Lo gak boleh tahu, An.
Aku mendongak.
Paman dan Mace ikut menoleh bersamaan.
“Benaran?” tanyaku refleks, nyaris lupa menjaga jarak yang sudah ku ciptakan sendiri.
Anna mengangguk singkat. Tegas.
“Iya.”
Belum sempat aku menolak, dua suara kecil langsung menyusul.
“Beneran, Ma?” Ayyan berseru, matanya berbinar.
“Adek sama Abang ikut ya!”
“Iya, Ma,” sambung Bian cepat.
“Kami juga mau antar Om Alif pulang.”
Aku menatap mereka satu per satu.
Senyum mereka terlalu tulus untuk ditolak.
Anna menghela napas pelan, lalu menatap kedua anaknya.
“Cepat makan. Jangan lama-lama.”
Dua bocah itu bersorak kecil, lalu kembali fokus ke piring masing-masing.
Aku menunduk, menyembunyikan senyum yang muncul tanpa izin.Setelah makan, aku pamit mencium tangan, paman.dan mace aku mengambil ransel ku,membawa Ayyan dan Bian ke halaman depan. Udara pagi masih dingin, sisa embun belum sepenuhnya hilang dari daun-daun. Dua bocah itu berjalan di kiri-kananku, langkah mereka ringan—terlalu ringan untuk anak-anak yang hari ini bolos sekolah hanya karena ngotot ingin mengantarku ke bandara.
Aku berhenti sejenak di dekat pagar. Bian ikut berhenti. Menatapku. Tatapannya serius, jauh lebih dewasa dari usianya.
“Om Alif,” katanya pelan, seolah takut ada yang mendengar.
“Om sayang sama Mama?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja. Tanpa aba-aba. Tanpa filter.
Aku tercekat.
Lidahku kelu. Dadaku mengencang.
Aku berjongkok, menyamakan tinggi badanku dengan mereka. Mengulur waktu. Mencari jawaban yang tidak melukai perasaan mereka, aku harus memahami bahasa mereka.
Belum sempat aku bicara, Ayyan sudah lebih dulu nimbrung. Bocah itu menepuk dadanya penuh percaya diri.
“Kalau Om sayang, Ayyan sama Abang bisa bantu bujuk Mama, Om,” katanya bersemangat.
“Soalnya Mama itu paling nggak bisa nolak kami. Iya kan, Bang?”
Bian mengangguk mantap, seolah ini rencana besar yang sudah dipikirkan matang.
Aku tersenyum. Senyum yang rasanya perih.
“Dengerin Om ya,” kataku akhirnya, suaraku dibuat selembut mungkin.
“Nak sayang itu bukan soal dibujuk, atau membujuk.”
Kening Ayyan berkerut. Bian ikut diam, mendengarkan.
“Kalau Om sayang sama Mama kalian,” lanjut ku pelan,
“yang Om gak mau maksa… Om cuma bisa nunggu.”
“Nunggu apa?” tanya Bian.
“Nunggu Mama kalian siap, buat buka hati untuk om,om gak mau digebukin sama mama kalian, kalian tau sendiri kan mama kalian itu jago beladiri,” jawabku jujur, setengah bercanda.
“Dan kalau ternyata Mama nggak pernah siap… Om tetap harus hormat.”
Ayyan manyun. “Berarti Om nggak mau jadi papa?”
Pertanyaan itu lagi.
Dan kali ini, lebih dekat. Lebih tajam.
Aku menarik napas panjang.
Menahan sesuatu yang ingin sekali keluar, tapi tidak boleh.
“Om mau jadi orang baik buat Mama kalian,” kataku.
“Itu aja dulu.”
Bian menatapku lama. Lalu mengangguk kecil, seperti anak yang tidak sepenuhnya mengerti, tapi memilih percaya.
Dari arah pintu, suara langkah terdengar.
Anna berdiri di ambang, menatap kami bertiga. Tidak berkata apa-apa. Hanya memandang kami seolah sedang mencari tahu tentang pembicaraan kami bertiga, oh gak bisa ini rahasia laki laki hehe.
Anna akhirnya melangkah mendekati kami, sambil memutar kunci mobil di tangan kanannya.
“Masuk mobil, kalian berdua,” katanya pada Bian dan Ayyan.
Nada suaranya lembut, tapi tidak bisa dibantah.
“iya mah tapi Om, Alif belum jawab pertanyaan adek ” protes Ayyan sambil cemberut. “
Anna berhenti tepat di sampingku. menatap wajahku bukan tatapan tajam, tapi cukup bikin aku merinding.
“kalian lagi ngomong apa sama Om, Alif.? tanyanya penuh selidik.
“ayyan sayang, jawab kalian lagi bahas apa sama Om, Alif.?”
pertanyaan itu membuat udara terasa lebih berat, gawat!, bias ketahuan nih.
Bian menatap kami bergantian, lalu menarik tangan adiknya.
“Ayo, dek,” katanya lirih. “Mama lagi serius.”ucap Bian pengertian
Mereka masuk ke mobil. Pintu tertutup.
Tinggal aku dan Anna di halaman yang tiba-tiba terasa terlalu luas.
Aku membuka mulut, tapi Anna lebih dulu bicara.
“Lif,” ucapnya pelan.
“Terima kasih.”
Aku mengerutkan kening. “Buat apa?”
“Buat nggak menggenggam sesuatu yang belum tentu jadi milik Kita,” jawabnya.
“Dan buat nggak ngajarin anak-anakku berharap yang belum tentu bisa aku penuhi.”
Aku menelan ludah.
“An… aku—”
“Dengerin dulu,” potongnya. Kali ini ia menoleh.
Tatapannya datar. sambil menarik senyum paksa, tapi aku tahu itu Jujur dari hatinya.
“Gue lagi belajar berdiri sendiri,” katanya.
“Kalau lo berdiri terlalu dekat sekarang… gue takut nyakitin kamu, Lif. Takut gue berdiri karena sandaran, bukan karena kaki gue sendiri.”
Aku mengangguk pelan.
“Aku ngerti.”
“Dan soal Bian…” lanjutnya, suaranya bergetar tipis.
“Lif apapun kata anak anak jangan dianggap serius. mereka itu minta dunia berhenti ninggalin dia.”
Kalimat itu menghantam ku tepat di dada.
“Aku tahu,” jawabku lirih.
“Itu kenapa aku mundur.”
Anna menghela napas panjang.
mungkin menyadari kalau katanya bisa saja menyakiti, tapi sungguh aku bisa mengerti perasaan nya, walau rasanya memang sedikit tersinggung sih.
“Lo ternyata bisa bersikap dewasa sekarang, Lif,” katanya.
“Dulu itu lo pasti udah ngeyel, marah, atau kabur.”
Aku terkekeh kecil. “Gue mau kabur loh, Ann. Pesawat gue bentar lagi, berangkat.”
Anna menatap ku sambil tersenyum tipis. “ hm, iya.”
Kami berdiri dalam diam beberapa detik. canggung. juga sedikit rasa tidak nyaman.
Diam adalah cara sederhana untuk orang yang sedang belajar menerima kenyataan.
“Apa pun yang terjadi nanti,” kataku akhirnya,
“Ann,gue nggak nyesel pernah berdiri sejauh ini.”
Anna menatapku. Lama.
Lalu berkata pelan, hampir seperti bisikan:
“Gue juga nggak pernah benci sama kamu.”
Aku tersenyum."iya aku tahu kok,Ann. kita kan masih saudara."
Itu cukup. Untuk sekarang.
Aku melangkah menuju mobil.
Bian menurunkan kaca jendela.
“Om,” panggilnya.
“Iya?”
“Kalau nanti Mama udah kuat… Om mau balik lagi, kan?”
Aku menatap Anna lewat kaca depan.
Ia diam nyaris tanpa ekspresi. Tidak menolak juga.
Aku kembali menatap Bian.
“Kalau Om dibolehin,” jawabku jujur, sambil melirik Anna dengan ekor mataku.
Ih, keselll 😭 sakit hati aku kakkk