NovelToon NovelToon
Kurir Nyawa Jangan Buka Paketnya

Kurir Nyawa Jangan Buka Paketnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Horror Thriller-Horror
Popularitas:206
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Penasaran dengan ceritanya langsung aja yuk kita baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: KIRIMAN UNTUK IBU

BAB 3: KIRIMAN UNTUK IBU

Dunia seakan runtuh bagi Arga. Napasnya tercekat melihat tulisan di kertas merah itu. Kamar 304. Kamar di mana ibunya sedang berjuang antara hidup dan mati.

"Enggak... ini pasti bercanda. Ini nggak mungkin!" Arga berteriak histeris, tapi suaranya ditelan oleh keheningan jalanan yang sepi.

Tanpa pikir panjang, Arga memutar gas motornya sampai mentok. Motor tuanya meraung keberatan, seolah protes karena dipaksa berlari melebihi batas kemampuannya. Di pikirannya hanya ada satu: Ibu.

Selama perjalanan, bayangan wanita bergaun putih yang memakan jantung di atas pohon kamboja terus menghantui. Apakah jantung itu milik seseorang yang baru saja meninggal? Apakah jika ia mengantar paket ke rumah sakit, itu berarti ia sedang menjemput ajal ibunya sendiri?

Setibanya di Rumah Sakit Harapan, Arga langsung berlari melewati lorong-lorong yang berbau karbol tajam. Lampu neon di langit-langit rumah sakit berdengung rendah, menciptakan suasana yang mencekam.

Langkah kaki Arga menggema keras di lantai keramik yang dingin. Saat ia sampai di depan lift, pintu lift terbuka perlahan. Di dalamnya, berdiri pria tua berseragam hitam dari gudang ekspedisi tadi.

Pria itu memegang sebuah kotak kayu yang kali ini dibungkus kain beludru hitam pekat.

"Kau tepat waktu, Arga," suara pria itu seperti bisikan hantu.

"Apa maksudnya ini, Pak?! Kenapa alamatnya ke kamar ibu saya?" Arga mencengkeram kerah baju pria tua itu, tapi tangannya seolah menembus kabut asap yang dingin. Tidak ada tubuh di balik seragam itu.

Pria itu tidak marah. Ia justru memberikan kotak itu ke tangan Arga. "Ini bukan paket kematian. Ini adalah 'obat'. Tapi ingat, kau hanyalah kurir. Tugasmu adalah menyerahkan, bukan memiliki."

Arga menerima kotak itu dengan tangan gemetar. Kotak itu terasa sangat hangat, kontras dengan kotak-kotak sebelumnya. Ada denyutan halus dari dalamnya, seperti detak jantung yang sehat.

"Jika kau gagal mengantarnya sebelum jam 4 pagi, atau jika kau membukanya sebelum sampai ke tangan penerima... maka kontrakmu akan hangus, dan ibumu akan ikut bersama kami," lanjut pria tua itu sebelum lift tertutup rapat dan menghilang.

Arga melihat jam di dinding lorong. 03.30 WIB. Ia hanya punya waktu tiga puluh menit.

Ia berlari menuju kamar 304. Saat ia sampai di depan pintu, ia melihat seorang perawat sedang berdiri membelakangi pintu kamar ibunya. Perawat itu tampak kaku, tidak bergerak sedikit pun.

"Suster? Permisi, saya mau masuk ke dalam," kata Arga dengan napas tersenggal-senggal.

Perawat itu perlahan menoleh. Arga hampir saja berteriak. Wajah perawat itu rata. Tidak ada mata, tidak ada hidung, hanya ada mulut kecil yang dijahit rapat dengan benang hitam.

Sosok itu mengangkat jarinya ke depan mulut—memberi isyarat untuk diam—lalu menghilang seperti debu yang ditiup angin.

Arga mendorong pintu kamar 304. Di dalam sana, ibunya tampak tertidur pulas dengan selang oksigen yang menempel di hidungnya. Monitor detak jantung menunjukkan grafik yang lemah dan tidak stabil. Pip... pip... pip...

Arga mendekat ke ranjang ibunya. Di saat itulah, ia merasa ada sesuatu yang salah. Bayangan ibunya di dinding tidak ikut tidur; bayangan itu tampak sedang duduk tegak dan menatap Arga dengan tajam.

"Berikan padaku, Arga..." suara itu bukan berasal dari ibunya, melainkan dari bayangan di dinding tersebut.

Arga ragu. Ia teringat aturan nomor satu: Jangan pernah melihat wajah penerima. Namun, bagaimana mungkin ia tidak melihat wajah ibunya sendiri?

Tiba-tiba, kotak di tangan Arga mulai memanas. Panasnya begitu menyengat hingga kulit telapak tangan Arga terasa melepuh. Suara bisikan mulai muncul dari dalam kotak, namun kali ini bukan suara adiknya, melainkan suara ribuan orang yang sedang merintih kesakitan.

"Arga... tolong Ibu..." Tiba-tiba ibunya membuka mata. Tapi matanya bukan warna hitam atau cokelat, melainkan putih seluruhnya.

"Ibu? Ini Arga, Bu. Arga bawa obat..."

Ibunya meraih tangan Arga dengan kekuatan yang tidak masuk akal. Cengkeramannya begitu kuat hingga tulang pergelangan tangan Arga terasa hampir remuk. "Buka kotaknya, Arga. Ibu tahu kau ingin melihat isinya. Buka... dan berikan jiwamu padaku!"

Wajah ibunya mulai berubah, kulitnya mulai mengerut dan menghitam. Ini bukan ibunya. Ini adalah sosok yang menyamar!

Arga tersadar. Ia hampir terjebak lagi. Jika ia memberikan paket ini kepada sosok yang salah, ibunya yang asli akan hilang selamanya.

"Kau bukan ibuku!" Arga menyentakkan tangannya.

Ia melihat sekeliling kamar dengan panik. Di sudut ruangan, di balik tirai yang tertutup, ia melihat kaki manusia yang menggantung lemas. Arga menyibak tirai itu dan jantungnya seolah berhenti.

Ibunya yang asli sedang tergantung di langit-langit dengan tali yang terbuat dari rambut panjang manusia. Wajahnya biru keunguan, nyaris tewas tercekik.

Dan sosok yang di atas ranjang tadi? Sosok itu kini merangkak di langit-langit kamar seperti laba-laba raksasa, menuju ke arah ibunya.

Arga tidak punya pilihan. Ia harus menyerahkan kotak ini kepada pemilik aslinya, tapi siapa?

Tiba-tiba, koin emas kuno di saku Arga bergetar hebat. Arga mengeluarkan koin itu dan melihat lubang di tengahnya. Ia mencoba melihat melalui lubang koin tersebut ke arah ibunya yang tergantung.

Melalui lubang koin itu, pemandangan berubah total. Ibunya tidak tergantung. Ibunya justru sedang duduk di kursi samping ranjang, menatap kosong ke arah tubuhnya sendiri yang sedang koma. Ibunya yang asli sudah menjadi roh yang terpisah!

"Ibu! Terima ini!" Arga melempar kotak itu ke arah roh ibunya.

Begitu kotak itu menyentuh tangan roh ibunya, cahaya putih yang sangat menyilaukan meledak di dalam kamar. Sosok laba-laba di langit-langit menjerit melengking sebelum akhirnya terbakar menjadi abu.

Arga jatuh terduduk. Semuanya menjadi gelap.

Ketika ia membuka mata, matahari pagi mulai masuk melalui celah jendela. Monitor detak jantung ibunya berbunyi stabil. Perawat (yang kali ini memiliki wajah asli) masuk dengan senyum ramah.

"Mas Arga? Ibu Anda sudah melewati masa kritis. Ini sebuah keajaiban," kata perawat itu.

Arga bernapas lega. Namun, saat perawat itu keluar, Arga menyadari sesuatu di telapak tangannya yang melepuh. Ada sebuah tanda lahir baru berbentuk angka "2".

Di samping ranjang ibunya, terdapat secarik kertas pengiriman baru:

"1 BERHASIL. 29 TERSISA. JANGAN TERLAMBAT UNTUK PAKET BERIKUTNYA."

Arga menyadari, ini barulah awal dari neraka 30 harinya sebagai Kurir Nyawa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!