Jemi adalah seorang gadis yang tertutup dan sulit membuka dirinya untuk orang lain. Kepergian ibunya serta kekerasan dari ayahnya membuat Jemi depresi hingga suatu hari, seorang pengacara datang menemui Jemi. Dia memberikan Jemi kalung Opal berwarna ungu cerah. Siapa sangka kalung Opal itu bisa membawa Jemi ke ruang ajaib yang bisa membuatnya berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Ruang itu pun berkembang menjadi sebuah tempat yang diimpikan Jemi.
Ikuti terus kisah Jemima Shadow, yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irish_kookie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman
Satu hari setelah Jemima bertemu dengan Kai di ruang ajaib itu, Jemima segera menemui Kai di restoran.
"Pagi, Jemi. Kau berlari? Aku punya kabar baik untukmu," sapa Ashley.
Jemima mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Dia mengambil botol air dan meminumnya sampai terbatuk-batuk. "Uhuk! Uhuk! Aahhhh, jantungku mau meledak rasanya."
Gadis itu mengacungkan telapak tangannya pada Ashley dan membungkuk.
Setelah merasa napasnya kembali normal, Jemima mulai bercerita tentang apa yang terjadi di ruang ajaib.
"Kau bertemu Kai?" tanya Ashley tercengang.
Jemima mengangguk. "Hari ini aku ingin memastikan, yang kutemui itu Kai sungguhan atau kau tau-hanya roh atau apalah itu namanya."
Ashley mengangguk setuju. "Ya, aku juga penasaran. Oh, tapi aku tidak terlalu mengenal dia dan aku takut dia tidak nyaman kalau aku tiba-tiba datang bersamamu. Ceritakan saja kepadaku nanti, ya."
"Oke. Ash, apa kabar baik yang ingin kau ceritakan?" tanya Jemima lagi sebelum menemui Kai.
Bola mata Ashley berputar ke atas, jari telunjuknya menggaruk-garuk pucuk rambutnya. "Aku lupa. Sorry, Jemi. Nanti kalau aku sudah ingat, aku pasti akan memberitahumu."
Jemima menghela napas dan tersenyum kecil. "Baiklah. Aku akan menemui Kai dan bisakah kita makan siang bersama lagi hari ini?"
"Tentu saja. Aku akan menunggumu," kata Ashley sambil mengacungkan ibu jarinya.
Setelah memberikan senyuman manis kepada rekannya itu, Jemima melihat jam tangannya. "Masih ada waktu untuk bertemu Kai."
Gadis itu pun bergegas mencari Kai dan dia menghela napas lega saat melihat pemuda yang dicarinya sedang duduk di ruang ganti karyawan.
"Hai, Kai," sapa Jemima ragu-ragu. "Hmm, apa kau masih mengingatku? Maksudku kej-, ...."
Kai mendengus kecil sembari tersenyum. "Huh, aku belum pikun. Kau Jemima, satu-satunya makhluk hidup yang kutemui di ruangan aneh dan ajaib itu."
Jemima tersenyum dan duduk di sisi Kai. "Kupikir yang ada bersamaku kemarin rohmu, Kai. Bahkan, aku sempat berpikir kau hanyalah imajinasi. Syukurlah kalau kau memang ada di ruangan itu bersamaku kemarin."
"Jadi, kemarin kau kembali ke kamarmu?" tanya Kai penasaran. "Aku kembali ke kamarku juga, tapi ayah dan ibuku sudah tidak ada. Selain itu, waktu tidak berubah."
Jemima mengangguk dengan penuh semangat. "Ya. Apa kau juga merasakan waktu tidak berubah? Waktu seolah menunggu kita dan berhenti untuk kita. Apa itu tidak aneh?"
"Hmmm, aneh sekali. Ruangan apa itu sebenarnya?" tanya Kai semakin ingin tahu tentang keanehan di ruangan itu.
Awalnya Kai menganggap ruangan itu sebagai ruang bersembunyi, tetapi kenapa dia terlempar keluar?
Tak hanya dia, tapi Jemima pun seperti itu. Anehnya lagi, ruangan itu berkembang, bertambah luas, lebih berwarna, dan seakan ruang itu ikut bernapas bersama mereka.
Lalu, pantulan di cermin dan bentuk cermin! "Aku semakin penasaran dan ingin pergi ke sana lagi. Apa kita tidak bisa pergi ke sana sekarang?"
Jemima menggeleng. "Tentu saja tidak bisa. Ruangan itu punya aturan, Kai. Kau tidak bisa keluar masuk ke dalam ruangan itu."
"Kau pernah mencobanya?" tanya Kai.
Jemima mengangguk. "Berkali-kali sampai aku sempat melupakan ruangan itu dan saat aku merasa lelah atau putus asa, ruangan itu menarikku kembali."
Belum sempat Kai bertanya lebih lanjut tentang ruangan ajaib itu, Ashley sudah menghampiri mereka.
"Wah, wah! Ada apa dengan kalian? Pagi-pagi sudah saling menempel seperti tikus terkena lem, hehehe," goda Ashley sambil menyeringai lebar.
Wajah Kai memerah. Cepat-cepat dia beranjak dari sisi Jemima dan meninggalkan ruang ganti karyawan itu.
Ashley menggantikan Kai, duduk di samping Jemima. "Sepertinya kalian asik sekali. Boleh aku tau apa yang sedang kalian bicarakan?"
Jemima pun melanjutkan ceritanya dan dia bertepuk tangan senang saat cerita itu sampai di bagian Kai. "Aku tidak berkhayal, Ash! Kai benar-benar masuk ke dalam ruangan itu bersamaku! Bukan rohnya, jiwanya, atau apa pun itu."
Cerita Jemima membuat Ashley terpukau. "Wah, sepertinya seru sekali, ya. Aku ingin sesekali pergi ke sana, Jem."
"Aku juga mau pergi ke ruangan itu sesuai kemauanku dan tanpa harus dipukuli atau disiksa dulu," jawab Jemima sambil tersenyum kecut.
Cepat-cepat Ashley meminta maaf karena ucapannya tadi membuat Jemima murung. "Maafkan aku, Jemi. Aku salah bicara. Lupakan apa yang kukatakan tadi dan please, jangan sedih karena kau harus bersiap mendengar kabar baik dariku."
Kening Jemima mengerut. "Apa itu?"
Sayangnya, suara Tom sudah bergema memanggil nama mereka untuk segera ikut briefing pagi.
Setelah jam kerja selesai, Ashley menarik tangan Jemima. "Hei, kata pemilik rumah tempat aku tinggal, kau boleh pindah mulai malam ini! Aaaaaa, aku sudah tidak sabar berbicara denganmu sepanjang malam setiap akhir pekan!"
"Benarkah?" tanya Jemima penuh harap.
Ashley mengangguk. "Ya! Besok sudah akhir pekan, aku akan membantumu untuk pindah."
Namun, Jemima menolak bantuan dari temannya itu. "Tidak perlu karena ayahku tidak tau aku akan pindah. Bisa mengamuk dia nanti kalau tau aku pindah."
"Cih! Iblis jahanam itu benar-benar bukan ayahmu, Jemi. Maaf saja, ya, kalau dia ayahmu paling tidak, tunjukkan sedikit perhatian untukmu!" kata Ashley sengit.
Jemima tersenyum. Dia senang ada orang lain yang bisa dia jadikan tempat untuk berbagi emosi dengannya.
"Thanks, Ash. Tapi, kau bisa menungguku besok pagi di rumahmu," balas Jemima.
Ashley mengangguk. "Rumah kita."
Malam itu, kepala Jemima penuh dengan rencana. Dia tidak tahu apakah Leon akan pulang malam ini atau tidak.
Setibanya di rumah, dia mengambil tas besarnya dan perlahan memasukkan pakaiannya satu per satu.
Dia berjalan berjingkat-jingkat dan menghindari mengeluarkan suara, padahal dia tau kalau di rumah itu hanya ada dia seorang.
Sampai tengah malam, saat Jemima selesai mengepak semua barangnya di dalam tas, Leon tak kunjung pulang.
Jemima memutuskan untuk tidur dan memasang alarm sepagi mungkin.
Gadis itu nyaris tidak tidur semalaman. Dia menunggu Leon sekaligus menunggu terbitnya matahari.
Begitu kegelapan di langit memudar, Jemima cepat-cepat melesat keluar sebelum Leon datang.
Dia pergi tanpa meninggalkan jejak ataupun surat. Detik itu, Jemima merayakan kebebasannya terlepas dari belenggu sadis Leon.
Jemima sungguh menikmati perjalanannya pagi itu. Wajahnya dihiasi senyuman manis dan dia menyapa setiap orang yang dia temui dengan ramah.
Ashley sudah menunggu di ujung jalan. Jemima segera berlari menghampiri teman kecilnya itu.
Hari itu, Jemima merasa sangat bahagia. Dia tertawa, tersenyum, tertawa lagi, dan tak henti-hentinya berbicara tentang apa pun selain rumahnya dan Leon.
Namun sayangnya, malam yang seharusnya indah itu menjadi malam petaka untuk Jemima.
Seusai makan malam, Jemima menatap layar ponselnya tanpa berkedip.
Binar di wajahnya seolah redup dan tawanya menghilang dari wajahnya yang manis.
"Jem, kau baik-baik saja?" tanya Ashley saat itu.
Jemima menggeleng. Dia memperlihatkan pesan dari Leon kepada Ashley.
Dalam pesan itu, Leon mengirimkan gambar dirinya sambil memegang kalung opal Jemima dan ada pesan text di bawahnya. ("Kembali malam ini juga atau kalung mainanmu ini akan aku jual, hahaha!")
"Ash, dia mau menjual kalung opalku. Aku lupa membawanya," kata Jemima lemas.
Ashley merebut ponsel milik Jemima dan detik itu juga seluruh isi kebun binatang keluar dari bibir seksi Ashley. "Tunggu, ini kalung ajaibmu?"
Jemima mengangguk. "Ya. Kalung itu ketinggalan di atas ranjangku. Aku harus apa?"
"Jangan kembali! Jangan pernah berpikir untuk kembali ke neraka itu, Jemi! No way!" Ashley menyilangkan kedua tangannya dan menguatkan Jemima untuk tetap tenang.
Butiran air mata jatuh membasahi pipi Jemima. "Lalu, aku harus bagaimana, Ash?"
***