Romance psychological, domestic tension, obsessive love, slow-burn gelap
Lauren Hermasyah hidup dalam pernikahan yang perlahan kehilangan hangatnya. Suaminya semakin jauh, hingga sebuah sore mengungkapkan kebenaran yang mematahkan hatinya: ia telah digantikan oleh wanita lain.
Di saat Lauren goyah, Asher—tetangganya yang jauh lebih muda—selalu muncul. Terlalu tepat. Terlalu sering. Terlalu memperhatikan. Apa yang awalnya tampak seperti kepedulian berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap, lebih intens, lebih sulit dihindari.
Ketika rumah tangga Lauren runtuh, Asher menolak pergi.
Dan Lauren harus memilih: bertahan dalam kebohongan, atau menghadapi perhatian seseorang yang melihat semua retakan… dan ingin mengisinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penulismalam4, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34_lagi dan lagi
Asher berdiri di balik jendela rumahnya ketika melihat pintu rumah Lauren terbuka.
Malam sudah turun sepenuhnya. Lampu teras menyala pucat, memantulkan bayangan yang memanjang di halaman. Ia tidak berniat mengintip—tidak sengaja, katanya pada dirinya sendiri—namun tubuhnya berhenti ketika melihat sosok itu keluar.
Lauren.
Ia membawa koper.
Tidak besar. Tidak kecil. Koper orang yang tidak kabur, tapi pergi dengan sadar.
Asher tidak bergerak. Napasnya melambat, matanya mengunci pemandangan itu seolah takut jika berkedip, semuanya akan menghilang.
Lauren berhenti sejenak di depan rumah. Tidak menoleh ke jendela. Tidak melihat sekeliling. Hanya berdiri—diam—seolah mengucapkan selamat tinggal pada sesuatu yang tak terlihat. Lalu ia melangkah pergi.
Sendirian.
Tidak ada mobil yang menunggu. Tidak ada orang yang menyusul. Hanya suara roda koper yang bergesek pelan di jalanan malam.
Ada sesuatu yang menegang di dada Asher.
Ia mengenali ekspresi itu. Bukan dari wajah Lauren—melainkan dari dirinya sendiri. Sensasi yang sama setiap kali ia melihat seseorang meninggalkan sesuatu yang seharusnya aman.
Dia benar-benar pergi, pikirnya.
Dan untuk pertama kalinya, Asher tidak merasa ingin menghentikan siapa pun.
Yang ia rasakan justru sesuatu yang lebih gelap dan lebih jujur:
ia ingin memastikan Lauren tidak sendirian terlalu lama.
Tempat baru Lauren sunyi.
Sebuah apartemen kecil—bersih, kosong, dan belum benar-benar menjadi rumah. Lampu ruang tamu menyala terang, memantulkan dinding putih yang terlalu polos. Lauren menutup pintu di belakangnya, memutar kunci, lalu bersandar sebentar—hanya sebentar—sebelum berdiri tegak lagi.
Ia tidak menangis.
Belum.
Koper diletakkannya di sudut. Ia membuka jendela, membiarkan udara malam masuk. Kota di luar terdengar jauh, seperti suara yang tidak ingin ia dengar tapi juga tidak bisa ia tolak.
Lauren duduk di lantai, bersandar pada sofa yang masih terbungkus plastik. Punggungnya lurus. Tangannya terlipat di pangkuan. Ia menatap lantai lama, seolah menunggu sesuatu runtuh dari dalam dirinya.
Namun tidak ada.
Yang ada hanyalah kelelahan yang sangat tenang.
Ia memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, tidak ada suara langkah Arga di belakangnya. Tidak ada jam dinding yang berdetak di kamar lama. Tidak ada kewajiban untuk menjadi apa pun selain dirinya sendiri.
Sunyi itu menakutkan.
Namun juga… jujur.
Lauren berbaring di sofa tanpa mengganti pakaian. Lampu tidak dimatikan. Ia terlalu lelah untuk peduli. Tangannya menggenggam ujung lengan bajunya sendiri, seolah memastikan ia masih ada di sana.
Di rumah lain, di seberang jalan yang kini kosong dari sosoknya, Asher duduk di tepi tempat tidur.
Ia tidak tahu di mana Lauren sekarang.
Tapi ia tahu satu hal dengan pasti:
Malam ini, mereka berdua sama-sama terjaga.
Sama-sama sendirian.
Dan sama-sama telah meninggalkan sesuatu yang tidak akan pernah sama lagi.
Asher menatap lantai kamarnya, rahangnya mengeras.
Kalau dunia ini kejam padanya, pikirnya, aku tidak akan membiarkannya sendirian menghadapinya.
Hari-hari berjalan seperti biasanya.
Pagi datang tepat waktu. Rapat tetap dimulai pukul sembilan. Target tetap harus tercapai. Di kantor, Lauren Hermansyah kembali menjadi nama yang disebut dengan nada tegas dan penuh hormat. Tidak ada gosip. Tidak ada bisik-bisik. Tidak ada satu pun celah yang menunjukkan bahwa hidupnya sedang retak.
Proses perceraian berjalan dalam senyap.
Dokumen ditandatangani di ruang tertutup. Percakapan dengan pengacara berlangsung singkat, efisien, tanpa drama. Nama Lauren dan Arga tidak pernah muncul di pantry, tidak pernah terdengar di lorong kantor, tidak pernah menjadi bahan obrolan makan siang.
Tidak ada yang tahu.
Karena Lauren tidak pernah membawa masalah pribadi ke meja kerja.
Ia datang dengan rambut rapi, pakaian profesional, dan tatapan yang fokus. Ia berbicara tentang strategi, angka, dan arah pasar—bukan tentang malam-malam panjang yang ia lalui sendirian di apartemen kecil yang masih terasa asing.
Namun itu semua adalah kebohongan yang sangat rapi.
Di dalam dirinya, Lauren hancur.
Ia hancur dalam diam.
Setiap kali lift tertutup dan pantulan wajahnya muncul di cermin, ia harus menarik napas lebih dalam dari biasanya. Setiap malam, ketika sepatu kerja dilepas dan apartemen kembali sunyi, dada itu terasa sesak—seperti ada ruang kosong yang terlalu besar untuk diisi apa pun.
Ia tidak menangis di kantor. Tidak di depan siapa pun.
Tangisnya datang larut malam, ketika lampu dimatikan dan kota di luar jendela hanya menjadi cahaya samar. Datang tanpa suara, tanpa isak—air mata yang jatuh perlahan, seperti tubuhnya tahu bahwa besok pagi ia harus kembali utuh.
Lauren tidak membenci Arga.
Dan justru itu yang paling menyakitkan.
Ia hanya berhenti berharap.
Di hari-hari tertentu, ponselnya bergetar dengan pesan singkat dari nomor yang masih tersimpan di ingatannya—soal jadwal tanda tangan, soal pembagian aset, soal hal-hal praktis yang terasa dingin. Lauren membalasnya dengan kalimat pendek. Profesional. Jelas.
Tidak ada aku rindu.
Tidak ada kenapa.
Tidak ada bagaimana bisa.
Di luar, semua berjalan normal.
Di dalam, Lauren bertahan dengan sisa-sisa dirinya.
Dan entah bagaimana, di sela-sela hari yang tampak biasa itu, ada satu hal yang mulai berubah tanpa ia sadari:
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Lauren kembali hidup tanpa sandaran—dan menyadari bahwa meski hancur, ia masih berdiri.
Tidak utuh.
Tapi hidup.
__
Supermarket itu terang, dingin, dan terlalu ramai untuk sore hari. Lauren mendorong troli perlahan, menelusuri lorong demi lorong sambil membaca daftar di ponselnya. Telur. Sayur. Susu. Beberapa bumbu dasar. Kulkas apartemen barunya terlalu kosong—dan entah kenapa, kekosongan itu terasa seperti tuduhan.
Ia berhenti di depan rak pasta, ragu sesaat, lalu mengambil satu kemasan. Cukup untuk satu orang, pikirnya. Pikiran itu datang lagi, menusuk kecil.
Di kasir, Lauren mengeluarkan ponsel, memindai barcode anggota, lalu merogoh tasnya—sekali. Dua kali. Tangannya berhenti.
Dompetnya tidak ada.
Ia menarik napas, mencoba tetap tenang. “Maaf, sebentar,” katanya pada kasir, mulai mengeluarkan isi tas satu per satu. Lip balm. Kunci. Catatan kecil. Tidak ada dompet.
“Tidak apa-apa, Bu,” kata kasir ramah, tapi antrean di belakang mulai bergerak gelisah.
Lauren menutup mata sejenak. “Saya lupa dompet. Boleh saya—”
“Sudah.”
Suara itu datang dari samping. Datar. Akrab.
Lauren menoleh.
Asher berdiri di sana, satu tangan menyodorkan kartu ke kasir. Jaket tipisnya terbuka, ransel kampus di punggung. Wajahnya tenang, seolah ini hal paling biasa di dunia.
“Asher?” Lauren terkejut. “Tunggu—”
“Bayar saja,” katanya singkat pada kasir. Lalu menoleh pada Lauren. “Kau butuh makan.”
Kasir memproses pembayaran. Bip. Selesai.
Lauren berdiri kaku. “Aku—aku akan ganti. Sekarang juga. Aku bisa transfer.”
Asher mengangkat bahu kecil. “Nanti.”
“Nanti kapan?”
“Setelah kau duduk.”
Ia mengambil satu kantong belanja, mendorong troli ke samping, lalu mengangguk ke arah kafe kecil di sudut supermarket. “Kau kelihatan seperti mau pingsan.”
“Aku tidak—”
“Kau lupa dompet,” potongnya. “Itu tanda.”
Lauren menghela napas, kalah. “Baik. Tapi aku yang traktir minum.”
“Deal.”
Mereka duduk berhadapan di kafe. Mesin kopi berdengung pelan. Lauren memesan teh hangat; Asher kopi hitam tanpa gula. Mereka duduk dalam hening beberapa detik—hening yang tidak canggung, hanya penuh hal yang belum diucapkan.
“Aku tidak menyangka akan bertemu kau di sini,” kata Lauren akhirnya.
“Aku sering ke sini,” jawab Asher. “Murah. Lengkap.”
Lauren tersenyum kecil. “Kau membayar semuanya. Terima kasih. Aku benar-benar ceroboh.”
“Bukan ceroboh,” katanya. “Kau sedang memikirkan hal lain.”
Lauren menatap cangkirnya. “Apa terlihat jelas?”
“Cukup.”
Lauren tertawa pelan—kering. “Aku pindah. Masih menyesuaikan.”
“Sendirian,” tambah Asher, bukan bertanya.
Lauren mengangkat pandangannya. Mata mereka bertemu. Ia tidak menyangkal. “Iya.”
Asher menyesap kopinya. “Kulkas kosong?”
“Hampir.”
“Sekarang tidak lagi.”
“Karena kau,” katanya cepat. “Dan aku tetap akan ganti.”
Asher memutar cangkirnya. “Kau selalu ingin melunasi.”
“Itu kebiasaan buruk?”
“Itu kebiasaan orang yang jarang diberi,” jawabnya datar.
Lauren terdiam. Lalu mengangguk pelan. “Mungkin.”
Hening kembali, tapi kali ini hangat. Lauren mengamati Asher—caranya duduk, caranya memegang cangkir. Ada sesuatu yang tenang dan tajam sekaligus.
“Kenapa kau selalu muncul di waktu yang… tidak tepat tapi menyelamatkan?” tanyanya, setengah bercanda.
Asher menatapnya lama. “Aku tidak tahu. Mungkin karena aku melihat.”
“Melihat apa?”
“Kau tidak meminta bantuan,” katanya. “Tapi kau membutuhkannya.”
Lauren tersenyum pahit. “Aku belajar untuk tidak meminta.”
“Dan aku belajar untuk tidak menunggu diminta,” balas Asher.
Lauren menghela napas, lalu tertawa kecil. “Ini terdengar seperti debat.”
“Bukan,” katanya. “Ini kesepakatan.”
Lauren meneguk tehnya. “Baik. Kesepakatan apa?”
“Kau makan malam hari ini,” katanya. “Bukan mi instan.”
“Aku tidak bilang akan makan mi instan.”
“Caramu memilih pasta satu bungkus bilang sebaliknya.”
Lauren terkekeh. “Kau mengamatiku?”
“Asumsi.”
“Berbahaya.”
“Seringkali benar.”
Lauren menatapnya, lalu mengangguk. “Baik. Aku akan masak.”
“Untuk satu orang?”
Lauren berhenti. Lalu tersenyum, kali ini lebih tulus. “Untuk dua. Jika kau mau.”
Asher tidak langsung menjawab. Matanya turun sebentar, lalu kembali. “Aku mau.”
Lauren mengeluarkan ponselnya. “Transfer sekarang.”
Asher menggeleng. “Nanti. Setelah makan.”
“Kau keras kepala.”
“Kau juga.”
Mereka saling menatap. Untuk sesaat, dunia di luar kafe terasa menjauh.
“Terima kasih, Asher,” kata Lauren pelan. “Bukan hanya untuk belanjaan.”
Asher berdiri, mengambil kantong. “Sama-sama.”
Ia berhenti sejenak. “Dan Lauren—”
“Ya?”
“Kau tidak harus kuat sepanjang waktu.”
Lauren mengangguk, menahan sesuatu di dadanya. “Aku tahu.”
Mereka berjalan keluar bersama. Di antara kantong belanja dan langkah yang seirama, ada percakapan yang belum selesai—dan malam yang, untuk pertama kalinya sejak lama, tidak terasa terlalu sepi.
Anyway, semangat Kak.👍